
"Hiro apa apaan sih, masa pacar sendiri dihukum juga. Weekend dua hari kemarin susah dihubungi, giliran bertemu eh malah disuruh bersihin toilet. Nyebelin deh."
"Memang nyebelin tuh, Hiro. Kalau gue jadi lo mah, putusin langsung dah, biar ngeek ngook..." Dona menimpali omelan Liana dengan provokasinya. Kapan lagi coba bisa manas manasin Liana biar putus, auto si abang suami menjadi miliknya tanpa ada lagi bayangan Liana. Pintar kan Dona.
Mendengar kalimat provokasi Dona, Liana yang tadinya di depan cermin toilet, baru sadar kalau ini itu semuanya gara gara Dona. Coba si Ndut tadi tidak menghadang jalan motornya di depan gerbang, Hiro pasti akan memberinya jalan.
"Enak aja putusin!" sembur Liana galak. Bibir Dona cemberut. "Gue dan Hiro adalah pasangan serasi."
Ih, Dona ingin muntah mendengarnya. Meski kenyataannya memang seperti itu sih. Hiks... Galau Dona.
"Nih, ambil mop-nya, lo sendiri yang harus bersihin toilet."
"Oh, nggak bisa!" Dona menolak ditindas. Mop yang diberikan Liana, enggan untuk diambil.
"Lo tau kan, Ndut, gue itu siapa?"
"Taulah, lo kan Liana. Ada yang spesial?"
Dari dulu, si Ndut ini memang susah dibully olehnya, pintar ngeles dan kadang dibelain Olla - si tomboy galak dan juga Riko. Mumpung mereka berdua saja, seringai devil pun terlihat diraut bibir Liana.
"Yakin nggak takut sama gue?"
Dona mundur mundur manakala Liana mengacungkan gagang mop ke arah perutnya.
"Lo kalau mau lemak gue, ngomong dong. Gue beri gratis."
Hendak dibully, si Ndut masih sempat sempatnya saja berkelakar. Liana kian tertantang sebel.
"Lo pikir, lo itu lucu, Ndut? Ah, benar sih. Lo cocoknya jadi badut. Lemak lo uda ngedukung, tinggal ngelukis wajah lo biar mirip badut cemong."
Sialan. Dona tidak terima dikatain badut. Sekonyong-konyongnya, ujung mop yang sedikit lagi menyentuh perutnya oleh kelakuan Liana, Dona tarik keras. "Hehe... Makanya, jadi cewek badan itu jangan seperti sapu ijuk. Diberi tenaga sedikit, uda meleyot patah."
Dona puas melihat Liana ikut tertarik saat ia membela diri menyingkirkan gagang pe-lan tersebut. Alhasil, Liana saat ini ngejogrok di lantai seperti kodok mabuk.
"Dona! Kamu apain Liana?"
Eh, mampus! Disalahpahami oleh Pak Guru BK.
"Dia melukai ku, Pak." Liana berakting sedih sambil meringis ringis sakit. Mengambil kesempatan dalam kesalahpahaman.
"Enggak, kok," tepis Dona.
"Tapi Bapak melihat dengan mata kepala Bapak. Bagaimana kamu mau mengelak lagi eum?"
__ADS_1
"Harusnya mata Bapak datang terlebih dahulu. Biar nggak__"
"Dona!"
Eh, apa yang salah dengan kalimatnya? Kok dibentak.
"Jadi maksudmu, mata Bapak harus dicopot duluan dari kepala? Begitu?"
Duh, diam saja lah. Daripada salah melulu dan lebih parahnya Pak BK ini sudah menyipratkan gerimisnya ke wajah Dona tiap kali berbicara.
"Liana, kamu keluar saja. Biar Dona yang menyelesaikan hukumannya."
Emang enak di ultimatum. Puas Liana menikmati hasilnya tanpa bekerja keras. "Permisi, Pak. Auhh... Tulang ekor ku sakit sekali." Liana berpura-pura kesakitan. Berlalu di depan Dona dan Pak Jamal dengan langkah terseok akting.
"Ih, gue sumpahin jatuh dan sakit beneran..." batin Dona sebal.
Tinggal berdua dengan Pak Jamal.
"Setelah hukuman selesai, baru lapor sama Bapak ke ruang BK. Dengar kan Dona?"
"Dengar, Pak. Kan Dona masih muda, belum ubanan jadi nggak tuli."
Pak Jamal refleks memegang rambutnya yang sudah dimeriahkan beberapa helai uban.
"Astagfirullah ... Bapak buruk sangka melulu ih." Dona mengelus dadanya sabar.
"Ah, udahlah. Pokoknya, kelarin hukuman mu supaya bisa mengikuti pelajaran jam kedua. Bapak pergi dulu." Pak Jamal pusing sendiri. Entah ia yang bodoh atau muridnya inilah yang pintar memilih kosa kata alami menyindirnya.
"Pantes ubanan, marah marah melulu sih." Dona mendumel setelah bayangan Pak Guru sudah menghilang. Sejurus mendesaaah kasar melihat keadaan toilet yang kotor parah. Apalagi saat membuka salah satu pintu toilet, ia menemukan hal yang menjijikkan di lubang closet. Dona muntah muntah.
" Gilaaa ... ada harta karung berwarna kuning, tapi pakai ngambang. Hueeek... Jorok amat sih!"
