Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 33# Ditolak Pak Jamal


__ADS_3

Inilah hari yang ditunggu tunggu para siswa tingkatan terakhir setelah beberapa hari melalui ujian ... pengumuman kelulusan.


Dari beberapa meter, Dona memandang rombongan besar yang sedang berlomba lomba mencari namanya di daftar kelulusan.


Dona yang malas berdesak desakan, memutuskan untuk duduk di kursi panjang, dekat taman kecil. Ia akan ke sana jika keadaan sudah sedikit sepi.


"Ehem..."


Tanpa mengangkat pandangannya pun, Dona sudah tau siapa pemilik dehaman serta sepatu putih yang berada di depan kakinya ... Hiro.


"Lo nyantai amat? Nggak niat untuk melihat pengumuman?" Hiro main duduk di sebelah Dona dengan memandang lekat lekat wajah gadis itu yang seperti kurang bersemangat.


Liana yang melihat dari kejauhan, memandang sinis kedekatan mereka berdua. Tapi tidak ada keberanian untuk mendekat.


"Ngapain buru buru, toh pengumuman itu tetap stay di sana." Dona menjawab sekenanya dengan tetap sibuk mengoperasikan hape yang berada di tangannya.


"Nanti malam, gue mau ajak lo dinner, mau nggak?" ajak Hiro tanpa basa basi lagi.


Pasti akan membicarakan perceraian atau study nya keluar Negeri. Dona menebak dalam hati. Sejenak menatap wajah Hiro yang seketika memamerkan senyum manisnya.


"Jangan luluh, senyumnya itu mengandung kekecewaan nantinya." Lagi, Dona membatin. Mencoba menekan perasaannya demi tidak ada lagi kecewaan yang mendalam yang akan diperolehnya.


"Nggak bisa, gue ada janji sama orang," tolak Dona datar.


"Orang? Siapa? Ketemunya di mana?" Mode posesif itu langsung saja tercuat. Hiro merebut hape Dona demi bisa melihat, siapakah gerangan yang berhasil membuat Dona berpaling darinya.


Bang Iko? Waah... Tidak bisa dibiarkan.


"Hiro, balikin nggak?" Dona berusaha merebut alat komunikasinya yang sekarang dipegang oleh Hiro. Chatnya di baca sesuka mata Hiro saat ini.


"Balikin atau __"


"Atau apa, eum?" serga Hiro seraya menghindari pergerakan tangan Dona.


"Atau gue akan ... cubit..."


Dona tidak berbohong dengan ancamannya, mencubit keras perut Hiro tanpa segan memutar kukunya.


"Awww... Sakit, Don. Ampun, issh... Ini, ini, gue balikin!" seru Hiro sewot sesekali meringis karena betapa sakit cubitan itu.


Dengan hape sudah aman di tangan, gegas Dona bangkit dari kursi tersebut.


"Lo nggak boleh keluar nanti malam bersama Ikan Ikon itu, titik!" larangan itu seperti perintah baginda raja yang harus dipatuhi. Ia juga sengaja memelesetkan nama pria dewasa itu.


Namun Dona sengaja menulikan telinganya. Berjalan ke arah mading ingin melihat, apakah namanya beruntung di sana.


Karena sudah lumayan sepi, Dona dengan leluasa mencari namanya di daftar tersebut.


Hiro yang tidak ingin kecolongan yang katanya Dona ingin bertemu seseorang yang bernama Ikan ikon itu, terus membuntuti Dona.


"Setidaknya gue lulus meski di urutan nomer dua paling terakhir." Dona mengakui, kalau akademiknya memang payah. Namun hal itu tidak membuatnya patah semangat, ia lebih memupuni non-akademik.


"Lo nggak mau ngeberi gue selamat? Secara, gue ada di nilai tertinggi." Hiro tiba tiba bersuara dengan alis di naik turunkan bangga bangga sombong yang kini berada di sisi kiri Dona.


"Eh, Nina, lo dengar suara seseorang nggak? Kok orangnya ngga kelihatan? Setan kali ya?"


Waah, Dona dibaik baikin malah nyebelin. Dikatain setan coeg. Bibir Hiro jadi cemberut manja. Siswi yang ditanyain Dona barusan, malah salah fokus sama bibir Hiro yang seksi abis.

__ADS_1


"Haiiii, Hiroooo..."


"Idihh, malah genit lo." Dona mencibir. Lebih tepatnya, ia merutuk dirinya sendiri karena tingkah Nina ini mengingatkan sikapnya yang lalu lalu pada Hiro. Memalukan!


