
"Iya, Dok. Suntik aja. Kalau perlu pakai suntikan yang gede gede itu."
Dona yang kesal karena terus di godain Hiro dari awal ke rumah sakit sampai dengan bertemu dengan Liana di luar, melampiaskan di dalam ruangan dokter lelaki yang di temani dengan asisten suster cantik pakai anggun.
" Ah, lo mah. Tega amat sama suami. Yang kecil aja gue takut lo malah nyuruh pakai suntikan gede. Lo pengin gue mati ya?"
Dokter muda yang bertag nama Andi dan asisten cantiknya itu terkekeh lucu akan tingkah dua pelanggannya. Di tengah tengah kepenatan bekerja, mereka di hibur oleh perdebatan suami istri di depannya yang malah terlihat lucu menggemaskan alih alih menyebalkan.
"Nggak sakit, kok, Mas."
"Tuh, nggak sakit kata Dokternya. Lo mah cemen, badan gede tapi suntikkan aja takut. Kalah sama bayi," imbuh Dona gemas. "Lumayan bego, suster cantik itu yang pasti akan nyuntik bokong lo," lanjut bisik Dona memprovokasi demi menguji kesetiaan Hiro yang katanya sudah jatuh cinta padanya ini.
Lantas, Hiro melirik suster yang sedari tadi sibuk menyiapkan suntikan, lalu melirik Dona setelah nya. "Masih cantikkan lo," balas Hiro berbisik yang berhasil membuat kepala Dona terasa membesar akan pujian Hiro yang seumur umur, baru kali ini ia mendengar seorang pria jutek ini memujinya.
"Oke, alatnya uda siap. Tolong, kerjasama ya." Sang Dokter bertutur sembari mengambil suntikkan yang sudah di racik asisten nya itu. "Silakan berbaring di atas bed, Mas."
Hiro ogah ogahan bergerak dari sisi Dona. Ia memang payah kalau menyangkut suntikan karena dulu waktu kecil punya pengalaman buruk.
"Ayo, Hiro..." Paksa Dona menarik tangan Hiro yang tidak bergeming sama sekali. "Ih, jangan malu maluin otot deh."
"Tapi temani gue ya."
Alamak... Itu tandanya ia melihat bokong Hiro dong. Wajah Dona jadi bersemu.
"Temani aja, Mbak. Kan sudah suami istri ini." Dona di pojokan oleh suster yang tadinya sibuk membuka gorden biru yang sekarang sudah memperlihatkan bed pasien.
"Iya deh. Ayo masuk..." karena tidak nyaman pada Dokter dan suster yang sudah dibuang buang waktu nya oleh drama Hiro yang takut di suntik, Dona mau tidak mau harus menemani Hiro.
Sudah tengkerup di bed dengan mata tertutup rapat rapat tegang, Hiro tidak mau melepaskan pegangannya di tangan Dona yang kini berdiri di sisi bed dekat kepalanya.
Saat celana Hiro mulai disibak ke bawah. Dona buru buru memalingkan wajahnya ke arah random demi bebas dari pemandangan bokong Hiro yang belum apa apa sudah membuat pikiran Dona omes ke mana mana.
"Rileks ya, Mas. Jangan tegang atau nanti akan sakit." Cusss...
Arrrggg...
Hiro yang sudah paranoid dari awal, jadi histeris kaget berlebih saat ada tekanan suntikan yang menusuk bokong nya yang ia belum siap merilekskan otot tegangnya sesuai perintah sang Dokter sebelum nya.
"Aaarggh.. " Bukan hanya Hiro yang menjerit, Dona lebih parah karena tangan Hiro reflek merema* dadanya yang entah sadar atau tidak?
__ADS_1
Hiro buru buru membuka matanya, tapi belum sadar tangannya itu terpatri di bagian tubuh Dona. "Lo kenapa ikut menjerit? Lo juga kena suntikan?" tanya Hiro tidak merasa melakukan kesalahan.
"Tangan lo. Lihat...." Suara Dona memang pelan tapi menekan rendah sekali, dengan tatapan horornya ke tangan kurang ajar Hiro.
Buri buru Hiro menarik tangannya dengan suara ceplos begitu saja, "Pantasan empuk empuk gimana gitu yang di rasakan tangan gue... Eh, maksudnya__" Hiro kehilangan kata kata saat sadar kalimat nakalnya tercuat tanpa kompromi.
