
Jam pelajaran Pak Jamal sedang berlangsung sejak lima puluh menit yang lalu. Sebelumnya, Dona sempat laporan pada Olla, kalau percobaan meluluhkan hati Hiro yang pertama, gagal totaaal. Kata Olla tadi, nggak apa apa, nanti bisa dicoba dengan metode lain.
"Beberapa minggu ke depannya kalian akan memasuki ujian nasional. Mohon untuk semuanya lebih giat belajar lagi terutama yang nilainya rendah belakangan ini," pidato Pak Jamal di depan sana. Dona yang otaknya penuh dengan nama Hiro, tidak terlalu mendengarkan segala ocehan Pak Guru.
Paling belakang nan pojok sana, Dona cuma menopang dagu dengan mata terus teruju pada bangku Hiro.
" Dona! " panggil Pak Jamal. Siswinya yang satu ini sudah ditandai merah oleh Pak Jamal sedari awal karena nilainya paling buruk.
"Don, lo dipanggil noh." Olla menyadarkan Dona dengan cara menyikut lemak perut Dona.
"Saya, Pak!" kata Dona menyahut gelagapan memaksa dirinya sadar dari penyakit halunya yang kambuh lagi. Jangan sampai dihukum deh.
"Iya, kamu. Kamu mau lulus ujian kan?"
"Tentu dong, Pak!" Dona menjawab mantap.
"Belajar lebih giat lagi!"
Dona menunduk malu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia memang merasa paling bodoh otaknya saat diberi makanan rumus pelajaran.
"Kalau boleh tau, cita cita mu jadi apa?" tanya Pak Jamal sudah seperti guru SD yang bertanya pada siswa baru.
Lantas, Dona mengangkat kembali kepalanya, penuh semangat menjawab, "Cita cita saya jadi ibu dari anak-anak Hiro, Pak." Itu salah satu cita-cita besar Dona selain menjadi komponis terkenal.
"Hahahaha..." Para siswa tertawa lepas kecuali Hiro yang menyembunyikan kepalanya ke meja malu dan Liana yang mengerang murka ke arah Dona. Hihihi... Dona senang melihat ekspresi terbakar Liana. Panas lo sono.
"Don, jadi ibu anak gue, mau nggak?" tawar Riko membuat suasana kian heboh nan berisik.
Pak Fauzi- Papa Hiro, selaku kepala sekolah yang kebetulan lewat, sampai penasaran sehingga menoleh ke jendela. Pak Jamal melihatnya, auto si Bapak menggeprak meja sembari berkata melerai keributan yang diawali dari Dona - murid somplaknya itu. "Sudah, sudah. Kalian ada ada saja." Pak Jamal geleng-geleng kepala. Anak zaman sekarang terlalu ekstrim cara pemikirannya. "Dan kamu, Dona ... istirahat nanti tolong temui saya ke ruangan guru."
Duh, salah apalagi dirinya. Nasib nasib, apakah akan dihukum lagi?
Jam pelajaran usai. Hiro cepat cepat keluar kelas menghindari Dona yang pasti ujung ujungnya selalu membuat ulah. Di susul dua sahabatnya yakni Viko dan Riko.
"Don, gue ke toilet dulu ya. Mau E tambah E." kata Olla sembari mengapit kedua pahanya menahan sesuatu. Tanpa menunggu jawaban Dona, Olla main kacir karena kebelet ee.
__ADS_1
Melihat keadaan kondusif di mana Hiro tidak akan melihatnya melakukan bully-an, Liana dan dua rekannya menghampiri Dona yang masih stay duduk di bangkunya. Mumpung sepi dari anak anak lainnya.
Saat Dona ingin berdiri, Liana dengan keras menekan bahu Dona sampai terduduk kembali.
"Eh, Ndut. Lo tau benar kalau gue dan Hiro itu pacaran, jadi jangan halu bisa merebut dia dari gue!" Liana mengangkat paksa dagu Dona. Sementara dua temannya sedari tadi memegang masing-masing tangan Dona sehingga pergerakan Dona terbatas.
"Ih, lepas. Sakit tau..." Dona yakin, kalau dagunya pasti memerah ulah Liana yang mencengkeramnya.
"Makanya, kalau lo nggak mau berurusan sama gue, lo jangan coba coba menggoda pacar gue lagi! Sadar diri napa, tubuh berlemak begini mimpi punya pacar spec pangeran! Ngaca!" Liana menepuk nepuk pipi Dona sedikit keras sebagai peringatan tegasnya.
Saat Dona ingin membela diri, Icha- teman Liana tiba-tiba memotong perkataannya, "Ndut, lo pakai cincin pernikahan?"
Mampus ... kenapa ia melupakan melepas cincin pernikahannya sih?
"Bukan kok, ini cincin biasa." Dona berbohong. Meski rasanya lidahnya itu gatal ingin mengakui Hiro adalah suaminya di depan Liana, tapi mengingat masalah yang akan diterima, terpaksa Dona menutup rapat rapat bibirnya.
"Oh, cincin biasa ya?" Liana menyeringai jahat. "Tapi gue kok nggak percaya ya. Apalagi, desain cincin ini sangat indah dan pasti mahal."
