
"Cincin gueeee!"
Dona yang baru siuman, langsung saja mencari cincin pernikahannya tanpa menyadari dirinya kini berbaring di brankar rumah sakit.
Wait?
Saat melirik jarinya, ia baru sadar kalau di punggung tangannya kini ada selang infus.
"Gue di rumah sakit?" Dona mencoba mengingat hal terakhir dialaminya yang mengakibatkan dirinya terbaring di ruangan yang beromah obat itu.
Tadi... Saat mencari cincin pernikahannya yang tak seberapa besarnya di antara rerumputan di belakang gedung, dengan susah payah berusaha manyilak semak semak, akhirnya berbuah manis, ketemu.
Akan tetapi, saat ia ingin pergi dari TKP. Tiba tiba, dari atas ada sebuah kayu melambung ke arahnya. Ia refleks menghindar. Sial, kakinya malah tergelincir dan duaghh... jatuh, terbentur ujung batu pula.
"Ssshh..." Dona meringis ngilu mengingatnya sembari memegang pelan perban yang melingkar di kepalanya. Sakit nyut nyutan, uih.
"Ck, Liana sialan..." Dona berdecak kesal, sebelum kehilangan kesadarannya seratus persen, samar samar ia melihat kepala Liana sedang buru buru menjauh dari jendela yang berada di lantai tiga, kelas mereka.
"Duh, cincinnya kemana ya?" Dona mulai konyol lagi. Mencoba melepas infus yang menurutnya terlalu berlebihan dengan keadaannya yang tidak seburuk itu, demi bisa mencari cincin yang sangat berharga untuknya.
"Jangan coba coba di lepas!" Hiro yang baru masuk, habis dari kantin rumah sakit, melerai tegas pergerakan Dona yang sedikit lagi berhasil mencabut selang.
"Hiro..." Dona bergegas menarik tubuhnya untuk duduk di atas pembaringan, tersenyum semanis mungkin untuk Hiro lihat. Meski ia tahu kalau wajahnya kini pasti kurang segar bin jelek.
"Lo kenapa sih, Ndut. Hobi banget ngebuat keluarga khawatir? Asal lo tau, mereka semua tadinya nggak mau pulang nungguin lo yang tak kunjung sadar. "
Dona melirik jam dinding sembari mendengar omelan Hiro. Jam sepuluh malam rupanya.
"Nyusahin tau, nggak!"
Dona menunduk sedih. Di saat sakit seperti ini pun, Hiro tetap saja jutek padanya. Tapi tak apa, ia masih punya hati besar untuk meluluhkan cinta Hiro.
"Lo nggak mau tanya gitu, gue terluka begini karena 'kenapa' dan pelakunya siapa?" Dona berniat menceritakan kebusukan Liana di depan Hiro, biar suaminya ini tau kalau dia mencintai gadis yang salah.
Hiro yang sebenarnya penasaran juga, akhirnya menarik kursi ke sisi brankar yang ditempati Dona.
"Karena kenapa dan siapa, eum?"
Sebelum bercerita, Dona tarik nafas panjang terlebih dahulu.
"Lo mau lahiran atau lagi asma?"
Dasar nyebelin. Dona mendumel dalam hati akan ketidaksabaran Hiro.
__ADS_1
"Gue begini gara gara Liana dan kawan-kawannya... " Semua kelakuan Liana, diceritakan Dona tanpa ia lebih lebihkan.
Hiro melengos. Tidak bersuara, tapi berpikir keras akan dua cerita yang sangat bertolak belakang. Entah siapa yang akan ia percayai, Dona atau Liana yang mengaku dibully juga oleh Dona.
"Ngapa lo diam aja, eum? Lo nggak ada niat gitu buat mutusin pacar lo yang jahat, hah?" Dona menuntut.
"Hey, bukannya yang jahat itu lo ya? Uda lupa, tadi siang lo melempar bola ke arah Liana. Asal lo tau, Liana juga bercerita kalau lo itu Membullynya sampai punggungnya sakit terbentur meja."
Si peyaang ngadu ternyata dengan karangan bebas meyakinkan Hiro. Sialan...!
Rahang Dona mengeras, sebal dengan sikap Hiro yang sudah ia prediksi bahwa ceritanya dianggap kebohongan semata.
"Hais, kenapa lo malah ngejembakin gue?" Bibir Hiro manyun manyun sembari merapikan rambutnya yang sempat ditarik oleh Dona. Dasar cewek gendut aneh.
"Biar otak lo yang katanya pintar itu, encer sedikit. Jangan buta karena cinta lo ke Liana, Hiro. Dia itu nggak pantas buat lo!"
"Terus, yang pantas buat gue, siapa? Lo, hah?"
"Yailah, gue...!" Jawab Dona cepat dan terdengar mantap.
Hiro tersenyum ejek yang tak suka dilihat oleh mata Dona.
"Gue tau kalau fisik yang gue miliki kagak sempurna yang sangat jauh dari kriteria lo, tapi setidaknya gue tulus sama lo. Dan soal cincin pernikahan kita, sepertinya hilang deh."
Meski kali ini intonasi suara Hiro terdengar lembut, tapi tetap saja membuat Dona berkecil hati.
Cincin yang ditaruh Hiro di pangkuannya, Dona raih dan menggenggamnya sembari menatap punggung Hiro yang berjalan ke arah pintu.
