
"Apa? Hiro ngajak lo rujuk? Terus sikap jutek pakai bangetnya jadi berbanding terbalik seperti orang bucin?"
Dona mengangguk angguk beberapa kali saat Olla yang ia curhatin barusan tentang segala sikap manis Hiro belakangan ini, bertanya memperjelas rangkumannya.
"Yaak, lo gagal jadi janda perawan dong ya."
Dona menaikkan satu alisnya. Intonasi Olla ini seperti orang kecewa.
"Lo suka ya kalau gue jadi janda?" tanya Dona ingin meyakinkan kecurigaan nya. Matanya memicing menatap Olla.
Olla mengubah posisi tidurnya jadi tengkurap sembari berkata, "Suka sih nggak..." Olla memutuskan untuk tidak menyangkut pautkan nama Bang Iko yang tadinya punya niat pedekate saat Dona resmi jadi janda tapi perawan. Kasihan nanti abang sepupunya, kadung malunya tapi Dona nggak jadi janda, kan bisa ada suasana canggung jika nanti mereka bertemu di club muay thai nanti. Jadi, biarkan Dona tidak mengetahui sekalian. Lagian, namanya juga kehidupan, kadang apa yang kita inginkan tidak akan selalu di dapatkan bukan. Begitupun sebaliknya. Olla hanya berdoa dalam hati, semoga abang sepupu nya nanti mendapat jodoh yang baik. Aamiin.
"Terus ngapa muka lo nampak asem gitu? Apa jangan jangan lo suka sama Hiro ya?" tuduh Dona ngasal nyaplak. Seketika rambut yang di kuncir kuda itu di tarik kasar Olla sampai ia meringis.
"Sakit, Olla!
" Lagian tuduhan lo ngasal bae..." sembur Olla galak.
Dona memanyunkan bibir nya sembari berangsur rebahan di atas kasur Olla. "Menurut lo gimana, apa iya Hiro hanya pura pura karena ingin balas dendam setelah mimpinya gue hancurin secara tidak sengaja, atau dia memang tulus?" tanya Dona minta pendapat Olla. Matanya saat ini menatap kosong langit langit kamar dengan otak mengingat segala sikap Hiro yang berhasil membuat jantungnya berdebar debar.
"Gue nggak tau karena gue bukan Tuhan," sahut Olla enggan menebak nebak. "Tapi jika lo mau saran gue, maka sini..."
Tanpa mengalihkan tatapannya dari langit langit kamar, Dona setia kala mendengar Olla berbisik bisik yang mungkin takut di dengar cicak jelek di dinding sana.
"Dih, parah banget ide lo. Nggak mau ah, nanti Hiro mati bagaimana?" tolak Dona bergidik ngeri. Ide Olla ini selalu ekstrim dan konyol. Masa, Hiro di suruh terjun ke sungai demi membuktikan keseriusan cinta nya. Kan bego.
"Hahaha... Gue cuma bercanda, Dona." Olla terbahak-bahak sendiri di depan muka muka bete Dona.
"Sialan lo..." kali ini, Dona yang menjambak kesal rambut Olla membuat Olla beradu-adu sakit. "Rasain! Lagian, gue lagi serius- seriusnya, lo malah candain penderitaan gue."
"Oke deh, kali ini ide gue yang valid. Mau dengar nggak?"
Masih ragu, Dona terpaksa mengangguk.
Bisik bisik kembali pun terlihat. Kali ini, bibir Dona mengembang lebar setelah mendengar ide Olla yang ia setujui.
"Uda ya, gue mau pulang kalau begitu. Byeeee cinta..." Muacch...
"Dih, edan. Dasar cewek bucin. Jijik sumpah!"
"Hahaha..." Dona yang mendengar sumpah serapah Olla, hanya ketawa yang sudah berada di ambang pintu, sekilas ia melirik ke belakang, Olla kini membersihkan pipinya secara kasar yang habis ia kecup sayang sebagai rasa persahabatan.
