Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 36# Karya Saya!


__ADS_3

"Betul, Bu. Saya adalah orang yang pernah tak tahu diri karena sempat membuat spam chat di sosmed pribadi Anda demi kepentingan saya."


Dona menjawab pertanyaan Ibu Suci dengan sedikit mengakui kesalahannya di satu tahun yang lalu. Dimana, ia memaksa beliau membeli karyanya dengan caption yang sangat narsis, memuji muji kualitas karyanya tiap hari seperti sales panci yang berjuang untuk dilirik dagangannya. Malu sih, tapi begitulah perjuangan.


Ibu Suci terkekeh mengingat kegalakannya tempo dulu pada Dona, karena sebelumnya ia mengira pemilik akan bernama 'Miss Gemoy' ini hanya netizen iseng yang akan membuang buang waktu berharganya. Akan tetapi, serangkaian demi rangkaian peristiwa, mereka berujung menjadi mitra yang saling menguntungkan.


"Ibu tidak menyangka kita akan dipertemukan di momen ini ya, Miss... Ah, maksud saya, Dona."


Dona tersenyum ramah menyambut kalimat hangat wanita yang mungkin umurnya hampir memasuki kepala empat ini.


Lain halnya orang-orang sekitar, mereka semua kian antusias dan penasaran melihat keakraban Dona dan Ibu Suci- Dosen yang terkenal tegas dan digadang gadang memiliki agensi orkestra simfoni.


"Bapak dan Ibu sekalian, serta siswa dan siswi yang hebat, karena saya sudah berdiri di atas panggung, apakah saya boleh sedikit diberi waktu berbicara?" Ibu Suci yang sedari tadi mengamati acara graduation ini yang keluar dari slide tersusun, bertutur sembari menatap sang Empu acara yakni para guru dan diberi anggukan dari Pak Fauzi. Mereka sepertinya butuh pencerahan mutlak tentang Dona.


" Terimakasih, Pak. Sesuai pengamatan saya sedari tadi, Sepertinya banyak dan bahkan mungkin tidak ada yang sama sekali mengenal bakat Dona di sini__"


"Saya tahu, Bu!" Di kursi sana, Olla berceletuk sedikit tidak terima dengan pernyataan Ibu Suci. Enak saja, hey... tengil tengil begini juga ia adalah teman sejati Dona. Ibarat kata, bau kentut Dona pun ia hafal aromanya.


Menyadari tindakannya, Olla dengan kenyol memamerkan gigi gigi putihnya sembari duduk kembali.


Ibu Suci sekadar tersenyum maklum. "Saya akan memberi tahukan yang belum tahu saja," tuturnya menyahuti Olla. Sejurus, Ibu Suci memandang sekilas Pak Jamal yang di amatinya sedari tadi. Satu guru ini, ia yakini adalah guru yang menghina Dona, sesuai pengakuan pidato Dona tanpa menyebut nama itu.


"Dona yang saya kenal napen - nya sebagai Miss Gemoy adalah calon komposer dan arranger yang hebat. Ah, ralat, bukan calon lagi, tapi perlu saya akui, kalau Dona sudah bisa dibilang memupini bidang seni musik. Tiga karya instrumen klasiknya yang saya beli, dan saya populerkan bersama Orkestra Simfoni kami, dengan saya pribadi yang dirigen-in langsung, telah mendapat penghargaan luar biasa ketika kami tampil di sebuah acara berkelas di Singapore waktu dua bulan lalu."


Mendengar pengakuan penuh kebanggaan Ibu Dosen terhadap Dona, membuat tepuk tangan riuh mendominasi momentum di ruangan luas tersebut.


Perasaan Dona terharu. Tapi mengingat tugasnya belum selesai, ia sebisa mungkin manahan diri untuk tidak berlaku konyol.


Lain halnya orang orang terdekat Dona yang tercengang speeclhess. Hilda yang tadinya menangis sedih, kini terulas air mata haru penuh kebanggaan.


Pak Jamal yang berada di sisi Dona, seketika kehilangan nyali untuk mengultimatum Dona. Ia tidak berani lagi bersuara, sekarang lebih mirip patung pajangan di atas sana.

__ADS_1


"Jadi kesimpulannya, kita sebagai pengajar sejati, sepertinya kurang etis jika hanya menilai pelajar disisi kekurangannya. Belum tentu bukan, individu itu jago matematika, tapi kurang memupini dalam pelajaran lainnya? Intinya, semua bisa sukses di bidangnya masing-masing jika orang yang bersangkutan berani mendongkrak kamampuannya. Penyampaian terakhir saya, untuk Dona, Ibu akan mempromosikan namamu di Universitas kami agar bisa mendapat beasiswa. Kami pasti akan senang mendapat calon mahasiswi yang berbakat seperti mu. "


"Terimakasih, Bu Suci. Saya sangat senang mendengarnya."


Dona tidak pernah membayangkan, akan mendapat jakpot double double begini. Saking bahagia nya, matanya sampai berkaca kaca haru.


"Selamat, Dona." Demi bersikap gentleman, Pak Jamal mengakui kesalahannya dengan cara menepuk lembut pundak Dona sebelum turun panggung mengikuti langkah hati hati Ibu Suci. Wajahnya tertunduk, tidak kuasa menatap sesama profesinya yang roman romannya pada curiga, ialah guru yang pernah menghina Dona.


Di sisi Liana, gadis itu tidak suka melihat pencapaian Dona yang sampai sampai bernasib baik bisa dipinang beasiswa langsung dari Dosen Seni seperti Ibu Suci ini. Liana meradang, penyakit iri hati kian timbul untuk nama Dona. Liana tidak peduli dan tidak mendengarkan segala deklarasi Dona tentang pembullyannya tadi. Pokoknya, ia harus lebih sukses, titik.


