Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 24# Latihan Penuh Excited


__ADS_3

"Lo lama amat sih, Na!" sembur Riko galak saat Liana baru sampai yang katanya izin ke toilet.


"Tau nih, dua puluh menit lo nyia-nyiain waktu latihan kita!" Viko yang kesal pun, ikut mengomel.


Hiro? Ia lebih memamerkan wajah dinginnya.


"Kalian sensi amat sih. Tapi no problem, lo lo pada akan ceria lagi setelah tau gua bawa hadiah besar untuk band Fourged kita."


Wajah wajah tiga pria di depan Liana ini, lantas berekspresi penasaran.


"Apa? Buruan katakan, kita nggak ada waktu banyak lagi!" tutur Hiro tegas.


Liana segera memamerkan kertas ber-not irama ciptaan lagu Dona itu di depan ketiga pria di depannya.


Dengan penuh percaya dirinya, iapun berkata, "Setelah dari toilet, gue ke kelas terlebih dahulu ngambil ciptaan lagu yang khusus gue buat untuk Fourged." Liana tersenyum full melihat ekspresi ekspresi takjub di depannya.


Inilah namanya kerja licik yang cantik, Dona yang bersusah susah payah berkarya, tapi yang menikmati pujian dan hasilnya adalah dirinya. Win solution baginya, tapi untuk Dona ... tinggal ampasnya saja. Siapa suruh jadi orang menyebalkan dalam hidupnya, maka rasakan!


"Gila, ini benar ciptaan lo?" Hiro nampak excited mengambil kertas berharga itu dari Liana.


"Iya, dong. Ini lagu romantis yang terkhusus tercipta atas nama lo." Liana semakin asyik mengarang bebas. Tapi karangannya itu memang tidak sepenuhnya berbohong. Lirik itu tercipta oleh Dona atas nama cinta nya ke Hiro.


Liana berharap, hati Hiro luluh dan mau benar benar mencintainya.


"Dari pada kita buang buang waktu, bagaimana kalau kita pelajari sekarang?" Viko memberi usul.


"Ayo..." Disambut kompak nan semangat oleh tiga rekan lainnya.


Akan tetapi, latihan mereka terhalang lagi karena para anak seni tari sudah masuk meminta jam aula.


"Yaaah, nggak jadi nih?" keluh Liana. "Bagaimana kalau kita latihannya di apartemen Hiro lagi aja," ide Liana yang memang sengaja ingin membuat Dona meledak setelah tau kecurangannya.


"Eum, bagaimana yaak? " Hiro nampak ragu dan bingung. Ia tidak ingin mengulang kesalahannya dengan cara mengusir Dona meski beberapa jam saja, atau dengan cara mengatai Dona sebagai babu yang sebenarnya waktu itu hanya keceplosan.


"Ah, kelamaan mikir lo, Hir. Pokoknya kami akan datang." Viko memutuskan dengan mutlak tak mau diganggu gugat.


Liana menyeringai puas.


"Tapi __" Hiro terjeda karena Viko dan Liana beranjak duluan. Riko yang paham dengan kecemasan Hiro, hanya bisa menepuk pundak sang sahabat.

__ADS_1


"Dona bagaimana ya?" gumam Hiro bingung.


Tidak bisa leluasa mengobrol banyak secara langsung dengan Dona yang akan membahas hal pribadi, Hiro memutuskan untuk via chat saja.


"Anak anak mau latihan di rumah lagi?"


"Terus, gue harus ngomong ... boleh gitu?" balas Dona tak butuh waktu lama.


Hiro berdecak sebal. "Boleh nggak?"


"Tumben nanya pendapat gue. Biasanya juga gasssss aja kayak buang kentut."


Dona ngajaknya peran lewat chat sepertinya. Hiro mengambil duduk asal asalan di ujung koridor lantai satu. Baru proses ketik chat sarkasme Dona, pesan gadis itu masuk lagi. "Mereka boleh datang, gue sebenarnya juga ada perlu sama Olla."


Hiro tersenyum mendapat izin. Chat sarkasnya ia hapus kembali dengan menggantinya emoji menjulurkan lidah yang banyak.


"Nih, kue buat lo." Dona membalas emoji taikkk yang tak kalah banyak.


Hiro tersenyum, ia bisa menebak ekspresi kesal Dona yang pasti lucu di seberang sana.


***


Sepulang sekolah, Dona benar-benar pergi bersama Olla.


"Namanya juga club, ya pasti ada ramenyalah. Kalau mau sepi, lo ke kuburan sono," jawab Olla sembari membelok setirnya ke arah parkiran club yang memang kini mereka sudah sampai.


Dona segera turun dari motor dengan mata terus memindai papan reklame club olahraga yang terpangpang di atas sana.


"Kalau lo konsisten, jangankan tubuh ideal, lo bisa juga nguasain dasar dasar ilmu pertahanan diri dari serangan orang jahat. Daripada ngobrol terus di sini, mending kita masuk dah. Ayo!"


