Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
Bab 41# Rasa Bersalah


__ADS_3

"Apa mereka masih tidur?" tanya Tania pada Hilda di depan pintu unit apartemen Hiro dan Dona.


Mendengar cerita Hilda semalam, kalau kedua anak mereka memutuskan untuk rujuk kembali, membuat kedua mama itu datang ke apartemen di pagi hari dengan bermaksud ingin memastikan secara langsung di depan mata.


Pada akhirnya, Tania dan Hilda memutuskan masuk ke apartemen setelah beberapa kali membunyikan bel yang tidak di respon oleh orang yang ada di dalam sana. Untung Tania masih memegang serep yang merupakan kunci lain dari pintu itu, jika tidak mereka akan gagal masuk karena dari dalam pintu tersebut, di kunci manual oleh Hiro.


"Hiro ... Dona!" panggil Tania mencari cari. Tapi, tetap tidak ada sahutan.


Suasana apartemen sepi dari aktivitas apapun. Hilda kira Dona berada di dapur, tapi hanya ada angin kosong belaka.


"Masih tidur sepertinya," tebak Tania sembari memandang pintu kamar di depannya.


Sekonyong-konyongnya, kedua Mama Mama aktif itu, saling pandang dengan maksud penuh makna. Seringai pun kompak terlihat dari sudut bibir mereka dengan pikiran sama jika Dona dan Hiro habis melewati malam panjang yang aduhai, makanya masih terpulas.


"Cucu pertama semoga uda otw." Hilda terkekeh di sambut tawa kecil Tania.


"Kita masuk yuk. Biar kita lihat, apakah mereka bohong tentang rujuknya atau real adanya," ajak Tania ingin menciduk suasana kamar.


"Ayo!" Hilda yang menekan gagang pintu. Keduanya masuk dengan langkah pelan pelan dan pasti berhenti di dekat kasur Hiro.


Pemandangan romantis kini terpajang di netra kedua Mama itu. Di balik selimut, hanya kepala Dona yang terlihat berbantalkan lengan Hiro dengan tangan bebas saling berpelukan satu sama lain.


"Apa saya bilang, Mba Tania. Mereka benar-benar rujuk," kata Hilda di angguki Tania. Siapa pun yang melihat pemandangan keduanya, maka pasti akan berpikir sama. Padahal, itu real scane tak sadar dalam tidur mereka.


"Sebelum mereka bangun, sebaiknya kita keluar. Nanti yang ada mereka bisa malu kalau mengetahui tidurnya kita intipin," tutur Tania mengingat batasannya.


Tanpa suara, Hilda menyetujuinya. Sial, saat Hilda berbalik, tas nya itu tidak sengaja menyenggol sebuah barang di atas nakas. Jatuh, beradu dengan lantai sehingga menimbulkan suara nyaring membuat tidur nyaman Hiro dan Dona terganggu.


Keduanya langsung terduduk, kaget mendapati keberadaan dua wanita yang mereka hormati.


"Hehehe ... maaf, Mama nggak sengaja." Hilda terkekeh garing.


Otak Hiro yang tajam mengingat aduan rujuk nya bersama Dona, seketika menebak kalau kedua Mama di depannya ini ingin memastikan rupanya.


"Nggak apa apa, Ma. Kami nggak terganggu kok. Iya, kan, Sayang?"


Sayang? Dona yang dipanggil romantis seperti itu oleh Hiro, tapi kenapa malah dua hati Mama Mama itu yang meleyot.


Seketika juga, keraguan Tania dan Hilda yang tadinya tidak mempercayai hubungan harmonis anaknya, sirna seratus persen. Jelas saja sih mereka awalnya ragu, secara keduanya sempat mengalami perdebatan yang sangat rumit.


Dona yang masih berpikir Hiro sedang berakting demi menjalankan misi balas dendam ke dirinya, mencoba tidak terpengaruh dengan sebutan sayang yang sebenarnya juga, jantung Dona uda dibuat disko pagi pagi.


"Mama kok ada di sini?" Dona bertanya sembari meraba pakaian bawahnya di balik selimut. Alhamdulilah, masih terpasang sedia kalanya, itu pertanda Hiro benar menepati janjinya yang katanya tidak akan macam macam.


