Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 46# Amukan Hiro


__ADS_3

"Hirooo, lo mendadak bodoh bawa motor nya ya? Untung gue nggak jatoooh..."


Di boncengan, Dona berteriak agar suaranya yang di dominasi angin, bisa di dengar oleh Hiro.


"Haaah? Lo ngomong apa?" Hiro pura-pura budek seperti pak haji bolot. Lagi, ia sengaja memainkan gas sampai sampai tubuh bagian depan Dona menempel di punggung lebar nya. Empuk uihh...


"Gue mau jatuuuuh...!"


"Pegangan doooong!" balas Hiro berteriak.


Dona yang ogah mati sia sia yang takut jatuh, akhirnya menurut menggerakkan tangannya ke bagian perut Hiro dengan pergerakan masih nampak canggung.


Hiro tersenyum jumawa di balik helm full face hitam nya. Biar kian sempurna, ia menyentuh tangan Dona untuk ia eratkan sembari berteriak, "Pegangan yang kencang!"


Dona menurut. Jujur, jantung nya kembali berdebar debar dibuat kelakuan manis Hiro.


Giliran berhasil membuat Dona menempel pada nya, Hiro malah merasakan waktu terlalu cepat yang kini sampai di depan pelajaran club yang di tuju Dona.


"Lo ngapa ikut turun? Gue di sini lama, lo balik aja," usir Dona dengan maksud tidak mau merepotkan Hiro.


"Gue mau masuk juga."


"Ehhh..." Dona segera merentangkan tangannya. Ia takut, Hiro masuk malah akan bertemu dengan Bang Iko dan terjadi hal yang tidak tidak. Secara, Dona perhatikan, Hiro ini tidak menyukai sosok trainernya itu.


"Ih, minggir, Don. Ini kan tempat umum. Siapa saja boleh mendaftar sebagai member di sini."


Kalau sudah menyangkut hal tersebut, Dona tidak ada kuasa menahan Hiro. Ia tidak berhak mematikan rejeki club karena bagaimanapun Hiro katanya mau jadi member.


"Tapi jangan buat gaduh ya?" kata Dona memperingati lebih awal.


Hiro mengangguk dengan suara membatin, 'tergantung situasi.'


Sejurus, Dona pun membawa Hiro menuju ke tempat pendaftaran member. Tanpa ragu ragu, Hiro mengambil kartu VIP yang artinya akan menjadi langganan tetap di club tersebut dengan fasilitas trainer ekslusif.


"Gue mau ganti baju dulu. Di sana..." Dona menunjuk sebuah ruangan. "Khusus ruang ganti pria. Lo ganti seragam di sana aja. Gue di situ khusus cewek cewek."


Setelah memberitahukan, Dona segera beranjak dari hadapan Hiro.


Hiro yang ditinggal, sejenak memindai seantero club yang cukup bersih dan nyaman tempatnya. Tapi masih sedikit sepi, apa mungkin belum pada datang atau banyak yang malas? Buktinya Olla pun tidak terlihat keberadaannya. Namun tidak heran sih, trainer pun belum ada yang terlihat. Hanya ada beneran orang yang berlatih masing masing menggunakan alat yang ada.


Puas memindai seluruh ruangan, Hiro pun berjalan ke arah ruang ganti khusus pria.


Matanya disambut dengan keberadaan tiga pria dewasa yang sedang mengobrol menyebut nama orang yang tak asing bagi Hiro. Mereka semua membahas Bang Iko yang cedera dan tidak masuk untuk beberapa hari katanya.

__ADS_1


"Permisi, gue anak baru di sini."


Sombong sekali, Hiro diabaikan yang bermaksud ingin menaruh kesan ramah nya. Mereka semua malah lanjut ngobrol ngobrol ria tanpa menganggap keberadaannya. Ya sudahlah, Hiro ganti baju aja.


"Gue ada kesempatan jadinya untuk melatih Nak Muay kesayangan Iko."


Nak Muay adalah anak didik trainer itu sendiri. Hiro sedikit paham dengan istilah istilah asing club ini. Karena punya kuping, ia bebas mendengar segala percakapan si trio pria di depannya.


"Memang siapa Nak Muay itu?"


"Itu loh, cewek yang tadinya gendut tapi sudah berubah menjadi seksi dan semok menggairahkan. Kalau nggak salah, namanya Dona, temannya Olla tomboy itu."


Duaakk ... Hiro tiba tiba mendendang keras lemari loker saat mendengar nama istri nya di sebut sebut satu pria yang nampak nakal cabul itu.


Ketiga pria tersebut memindai Hiro. Tapi sejenak saja karena hanya punggung Hiro yang nampak terlihat.


Belajar dari kesalahan, Hiro lebih memilih kecerdasan nya bekerja dahulu sebelum otot yang ia pertontonkan. Hape ia taruh di atas meja kecil untuk merekam segala obrolan mereka. Pria berotak cabul yang jadi trainer ini tidak patut dipekerjakan. Kasihan nanti korbannya yang dilecehkan tanpa di sadari karena menuntut alasan tidak sengaja dalam latihan olahraga.


"Oh, Dona yang itu. Iya iya, dia memang cantik dan punya badan bagus sekarang. Mata lo bisa aja nilai barang yang indah dan empuk."


Hahaha...


Meski kesabaran Hiro nyaris di titik terendah. Tetapi ia terus menekan tangannya yang sudah ingin menghajar orang orang yang sedang tertawa puas menjadikan tubuh istrinya sebagai topik pembicaraan mesum mereka.