Olla menarik tangan Dona yang wajahnya terbaca penuh keraguan. Sahabatnya ini memang punya sindrom glossophobia.


"Lo tenang aja. Salah satu trainer di sini adalah kakak sepupu gue. Dan lo nggak sendiri kok, ada gue dan banyak Dona Dona lain yang awalnya punya permasalahan kayak lo." Olla kembali meyakinkan Dona dengan memberitahukan, kalau ia ada sebagai tameng jika ada Nak Muay yang julid di dalam sana.


"Lo memang sahabat gue." Perasaan Dona jadi tenang.


"Iyalah, kan lo seorang doang yang ikhlas jadi teman gue." Olla memamerkan senyum bodohnya karena merasa bernasib sama dengan Dona yang sering dibully. Bedanya, Dona dibully body shaming dengan kata-kata nyelekit gendut dan lain sebagainya, sementara ia sering dikatain cewek jadi jadian karena perangainya yang tomboy. Ah, sama ding ... Body shaming juga kan namanya?


"Woi, Laaa... Lo mau di situ terus atau mau ikut pemanasan?!" teriakan dari seorang pria berotot keras di sana, membuyarkan atensi Olla dan Dona. Lantas, para mata member club tersebut pun sebagian besar menoleh sesaat.

__ADS_1


"Sini dulu, Bang!" panggil Olla pada trainer sekaligus sepupunya itu.


Pria itu mendekat membuat Dona mundur selangkah tanpa sadar karena sedikit ngeri ngeri sedap sekaligus penasaran ingin menekan otot bicep pria dewasa kekar ini.


"Ini Dona yang gue ceritain kemarin. Don, ini kakak sepupu gue, panggil aja Abang Iko." Olla memperkenalkan dengan lugas.


Pria yang bernama Abang Iko ini tersenyum ramah pada Dona. Terang di balas juga dengan Dona meski masih canggung.


"Hay, gue uda dengar permasalahan lo. So, lo siap membakar lemak hari ini juga?" tanyanya takzim pada Dona.


"I-iya..." Dona mengangguk dengan suara gugup. Pada orang asing, ia memang tidak bisa langsung akrab.


"Rileks aja, Nak Muay di sini welcome semua kok. Kalau begitu, kalian ganti baju seragam dulu. Mulai hari ini, gue sendiri yang akan jadi trainer pertama lo."


Baik sekali, puji Dona hanya dalam hati.


"Harus lo terus, Bang. Gue nggak mau trainer lain. Dona orangnya enggak mudah akrab dengan orang asing," tutur Olla yang membuat Dona merasa aman akan sikap pengertian Olla padanya.


"Beres itu mah!" Abang Iko mengangkat jempolnya pertanda paham betul akan kepribadian Dona. Orang yang terkadang mendapat bullyan berlebihan, cenderung memang akan menjadi pemilih. Bukan karena sombong, melainkan ada rasa trauma dan insecure, mungkin.


Dan di sepanjang sore itu, Dona mulai berolahraga berat. Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat hebat pertanda pembakaran kalori telah terlaksana. Lama lama, Dona mulai rileks. Berkomunikasi baik pun dengan Bang Iko.


"Jab kiri ... Terus, sekali lagi ...!"


"Ganti strike... Lebih bertenaga! Setelahnya, low kick dua sesi. Bagus... Iya, seperti itu."


Dona membuka lebar lebar telinganya agar bisa konsen menjalankan instruksi Bang Iko. Di setiap pergerakannya itu, dituntut harus bertenaga bin tidak boleh menye menye. Dan demi hidup sehatnya yang ingin membuang lemak lemak jahat berlebihan itu, ia rela mengorbankan tubuhnya remuk redam seperti habis dipukuli pemilik jambu dikala ketahuan mencuri.


Sementara di sisi Hiro dan band nya, mereka semua berlatih dengan sangat excited menggunakan lagu baru ciptaan Dona yang diakui milik Liana.


Dentuman alat musik beradu dengan suara nyanyian merdu Hiro dan Liana secara bersamaan, yang kini sedang intro, berakhir fade out sempurna.


"Wooow..." Riko dan Viko sampai berhigh five saking girangnya melewati latihan yang paling sempurna selama mereka bergabung.


Hiro tersenyum melihat keduanya. Begitupun Liana yang menyeringai puas.


"Gila, Na. Ciptaan lagu lo sangat menyentuh!" Puji Viko dan disetujui oleh Riko.


"Thanks..." Liana menerima pujian dengan tak tahu malunya. "Bagaimana kalau latihan sekali lagi. Kan kita mau audisi di cafe terkenal itu," ide Liana. Sebenarnya ia penasaran akan keberadaan Dona yang tidak terlihat sejak awal kedatangan mereka.

__ADS_1


"Oke, mari latihan lagi." Hiro yang memang sangat menggilai musik, tentu saja lupa pada waktu.


Mereka latihan terus yang kini Dona sudah berada di depan pintu unit, sedang menekan password.


__ADS_2