" Lo nggak tau, Hir, kalau cincin ini sangat berharga bagi gue. Meski sebaliknya bagi lo, nggak ada nilainya sama sekali." Dona menatap nanar benda berkilau yang ada di tengah-tengah telapak tangannya. Ingin mengabulkan permintaan Hiro yang tidak boleh lagi memakainya di jari, Dona pun melepas kalungnya dengan sedikit susah payah. Menjadikan cincin tersebut sebagai liontin yang dipastikan tidak akan dilihat oleh orang lain. Dona masih menaruh harapan, hati Hiro bisa ia miliki meski sisi batinnya mengatakan 'lo akan gagal'. Selama memiliki cincin yang merupakan simbol pernikahan mereka, Dona akan terus berusaha menggapai keinginan hatinya.
Ceklek...
Dona kira yang masuk ke ruangan, Hiro lagi, ternyata Riko.
"Hai, lo uda baikan?" kata Riko di depan pintu yang terbuka lebar. "Sorry, gue masuk tanpa ngetuk pintu. Hehhe, gini deh, gue ulang lagi."
Dona terkekeh kecil melihat tingkah konyol Riko yang benar menutup pintu lalu mengetuknya.
"Masuk!" Demi menyenangkan Riko, Dona pun menyahut seolah-olah belum tahu siapa sih tamu itu.
"Hahaha..." Mereka tertawa bersama. Sikap Dona memang ceriwis, cepat galau dan sebaliknya, cepat melupakan masalah yang dianggap tidak terlalu fatal.
"Tadi gue ketemu Hiro di koridor. Gue ajak kemari tapi katanya mau nyari angin dulu," terang Riko tanpa diminta.
__ADS_1
Dona sekadar mengangguk sok paham. "By the way, gue berterima kasih banyak atas kepedulian lo yang uda mau jenguk gue." Dona mengalihkan pembicaraan. Ia sempat gugup karena Riko menatapnya sangat intens dalam seperkian detik.
"Rik, apa ada yang aneh selain tubuh gue yang gendut?"
Riko tersenyum sembari menggeleng. "Gue bawa donat buat lo. Manatau lo lapar."
Dengan senang hati Dona meraih kotak yang disodorkan Riko. "Meski kepala berdenyut, perut tetap diisi bukan? Hehhe... Thanks ya, lo ternyata baik."
Baru juga Dona ingin memakan kue yang menggugah selerahnya itu, Hiro yang entah sejak kapan ada di ambang pintu, berseru melerai tegas, "Lo mau bertambah gendut, hah? Jangan makan yang manis manis di saat malam hari!" Hiro mengikis jarak. Menarik makanan pemberian Riko dari tangan Dona. "Ini, ada buah yang baru gue beli. Makanlah!"
Satu pisang di taruh paksa oleh Hiro ke tangan Dona dengan mata tertuju ke arah Riko penuh selidik. "Lo malam malam kemari, mau apa, Rik? Lo pasti tau kan jam besuk rumah sakit nggak di malam hari?" tanyanya mengintimidasi Riko yang sangat mencurigakan gerak geriknya menurut mata Hiro.
"Loh, bukannya kalian bertemu di luar?" Dona menyela.
Riko yang berbohong tadi yang memang tidak bertukar sapa dengan Hiro di luar, hanya bisa garuk kepala sembari tersenyum bodoh.
"Gue pamit deh. Sebenarnya, tadi gue habis nongkrong. Kebetulan lewat di rumah sakit ini, ya sudah sekalian mampir. Uda ya, gue pamit."
Riko beranjak cepat. Kecurigaan nya tadi sore akan Pak Fauzi, terdengar memaksa Hiro menyuruh menjaga Dona di depan keluarga gadis itu pun, akhirnya terjawab. Sebenarnya, tadi Riko tidak sengaja mendengar percakapan Dona dan Hiro tentang pernikahan mereka. Riko sempat shock mendengarnya, tapi ia memilih diam 'untuk saat ini.'
"Donat lebih enak tau, Hir." Dona menatap kue bulat bolong itu dengan rakus rakus. Terasa, kue itu melambai lambai ejek, minta di hap olehnya.
"Nooo... Makan ini saja." Hiro membuka cepat kulit pisang yang ukurannya ?lumayan besar. Menyuapi Dona tanpa sadar yang tentu saja disambut baik oleh Dona.
Melihat senyum Dona sembari mengunyah, Hiro baru sadar dengan perhatiannya tadi.
"Lo cemburu ada Riko tadi ya?" goda Dona semangat.
"Hah? Cemburu? Ge-errrr..."
Dona sampai memejamkan matanya ulah Hiro yang berjutek ria.
"Hahahah... Iya, lo cemburu. Noh, lihat bulu hidung lo, ada yang keluar."
"Hei, mana ada hubungannya dengan bulu hidung keluar?" Hiro yang penasaran dengan godaan Dona, reflek memeriksa hidung nya dengan berkacakan kamera hapenya. "Lo ngibulin gue, Ndut. Sialan..."
Dona malah terbahak bahak. Hiro begitu mudah ia kerjain.
"Tidur sono, besok lo boleh pulang!" Demi menyudahi tingkah konyol Dona, Hiro cepat cepat berbaring di sofa panjang.
Dona yang belum mengantuk, lebih memilih menatap wajah Hiro yang terpejam sembari menaruh satu lengannya di atas kepala.
Dona menarik sebuah buku dan pensil di atas nakas sebelahnya, yang ia kenali benda tersebut adalah milik Hiro. Menyobek kertas kosong lalu menulis sebuah karya lirik lagu yang cita cita nya itu memang menjadi komponis.
__ADS_1
Untain kalimat indah tercipta begitu saja dengan objek inspirasi ada pada Hiro. Suatu saat nanti, kalau lirik buatannya itu sudah sempurna, baru akan ia hadiahkan ke band Hiro.