Masih di pelataran rumah Olla, tidak sengaja Dona melihat punggung Hiro yang sekarang memasuki rumah mertuanya di seberang sana.
__ADS_1
Dona yang penasaran, memutuskan untuk menghampiri rumah mertuanya. Baru juga kakinya sampai di teras rumah Hiro, ia tidak berani melangkah masuk saat suara Hiro terdengar menyatakan penolakannya ke Papa mertuanya.
"Hiro nggak mau kuliah kedokteran, Pa. Titik!"
Tentu saja Hiro menolak keras, Dona yang tahu kalau Hiro tidak suka rumah sakit dan segala fasilitas isinya apalagi jarum suntik, jadi merutuki Papa mertuanya yang terdengar memaksa pakai banget.
"Terus kamu mau ngambil jurusan apa, eum? Institut Seni? Tahu sendiri alasannya kenapa kan?"
Dona serba salah jadinya mendengar pernyataan Papa mertuanya yang pasti menyangkut nama Hiro yang jelek karena ulah nya yang masih viral soal plagiarisme karya.
"Ingat ya, Hiro. Kamu itu sudah menjadi seorang suami. Selain memikirkan study yang entah mau ngambil jurusan apa, kamu ada Dona yang harus kamu nafkahi. Pikirkan masa depan mu dari sekarang, jadi mulai lah membuat persyaratan untuk mendaftarkan ke universitas kedokteran. Itu lebih menjanjikan dari mimpi mu sebelumnya. "
"Soal kuliah dan jurusan apanya, akan Hiro pikirkan, Pa. Tapi untuk mengambil jurusan kedokteran, itu ide terburuk. Dan untuk masalah tanggung jawab Hiro ke Dona, insyaallah Hiro juga akan pikirkan. Assalamualaikum..."
Cepat cepat Dona berlari bersembunyi di samping rumah saat langkah langkah terdengar di dalam sana kian mendekati pintu. Benar saja, Hiro keluar begitu saja
tanda tidak mau terus memperpanjang perdebatan dengan orang tuanya.
Melihat punggung Hiro yang melunglai tanpa semangat, Dona jadi iba memikirkan masa depan Hiro tentang study nya yang sepertinya susah mengambil keputusan yang ia tahu Hiro itu hanya mencintai musik.
"Lo mau ke mana, Don?"
Sampai kamar, Dona langsung di tanya Hiro karena ia datang datang langsung menarik tas hitam milik nya.
Segera, Hiro turun dari ranjang yang tadinya ia sibuk chatan dengan Riko tentang study mereka yang juga bingung mau ngambil jurusan apa? "Gue anter," katanya sembari menarik jaket.
"Nggak, gue sama Ibu Suci akan membahas tentang hal yang sangat penting," tolak Dona keras.
"Oh ya udah, tapi lo ketemuannya di mana?"
"Cafe Intan..." jawab Dona cepat sembari berlalu buru buru karena sejatinya Ibu Suci sudah berada di sana sebelum ia ingin mengajukan diri untuk bertemu.
Cafe Intan? Hiro menyeringai misterius mendengarnya. Ia punya rencana cemerlang untuk kembali meluluhkan hati Dona.
***
"Aduh, maaf ya, Bu. Sedikit telat dari perjanjian." Dona sampai di hadapan meja calon ibu Dosennya dengan nafas terengah - engah.
Ibu Suci tersenyum dengan tangan takzim mempersilakan Dona duduk seraya bertutur, "Nggak apa-apa, sebetulnya teman Ibu baru juga pergi. Lihatlah, meja bekas kami masih berantakan."
Dona lega mendengar itu. Sejatinya, ia sangat takut mengecewakan ibu dosen yang katanya ingin membicarakan karya nya lagi.
