Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 32# Kesempatan Mereka Habis


__ADS_3

Braaak...


Merasa encok, Dona yang sudah sampai di dalam kamar, main menjatuhkan tubuh Hiro ke atas kasur secara kasar.


Karena Hiro masih pingsan menurutnya, Dona ingin meluruskan barang sesaat pinggangnya dengan cara rebahan di sebelah Hiro.


Beberapa kali ia mengatur nafasnya yang engap sembari menatap kosong langit langit kamar. Jika badannya itu punya mulut, maka pasti akan menjerit 'capeeek'. Setelah memeras tenaganya untuk olahraga, pulang pulang malah berujung memapah beban Hiro yang berat pakai banget. Bagaimana nggak ringsek tubuhnya yang seakan-akan tulangnya terasa mau dilolos paksa.


Hiro yang cuma pura-pura pingsan, perlahan mengintip Dona sedang apa?


Aih, mata itu terbuka tutup terbuka tutup ciri khas orang mengantuk berat. Lama lama, berangsur terlelap nyenyak. Melihat keadaan kondusif, Hiro membuka matanya lebar lebar tanpa bergerak dan bersuara sedikit pun. Ia hanya memandang lekat lekat wajah damai gadis di sebelahnya dengan tatapan penuh kelembutan.


"Banyak yang ingin gue bicarakan ke lo, Ndut. Tapi lo ngehindar terus," gumamnya dalam hati. "Minta maaf dan ungkapan perasaan gue terutama..." imbuhnya tanpa ada suara.


Puas memandang wajah Dona, Hiro mencoba terlelap karena waktu memang hampir memasuki pertengahan malam.


Dalam terlelapnya, Dona mulai bergerak mencari kehangatan dari dinginnya malam.


Hiro pun sama bergerak pelan tapi pasti membalas pelukan Dona. Di bawah kesadarannya ia berpikir, tumben sekali bantal gulingnya terasa empuk empuk menghangatkan.


***


Paginya, seperti orang janjian, mata keduanya terganggu oleh pergerakan masing-masing. Mengerjap erjap dengan keadaan linglung.


Kesadaran Dona yang sudah terkumpul seratus persen, tiba-tiba menjerit mendapati wajah Hiro tepat berada di depan dadanya.


Bugh.....


Gedubraaak...


Dona yang kaget, spontan menendang Hiro sampai pria itu berguling jatuh ke lantai.


"Lo dari semalem hobi banget nendangi gue terus sih, Ndut. Sakit tau..." Hiro meringis ringis dengan satu mata ia kucek karena masih buram.


"Siapa suruh tidur di kamar gue, hah?"


Hilda yang mendengar kegaduhan yang kebetulan tadinya berada di lantai dua habis membangunkan Nora dan Nara, memutuskan untuk membuka pintu kamar Dona.


"Kalian kok masih pagi sudah ribut aja sih? Ini sudah jam enam loh."


Jam enam? Alamaak... hari ini kan ujian pertama.


Dona dan Hiro mengakhiri perdebatannya. Bergerak brutal berebut kamar mandi.


"Woi... Ini kamar gue, lo mau apa?" Dona menarik ujung baju belakang Hiro sampai pria itu mundur mundur.

__ADS_1


"Oh iya, seragam gue kan di rumah sebelah." kata Hiro tersadar. Lalu beranjak ke arah pintu keluar kamar itu. "Permisi, Ma..." pamit Hiro ke Hilda.


Hilda yang melihat tingkah laku gaduh keduanya, hanya bisa menggeleng speechless dengan harapan semoga perjuangan Hiro yang sudah minta izin ingin menyembuhkan hati kecewa Dona katanya, berjalan mulus.


***


Di sekolah, Hiro tidak bisa mendekati Dona secara leluasa. Saat batang hidung cewek itu terlihat, Hiro segera mengetikkan sebuah kalimat, "Gue tunggu di ruangan Osis."


Send.