Untung masih ada Dokter dan suster di depannya, kalau tidak pasti Dona sudah menendang bokongnya yang masih berdenyut ngilu.
Sang suster dan Dokter yang menyaksikan sepasang pasutri di depan mereka pun, sedari tadi terkekeh kekeh lucu sampai sudut mereka terasa kebas.
Pasangan aneh tapi lucu bagi mereka.
"Hehehe, maaf ya, Dok. Resep obatnya saya ambil ya. Permisi, Dok, suster. Marii...." Dona yang salah tingkah dibuat Hiro, segera undur diri.
"Eh, salah ambil catatan, Mbak. Ini mah bekas nota minimarket." tegur sang suster sembari menarik catatan obat yang harus di tebus Dona.
"Hehehe, salah ya." Dona cengengesan bodoh lalu segera menukar kertas tersebut. Lanjut menarik tangan Hiro untuk pergi.
"Dasar malu maluin..." Dona ingin menendang bokong bekas Hiro saat mereka sudah di luar ruangan. Tidak lagi lagi ia mau menemani Hiro ke rumah sakit. Kapok.
"Hehehe, nggak kena." ejek Hiro menghindar. Dona cemberut, lalu lebih dahulu beranjak dari sana.
Pulang dari rumah sakit, Dona yang sudah berkata tidak ingin tinggal di apartemen yang banyak tikusnya itu, terpaksa mengijinkan Hiro tinggal di kamarnya karena terus mengungkit kesalahannya yang mengakibatkan asam lambung akutnya naik. Hiro meminta pertanggung jawaban katanya. Lebih lebih, Papa Mamanya tadi begitu antusias menyambut Hiro tinggal di rumahnya yang membuat Dona kalah telak.
"Ini obatnya, jangan lupa di minum," kata Dona sembari menaruh segelas air putih di sebelah obat hasil resep dokter tadi.
"Lo boleh bebas di kamar gue mau ngapain juga, asal jangan macam macam __" Sengaja Dona menjeda ucapannya dan sebagai gantinya, ia menunjuk tubuhnya. "Di larang keras main curi curi ciuman apalagi seperti tadi di rumah sakit...." Dona menunjuk dadanya membuat Hiro menaikkan sudut bibirnya tipis sembari melirik sekilas tangannya yang sempat menang banyak. Karena otaknya normal, ia jadi ingin mengulanginya lagi. Boleh minta nggak ya.
"Paham, nggak ? Kok lo malah melamun?"
"Paham aja deh." Tapi nggak janji, imbuh Hiro dalam hati diiringi senyum misteriusnya.
"Apa ada yang lucu?"
"Nggak calon Mama. Kata dedek di perut lo, jangan galak galak sama calon Papa. Hahhaha..." Hiro berakhir tergelak karena Dona yang ia goda memukulinya menggunakan boneka beruang.
"Jangan ungkit yang itu. Itu, itu cuma__"
"Cuma cemburu kan? Hayo ngaku!" Karena terus di pukuli menggunakan boneka, Hiro yang duduk di tepi kasur terpaksa menarik pergelangan tangan Dona. Gadis itu yang kurang siaga, terjatuh ke pangkuan Hiro. Ingin turun cepat tapi pergerakan tangan Hiro yang menahan kedua sisi pinggangnya lebih gesit lagi.
__ADS_1
Dona menelan ludahnya susah payah. Scene ini sangat intim yang tak terbayangkan sebelumnya akan terjadi. Dulu, ia sering menghalu akan melewati kisah romantis dengan Hiro, tapi setelah terjadi mengapa ia gugup setengah mati. Duh, kaki di bawah sana pakai gemeteran lagi.
"Lepasin, Hiro," pinta Dona gugup.
Hiro menulikan telinganya dengan mata tertuju tepat di kedua netra Dona. Sengaja, biar Dona melihat ada kesungguhan di sana.
Inilah saatnya ia harus meluruskan hubungan nya dengan Liana yang sama sekali tidak ada spesial-spesialnya baginya itu. Biar Dona tidak uring uringan terus jika menyangkut nama Liana.
