Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 16# Musuhan?


__ADS_3

"Assalamualaikum..."


"Eh, Hiro?"


Hiro segera meraih dan mencium punggung tangan Tania yang bengong melihat kedatangannya.


"Hiro kemari mau ambil sesuatu di kamar, Ma." Itu cuma alasan. Ia sebenarnya ingin mengecek, apakah Dona pergi ke rumahnya atau ke rumah mertuanya, sebelah sana. Lirik ke samping, tidak ada tanda tanda Dona. Malah lampu terlihat padam semua kecuali lampu teras dan balkon.


"Oh ... masuk kalau begitu."


Hiro tidak mendengar suara Mamanya. Matanya terus mencuri pandang ke arah balkon. Tania jadi ikut penasaran, siapa yang dilihat oleh anaknya ini.


"Kamu lihatin apa sih?"


"Dona, Ma. Eh, maksudnya, rumah Dona kenapa padam?" Hiro meralat jawaban spontannya. Untung Mamanya tidak curiga.


"Mereka pergi. Katanya ada acara keluarga, jadi nginep deh."


Itu tandanya, Dona nggak ada di rumah orangtuanya. Hiro membatin resah. Kemana gadis itu?


"Ya udah deh, Ma. Hiro ambil barang dulu di kamar ya."


"Iya, eh tapi Dona kenapa nggak diajak kemari sih?"


Tidak mungkin, ia mengatakan Dona lah alasan dirinya datang. Untuk saat ini, Hiro masih merasa dirinya lah yang harus menangani masalahnya tanpa adanya ikut campur orang tua yang pastinya akan berujung riweh.


"Lagi belajar, Ma. Ini aja Hiro harus buru buru. Buat ngajarin Dona," kata Hiro berbohong.


Biar tidak dicurigai, Hiro masuk ke dalam bekas kamarnya. Mengambil barang random lalu memasukkannya ke dalam paper bag.


Hiro tidak berlama-lama, setelah pamit pada Tania dan Fauzi, ia pun pergi meninggalkan rumah.


Melihat ada Olla yang hendak mengunci pagar rumahnya yang hanya setinggi dada itu, Hiro menghentikan motornya. Menyapa Olla 'selamat malam' tanpa turun dari motornya.

__ADS_1


"Tumben banget lo ramah sama gue?" Olla memicingkan matanya curiga. "Dona kemana? Jangan jangan lo kabur ninggalin dia sendiri di apartemen ya?" tembak Olla manakala Hiro hanya diam saja.


Mendengar pertanyaan Olla, Hiro yang niatnya mengetes keberadaan Dona mungkin ada di rumah Olla, jadi yakin kalau Dona tidak ada di dalam sana.


"Gue pamit."


"Ih, si onyet. Main pergi aja." Olla mendumel sendiri dengan mata memicing kesal ke arah laju motor Hiro. Ingin memastikan keadaan Dona, Olla segera masuk ke dalam rumahnya. Mencari hapenya yang ternyata... "Baaah, lagi dibutuhin sekarang malah lobet lo. Dasar hape rusak. Gue tukar juga lo sama baskom si abang abang." Olla mengomeli hapenya yang memang baterainya itu sudah minta dilem biru.


Karena lama menunggu baterai terisi, Olla berujung tertidur.


Di sisi Hiro, sudah sekitar satu jam lebihan ia berkeliling - liling mencari Dona, tapi tak kunjung ketemu.


" Duh, Ndut. Lo kemana sih? Ditelpon juga nggak diangkat. Kemana coba gue harus nyariin lo?" Hiro menceracau kebingungan dengan laju kendaraan ia pelankan. Kerap kali pun, ia menghentikan laju motornya demi bisa melirik ke segala penjuru jalan trotoar. Tapi, tanda tanda kehidupan Dona tak ada diujung mata.


Hiro mendesah capek. Tapi tak urung berniat pulang sebelum menemukan Dona yang entah kemana lagi ia mencarinya karena setahu Hiro, Dona tidak ada teman selain Olla.


Pukul satu malam, Hiro masih di jalanan. Merasa capek luar biasa. Hiro memutuskan untuk pulang dulu ke apartemen.


