
Jam pelajaran olahraga telah usai, melihat keadaan loker kondusif sepi, Liana memerintahkan kedua ante antenya menjaga pintu ruangan. Ia hendak membully Dona lagi yang kini sedang masuk ke ruangan ganti seorang diri tanpa ada siswa lain karena memang Dona paling anti ribet mengantri, cewek itu jadinya paling suka belakangan ganti baju.
"Eh, monyet..." lata Dona. Baru juga keluar dari ruangan ganti, kakinya main di sandung Liana. Untung ia refleks berpegangan di sisi kusen pintu, kalau tidak ... jatuh, pastinya ke lantai.
"Lo ngatain gue apa? Monyet, hah?" murka Liana mendelik horor.
Sayangnya, Dona kali ini tidak lagi merasa tertekan karena ancaman Liana pada foto pernikahannya itu. Akan hal tersebut, Dona malah tersenyum mengejek yang kian membuat Liana berapi api kesal.
"Sini__" Liana yang hendak mencengkeram kerah seragam Dona, tangannya berujung di pelintir ke belakangan oleh Dona. "Aww ... Aww ... Aww ..." Liana meringis ringis sakit. "Dona, aww.... Lo!"
Dari kejauhan yang sedang menjaga pintu ruangan loker, Yuni dan Icha pun dibuat tak percaya akan sikap Dona yang pembangkang alih alih takut bin patuh layaknya tempo hari di gudang.
"Dona, lepas!" bentak Liana mencoba memberontak. Tapi, Dona kian mengetatkan pelintiran itu di belakang tubuh kurus Liana.
"Gue nggak dengar, lo ngomong apa barusan? Maklum lah ya, catton bud gue sudah habis. Satu minggu ini, kuping gue belum gue korek - korek." Dengan ekspresi jijik, Dona sengaja meledek Liana.
"Kampret lo. Lepas atau kartu AS lo gue sebarin luas ke grup chat sekolah, mading dan bahkan akan gue masukin ke sosial media dengan caption provokator menjatuhkan lo, Hiro dan dampaknya juga ke Pak Fauzi!" ancam Liana menggebu gebu. Dalam hatinya, sangat penasaran berat, kenapa Dona tiba tiba melakukan perlawanan.
Dona menyeringai. Melepaskan tangannya dari kulit Liana. Itu membuat Liana lega dan berpikir bahwa Dona masih di bawah kendalinya.
"Uhhh... Mamak, gue tauuut..." Dona tersenyum polos. Dengan sengaja, Dona membuat - buat acting kicep di hadapan Liana sembari berkata ejek dengan kecadelan lebaynya. Namun gestur tubuhnya sedang bertolak belakang yang malah menyilangkan kedua tangannya di depan perut.
Bagi Dona, orang orang pembully seperti Liana ini harus diberi, kalau tidak... Dona Dona lain di sekolahnya atau di luar sana, akan tertindas terus oleh sok penguasa seperti geng Liana.
"Lo benar-benar menguji kesabaran gue, Ndut. Lo pikir gue cuma ngancam omong kosong, hah? Lihat, sebentar lagi lo akan viral di mana mana!" Liana bergegas merogoh ponselnya. Kali ini, tidak ada toleransi pengampunan lagi buat Dona. Siapa suruh, Dona sudah berani membangkang. Rasakan akibatnya!
Dona pun tak mau kalah, mengeluarkan handphonenya itu. Dengan cepat segera mengirimkan video kartu Joker ke nomer Liana, bahkan ke Yuni dan Icha pun ia kirimkan video yang sama.
__ADS_1
Jari jari Liana yang baru masuk ke aplikasi hijaunya, terhenti sembari mengangkat pandangannya ke Dona. "Lo ngirim video apa?" Liana memicing selidik.
"Dari pada gue harus jelasin capek capek yang pasti membuat mulut gue berbusa busa pegal, lo tonton sendiri aja. Kan uda di depan mata. Dan ah..." Dona menjeda, sembari memajukan kepalanya ke sisi telinga Liana. "Sebelumnya, lo harus berpikir seratus kali jika memang ingin meng-up foto pernikahan gue sampai viral," bisik Dona pelan tapi penuh penekanan.
Penasaran dengan video yang membuat Dona jumawa, Liana mengabaikan kalimat dingin itu. Segera membuka video yang Yuni dan Icha lebih dahulu terperangah melihatnya.
"Whaatttt!" kaget Liana yang amat sangat mengenal tokoh dalam video hasil rekaman Dona. "Lo__ lo..." Liana sampai kehilangan kata kata saking shocknya.
Dona tersenyum polos memamerkan gigi gigi putihnya seperti anak kecil. "Bagus kan ya, hasil rekaman gue? Jadi bagaimana, apa kita jadi nih, adu perang perangan meng-upload kartu AS lo dengan kartu Joker gue yang masing masing kita miliki, Sayang? Tapi tunggu dulu, mari kita timbang timbang konsekuensinya, siapa yang paling rugi dimari? Eumm..." Dona sengaja menjeda, nampak berpikir dengan telunjuk ditaruhnya di kening. "Poin ke satu ... gue, Hiro dan bokap Hiro yang tercinta, pasti out secara tidak terhormat. Begitu pun, Lo!"
Liana menggertakkan giginya mendengar suara Dona yang memang tidak salah. Sebagai siswa, ia mencemarkan nama baik sekolah jika Dona membuat hastag caption mengikut sertakan nama sekolah. Damn it.