***
Setelah melewati perjuangan yang berhasil membuat isi lambung Dona bergolak, akhirnya ia menyelesaikan juga hukumannya.
Saat ingin melapor ke ruangan BK, ujung matanya melihat Hiro and the ganknya memasuki aula. Ada Liana juga mengekor kemana-mana. Tidak heran sih, selain mereka mempunyai hubungan spesial, Liana juga teman duet Hiro sebagai vokalis band yang dinamai Fourged.
Di mana ada Hiro, Dona juga harus ada dong. Oleh sebab itu, Dona menyusul alih alih laporan sama Pak Jamal ke ruangan BK. Si Bapak nggak penting, untuk saat ini Hiro lah yang nomer satu. Coblos nomer satu.. eh... Bukan pemilu. Dona menggeleng bodoh.
Sampai di aula, di mata Dona, Fourged band sudah di atas panggung dengan aula penuh dengan cewek cewek penggemar Hiro sebagian besarnya. Liana adalah musuh satu satunya cewek-cewek fans Hiro itu seperti layaknya Dona yang iri pakai bangeeeeeet melihat keakraban mereka berdua. Nah kan, naaaah kan, Liana sok mesra ngerapihin seragam Hiro yang tidak ada kusut kusut nya sama sekali. Modus aja tuh cewek. Semua cewek-cewek dibuat patah hati berjamaah oleh Liana. Dona yang paling panas.
"Hiroooo..."
__ADS_1
"Hiroooo... I love yuoooo...!"
Budek telinga Dona mendengar jeritan membahana para fans Hiro. Apalagi saat melihat salah satu cewek membawa spanduk yang bertuliskan 'MY FUTURE, HIRO' yang nora abis di mata iri Dona. Selain itu, Dona juga melihat karikatur yang bar bar habis ... Di gambar itu, kepala Hiro besar sekali dengan tubuh ala ala pegulat yang menggunakan celana segitiga berwarna pink.
"Haiiiiii..." sapa Hiro ramah yang sudah siap latihan bernyanyi dengan gitar ia gendong. Viko dan Riko serta Liana pun sudah siap dengan peran masing-masing.
Sekadar disapa begitu saja, para fans di sekeliling Dona sudah menjerit jerit heboh. Ada yang menjambak rambut sendiri saking senangnya.
"Saraaaf semuanya." Sebel Dona.
"Lo yang lebih saraf kalau punya kaca, Dona."
Eh, ada Olla dengan seragam futsal berikut bola diapit ke pinggang. Kapan tuh si tomboy manis ada di sebelahnya?
"Kalau lo sadar diri, lo lebih gila ngefansnya sama Hiro." kata Olla tanpa hati.
"Benar juga, sih. Tapi kan..." Dona ragu menyelesaikan kalimatnya. Takut ada yang dengar, ia pun berbisik, "Hiro kan suami gue."
"Dah, ah. Gue mau main bola." Olla hendak pergi. Percuma juga memberi pengertian pada Dona yang sudah bucin parah pada Hiro.
"Eh, gue minjam bola lo sebentar." Dona main serubut di tangan Olla. Mengeluarkan spidol dari tasnya lalu menulis sesuatu di bola putih itu.
"Liana peyooooot! Jeleeek!" Itu yang ditulis Dona. Olla juga melihat Dona sedang menggambar alakadar monyet yang menjulurkan lidahnya.
"Ngapa bola gue dicoret coret?" Hidung Olla sudah kempas kempis siap murka pada Dona.
"Sssst, diamlah. Selain gue cemburu Liana nyanyi mesra sambil modus nempelin Hiro, Gue juga sebal sama dia. Tadi gue di hukum sendiri yang seharusnya si peyoot juga harus bersihin toilet."
Balasan? Oke, kalau itu Olla mendukung. Tidak rela juga kalau Dona selalu dibully.
"Kalau bola uda melayang, kita kabur secepatnya ya," kata Dona menggebu gebu memberi instruksi pada Olla. Ia ingin melakukan pembalasan tapi tidak mau juga diketahui oleh Hiro. Bisa bertambah buruk nanti image nya di depan mata Hiro, kan?
"Siiipp! Tapi..." Olla merebut bola yang hendak di lempar Dona. "Gue yang lakuinnya. Gue takutnya lo malah salah sasaran."
Betul juga. Olla kan jago main bola. Gawang aja selalu sobek olehnya. Maksudnya, sobek karena robek disengaja menggunakan gunting saking gemasnya nyetak gol terus.
Dona dan Olla siap ambil ancang ancang kabur saat bola sudah melayang sedetik berlalu oleh tendangan Olla.
"Liana, awassss!" jerit Viko yang tadinya asyik memainkan pianonya.
Hiro yang melihat ada bola yang melesat kencang ke arah Liana, spontan menghadang. Sombongnya, Hiro hanya menggunakan satu tangan dengan ala ala teknik basket yang ia kuasai. Namun oh ternyata, tendangan kuat Olla tidak bisa dihentikan, alhasil wajah Hiro yang terkena. Hidungnya yang mancung, mimisan seketika.
"Donaaaa..." geram Hiro dalam hati, ia melihat sepasang sahabat jahil itu ngebirit kabur. Pasti kelakuan mereka. Awas saja si sapi bocor itu.
__ADS_1