"Eeeeh, Liana, jangan diambil!" Dona tidak kuasa mencegah Liana yang saat ini berusaha meloloskan cincin di jari manisnya. "Itu cincin sangat berharga, tolong balikin."
Dona yang tidak mau kehilangan barang paling berharga yang dimilikinya, terus berusaha merebut benda tersebut yang di oper sana sini oleh tiga orang di sekelilingnya.
Nafas Dona ngos-ngosan. Liana begitu puas dengan kerjaannya yang berhasil membully Dona hari ini.
"Yaak, payah. Makanya lemak kurangin supaya pergerakan lo nggak terbatas. Dasar gendut!" ejek Liana disusul tawa meremehkan dari kedua temannya.
Dona yang muak dihina dan dikerjain terus, tidak pikir panjang lagi tentang masalah yang akan ia dapat setelahnya, Dona main menyeruduk tubuh Liana. Bugh ... begitu keras hantaman kepala Dona ke perut itu, membuat Liana terjungkal ke belakang mengenai bangku pula.
"Aaarggh..." Liana menjerit sakit di lantai itu. Sebagai balasannya, ia melempar cincin Dona ke sembarangan arah.
"Cincin gue...!" Dona tidak peduli pada Liana yang ia sakiti. Mengejar cincinnya ke arah... Oh, Shiiit... Keluar jendela yang sialnya kelasnya itu berada di lantai tiga.
Dona menangadakan kepalanya keluar. OMG, tinggi sekali. Ia tidak mungkin melompat keluar, nanti dikira ada sapi bisa terbang.
"What the ****..." Makian Liana yang di selangi tangis cengeng karena kesakitan di bagian punggungnya, dianggap nyanyian pengusir lalat oleh Dona. Gadis bertubuh tambun itu, tak peduli sama sekali dan lebih memilih berlari keluar kelas, hendak mencari cincinnya yang jatuh di area belakang sekolah, lebih tepatnya di dekat gudang.
__ADS_1
"Awaaas, ada air panas!" kata Dona di anak tangga, para siswa yang menghadang larinya sangat meresahkan karena tidak mau minggir. Terpaksa ia menyerobot begitu saja. Dimaki maki lagi, tapi bodo amat. Cincin oh cincin, Dona kelabakan dibuat mu.
"Eh, Dona. Ngapain lo lari lari? Kayak dikejar setan," tanya Riko saat berpapasan dengan Dona. Ia yang habis dari kantin dengan tangan membawa makanan serta minuman untuk dirinya juga Hiro dan Viko yang berada di tempat tongkrongannya.
Dona tidak merespon. Riko sendiri yang sedang ribet tangannya, memilih memberikan terlebih dahulu makanan tersebut ke teman-temannya.
Baru juga Riko sampai di depan Viko dan Hiro, Liana beserta ante antenya tiba dengan keadaan memprihatinkan.
"Hikks, Hirooo..." Liana terisak pilu. Matanya dihiasi genangan air lebay. Hendak mengadu perbuatan Dona yang pastinya akan melebih lebihkan cerita.
"Lo kenapa?" tanya Hiro penasaran. Viko dan Riko pun demikian, penasaran parah.
Hiro bangkit dari duduknya memberi ruang pada Liana menempati kursi yang saat ini mereka ada di sound control.
"Dona ... dia yang ngebully gue ampe punggung gue terluka. Sakit sekali..."
Dona sudah keterlaluan. Terlalu cemburu pada Liana sampai melakukan kekerasan. Buktinya, Dona juga sempat mencelakai Liana menggunakan bola, tapi salah sasaran mengenainya.
Hiro yang bergumam demikian, main menelan mentah mentah karangan bebas Liana yang dibantu bersaksi oleh Yuna dan Icha.
"Dona pingsan, woi. Dona pingsan...!"
Hiro dan lainnya samar samar mendengar keributan beberapa siswa yang kebetulan lewat.
Tanpa mempedulikan Liana yang juga kesakitan, Hiro main pergi begitu saja meninggalkan para teman temannya. Riko yang care pada Dona, jelas mengikuti langkah panjang Hiro.
Kabar burung tentang Dona tidak salah rupanya, Dona benar benar pingsan yang saat ini telah dipapah tubuhnya gotong royong oleh beberapa siswa menuju mobil Pak Fauzi, Papanya.
Ting ... ting...
Mata jeli Hiro, tidak sengaja melihat cincin bergelinding ke tanah parkiran. Entah dari mana asalnya, tapi ia tidak asing... Ah, rupanya milik Dona. Hiro mengenali saat sudah berada di tangannya. Segera ia mengantonginya sembari mendekati Papanya yang terlihat cemas. "Pa, Dona kenapa?" tanya Hiro.
Pak Fauzi yang buru buru membuka pintu bagian kemudi mobilnya, berkata tanpa melirik Hiro. "Kamu nyusul saja ke rumah sakit."
Dona sudah berada di kabin belakang bersama dengan guru wanita, menopang kepala Dona yang terluka.
__ADS_1
"Yuk, Bro. Kita susul. Pakai motor gue aja." Riko menarik cepat tangan Hiro yang tertegun menatap kepergian mobil papanya.