"Anj***!" Hiro tidak bisa lebih lama lagi mendengar kalimat demi kalimat melecehkan nama istrinya. Ia mengumpat keras sembari memberi tendengan punggung satu pria yang sedari tadi ngebet banget menginginkan Dona.


"Wooiii...!" Dua pria lain, mencoba menghentikan Hiro dengan cara menarik Hiro. Akan tetapi suami Dona yang sedang kesetanan itu, terlepas licin dan kembali memberi tendangan ke pria incarannya yang belum sempat bangun dari lantai akan serangan pertama nya tadi.


" Asal kalian tahu, Bangsat! Cewek yang kalian jadikan bahan omongan adalah istri gue."


Pantas saja mereka di amuk, pikir mereka kompak.


Tapi, Hiro yang masih terbawah emosi, kali ini pipinya mendapat tonjokkan kuat sampai hidung nya mengeluarkan darah segar begitu saja.


Hiro bergegas bangkit, tapi dua orang lainnya ikut membantu teman nya dengan cara kedua sisi tangannya di tahan. Sial, main keroyokan.


"Sok jagoan di kandang gue. Nih, rasakan....!"


Dona dan member club yang lainnya, tiba secara berjamaah yang memang kegaduhan di buat di ruangan itu terdengar berisik keluar.


"Hiro, Hirooo....!" Dona dan semua nya berlari cepat membantu Hiro yang nyaris kembali di jab area wajah nya.


Terpaksa, tiga tersangka melepaskan Hiro.

__ADS_1


"Bajingan lo pada!" maki Hiro sembari meludah darah. Perut nya tidak kerasa dipeluk Dona yang bermaksud menahan diri nya karena hendak mengamuk lagi.


"Hiro, stop it, Okay!" bentak Dona demi bisa menyadarkan emosi Hiro yang meletup letup. Ia tidak habis pikir, hari pertama Hiro sudah membuat masalah saja.


"Lo bertiga, lihat istri gue dengan mata sopan kalian! Dia wanita baik baik dan seorang wanita yang bersuami. Cuci otak kotor lo pada, supaya bersih dari kata mesum. Anji** lo pada sesuka cocot jadiin istri gue jadi bahan obrolan nggak bermoral kalian. Bangsa*."


Tiga pria tersangka, mati kutu saat Hiro mengomel kasar sembari memperdengarkan hasil rekaman obrolan mereka.


Dona yang awalnya mengira Hiro lah yang bermasalah, mendadak merasa bersalah dalam diamnya. Ternyata, Hiro rela berdarah darah demi melindungi dirinya dari perencanaan pelecehan. Tanpa keraguan lagi, Dona memeluk erat tubuh Hiro yang dada di sisi kepalanya itu masih naik turun mengandung emosi yang butuh pelampiasan.


"Dan lo, Dona. Ambil seluruh barang barang lo. Gue nggak akan izin lo berada di tempat yang terlihat damai tapi aslinya isinya adalah kawanan serigala lapar. Entah siapa pemilik utama club ini, tapi gue pastikan lo lo pada akan gue laporin. Entah berapa banyak korban korban kalian yang berhasil di modusin."


" Ayo kita pergi," kata Dona dengan suara bergetar di dalam pelukan nya itu. Ia takut, Hiro kembali di keroyok.


" Kita memang harus pergi!"


Tidak ada yang berani menahan langkah keduanya, termasuk tiga orang tersangka yang sekarang memikirkan nasib ke depannya jika Hiro benar benar membeberkan percakapan tersebut yang memang menyangkut berbau bau perpecaha*.


"Lo, lo masih sanggup menyetir?" tanya Dona masih dengan suara bergetar yang kini mereka sudah ada di parkiran.


"Cepatan naik!"


Dona tidak lagi bersuara mendengar tutur bahasa Hiro yang masih menyimpan rasa emosi. Biarkan redup dulu dari pada kena sasaran.


Sampai di rumah yang entah penghuninya pada kemana, Hiro bergegas menaiki anak tangga tanpa sepatah katapun ke Dona semenjak di perjalanan tadi.


Dona berinisiatif ke dapur untuk mengambil air sebagai kompresan untuk wajah Hiro yang sedikit babak belur.


Tidak butuh waktu lama, Dona masuk ke kamar membawa wadah berisi air. Matanya disuguhkan tubuh Hiro tanpa busana bagian atasnya.


Dona nampak ragu menganggu Hiro yang sedang membelakanginya itu.


Hiro yang menyadari keberadaan orang di belakang nya segera berbalik. Pandangannya jatuh pada benda yang di bawa Dona. Ia pun berangsur duduk di tepi ranjang. "Sini, obatin gue."


Suara nya sudah melembut, Dona lega mendengarnya membuat ia berani mendekat meski jujur ia sedikit silau dengan tubuh kekar Hiro.


"Te-terima kasih uda ngelindungin gue," ungkap Dona tulus meski suaranya itu tergagap.


Hiro masih diam membisu. Menahan tekanan tangan Dona yang membersihkan luka nya di wajah.


"Aww..."


Dona reflek meniup niup pelan wajah itu saat Hiro meringis sakit.

__ADS_1


Ia baru tersadar saat nafas Hiro tak kalah hangat menerpa wajah yang sangat dekat itu.


__ADS_2