"Kami ingin mastiin hubungan kalian yang katanya sudah rujuk. Dan keraguan kami sudah terbukti," ungkap Tania jujur, tersenyum full bahagia begitu pun Hilda.


Dona yang melihat itu, jadi merasa bersalah. Bagaimana kalau ini hanya permainan Hiro? Tidak tega Dona melihat binar bahagia itu pudar di wajah wajah orangtua mereka.


"Mama mama masih kurang bukti? Nih, Hiro buktiin satu kali lagi." Muach... Tanpa jaim, di depan Hilda dan Tania, Hiro main curi ciuman tepat di bibir Dona. Menang banyak, karena Dona tidak akan bisa berkutik di depan kedua mamanya. Sekali lagi, lagi dan sampai tiga kali Hiro mengecup gemas selebar wajah Dona.


Demi apa, Dona menegang dengan mulut terbuka kaget. Meski itu cuma sekedar kecup kecup sampai permukaan pipinya basah, Hiro berhasil membuat jantungnya merasa di paksa untuk berpacu dua kali lipat.


Semburat merah ngeblush alami di pipi Dona, terlihat nyata di mata Hilda dan Tania yang ikut baper.


"Sial..." rutuk Dona dalam hati akan aksi tak terduga Hiro tepat di depan orang tuanya lagi. Kan maluuu, ihh...


" Aww... " Hilda menjerit manja, menggoda ke romantisan Hiro yang terbanding terbalik dari sikap jutek nya di hari hari yang sudah terlewat.


Sementara Tania, refleks menutup mata menggunakan telapak tangannya tapi di selah jari ia sengaja buka untuk mengintip Hiro yang tersenyum senyum gaje.


"Apa masih kurang percaya kalau kami sudah rujuk? Nih, Hiro buktiin lagi__ Hehe, Dona malu, Ma. Lihat wajah nya seperti tomat matang."

__ADS_1


Dona jadi cemberut digodain tiga orang sekaligus di depannya.


"Kalian lanjutin aja deh waktu berduaannya, kami mau ke pasar. Oh, iya, di meja makan uda ada beberapa sarapan, kami bawa dari rumah. Assalamualaikum, Nak."


"Waalaikumsalam..." jawab Dona dan Hiro tidak ada niat juga untuk menahan kedua orang itu tinggal lebih lama lagi.


Lantas, tangan Hilda segera di tarik Tania untuk pergi.


Merasa keadaan kondusif, Dona yang masih sedia kalanya terduduk geram di sisi Hiro, segera memutar kepalanya ke samping. Menatap tajam Hiro yang malah disambut senyum tak berdosa pria itu.


"Lo nyium gue di sini, di sini dan semuanya?" Dona menunjuk seluruh wajahnya dengan suara galak tertahan. Matanya mendelik hingga pupil itu melebar. Ia tidak terima akan kelancangan Hiro tadi.


Bukannya takut, Hiro malah tersenyum santai. Hobby barunya adalah menggoda Dona yang sekarang jual mahal padanya.


Sekali lagi, ia mencuri ciuman Dona tepat di bibir itu. Lalu ngebirit ke arah pintu karena Dona ingin memukulnya.


"HIROOOOO...!" jerit Dona kesal.


Dona siap mengejar, tapi saat Hiro mengatakan hal menggelikkan tentang tikus yang semalam, kakinya tanpa alas itu seketika terpaku di lantai.


"Pokoknya, jangan keluar kamar sebelum gue pastiin tikus itu sudah pergi."


Alasan saja, padahal Hiro ingin menutupi kejahilannya dengan cara ingin mengambil tikus mainan itu di kamar Dona dan di dekat sofa yang memang belum ia singkirkan. Jangan sampai Dona mengetahui itu adalah kerjaan modusnya semata.


Tidak lama lagi, Hiro sudah kembali untuk melapor.


"Sudah beres. Tikusnya uda nggak ada, tapi kemungkinan besar akan balik lagi nanti malam." Hiro melapor ke Dona yang kini sedang duduk termenung di tepi ranjang.