Sesampainya di dalam unit kamar, Hiro merasakan ada sesuatu yang berbeda. Tapi apa ya? Lampu! Pencahayaannya padam. Hiro yang tidak merasa mematikan lampu sebelum pergi keluar mencari Dona, saat ini dibuat curiga. Apakah Dona yang mematikan lampu ruangan?


"Ya ampun..." Lirih Hiro. Kesal luar biasa diantara kelegahannya sekaligus karena Dona yang ia cari capek capek di luar sana ternyata sedang asyik pulas di dalam selimut. Hanya rambut gadis itu yang terlihat karena posisinya tertelungkup.


Selain menahan kesal nya, Hiro tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena orang yang akan ia omeli tertidur pulas.


***


Pukul lima subuh, Dona yang sudah bertekad untuk mengubah pola hidup nya, bergegas bangun. Bersiap-siap untuk melakukan jogging.


Baju serta celana sport sudah melekat. Tinggal pakai sepatu. Namun sebelum memasang alas kakinya itu, Dona terlebih dahulu mengambil foto Hiro.


"Apa lo lihat lihat. Sekarang kita musuhan." Dona mengomeli foto Hiro lalu bergegas memakai sepatunya. Tak lupa, foto itu ia tempelkan di telapak sepatunya dengan bantuan lakban.


"Rasain, biar ketampanan lo itu pudar." Cukup balas dendamnya sama foto dulu, karena jelas saja Dona tidak berani menendang muka Hiro secara langsung bukan? Itu namanya cari mati.

__ADS_1


Sudah siap seutuhnya. Dona pun membuka pintu kamar. Bujuuuh buset... Wajahnya menabrak dada Hiro yang main memblokir jalannya.


Dengan mulut membisu, Dona mundur satu langkah sembari mengelus dahinya yang kebentur.


Hiro sebenarnya kaget melihat tampilan Dona yang seumur umur akan melakukan olahraga pagi buta. Tapi mengingat kekesalannya yang ia tahan tahan semalam, Hiro memilih mencecar Dona.


"Kemana aja lo semalam, hah?"


Apa peduli lo? Dona menjawab hanya dalam hati.


"Gue nyariin lo semalaman tau nggak?"


Dona terhenyak mendengar itu. Tapi tak urung hatinya luluh begitu saja.


Alih alih menjawab satu kata pun Dona tak mengeluarkan suaranya. Dona malahan melangkah ke sisi tubuh tinggi Hiro.


"Ndut...!" kesal Hiro diabaikan. Membalik tubuhnya untuk melihat kepergian Dona. Tidak sengaja, ia melihat sesuatu di bawah telapak sepatu Dona.


"Apa itu foto gue?" Hiro bertanya tanya pada dirinya yang tidak yakin juga karena tidak terlalu jelas melihat si pemilik wajah foto tersebut.


Di area pelataran apartemen. Dona memulai pemanasan. Merenggangkan otot ototnya agar tidak kaku. Setelah merasa cukup, ia pun berlari mengelilingi pelataran apartemen. Keringat tubuhnya mulai terlihat hasil dari pembakaran lemak pertamanya.


Karena belum terbiasa jogging, baru beberapa menit nafasnya sudah mulai memburu. Merasa capek, Dona duduk asal asalan di atas tanah. Segera melirik alas sepatunya.


"Memang enak, muka lo uda hancur." Dona sedikit puas melihat foto Hiro sudah lecek lecek.


Brebeeet...


Aih, mati. Ketahuan sama pemilik foto yang saat ini kedatangan Hiro bak hantu itu main melepaskan dari sepatunya.


"Lo kalau marah sama gue, langsung ke orangnya aja!" sembur Hiro galak. Melihat wajahnya difoto itu hancur tak terbentuk, berhasil emosinya terbakar. "Nih, gue ada di depan lo. Mau apa lo, hah?" tantang Hiro.


"Mau apa? Nggak, gue nggak akan sentuh tubuh lo meski seujung kuku pun, karena apa? Karena lo dan gue saat ini bermusuhan."

__ADS_1


Puas memaki, Dona melanjutkan joggingnya. Meninggalkan Hiro yang tertegun di tempat.


"Musuhan?" lirih Hiro mengulang pernyataan Dona yang terdengar tidak main main itu. Harusnya ia senang bukan? Tapi ... mengapa ada seinci perasaan nya tidak terima dengan itu.


__ADS_2