"Lagian, cogan begini lo katain setan." Nina tersenyum manis ke Hiro. Yang di senyumin pura pura tidak melihat.


"Nggak beres!" Dona lebih baik menghindar. Ia tidak bisa mencari sekutu asyik selain Olla seorang.


"Eh, Don..." teriak Hiro minta tolong. Cewek yang bernama Nina ini menarik ujung belakang bajunya saat hendak mengikuti Dona. Tapi, orang yang dipanggil namanya terus melangkah semakin menjauh.


"Nina, lepasin!" pinta Hiro tegas.


"Ih, jangan galak galak! Gue cuma mau minta tanda tangan."


Dari pada urusannya panjang, Hiro segera menurut. Sial baginya, bayangan Dona kini menghilang lagi. Mencari di gedung sekolah itu tidak mudah, karena wilayahnya cukup luas. Hiro hanya bisa berdecak kesal beberapa kali dengan kaki terus menelusuri koridor.


"Hir..." Panggil Riko di dekat aula. Hiro jadi ingat, kalau ia harus latihan untuk pentas pelepasan siswa siswi di hari perpisahan sekolah nanti.


Bersikap profesional, Hiro akhirnya mengurungkan niatnya mencari Dona. Berbelok arah menuju Riko dan Viko serta Liana yang sudah menunggunya.


Di sisi Dona, gadis itu memasuki ruang BK mencari Pak Jamal dengan kepentingan rencananya nanti saat acara pelepasan siswa.


"Siang, Pak," sapa Dona takzim.


Dari kursinya, Pak Jamal mendongak sembari membenarkan kacamata anti miopinya.


"Siang, apa ada sesuatu?"


Dona mengangguk. "Saya boleh duduk, Pak?"


Setelah duduknya sudah merasa nyaman, Dona segera menyampaikan niatnya, "Saya ingin menjadi salah satu siswa yang ikut meramaikan acara pelepasan, Pak."


Bukan tanpa sebab Dona menawarkan dirinya. Itu demi misinya yang ingin menuntut banyak hal pada Fourged dan semua orang yang hadir di hari itu.


"Tentu, kan kamu salah satu anggotanya."


Dona menghela nafas sabar. Si bapak ini salah mengartikan pengajuannya.


"Bukan anggota yang hanya duduk manis di kursi menunggu namanya di panggil hanya untuk pengambilan ijazah, Pak. Tapi __


Pak Jamal memotong perkataan Dona sembari menyenderkan punggungnya ke kursi yang sedikit nyeri karena kecapean mengurus banyak hal. "Maksudmu, kamu ingin berpartisipasi dalam acaranya? Mempersembahkan apa, eum? Puisi? Nari? Nyanyi? Pidato atau... Ah, tunggu dulu, Coba... Bapak ingin melihat daftar kelulusan. Kira kira kamu ada di peringkat berapa? Sstt, naik satu tingkat paling akhir."


Dona tahu, intonasi serta gestur tubuh Pak Jamal ini sedang mengolok-olok dirinya yang kurang dalam hal akedemik. Kalau bukan guru yang harus dihormati, mulut Dona yang gatal itu pasti sudah berceletuk pedas, membalas tanpa segan lagi. Ini sama saja pembullyan yang mematahkan semangat calon mahasiswi. Bagaimana kalau orang yang di olok olok mentalnya itu segede biji kacang hijau? Pasti akan sangat down bukan? No problem, she is a strong woman. Dona tidak akan menyerah hanya karena terpaan angin kecil yang beraroma busuk.


"Bapak kalau menolak pengajuan saya, cukup tinggal bilang 'Daftar sudah penuh di isi oleh siswa yang berprestasi.' Selesai perkara tanpa harus melukai perasaan orang bodoh seperti saya bukan? Maaf sudah mengganggu waktu berharga, Bapak. Saya permisi."


Tanpa menunggu suara Pak Jamal yang ia jeda dengan kalimat halus halus nusuknya, Dona bergegas cepat beranjak dari ruangan itu.


"Anak zaman sekarang, nambah berani bersikap kurang ajar."


Sabar...


Dona mendengar cemoohan tersebut tepat langkahnya di gawang pintu, tapi ia tak ada niat berbalik barang sesaat. Ia pun sebenarnya tak ada maksud sedikitpun bersikap kurang ajar pada guru yang merupakan salah satu orang yang berjasa pada hidupnya, namun yang bersangkutan lebih dahulu bersikap hal kurang wajar. Inilah contoh kalimat yang menggambarkan peribahasa yang berbunyi, makin kesana makin kesini. Tidak selamanya anak zaman sekarang selalu salah, mungkin pemikiran gurunya ini terlalu kolot, perlu di upgrade sesuai zaman teknologi yang maju.