"Dari dulu, gue punya stasus pacar dengan Liana hanya sebagai batas perjanjian, Don. Bukan real yang namanya jatuh cinta."
Mendengar penjelasan itu, Dona jadi berhenti memberontak yang ingin turun. Ia mencobanya membalas tatapan intens Hiro dengan rasa penasaran akan cerita Hiro.
"Terpaksa?"
"Iya, Karena Fourged butuh vokalis cewek, kami akhirnya merekrut dia. Tapi sebagai tanda dealnya, Liana maksa gue jadi pacarnya. Waktu itu, ada event dadakan luar sekolah yang mengisyaratkan harus ada vokalis cewek. Jadi kami yang tidak punya banyak waktu mencari seorang cewek yang suaranya merdu, terpaksa gue iyain aja keinginan Liana," terang Hiro jujur apa adanya. Dari kemarin ingin menjelaskan ke Dona, tapi tidak punya kesempatan. Akhirnya, ia plong saat Dona mau mendengarnya. Sekarang kembali lagi pada pendapat Dona yang mau percaya atau nggaknya?
"Kalau gue tau lo bisa nyanyi sih, gue ajak lo," imbuh Hiro yang membuat Dona tersadar dari pemikirannya sendiri.
"Turunin gue..." Entah kenapa, Dona mendengar kalimat imbuhan yang terakhir Hiro itu sebagai ejekan mutlak masuk ke kuping nya. Karena apa? Karena dulu, Hiro sangat jijik melihatnya yang gendut parah. Jadi mana mungkin juga Hiro lapang dada merekrut orang yang fisiknya lebih dari kata normal, meski dari dulu tau tentang skillnya bukan? Meski ia tahu juga, mungkin Hiro tidak ada niat mengejeknya kali ini. Ia hanya paranoid sendiri karena memang trauma di bully.
"Loh... kenapa tampang lo sewot begitu? Lo nggak percaya sama cerita gue? Tanya deh ke Riko dan Viko, mereka juga tau kok persyaratan Liana yang itu. Sebagai bukti nyatanya juga, lo dari dulu kan sering ngikutin hari gue yang hampir dua puluh empat jam, coba ingat ingat lagi... Apa gue pernah keluar malam ngedate sama Liana? Terus, kalau Liana spesial di mata gue, pasti foto dia uda gue pajang di kamar pribadi gue atau hal manis lainnya. Tapi lo nggak pernah lihat gue bersikap manis ke dia kan? Lain halnya jika sedang manggung, itu adalah tuntutan sebagai ke profesionalan dalam bekerja sama menciptakan kemistri!"
Hiro meyakinkan Dona sampai menggebu gebu saking ia ingin Dona mempercayai nya. Biar Dona tidak bete, ia juga terpaksa melepaskan Dona dari pangkuannya.
"Don, kok malah pergi?" Hiro bangkit dari tepi ranjang. Mengikuti Dona ke arah pintu. "Lo harus percaya, gue dan Liana nggak ada __"
Dona tiba-tiba membalik tubuhnya dan mensarkas Hiro. "Berisik amat sih! Nanti Mama Papa dengar. Mending lo minum obat lalu istirahat."
Hiro cemburut. Ia tidak tahu salahnya di mana lagi sampai Dona bisa marah. "Gue minta maaf kalau ada kata kata gue yang menyinggung. Tapi yang mana?"
Permintaan maaf Hiro yang tulus terdengar seperti sebuah magic yang meluluhkan hati Dona. Tapi tak urung lagi membahas soal Liana atau pun bobot tubuhnya yang bad dulu.
"Sana minum obat." Suara Dona melembut membuat Hiro mengangguk patuh. Saat berbalik, ia nyaris kesandung karpet berbulu bulu lembut. Dompet yang berada di saku dangkalnya terjatuh di dekat kaki Dona.
Karena dompet itu terbuka lebar, Dona sekilas melihat samar foto perempuan di sana. Belum jelas pemilik wajah foto itu, Hiro sudah meraih dompetnya.
Hah... Apa itu foto Liana? Dona jadi meragu lagi dengan segala klarifikasi Hiro tentang hubungan paksanya dengan Liana. Auh ah, butek otak Dona. Curhat ke Olla mungkin memberi nya sebuah jalan keluar.
***
__ADS_1