Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 15# Potek Hati Dona


__ADS_3

"Nih, sapu tangan. Lap air mata sama ingus lo yang mungkin uda masuk ke mulut. Kuman tau."


Dona secepat angin mengangkat kepalanya saat mendengar suara tak asing di pendengaran. Ada Riko yang sedang menangadakan kain kecil berwarna biru muda.


"Kok, lo di sini?" Dona meraih sapu tangan itu. Malu terciduk menangis, ia pun segera menyeka air matanya. Tak lupa, ingus bening ia usap mengotori sapu tangan tersebut. "Nih, gue balikin."


"Jijik, Ndut. Ah."


Dona menariknya kembali sembari berkata, "Nanti gue cuci deh."


"Dona," tiba tiba Riko menepuk bahunya dengan tampang serius. Dona yang tidak paham, menaikkan satu alisnya dengan mata tertuju ke tangan Riko yang masih berada di bahunya.


"Jadikan diri lo berharga di mata orang yang sudah membuat lo menangis. Gue sebenarnya tau, lo dan Hiro uda nikah..."


Mata Dona membelalak terkejut mendengar pengakuan Riko yang terjeda itu.


"Lo_ lo, tau?" Dona sampai terbata bata.


"Iya! Tapi, lo tenang aja. Gue masih mengingat jasa Hiro sebagai orang baik yang mau ngajakin gue bergabung di band nya. Gue nggak akan bocorin status kalian."


Baik banget sih. Dona membatin lega.


"Terimakasih ya, Ko. Lo amat pengertian. Gue akan ingat nasehat lo yang tadi. Dan lo memang benar, kita harus menjadikan diri kita berharga terlebih dahulu, jika memang ingin dihargai oleh orang lain."


Mengingat tingkah lakunya yang terkesan pengemis cinta bin murahan pada Hiro, Dona jadi muak dan malu pada dirinya sendiri. Dalam hati nya ia merutuki dirinya. Mulai malam ini, Dona yang pengemis cinta itu, sudah mati. Biar Hiro itu puas dan bebas dari gangguannya. Itu bukan yang diinginkan Hiro?


Drrrt...


Dering ponsel Riko, membuyarkan suasana.


"Hiro yang nelepon. Gue latihan dulu ya."


Riko yang memang beralasan mengambil hape yang tertinggal, mau tak mau meninggalkan Dona di tangga darurat itu. Mengangkatnya sembari berjalan ke arah unit apartemen Hiro.


Di sisi lain, Liana yang izin ke toilet sebelumnya, berakhir iseng membuka pintu kamar yang dikira adalah milik Hiro.


Dekorasi kamar berwarna pink, menimbulkan kecurigaan Liana. "Nggak mungkin Hiro mendekor kamarnya sefeminim ini kan?" Liana bertanya tanya sendiri. Saat ujung matanya melihat sebuah foto pernikahan, ia pun membelalak shock.


"Ini... Ini tidak mungkin..." Demi meyakinkan kesalahan matanya, Liana beringsut mengikis jarak ke arah meja belajar demi meraih bingkai ukuran lima R. Benar saja, ia tidak salah lihat. Dona dan Hiro yang berada di dalamnya.


"Damn it!" Liana mengerang tertahan. Ingin mempunyai bukti nyata, Liana dengan pintar memotret isi bingkai itu.


Cepat cepat Liana keluar dari kamar itu. Ia berpura-pura tidak mengetahui hal besar tersebut di depan Hiro. Meski hatinya sangat marah pada Dona dan Hiro yang sudah membehonginya.


"Awas aja lo, Dona. Hidup lo nggak akan tenang karena sudah merebut apa yang gue miliki." Liana pun sangat cinta mati pada Hiro, sehingga sampai kapan pun, ia tidak ada niat untuk melepaskan Hiro.

__ADS_1


Sesampainya Riko, mereka mulai latihan. Liana tidak fokus dalam menyanyi sehingga mendapat teguran pedas dari Riko.


" Lo kalau ada masalah pribadi, lupain dulu. Profesional dong, ah." Riko berkata jutek sembari memukul keras stik drumnya.


" Biasa aja kali! " balas Liana tak kalah sarkasme.


" Cukup latihannya. Kalian bikin kepala gue sakit! " Hiro sama saja lagi sensitif. Ia kepikiran pada Dona. Takut istri gendutnya itu pulang ke rumah dan berakhir mengadu pada Papanya. Secara, Dona itu kan tukang aduan orangnya.


"Benar nih, kita latihan tanpa ada hal yang memuaskan?" Wajah Viko terlihat capek. Sudah beberapa sesi latihan, Liana terus mengacaukan nada demi nada dengan suaranya yang kurang maksimal.


"Gue mau pulang!" Liana tidak peduli dengan para teman-teman bandnya, ia menarik tasnya lalu pergi dengan perasaan marah. Semua kesalahan dalam ketidakfokusannya bernyanyi dilimpahkan pada Dona.


"Gue juga mau cabut," kata Riko. Viko tanpa pamit pada Hiro, segera mengikuti langkah langkah panjang Riko.


Hiro dengan cepat menghubungi Dona, tapi wanita itu mengabaikan teleponnya. Kemana wanita itu?