"Baiklah, sebagai penutupnya, lo akan gue buat malu. Lagian, bagaimana cara lo mengangkat dagu tinggi tinggi turun dari panggung, jika konon seorang komposer katanya, nggak bisa menyanyikan ciptaannya sendiri. Ini lucu bukan?" batin Liana jahat yang mengira Dona belum bisa mengontrol glossophobia nya di depan piano atau alat musik lainnya.


Inilah waktu tepat melakukannya, saat Pak Jamal sudah berada di anak tangga terakhir. Dengan percaya diri, Liana bergegas berdiri dari kursinya dengan suara lantang menjeda Dona yang sebenarnya ingin memulai mengungkapkan kecurangan Liana. "KAMI BOLEH MENDENGAR SALAH SATU KARYA MU, DONA? KAMI SANGAT PENASARAN! DENGAN BEGITU, MENYANYILAH UNTUK KAMI."


Karena provokasi Liana, semua orang jadi antusias memajukan niat Liana yang terselubung. Tapi, mereka real hanya penasaran oleh skill Dona.


Hiro? sejak tadi ia kehilangan rotasinya mengetahui Dona lebih memupini musik daripada dirinya.


Wajah Hiro tiba-tiba memucat dengan perasaan kacau tidak menentu. Tadi, Dona dengan berani menantang salah satu guru yang ia yakini adalah Pak Jamal. Jika guru saja bisa dilawan Dona, bagaimana dengan bandnya? Oh, Shiit... Hiro bergegas melangkah lebih dekat ke arah panggung, tapi Liana dan semua orang yang meminta pembuktian skill Dona, membuatnya telat membawa Dona turun dari panggung, istrinya itu sudah mengiyakan keinginan audiensi dengan kaki sudah melangkah ke arah alat musik piano.


"Aaarggh, Dona pasti punya rencana mempermalukan band gue," batin Hiro cemas. Tidak, ia menolak bandnya kehilangan muka hanya karena gara gara Liana yang berbohong.


"Nggak mungkin Dona bisa melawan glossophobianya," batin Liana yakin, masih berpikir menang mutlak menggunakan kelemahan Dona.


Tapi, saat tuts tuts piano disentuh oleh jari jemari lentik Dona, suara dentingan musik yang mengalun indah dan berkelas, sudah berhasil menskakmat Liana. Gadis itu terduduk lemas sembari menutup mulutnya yang terperangah shock.


Prook... Prook... Prokk....


Dona sedikit mengangkat pandangannya ke arah Liana alih alih menikmati tepuk tangan meriah pujian dari para audiensi.


Tak lupa, pandangan meradangnya juga sekilas tertuju ke arah Hiro, Viko dan Riko pun tak tertinggalkan.

__ADS_1


Suiiit.... Suittt....


Olla, gadis itu bersiul siul liar nan kencang terdengar saat permainan tangan Dona kian lincah dan instrumennya semakin rumit tapi indah masuk ke kuping.


"Nyanyiiii, Donaaaa...!" teriak Olla tidak sabaran. Temannya ini memang baru bermain-main instrumennya saja. Bagaimana kalau mereka mendengar suara serak serak basah Dona? Nyahoo lo pada, umpatan itu Olla tujukan ke Fourged.


Melihat keantusiasan sang sahabat, Dona akhirnya perlahan mengubah instrumen rumit itu ke nada yang tak asing bagi Fourged dan semuanya.


Dona menyeringai cuek saat tatapan matanya jatuh pada kode Hiro yang menggeleng yang mungkin mengisyaratkan


'jangan.'


'Maaf, Liana adalah bagian dari Fourged, kesalahannya harus kalian tanggung juga karena kesempatan yang uda gue beri, disisakannya," batin Dona mantap ingin menskakmat mulut besar Liana yang sekarang nampak jiper di antara Riko dan Viko di sana.


" Wahai cinta pertama ... Katakan padaku__"


"HAYYY ... ITU LAGU ANAK SAYA! MINTA IJIN DULU KALAU MAU MENYANYIKANNYA!"


Disayangkan bagi pendengar suara Dona yang baru intro itu saja, sudah mampu menghipnotis, harus terjeda karena Mama Liana di kursi wali sana, berteriak bar bar menghentikan aksi Dona. Bahkan, wanita yang mengenakan kebaya modern brukat biru muda itu, sampai berkacak pinggang galak.


"Aduh, Mama..." Liana segera bangkit. Berlari ke arah Mamanya untuk menghentikan segala sesuatu yang bisa membuatnya terpojok nantinya.


"Benarkah, Bu? Coba tanya ke anak Ibu dulu, mana tau ada penjelasan yang kurang valid darinya?"


Kalimat ambigu Dona, sekarang menimbulkan pertanyaan besar dari orang-orang yang belum paham pangkal cerita nya.


Melihat gestur Liana yang hanya diam seribu bahasa, membuat Dona tidak mau main main lagi. Demi harga diri dan keadilannya sendiri, ia pun dengan lantang mengungkapkan asal usul lagu tersebut.


"Lagu yang tadi saya nyanyikan dengan lagu yang tadi Fourged tampilkan adalah karya saya yang dicuri anak Ibu. Benar kan, Liana?"


Keadaan mulai heboh heboh tegang lagi bagi para audiensi. Hari ini, Dona benar benar membuat banyak kejutan untuk semuanya.

__ADS_1


__ADS_2