
Jam pulang, sesuai keinginan Liana, Dona pun datang ke halaman belakang sekolah yang suasananya sepi dari orang-orang.
Belum ada siapapun di sana. Dona sejenak berhenti dari langkah langkah pendek kicepnya demi memindai seluruh penjuru.
Kreeek...
Cepat cepat Dona membalik tubuhnya saat ada bunyi ranting terinjak di belakang sana. Ternyata Liana bersama dengan dua ante antenya.
"Gue kira lo pengecut." Liana bersedekap dada sembari menatap benci pada Dona. Dalam hatinya, ia sangat iri pada nasib Dona yang berhasil menjadi istri Hiro. Mimpinya menjadi satu satu putri dalam hidup Hiro, ternyata dicuri star oleh gadis gendut yang tak ada bagus bagusnya ini.
"To the point aja deh, Na. Apa mau lo dibalik ancaman lo?" Dona malas meladeni segala ketoxican Liana.
Liana menyeringai. "Jangan buru buru, Ndut." Setelahnya memberi kode pada kedua temannya.
"Eh, eh..." Dona terkesiap manakala Yuni dan Icha tetiba memegang kedua sisi jenjang tangannya. "Lo pada mau apa?"
"Ikut aja!" bentak Liana yang memimpin jalan di depan Yuni dan Icha yang saat ini sedang menyeret paksa Dona untuk ikut.
Mau tak mau, Dona hanya pasrah untuk saat ini. Sampai langkah mereka semua berhenti di depan gudang.
"Jangan bilang, lo pada mau ngurung gue dimari?" Dona mempunyai firasat buruk demikian.
"Oh, tentu saja itu terlalu kuno. Ada hal lebih spesial dari pada sekadar ngurung lo." Liana segera menutup pintu rapat rapat gudang tersebut manakala mereka berempat sudah di dalam semua.
Dona masih bingung apa yang sebenarnya direncanakan Liana padanya. Saat ini, ia hanya memperhatikan tiga orang di sekelilingnya dengan penuh kewaspadaan.
"Yun, ambil atribut yang sudah kita siapin untuk calon badut kita," titah Liana yang langsung diindahkan oleh sang empu nama.
"Ca_calon badut? Apa maksud lo?"
"Hahaha..." Liana tertawa ejek akan suara tergagap Dona yang terkesan takut. "Lo akan ngehibur kita sebagai badut. Perut lo ini..." Liana menepuk lemak Dona membuat sang empu tubuh berjengit kaget tapi tak bisa berbuat banyak untuk melindungi dirinya sendiri karena mengingat Liana kini memegang kartu AS nya. "Sangat cocok jadi badut."
"Jangan begini, Na." Dona mundur mundur bertepatan Yuni sudah kembali berdiri di sisi Liana dengan tangan membawa sebuah kotak kardus.
__ADS_1
Tak peduli dengan rengekan mengiba Dona, Liana sesegera mungkin mengeluarkan kostum badut itu. Lalu menyerahkan ke Dona dengan cara melemparnya, sangat tidak sopan.
"Pakai cepat! Dan jangan banyak protes jika memang lo nggak mau lihat bokap Hiro dikeluarkan secara nggak terhormat di sekolah kita!"
Melihat ancaman tangan Liana yang hendak memposting foto pernikahannya ke jejaring sosial. Dona dengan manut, secepat mungkin memakai kostum badut berwarna cerah; merah, kuning dan oranye bermotif polkadot itu.
Tawa ketiga orang di depannya begitu bahagia membullynya. Dona sebenarnya ingin bertindak membela dirinya, akan tetapi ia lagi lagi harus memikirkan nama baik Papa mertuanya sebagai kepala sekolah.
"Biar jadi seperti badut betulan. Kami akan memberi sentuhan make up yang fantastis."
Seperti patung, Dona membiarkan tangan tangan nakal Yuni di area wajahnya itu berekreasi melukis asal, layaknya dandanan badut asli yang ujung hidungnya di gambar bulat warna merah terang. Begitu pun Icha yang ikut membantu memasang wig biru gimbal di kepalanya.
Liana begitu menikmati ketidakberdayan Dona. "Penampakan badut lo sangat sempurna! Hahahah..."
Lagi lagi, tawa Liana serta kedua temannya itu hanya bisa Dona telan mentah mentah menyakiti hatinya.
Dengan perasaan sedih, Dona terpaksa menerima bullyan tanpa mengelak yang paling terhina itu dalam hidupnya. Apalagi saat Liana mengatakan, "Segera hibur kami dengan tarian badut lo! Se-ka-ra-ng!" Liana mengeja ujung katanya sebagai penekan yang tak mau dibantah olehnya.
"Lo lo pada nggak punya hati, hah?" Dona bersuara keras manakala Liana sudah stay jahat dengan kameranya. Sialan, mereka ternyata ingin mempermalukannya ke jejaring sosial. Andai memang pekerjaannya sebagai badut, maka insyaallah ia akan terima dengan ikhlas ridho perintah kurang ajar Liana, tapi ini lain lagi ceritanya.