Di depan lift, Riko dan Viko bertemu dengan Liana. Sembari menunggu pintu itu terbuka, Riko berangsur angsur sok iseng menuju tangga darurat.


"Jangan bilang lo mau turun menggunakan tangga, Ko? Gila, ini lantai dua puluh loh!"


Riko kembali menutup pintu baja dimana Dona sudah tidak ada. "Nggak lah, gue cuma ising. Manatau ada setan gedung. Kan lumayan, bisa diviralkan."


"Aaarggh..." Liana paling anti yang namanya mistis. Mendengar kata setan, ia tiba-tiba menjerit sembari beringsut ke sisi Viko. Kaki Viko kena sialnya yang keinjak Liana.


"Gue nggak sengaja. Salahin Riko noh, pakai sebut setan segala," kata Liana sewot dengan mata melotot sebal ke Riko yang acuh tak acuh.


Riko yang sedari awal sudah dibuat kesal pada sikap nonprofesional Liana dalam berlatih, semakin menjadi jadi ingin menakuti Liana. Dengan berbohong, ia mengatakan, "Vik, lo dengar suara suara aneh nggak dari lorong sana?" Riko mengedipkan sekilas matanya ke Viko sebagai kode kesepakatan.


"Iya, ya, Ko. Seperti orang merintih tolong. Tapi suaranya berat nan pelan seperti setan yang ada di film itu," imbuh Viko pada kebohongan Riko.


Liana merinding. Karena takut, melompat ke gendongan Riko tanpa ia rencanakan pun.


Riko yang kaget, refleks menahan tubuh Liana yang seperti anak monyet digendong dari depan.


" Na, turun!" kata Riko yang sudah tidak menahan tubuh Liana. Seperti dilem, Liana terus merekatkan tubuh mungil nya dengan tangan itu melingkar kuat di leher Riko.


"Nggak! Gue takut!" tolak Liana kekeuh dan semakin mengeratkan rangkulannya.


Viko tidak bisa menahan tawanya melihat wajah Riko memerah karena menahan beban dan sesak nafas ditempel oleh Liana. Atau wajah itu bersemu karena tertempel yang empuk empuk milik Liana? Entah, Viko tidak tahu persis.


"Liana!"


"Nggak, pokoknya nggak!"


"Gue lempar ke setan lorong sana nih!" ancam Riko.

__ADS_1


Liana malahan menempelkan kepalanya ke sela sela leher Riko untuk bersembunyi.


Gila... Merinding gue, nggak ada jarak begini. Batin Riko sesekali melirik ke arah dada Liana yang berhasil membuatnya panas dingin.


"Eh, itu lift sudah terbuka," ujar Viko. Liana spontan melepaskan pegangannya lalu berlari masuk ke dalam lift di susul Viko dan Riko.


Di sisi Hiro, dari depan unit kamarnya, ia sebenarnya melihat kejahilan Riko dan Viko pada Liana. Tapi yang ia pikirkan adalah keberadaan Dona yang diteleponnya tidak diangkat.


Melihat para teman-temannya sudah pergi, giliran Hiro yang berdiri di depan pintu lift. Berniat mencari Dona yang semoga saja hanya main di area lantai satu.


***


"Eh, Neng kemari lagi. Mau pesan ya apa, Neng."


"Pecel ayam, Bang. Nasinya lebihin dikit ya. Sama sambelnya juga banyakin. Jangan lupa minumnya es teh manis, Bang. Biar nanti pedasnya hidup eh pedasnya sambel terobati."


Dona yang sakit hati, memilih datang ke kios makan kaki lima yang pernah ia datangi bersama Hiro waktu itu. Malam ini, ia akan puas-puasin makan sebelum pagi datang yang bertekad akan menjalankan program diet.


" Beres, Neng. Tunggu, ya. "


Selesai makan, Dona masih belum bergeming. "Bang, ada kertas sama pulpen, nggak? Pinjam, boleh?"


Si abang itu berbaik memberikan keinginan Dona. Lanjut kembali melayani pelanggan yang baru datang.


Kalau sedang sakit hati atau bahagia, Dona yang tukang halu itu otaknya tiba tiba saja punya ide berlian menciptakan lagu. Makanya ia meminjam pulpen dan kertas untuk ia catat. Tinggal revisi atau melengkapi kalau ada yang kurang nanti.


Hari itu...


aku ingat suaramu


Janji suci yang mengikat nama kita


Tapi, itu tak berarti bagimu.


Cinta ... Putih kau ubah menjadi hitam mengubah hati utuh menjadi hancur berkeping keping


Hancur...


Membuatku menangis dalam kesedihan.


"Neng, apa sambelnya terlalu pedas ya. Kok nangis sih?"


Sialan, ia larut dalam tulisannya sendiri. Belum selesai tulisan itu, Dona segera membalikkan pulpen si Abang yang mengganggunya. "Iya, Bang. Pedas kali sambelnya. Tapi enak kok. Saya pamit ya, Bang. Assalamualaikum..." Dona tersenyum kikuk sekilas dengan tangan reflek mengusap hidung yang penuh karena menangis galau tidak tahu di tempat umum.


Si Abang hanya mampu memandang aneh punggung Dona yang saat ini menyebrang jalan.

__ADS_1


__ADS_2