
"Sebelum kamu protes, sebaiknya lihat dulu titik kerugian saya, sebagai pemilik asli dari lagu yang membuat nama Fourged belakangan ini populer dari sebelum-sebelumnya. Ah, tolong jangan di jeda biar waktu kita di sini nggak berlarut larut." Dona menatap Viko yang ingin menyela..
Terpaksa, Viko membungkam mulutnya.
"Saya lanjutkan dengan poin kerugian saya yaitu, lagu itu sudah diketahui sebagai milik Fourged. Mulai dari lingkungan sekolah ini, dan lingkungan sekolah lain karena kalian menang kompetisi antar SMA menggunakan lagu saya. Betul begitu, Bu Gea?"
Pertanyaan Dona, di angguki Ibu guru tersebut tanpa mengeluarkan satu patah katapun. Dan Dona puas atas kerja sama sang guru yang tidak banyak omong.
"Selain itu, Kalian sudah memviral di akun sosmed milik Fourged dengan mengatasnamakan siapa di sana? Apakah nama saya? Bukan! Tapi nama Liana. Kalian dengan bangga mendapat komen komen dari penggemar kalian, bahkan saya lihat, ada beberapa musisi ternama ikut melirik lagu tersebut. Siapa yang rugi dan untung? Tentu sudah tau jawabannya, bukan? Tidak adil bagi saya. "
"Hasil view lagu itu dari beberapa akun Fourged di sosmed, akan kami berikan kepada mu, Don." Riko menyela dengan suara lemah.
"Ini bukan soal uang, Ko. Tapi hak cipta. Kamu pasti tau betul sebagai public figur, bukan?" Dona tetap menyikapi dengan suara tegas, ia tidak mau naif dengan cara memberi maaf begitu saja.
"Jadi, Dona. Mau kamu apa?" Hiro yang sadar diri, jika Dona di sini korban, terpaksa harus mengalah dan lebih memilih to the point akhir keinginan Dona. Dari cela mana pun, ia tidak akan menang mendebat Dona yang merupakan orang yang tertindas. Mengalah lebih baik!
Dona tersenyum tipis tipis tajam, si lawan rupanya mengalah begitu cepatnya. Tidak sesuai ekspektasinya, tapi bagus juga karena ia tidak ingin berlama lama lagi di ruangan yang sumpek itu.
"Tentu saja sebuah klarifikasi hak cipta di depan umum. Karena di aula acara masih berlanjut, saya ingin kalian semua memulai pengakuan kesalahan yang ada, terutama kamu Liana!" putus Dona mutlak. Katakanlah ia kali ini sedikit kejam karena secara tidak langsung, detik detik kehancuran Fourged terutama Liana sedang ia taruh di ambang jurang. Bisa selamat atau pyiaaar... Hancur.
"Dona, kamu yakin?" Tania memandang Dona dengan raut susah di artikan gadis itu. Mungkin setelah kejadian ini, kedua mertuanya akan bersikap acuh tak acuh padanya? Entahlah, sedikit sedih sih, tapi sekali lagi ... demi hak dan harga dirinya.
"Maaf, Ma__maksud saya, Tante. Ini bukan soal pribadi, tapi hak saya," tutur Dona menjelaskan, minta dimengerti. Mengingat hubungan pribadinya akan usai bersama Hiro atas nama perceraian, maka sekalian saja ia memberi kenangan buruk untuk Hiro tanpa kata tanggung lagi.
"Pak Fauzi, saya menunggu persetujuan mereka. Kalau tidak mau pun, maka maaf, sesuai keinginan Mama saya dari awal percekcokannya dengan Mama Liana, yang katanya akan menggunakan jalur hukum, pasti akan secepatnya terlaksana."
Anak mantunya ini sepertinya tidak main main, Pak Fauzi jadi makan buah simalakama. Sebagai seorang pemimpin dan seorang Ayah sekaligus, tentu saja harus mengambil keputusan yang berat baginya. Apalagi ia sudah memprediksi hasil akhirnya, bahwa bisa saja mimpi anaknya tentang musik, jadi hancur yang baru merangkap ini. Kasihan sih, tapi keadilan juga diminta oleh Dona. Ingin rasanya, Pak Fauzi mengundurkan diri saat itu juga karena pilihannya begitu berat.
__ADS_1
"Saya akan melakukannya!" tukas Hiro secara tiba-tiba dengan mata menatap netra Dona lekat lekat dalam seperkian detik.
Tidak mau terhipnotis atau luluh begitu saja, Dona segera membuang pandangannya sembari berdiri dari kursi.
"Hiro, lo yakin?" tanya Viko.