Sebenarnya, pertemuan ini akan terjadi besok, tapi Dona yang punya niat tertentu memilih memajukan waktu dan kebetulan Ibu Suci juga menyanggupinya.
__ADS_1
"Bagaimana instrumen pesanan, Ibu. Uda jadi?" tanya Ibu Suci to the point.
Dona mengangguk sembari mengeluarkan pesanan itu dari dalam tasnya. Bukan hanya agenda, tapi Dona juga memberi sebuah handset nya ke Ibu Suci untuk bisa langsung mendengar musik instrumen rekamannya.
"Satu instrumen berdurasi lima menit, Bu," terang Dona. Ibu Suci mengangguk samar sembari memasang earbuds ke telinganya.
"Berarti ibu akan membutuhkan waktu lima belas menit. Kamu boleh pesan makanan dan minuman sebagai teman duduk mu."
Dona yang paham si Ibu ingin berkonsentrasi, sekadar mengangguk paham. Ia membiarkan ibu Suci menikmati instrumen musik yang bergenre klasik tersebut yang memang cocok bagi orkestra simfoni si Ibu.
Bukan hanya lima belas menit Dona dibuat menunggu, tapi tiga puluh menit lebih karena si ibu sampai mengulang dua kali yang mungkin mencari cela karyanya.
Deg degan Dona menunggu keputusan Ibu Suci yang saat ini sudah mencopot earbuds nya itu.
"Ibu beri rate lima belas dari angka sepuluh."
Dona tersenyum bahagia mendengar penilain tersebut yang melewati angka sepuluh.
"Terimakasih, Bu. Saya senang jika Ibu puas dengan karya saya."
"Bagaimana ibu nggak takjub. Ibarat komposisi makanan, bumbu bumbunya itu tidak ada yang over. Temponya yang susah ditebak dan nada rendahnya sangat menyentuh hati. Ibu suka!"
"Anda terlalu memuji." Dona tersenyum canggung. Sebenarnya, ia sudah ingin membicarakan niatnya.
"Apa ada sesuatu yang mengganggu mu?"
Sebegitu mudahnya kah air mukanya bisa di tebak oleh ibu Suci? Tapi bagus sih, dengan begitu kan Dona bisa berterus terang.
"Bu, maaf sebelumnya. Jika saya lancang ke Ibu. Sebenarnya saya ingin meminta bantuan ke Ibu Suci, apakah boleh?"
"Selagi bisa dan tidak merugikan saya, insyaallah saya akan menyanggupinya. Katakanlah."
Dona yang tahu perangai Ibu Suci ini, yang tidak suka berbelit belit akhirnya memilih to the point saja. Ia langsung merekomendasikan nama Hiro yang tak kalah jago dalam bermusik. Bahkan, Dona tidak tanggung tanggung juga membicarakan Viko dan Riko. Tapi untuk Liana, Dona sungguh tidak bisa berbesar hati karena dirinya terlalu sakit hati mengingat ia pernah di paksa menjadi badut serta bullyan lainnya yang sampai pernah juga masuk ke rumah sakit.
Harap harap cemas Dona menunggu jawaban Ibu Suci yang nampak berpikir keras sembari jari jemari lentik si ibu ini tidak sadar mengetuk ngetuk pelan meja.
"Tentang plagiarisme kemarin itu, bukan seutuhnya kesalahan Fourged, Bu. Liana lah yang menipu mereka dengan mengakui karya tersebut adalah milik sendiri. Mohon dipertimbangkan, Bu." Dona sampai mengemis secara tidak langsung dalam intonasi suaranya.
"Kalau menyangkut ini, real bukan keputusan ibu pribadi. Tapi saya janji akan memberi kabar setelah pihak kami mengadakan pertemuan. Ibu akan mencoba yang terbaik untuk teman teman mu."
Alhamdulillah, setidaknya Dona punya harapan meski kecil kemungkinannya.
" Baik, Bu. Terimakasih atas bantuannya."
__ADS_1