"Hai, Don. Gue cari ternyata lo mojok di mari."


Di kantin, Olla yang baru datang, main narik botol mineral milik Dona.

__ADS_1


"Eh, ngapa tampang lo kayak baju yang nggak kena gosokan? Le'cek amat." Olla baru menyadari sang sahabat lagi galau.


"Gue baru keluar dari ruangan Pak Jamal, La."


"Terus, terus?" Olla penasaran. Tapi dari tampang bete Dona, ia sudah memprediksi kegagalan Dona.


Tuh kan, Dona menggeleng lemas. "Ditolak!"


"Dasar guru virus. Uda tua tapi tingkah nyebelin," gerutu Olla mengomel. "Andai ada di sini, gue cabut deh satu persatu ubannya sampai botak."


Dona segera menendang pelan sepatu Olla di bawa sana. Berbisik pelan dengan berkata, "Ada noh orangnya, lagi pesan es teh di ibu kantin. Sono, cabut gih jembu* eh, uban nya maksud gue."


Ada orangnya katanya. Eh, tapi Dona kan sering jahil. "Gue ogah nengok ke belakang, lo pasti ngibul nakutin gue kan?" Olla menolak keras dibodohi.


Dona dengan paksa, memutar setengah kepala sang sahabat karena tidak percaya kejujurannya.


"Alamaak, benar ding. Kira kira dia dengar nggak ya niat jahat gue, Don?" Olla berbisik dengan ringisan jipernya.


"Huu, dasar, omong doang gede." Dona mencibir. Tapi anehnya, Olla malah cengengesan konyol.


Setelah Pak Jamal sudah pergi dengan es teh segelas di tangan, Dona kembali meminta solusi ke Olla.


"Kalau gue nggak dapat kesempatan di panggung nanti, bagaimana dong rencana yang sudah kita atur, La. Masa iya Liana berikut bandnya di atas angin terus? Itu namanya kebenaran terlalu lemah."


Hening, Olla menopang dagunya sembari berpikir keras. Bibirnya yang tipis iseng meniup anak rambutnya. Dona hanya geleng geleng kepala melihat mimik lucu setengah nyebelin Olla.


" Ahaaaa... "


" Uhhuukk..." Dona yang lagi meneguk air putih, sampai terkesiap kaget akan suara heboh Olla. Tidak sengaja ia memuncratkan airnya keluar.


"Nyinggg, kena muka gue. Untung sedikit, tapi tetap aja jijik, ah..." Olla menggerutu sembari meraih tissue.


Dona tercengir bodoh penuh dosa. "Lagian salah sendiri bikin kaget," katanya memberi pembelaan.


"Lupakan itu. Sini, gue bisikin ide berlian gue."


Dona menurut. Mendekatkan sisi telinga kanannya ke arah bibir Olla. Entah apa yang dibisikkan, hanya Dona dan Olla yang tahu.


"Aaahh, gue mau cium lo. Sini, La. Love you pokoknya." Dona yang setuju dengan ide berlian Olla yang sebenarnya konyol dan tak tahu diri itu, jadi excited.


"Iih, ogah. Nanti kita dikira ga*, eh, lesb* ding." Tolak keras Olla sembari mendorong wajah Dona menjauh yang sebenarnya ia paham kalau Dona cuma menggodanya saja.


"Hehehe, gue terima toyoran lo." Dona terkekeh.


Ting...


Tiba tiba, bunyi hape Olla berdenting. Ada pesan dari Bang Iko.


"Ya, Don. Kita nggak jadi ditraktir makan malam sama Bang Iko. Ada hal penting yang nggak boleh ditunda katanya," terang Olla.


Yaa, chat Dona yang sempat dibaca Hiro tadi memang ajakan dinner Bang Iko, tapi bukan hanya berdua saja, melainkan Olla pun diajak.


"Nggak masalah, La. Gue juga harus lebih ekstra menyiapkan mental saat acara nanti. Dan semoga, glossophobia gue nggak muncul saat tiba waktunya."


Dona tersenyum hangat pada Olla, tapi hatinya resah memikirkan apa yang akan terjadi jika ia benar-benar tampil di depan orang banyak untuk pertama kalinya.


" Jangan cemas. Lo kan selama ini uda latihan. Bahkan, lo kemarin tampil suka rela di panti asuhan menghibur anak anak malang itu, dan hasilnya sempurnaaaa..."

__ADS_1


__ADS_2