"Keduanya, gue memang malu karena dikeluarkan. Tapi, malunya cuma setengah. Wong gue kan melakukan pernikahan halal! Nggak kayak lo, dikeluarkan dengan dalih menjadi penghibur pria om om. Ahh... Jangan dijeda, poin ketiganya belum lo dengar, yakni ... Lo akan diuber uber sama bini pria yang ada di dalam video sebagai cap pelakor! Uhh, seraaam. Nanti bisa bisa rambut indah lo ini akan dijambak jambak sampai botak oleh si istri sah. Bayangkan, betapa ngeri nya coba?"
Ekspresi Dona seperti orang ketakutan. Dibumbui senyum jumawa di ujungnya.
Membuat Liana mendelik penuh benci. Tapi tetap kehilangan keberanian untuk saat ini. Dalam hatinya, tangannya ingin sekali meninju ninju perut berlemak Dona yang menang mutlak kali ini. Aaarggh... Ia hanya bisa menjerit prustasi dalam hati.
"Don, kok lo jahat sama gue. Salah gue apa coba?" akting suara teraniaya di mulai yang kini di saksikan oleh Hiro.
Ciuh ... lagu basi. Dona sekadar membatin santai melihat tatapan intimidasi Hiro.
"Don!" kata Hiro minta penjelasan.
"Hiro, hiks... Tolongin gue. Dona nhedorong gue tanpa sebab," adu manja Liana. Dona terasa sakit kupingnya mendengar akting tak bermutu Liana.
Karena di tuduh, bagaimana kalau sekalian saja berbuat. Ada Hiro yang menyaksikan? Bodo amat!
__ADS_1
"Gue dorong lo? Oke, bagaimana kalau gue tambahin injak tangan lo!" Kaki Dona siap terangkat. Dengan takut, Liana cepat cepat berdiri dari lantai, padahal awalnya ia sedang menunggu Hiro memapahnya kayak di drakor bucin itu. Tapi.... Ah, kesampikan sifat Hiro yang memang cuek padanya. Dona benar-benar tidak main main ingin melindes tangannya.
" Dona! Kok lo bar bar begini sih? Gue nggak suka, ah!" Hiro mendelik dengan maksud memberi nasehat pada Dona.
Akan tetapi, Dona yang muak karena mengira Hiro itu lebih care ke Liana. Ia malah menjawab asal asalan bak orang nyanyi yang sangat menyebalkan untuk pendengaran Hiro. "Emang gue pikiriiiin!"
"Dona__!
"Eits, kalau lo mau bentak gue, sono bentak dulu penyanyi lagu itu. Gue kan cuma nyanyi, emaaaang gue pikirin. Ada yang salah kah?" Setelah bertingkah menyebalkan, Dona berlalu cuek. Tak lupa ia menabrak sengit sisi tubuh Hiro. Tapi sial, beberapa helai rambutnya terselip menyangkut di kancing baju seragam putih Hiro.
" Aww... " ringis Dona. Hiro yang tinggi, reflek menundukkan kepalanya dengan awalnya berniat membantu rambut Dona lepas. Namun Dona yang mengangkat wajahnya di waktu bersamaan, membuat wajah mereka bertemu.
Liana meradang bak cacing kepanasan menyaksikan ciuman Hiro di ujung hidung Dona. Meski ia tahu itu secara tidak sengaja, namun tetap berhasil membuat Liana cemburu iri. Seumur pacaran nya dengan Hiro, ia tidak pernah mendapat kesempatan seintim itu. Ah, si gendut menang banyak.
"Nyiiing, kok asin si, Ndut? Peeh, peeeh..." Hiro mengelap elap bibirnya.
"Hehehe, enak kan? Asin asin gurih gimana gitu, sampai rasa pecin aja kalah. Itu adalah vitamin strong alami dari cairan hidung gue. Secaraaah, gue kan pilek habis mandi air hujan kemarin." Dona melengos puas dengan langkah girang pergi yang kini rambutnya sudah bebas dari kancing baju Hiro.
" Ih, jorok amat sih, Ndut... " desis Hiro.
Dona tersenyum demon sejenak.
Hiro dan Liana hanya bisa memandang sebal punggung Dona yang kini berjalan ke arah pintu, di mana ada Yuna dan Icha di sana. Tak lupa, Dona yang juga dendam pada dua ante ante Liana ini, berbisik dingin memperingati, "Jangan lupa, jaga baik baik rahasia kalian, mana tau gue nggak sengaja mendapatkan hilal seperti video Liana."
Yuna dan Icha saling pandang sejenak, dengan ludah mereka telan kering tanpa sengaja. Melihat wajah wajah panik keduanya, Dona menyeringai, pasti mereka pun punya sisi buruk yang patut dikorek.
" Hehehe, tenang aja. Gue mah baik, cukup lo tutup mata dan mulut masing-masing, maka gue pasti juga akan bersikap demikian. See you, umaaah..." Kiss bye itu bukan hanya untuk Liana and the geng, tapi juga pada Hiro.
__ADS_1
"Hir, lihat tuh. Dona sangat menyebalkan. Gue ditindas terus. Dia itu iri sama gue karena kita pacaran," rengek manja Liana sembari menggoyang pelan lengan Hiro. Ia ingin menciptakan percikan api pertengkaran Dona dan Hiro. Akan tetapi, respon Hiro membuat nya kesal. Alih alih terpancing, Hiro malah melepaskan tangannya dari lengan itu.
" Jaga jarak, kita bukan muhrim..." Hiro beranjak cuek. Liana yang kesal, meninju ninju udara kesal.