Ingat Papa mertua lo, Don. Dona membatin pahit. Dengan sangat terpaksa, ia memulai bergerak lincah bak badut ceria yang menghibur anak anak di acara ulang tahun. Lukisan senyum lebar cemong sampai ke pipinya itu, mengecoh ekspresi wajahnya seperti orang tersenyum bahagia. Tapi aslinya, Dona saat ini sedang berderai air mata dalam diamnya di bully.
"Hahahah... Terus, Badut. Hihaaa... Ya, putar badan gemuk lo." Liana benar-benar menikmati puas yang sudah berhasil mutlak mempermalukan Dona.
***
Malamnya, Hiro yang sudah stay dengan tumpukan buku paket di meja tamu, dibuat kesal akan Dona yang belum pulang pulang juga. Mengingat tanggung jawabnya yang harus mengajari Dona supaya lulus ujian nanti, tentu saja ia dibuat jengkel dengan tingkah tak disiplin Dona.
"Dona sudah kelewatan. Keluyuran sampai nggak ingat waktu. Yang benar saja, ini sudah jam tujuh malam, tapi masih belum pulang juga. Apa iya, dia bersama Riko?"
Dengan perasaan panas, Hiro menekan kasar nomer Riko.
"Halo__"
__ADS_1
"Dona lo bawa kemana, hah?"
Riko sampai menjauhkan hapenya dari sisi telinganya. Suara ngegas Hiro seperti ingin memecahkan gendang pendengarannya.
"Lo jangan cabul sama anak orang ya, atau urusannya sama gue kalau Dona lo ajak ke kubangan otak mesum lo."
Riko tersenyum yang tentu saja tak akan dilihat oleh Hiro. Alih alih marah, ia malah senang mendengar kalimat ambigu Hiro yang terkesan cemburu.
" Dona nggak sama gue, Hiro. Gue sekarang malah sama Viko di lapangan futsal. Tapi, kok lo terdengar sewot begitu sih? Emangnya lo dan Dona ada hubungan apa sih sebenarnya? Reaksi lo ini, seperti suami yang mencari istrinya, tau nggak!"
"Uhuk... Uhuk... Halo, gue nggak dengar lo ngomong apa. Berisik sekali suara gooolnya." Hiro terbatuk batuk garing demi menghindari pernyataan Riko yang tepat sekali.
Tuut...
"Sialan! Gue malah dicurigai..." Hiro mengomeli hapenya seakan-akan layar itu adalah Riko.
"Ah, ini semua gara-gara Dona sih! Awas aja lo kalau lo uda pulang, gue ulti lo__" Belum selesai racauan kalimatnya, suara klik paspor pintu unit terdengar. Pasti itu Dona, yakin Hiro. Dan benar saja, orang yang sudah dinanti nya akhirnya pulang juga dengan wajah datar terkesan dingin seperti bukan Dona ceria yang ia kenal. Namun, Hiro yang sudah kepalang tanggung sewot nya, langsung saja mencecar omel Dona.
"Enak banget hidup lo! Pergi dan pulang sesuka jidat lo. Lo mau buat gue sengsara dimarahin Papa karena lalai bantuin lo dalam hal belajar, hah?"
Dona yang tertekan batin. Sejenak memejamkan matanya yang saat ini membelakangi Hiro. Menghela nafas kasar, lalu berkata dengan nada lesu putus asa, "Gue capek, Hiro. Please, jangan ganggu gue dulu."
Hiro tertegun mendengar suara Dona yang bergetar seperti habis menangis. "Lo ada masalah di luar sana?" tanyanya penasaran. "Jangan jangan, lo di gangguin preman ya? Makanya, jadi cewek itu jangan sok sokan keluyuran!"
Alih alih menjawab dan percuma juga mengadukan kelakuan Liana yang amat dipercayai lemah lembut perangainya oleh Hiro, Dona segera melanjutkan langkahnya ke kamar. Ia hanya butuh buku diarynya sebagai teman curhat terbaiknya.
" Don, gue lagi ngomong! Kenapa lo malah diam saja, hah? Ndut, hey...!"
Ndut?
Sekonyong-konyongnya, Dona berbalik kasar yang tadinya sudah siap menekan gagang pintu kamarnya. Matanya berkilat dingin menatap penuh benci pada orang-orang pembully body shaming seperti Hiro ini.
"Lo dan semua orang amat sangat sempurnah kah?" Dona tersenyum kecut. Ia kembali memutar tubuhnya dengan unek unek ditelannya kembali yang hampir dimuntahkannya di depan Hiro. Malas untuk berdebat lama lama, Dona segera meninggalkan Hiro masuk ke kamar dengan pintu ia banting sekeras mungkin.
__ADS_1
"Apa dia datang bulan?" gumam Hiro bergidik ngeri. Sumpah, kilatan mata dingin Dona, terkesan menyeramkan baginya.