"Kita akan hancur loh?" Riko memberi tahukan hal terburuk yang akan diterima secara gamblang.
"Ya, gue tau konsekuensi nya. Menolak untuk sekarang pun, beberapa hari ke depannya juga kita akan dipermasalahkan lagi, jadi lebih baik nggak menunda nunda masalah," putus Hiro yakin. Biarkan, Dona ini puas melihat karirnya hancur berkeping keping.
"Ayo, Ma, Pa, kita ke aula." Dona yang pertama kali beranjak dari tempat tersebut.
Melihat itu, Olla yang masih bandel menguping dan mengintip persidangan kecil tersebut, segera pontang panting meninggalkan ambang pintu. Duaaar, tong sampah laknat. Olla jadinya terjengkang karena tidak sengaja menabrak fasilitas sekolah itu. Bodo amat dengan beberapa sampah yang berserakan, cepat cepat ia beranjak. Selamaaaaat.
Satu persatu semua orang mengikuti langkah Pak Fauzi menuju ke aula, dengan perasaan berkecamuk apalagi Liana yang paling dicap tersangka utama.
"Mama, tolongin, Ma," rengek Liana pada Mamanya yang berjalan paling belakang.
Deg...
Liana terpukul berat mendapati suara penuh kekecewaan Mamanya.
Mama yang tadinya keras paling depan menjadi tameng, saat Dona memojokkannya tadi, kini tidak ada lagi karena sadar diri anaknya itu salah besar.
Kedatangan rombongan Pak Fauzi itu, menjadi tanda tanya besar bagi orang-orang yang memang masih melanjutkan acaranya di bawa tanggung jawaban Pak Jamal.
Karena memang acara tersebut sebentar lagi akan memasuki ending, maka klarifikasi yang akan di lakukan Fourged, disuruh naik di penghujung acara saja.
__ADS_1
Dan inilah saatnya yang Dona tunggu tunggu dari final perjuangannya, empat orang di atas panggung sana, saat ini menjadi perhatian penuh. Masih mode silent, membuat para audiensi bertanya tanya, ada apa?
Karena di sini Liana lah yang biang keroknya, Hiro sengaja memberikan mikrofon yang ia pegang ke arah tangan Liana. "Lakukan!" bisiknya dingin penuh penekanan.
Dengan tangan bergetar, Liana meraih mikrofon itu. Entah kenapa, ia tiba tiba merasakan demam panggung.
"Se-sela-selamat __"
Suara Liana yang gagap itu, langsung saja disambut sorakan ganas dari para audiensi.
Karena tidak bisa mundur lagi, Liana yang lebih takut dituntut secara hukum oleh Dona, mau tidak mau mengeluarkan suaranya yang terbata bata itu untuk mengklarifikasi hak cipta sesungguhnya lagu itu.
"Lagu yang berjudul 'kekasih pertama' tersebut adalah mi-milik Dona yang saya cu-curi__"
"Huuuuuu..."
Baru beberapa kata pengakuan Liana, sorakan tajam dari audiens terdengar sangat mengerikan. Bukan hanya sorakan cemooh saja yang Fourged dapat, tapi ada beberapa tangan tangan nakal melempari mereka boto bekas dan hal lain sebagainya.
Hiro sangat malu. Dari kejauhan sana, ia melihat Dona malah pergi seorang diri meninggalkan aula. Kepergian Dona itu justru membuat tanda tanya besar bagi Hiro. Apakah Dona tidak kuat menyaksikan kehancurannya? Atau...? Entahlah.
Karena tidak kuat menahan tekanan atas apa yang ia petik dari buah kejahatannya, Liana yang malunya dari ujung rambut sampai ujung kaki, bahkan ke seluruh peredarannya, gadis itu berujung pingsan di atas panggung.
Bukannya iba, para audiensi itu malah meninggikan sorakannya. Tak peduli dengan beberapa guru yang naik ke panggung untuk membawa tubuh Liana yang pingsan itu turun.
Hiro dan dua kawannya, tentu saja ikut mendapatkan getah buah yang di tanam Liana.
Hiro tidak ada muka lagi untuk kembali manggung. Apalagi, klarifikasi ini belum selesai. Ia dan Fourged juga harus memberi penjelasan ke beberapa akun milik Fourged. Dan di dunia maya itu, pasti mulut netizen lebih parah nyinyirnya.
__ADS_1
Sepertinya, para guru dan semua yang ikut acara graduetion tersebut, akan mengingat hari ini di sepanjang sejarah sekolah SMA itu.
Apalagi Hiro dan bandnya, nama mereka yang sudah jelek, tidak akan dipercayai lagi untuk manggung. Apalah arti sebuah musisi tanpa adanya penggemar? Nol besar!