Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 11# Disuruh Mandiri


__ADS_3

Mobil yang di kemudi Tania berhenti di sebuah pelataran apartemen sederhana.


"Ma, kita mau apa kemari?" tanya Hiro sudah mewakili pertanyaan Dona yang tak kalah penasarannya.


"Ikut saja. Nanti kami jelaskan," jawab Tania lalu keluar dari dalam mobil. Hilda menyusul. Mau tak mau Dona dan Hiro pun demikian.


Sampai di dalam lift menunju lantai dua puluh pun, Dona dan Hiro masih belum tau apa tujuan mereka datang ke apartemen tersebut.


Hilda yang memimpin jalan, tiba-tiba berhenti di depan salah satu unit. Menyalakan bell beberapa kali dan langsung di sambut oleh pemilik kamar.


"Papa?" Dona dan Hiro bergumam kaget bersama saat sosok Pak Fauzi terlihat dari dalam kamar.


"Hir, jangan bilang kita kemari di suruh ikut berperang menciduk Papa lo," bisik Dona.


"Menciduk? Maksud lo, Papa gue selingkuh, gitu?" balik bisik Hiro. Baru kali ini, ia sepemikiran dengan Dona karena seumur umur, ia tidak pernah mendengar sang Papa punya unit apartemen. "Tapi, Ndut, Mama gue santai santai aja tuh. Lihatlah, mama malah salim dan cium punggung tangan Papa gue."


"Iya juga." Dona malah tetiba menghalu kalau dialah yang mencium hangat punggung tangan Hiro. Vibesnya, Hiro ini pulang bekerja yang disambut romantis olehnya.


"Don... Dona..."


"Eh, iya ... iya, Ma." Dona kelabakan mendapat pukulan kecil di bahunya oleh Hilda, tersadar dari halunya.


"Ayo masuk. Mikirin apa sih?"


Ternyata, ia ditinggal Hiro masuk terlebih dahulu gara gara habis mengkhayal . Segera, ia mengikuti langkah langkah Mamanya. Eh, bukan hanya ada Papa mertuanya, ternyata Papa kandungnya juga sudah pada kumpul di sofa.


"Karena semuanya sudah lengkap, tanpa berlama-lama lagi, Papa akan menjelaskan kenapa kalian kami bawa kemari," tutur Pak Fauzi. "Sebenarnya, apartemen ini adalah hadiah pernikahan kalian dari kami. Papa ingin kalian mandiri dalam berumah tangga."

__ADS_1


Dalam hatinya, Hiro meringis ringis. Di usianya yang masih muda, ia sudah dilimpahkan tanggung jawab yang besar.


"Uang sekolah memang masih ditanggung oleh para orang tua, tapi untuk keperluan rumah tangga, kami hanya bisa memberi modal utama sebesar lima juta." Sekarang, Pak Amar yang menjelaskan dengan tangan mengeluarkan sebuah amplop. Menyerahkan keuangan itu pada Dona. "Ambillah, Nak. Ini keperluan dapur satu bulan hidup kalian, atur dengan baik. Nanti, berapapun rezeki yang Hiro berikan ke depannya, patut kamu syukuri."


Dona meraih amplop yang diberikan Papanya.


Sejurus, atensi Pak Amar jatuh pada Hiro lalu berkata, "Bimbing istrimu menjadi pribadi yang lebih baik, Nak. Meski kamu masih muda, tapi papa percayakan Dona padamu dengan sepenuh jiwa Papa. Jangan kecewa kan kami!"


Tidak kuasa Hiro membalas binar harapan Pak Amar. Ia tidak sebaik yang dipikirkan para tetua.


"Hiro takut gagal..." Hanya dalam hati Hiro menjerit prustasi. Terpaksa ia mengambil beban yang dilimpahkan itu.


"Don, nurut segala perintah suami, Nak. Hormati dia dan mulai hari ini kamu harus bertanggung jawab atas apa tugas mu di rumah ini, paham?"


Kalo ini, Dona yang mendapat arahan dari Hilda.


"Satu lagi..." Pak Fauzi beranjak mengambil tas kerjanya. "Di sekolah tadi, Papa dapat laporan siswa yang nilainya memprihatinkan."


Perasaan Dona sudah tidak enak. Pasti yang dimaksud Papa mertuanya ini adalah dirinya. Hiks... Malu.


Pak Amar dan Ibu Hilda geleng-geleng kepala saat melihat laporan nilai Dona yang di keluarkan Pak Fauzi dari tas.


"Don, kamu ke sekolah cuma makan bangkunya saja apa pelajarannya?" tanya Hilda prustasi.


Dona garuk kepala. Tersenyum kikuk lalu menjawab, "Yang lebih jelasnya sih, makan jajanan kantin, Ma." Mamanya aneh, masa makan bangku dan pelajaran.


"Ck, maksud Mama, kamu ngapain aja di sekolah? Kenapa nilai mu rata rata mendekati merah?"

__ADS_1


Diam sajalah, biar Mamanya tidak menjadi jadi omelannya.


"Ini belum terlambat..." sela Pak Fauzi dengan mode Kapseknya, bukan lagi sebagai Papa mertua. "Kamu harus belajar lebih giat, Dona. Dan Hiro, kamu lah yang harus bertanggung jawab dengan istrimu."


"Pa, kok aku?" Hiro memprotes. Dona yang bodoh dan terancam tidak lulus, kenapa pula dirinya yang pusing. Nyusahin sekali si sapi bocor ini.


"Karena kamu suaminya! Apa perlu dijabarkan satu persatu tugas seorang suami?" tegas Pak Fauzi membuat Hiro tertunduk lemas.


"Baiklah, Dona akan saya bimbing," setuju Hiro terpaksa. Lirikan matanya ke Dona begitu tajam. Dona malah tersenyum membuatnya ingin sekali mencubit keras pipi cewek itu.


"Terimakasih, Nak. Dona sangat beruntung punya suami seperti mu."


Lagi lagi, beban di pundak Hiro kian berat manakala binar mata penuh harap Pak Amar terpancar ke arahnya.


Hiro tersenyum paksa. Lalu menatap Fauzi penuh arti. "Hiro mau bicara sebentar dengan Papa, boleh?"


Pak Fauzi mengiayakan sembari berdiri dari sofa. Berjalan ke ruangan yang sepi di ikuti oleh Hiro.


Dona hanya bisa memandang punggung keduanya dengan perasaan penasaran menerpa. Apa yang kira kira akan dibicarakan dengan mereka?


"Don, kamu nggak mau lihat lihat kamar atau ruangan lainnya? Mana tau ada keperluan yang ter-skip. Cek gih, sana," titah Tania.


"Oke, Ma. Tinggal dulu, ya." Dona yang juga penasaran dengan kamarnya, segera beranjak.


Saat hendak menekan gagang pintu kamar, suara Hiro dan Papanya terdengar dari kamar sebelah yang tidak tertutup. Dona yang tidak bermaksud menguping, mau tak mau mendengar juga obrolan tersebut.


Raut ceria wajah Dona, luluh lantak manakala menangkap percakapan yang menyedihkan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2