Dari kejauhan, Hiro melihat Dona merogoh sakunya untuk mengeluarkan hape. Yaak, cuma dibaca tanpa di balas.


Ya uda deh, Hiro cukup semangatin Dona lewat chat. Kembali ia menulis kalimat singkat, "Love you..." Dengan emoji kiss bertebaran.


Hiro terkekeh di tempatnya. Dona di sana sampai menjatuhkan hapenya yang sigap di tangkap Olla dengan ketangkasannya.


"Lo kenapa sih, Don? Masih pagi tulang tulang lo uda letoy aja. Hape segini entengnya kayak berbeban sepuluh kilo. Nih hape __" Omelan Olla terjeda saat sudut mata melihat chat yang nampak sweet.


Saat Dona ingin meraih hape itu ... terlambat. Olla menjatuhkannya.


Dona meringis, hapenya tergeletak nahas di bawah sana. "Olla mah, untung nggak pecah," protes Dona dengan bibir cemberut lima senti sembari mengusap usap layar tersebut yang terkena debu.


"Don, gue nggak salah baca kan? Itu Hiro chat __"


"Dia pasti iseng. Ingin ngebuat kepala gue besar, setelahnya di tusuk jarum... Door... Atau, dia sengaja mau ngecoh gue biar nggak konsen di ujian nanti." Dona yang sudah pernah kecewa, tentu saja tidak mau memakan mentah mentah chat Hiro yang manis beracun itu pikirnya.


"Pagi, Dona..." sapa Riko yang kini baru sampai bersama Viko. Mereka memang bertemu di sekitaran area parkiran.


Alih alih menjawab, Dona malah melangkah pergi dari depan Riko. Bukan hanya pada Hiro, Dona bersikap dingin, tapi pada Riko dan Viko pun sama. Setelah kejadian di apartemen itu, penjelasan Dona tentang lagu yang dicuri Liana tidak satu orang pun yang mempercayainya, Dona memutuskan untuk menjauh dari ante ante Hiro.


"Sombong amat..." cibir Viko yang tidak terima Riko diabaikan sapaannya. Dona mendengarnya, tapi malas untuk meladeninya. Olla yang kupingnya sakit, berhenti lalu dengan cepat membalik tubuhnya. "Woi, lo ngomong apa Taro? Sombong? Coba lo ulang sekali lagi!"


Taro? Asem, namanya diganti sesuka lidah Olla membuat Viko tidak terima. Baru juga ingin berceletuk, Riko menahannya seraya berkata, "Jangan rusak mood lo, kita mau ujian."


Demikian Dona pun yang menarik Olla pergi demi terhindarnya percekcokan yang unfaedah.


"Lepas, Dona."


"Nggak, gue takut lo ngebuat keributan dan berujung masuk ke BK. Ingat, hari ini kita ujian." Dona memperingati.


"Bukan itu, gue mau ke to__" Broooot... "Tuh kan, keluar anginnya." Olla tercengir malu di depan banyak siswa yang berlalu lalang di koridor.


Viko dan Riko yang ternyata sudah berjalan di belakang mereka pun ikut mendapat sarapan gas berbau Olla.


Dona sampai tutup hidung sembari tangan satunya mengibas ibas angin di depannya.

__ADS_1


"Olla, ih, sono boker. Sumpah, bau banget," protes Viko sewot dengan suara tidak jelas karena hidungnya ia pencet. Riko sekedar geleng-geleng kepala mendapati sikap kurang sopan Olla.


"Hehehe... Kita ketemu di kelas, Don." Olla tidak sempat membalas celetuk tajam Viko karena panggilan alam yang meresahkan.


"Pagi..." sepik sepik, Hiro menyapa sembari mendekat karena memang sedari tadi memang memperhatikan segala gerak gerik Dona dan lainnya.


Tanpa satu katapun, Dona meninggalkan rombongan tersebut. Hiro hanya bisa menghela nafas sabar.


