Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 17# Saling Menjahili


__ADS_3

Seragam sudah melekat sempurna. Hiro yang lapar, menuju ke arah dapur. Berharap Dona sudah selesai menyiapkan sarapan layaknya seperti hari sebelumnya.


Namun, di meja makan itu, Dona duduk anteng menikmati sarapan serba buah tanpa ada piring lain khusus untuk nya. Buah? Tumben amat si sapi bocor ini sarapannya yang berserat, biasanya juga yang berkalori tinggi.


"Sarapan gue mana, Ndut?"


Dona mengangkat pandangannya dengan malas sembari menusuk potongan buah apel dan pir masuk ke dalam mulutnya. "Nih, buat lo."


Bukan makanan yang disodorkan Dona ke arahnya. Melainkan sebuah amplop yang isinya entah apa.


"Apa ini?" Penasaran, Hiro meraihnya lalu membukanya. Matanya memicing sinis ke arah Dona setelah melihat isi amplop tersebut. "Maksud lo, gue disuruh makan uang, eum?"


Ya ... Isinya adalah uang yang entah berapa jumlahnya.


"Bodoh aja lo kalau lo makan uang. Yang ada uang yang tadinya lima juta dari orang tua, kita bagi dua. Serah lo mau beli sarapan jenis apa."


Tingkah Dona yang dingin sekarang, lebih membuat Hiro semakin tidak suka.


"Oke, fine! Gue __ Ndut, hei! Gue lagi ngomong. Kenapa lo main tinggal, hah?" Hiro menggeprak meja makan kesal manakala Dona cabut begitu saja. Padahal tadinya ia mau minta maaf soal kata 'Babu' yang spontan ia katakan demi mengelak di depan Liana dan lainnya.


"Kalau lo benar-benar ingin musuhan sama gue, maka fine. Gue jabanin!"


Dona mendengar suara sewot Hiro di belakang sana, tapi ia cuek saja sembari melenggang kangkung masuk ke kamar untuk mengambil tas sekolahnya.


Tidak berlama-lama di dalam, Dona keluar sudah siap berangkat ke sekolah.

__ADS_1


"Hiro!" bentak Dona. Kakinya yang sengaja disandung Hiro, membuat ia nyaris mencium lantai. Untung ia reflek berpegangan di lengan Hiro sehingga gagal nyungsep seperti kodok kejengkang.


Hiro menyeringai. "Bagaimana? Definisi musuhan seperti apa yang lo inginkan dari gue, eum? Kekerasan atau diam diaman seperti bocah SD?"


Dona sekadar menggertakkan gigi giginya sembari menarik tangan nya dari lengan Hiro.


Berlalu pergi begitu saja tanda ia tidak niat berdebat lebih panjang dengan Hiro yang seperti sengaja ingin membuatnya kesal.


Dari belakang, Hiro mengekor langkah Dona. Masuk ke dalam lift bersama dengan mulut rapat satu sama lain. Hiro sengaja memutar mutar kunci motor di tangannya, sebagai ledekan ke Dona kalau ia ke sekolah tidak usah repot repot menunggu bus atau angkot.


"Cih, lo nggak tau aja. Ban motor lo uda gue kempesin setelah selesai jogging tadi subuh." Dona membatin jumawa. Saking kesal nya pada Hiro, ia berperilaku jahat. Biar Hiro tau, orang dijahatin itu tidak enak rasanya.


"Ngapa lo senyum senyum, hah? Jangan bilang lo lagi nge halu jorok di dalam lift seperti ini?"


Aih, ternyata ia keciduk tersenyum kecil toh. Sebenarnya bukan menghalu, tapi membayangkan ekspresi sial Hiro setelah sampai di depan ban motor kempes adalah alasannya.


"Idih, halu lo konyol seperti dongeng. Kodok tetap aja kodok. Nanti gue anter lo ke got, nyariin kodok yang lo mau cium itu," kata Hiro menggebu gebu. Dona mengajaknya musuhan bukan? Maka hayo dijabanin sekalian.


"Huu.." Dona sekadar mendengus sebal. Setelahnya, melangkah keluar saat pintu lift terbuka.


Keduanya saling mengambil arah berbeda, Dona ke arah pintu keluar pelataran apartemen menuju halte bus yang harus memakan waktu beberapa menit berjalan ke depan.


Sementara Hiro berjalan ke arah parkiran terkhusus kendaraan beroda dua. Belum menyadari keadaan motornya, Hiro segera menunggangi kuda besinya. Ada yang terasa mengganjal, Hiro bergegas turun lagi, mengecek kedua rodanya.


"Sial, dua duanya kempes. Kok bisa sih?" Hiro menendang kesal ban bagian depan dengan sedikit keras. "Aww..." desisnya kesakitan.

__ADS_1


Tiba tiba, ujung matanya melihat sesuatu yang berkilau. Ia berjongkok mengambil benda kecil yang tak asing itu. "Jepitan ini kan seperti milik Dona. Apa jangan jangan ini kelakuannya...? Ah, awas lo, Ndut. Lo uda benar-benar ngibarin bendera peperangan rupanya."


Tidak ada waktu untuk membawa motornya ke bengkel, Hiro dengan cepat berjalan ke arah jalan yang biasa Dona lewati menuju jalan raya.


Nah, orangnya kelihatan yang belum sampai ke halte. Hiro bergegas berlari kecil. Dari belakang, ia menarik ikat rambut Dona sampai kunciran kuda itu terlepas.


"Hais, Hiro...!" Dona memerengut melihat Hiro melempar jauh jauh ikat rambutnya. Untung ia punya cadangan di dalam tasnya.


"Mau marah? Bodoh amat!" Hiro bergegas berjalan duluan setelah puas melihat wajah bete Dona. Sebenarnya, ia belum puas membalas tingkah anak anak Dona yang sengaja menyabotase ban motornya. Dengan hal itu, ia tidak mengatakan kekesalannya sekarang. Nanti akan ia balas lagi.


Sampai di halte. Hiro menyeringai lega melihat ada Riko yang menghentikan motornya. Pasti mau mengajaknya berangkat bersama.


"Hai, Hiro. Hai, Dona," sapa ramah Riko dengan tersenyum full ke Dona.


"Hai," balas Dona tak kalah ramahnya.


Hiro seperti tidak suka. Wajahnya asem terlihat. "Ayo, berangkat!" katanya ke Riko, ingin mengakhiri muka muka yang pada tersenyum full di depannya.


"Eh, tapi gue mau ajak Dona. Dari kemarin gue jadi ojek nya. Iya, kan, Dona." kata Riko sembari tersenyum tak enak pada Hiro.


"Betul sekali..." desis Dona dengan nada mengejek ke Hiro sembari bergegas menggeser tubuh Hiro yang menghalang dirinya akan naik ke boncengan Riko. "Bye - bye, Hirooooo..." Dona dengan ejek menjulurkan lidahnya pada Hiro.


"Argh, dasar sapi bocor!" umpat Hiro meninju kesal udara kosong.


Dalam kekesalannya, ia tiba tiba mengingat perkataan Riko yang katanya 'apakah Dona punya pacar?'

__ADS_1


"Jangan jangan, Riko benar-benar menyukai Dona? Baaah... Ngajak ribut mereka berdua!" Kalimatnya yang terakhir, sebenarnya Hiro pun tak dipahaminya, kenapa ia tidak suka melihat kedekatan mereka?


__ADS_2