Di kelas yang masih sepi, Dona yang melihat Liana yang tidak pernah mengganggunya setelah aksi kejadian brutal nya di apartemen, jadi penasaran. Tumben si ratu bully tidak lagi membuat ulah padanya.


Deketin. Bahkan Dona duduk santai di sebelah Liana yang asyik menunduk memainkan hape tanpa di sadari. Liana pikir, orang yang main duduk adalah Yuni atau Icha.


"Waah, dapat transferan lagi dari om kesayangan ya." Dona tersenyum miring. Ia tidak sengaja melihat aktivitas Liana di chat tersebut.


"Do-Dona..." Liana sampai tergagap sembari bergegas mematikan layar hapenya, masuk ke saku akhirnya.


Dona mengedikkan bahunya, cuek dengan ekspresi keterkejutan Liana. Tangan iseng nya ingin mengambil rambut Liana yang rontok di seragam putih itu.


"Lo mau apa?" tanya Liana waspada dengan sigap menepis tangan Dona yang hendak terulur ke arah rambutnya. Ia trauma mendapat jambakan brutal Dona waktu itu. Ternyata, Dona terlalu bar-bar jika sudah melewati batas kesabarannya.


"Wow, wow... Santai aja kali, gue cuma mau bantu bersihin seragam lo. Sepertinya, rambut lo rontok rontok ya. Bagaimana kalau gue sarankan pakai sampo anti rontok saja seperti merk yang gue pakai. Nih contohnya, rambut gue tarik pun masih stay cantik, enggak pakai putuuus."


Belum seberapa, Na. Lo dan band lo akan malu luar biasa nanti. Dona menambahkan kalimatnya dalam hati.


Melihat gestur tubuh Liana seperti orang jiper. Dona kembali bersuara dengan berbisik bisik tajam, "Gue masih ngeberi lo waktu untuk meluruskan soal lagu yang lo curi dari gue."


"Lo kenapa sih, Don? Gue kan nggak pernah nyari gara gara sama lo. Ngapa lo sangat terobsesi dengan lagu ciptaan gue?"


Oh, tiga cowok rekan band nya sudah datang toh. Pantes sekarang berlayak anak ayam yang teraniaya oleh burung predator elang. Ketiga kawannya kan siap membela jika menyangkut band yang mereka agungkan.


" Harusnya lo masuk agensi perfilman, Na. Bakat akting lo cocok jadi antagonis," cibir Dona tidak peduli ada tiga cowok yang selalu ngebal Liana.


" Dona? Jangan membuat masalah deh," lembut Hiro melerai.


" Santai, gue cuma mau minta maaf dan berdamai dengan Liana kok. Kan semenjak kejadian di apartemen, gue dan dia jarang berinteraksi. Apalagi melihat rambutnya yang rontok itu, gue merasa bersalah banget...."


Meski kalimat Dona penuh dengan penyesalan, tapi intonasi suara dan gestur tubuhnya bertolak belakang. Liana sudah menyia-nyiakan kesempatan terakhir untuk meluruskan kebenaran, maka fine... Rencananya akan tetap berlangsung yang semakin hari, semakin dekat waktu kehancuran band Fourged.


"Terus tunggu apalagi? Gue mau duduk." Viko meminta haknya yang memang dipakai Dona.


"Oh, bangku elo ya." Dona beranjak santai. Bugh..."Oups, sorry..." Dengan sengaja, ia menabrak sengit sisi bahu Hiro. Tatapan mereka bertemu dengan isyarat yang berbeda. Dona yang salah mengira karena merasa Hiro berada di sisi Liana, mencintai Liana dan segalanya nama Liana, memancarkan mata permusuhan.


"Ini rambut kekasih lo yang rontok tadi. Mana tau lo mau di museumkan..." Dona tersenyum devil dengan tangannya mengudara di depan mata Hiro. "Ambil atau akan nahas ke lantai?"


Hiro tidak peduli dengan barang sehelai itu. Ia beranjak dari hadapan Dona karena ia tahu gadis ini sedang diselimuti kekesalan.

__ADS_1


__ADS_2