"Siapa juga yang akan tidur di apartemen ini lagi, gue mah mau pulang ke rumah." Dona menolak masuk ke perangkap permainan Hiro yang dikiranya ingin balas dendam padanya.


Tidak bisa memaksa Dona tetap tinggal, Hiro hanya diam saja memandang punggung istrinya keluar dari kamar.


"Masa gitu aja nyerah? Dona mau pulang ke rumah ortunya, lo juga kudu ikut, Bego. Kan lebih seru di sana, Dona nggak bisa sesuka hati bertindak." Hiro bermonolog sendiri.


Melihat makanan di depannya, seringai jahil nya pun terlintas. Ia ingin mengetes kesabaran Hiro. Kalau orang yang tidak tulus kan, biasanya akan marah marah jika dikerjain dengan kata keterlaluan.


Selesai menaruh banyak bubuk cabai di dalam nasi goreng udang kesukaan Hiro, Dona pun segera duduk manis. Kebetulan, Hiro sudah tiba tepat aksi jahilnya itu beres tak terlihat.


"Nih, buat lo," kata Dona sembari mendorong pelan piring yang sudah ada racikan khusus untuk Hiro.


Tanpa curiga, Hiro menerimanya di iringi dengan senyuman manisnya. Demi apa, Dona melayani piringnya. "Terimakasih, Sayang. Ayo kita makan."


'Sayangnya' itu loh, sungguh sangat manis tapi meresahkan juga bagi Dona. Ia tidak bisa menebak, apakah Hiro serius atau sekadar mempermainkannya saja?


Dona dilema dalam hati.


Dengan tatapan intens teruju ke wajah Dona yang sok cuek padanya, Hiro memulai memasukkan suapan pertamanya ke mulut.


Rasanya kok pedas pakai banget.


Wajah Hiro nampak asem tapi sebisa mungkin mencoba tenang kembali, karena sudah sadar kalau Dona lah yang menaruh cabe bubuk ke dalam nasi goreng favorit nya.


Demi membuat Dona puas nan senang, Hiro tetap memakan nasi itu sampai tak tersisa. Setelah meneguk satu gelas air putih yang sebenarnya tidak cukup mengurai rasa aneh yang sudah timbul di dalam perutnya, Hiro pun beranjak sembari berkata dengan intonasi suara lemah, "Gue ke kamar dulu ya."


Hiro masih bisa tersenyum membuat Dona menatap nalar piring bekas pakai makan Hiro.


"Dia nggak marah? Padahal nasinya itu sangat pedas." Dona bermonolog heran sembari mengingat wajah Hiro yang sedikit memucat dan berkeringat tadi.


"Hiro itu lebih cenderung suka makanan manis daripada yang pedas pedas, Don. Dia punya asam lambung akut soalnya. Jadi, kalau nanti kamu jadi istrinya, tolong diperhatikan pola makannya ya, Nak."


Alamaaak, kenapa ia baru mengingat ucapan Tania di saat dulu ia menanyakan segala hal yang tidak dan di sukai oleh Hiro?

__ADS_1


Penasaran dengan keadaan Hiro, Dona gelagapan meninggalkan meja makan menuju ke arah kamar Hiro.


Ceklek... Tanpa ketok pintu, ia masuk begitu saja. Dan terlihatlah sosok punggung Hiro yang tertelungkup menyembunyikan wajahnya di sela sela bantal.


"Hir, lo baik baik aja, kan?" tanya cemas Dona dengan tangan terulur ingin menyentuh sisi bahu Hiro. Sebelum tangannya sampai, Hiro sudah membalik tubuhnya memperlihatkan mimik wajah yang sedang menahan rasa tidak nyaman.


"Gue nggak apa-apa kok. Cuma sedikit nggak enak badan aja."


Kepura - puraan Hiro malah semakin membuat Dona merasa bersalah.


"Nggak apa-apa bagaimana apanya? Wajah tampan lo jadi jelek menahan sakit. Nafas kamu juga terlihat sesak." Dona mencerocos sembari memaksa Hiro untuk duduk.


"Gue mau rebahan, Don."


"Diam! jangan banyak protes. Nafas lo bermasalah begitu kok. Biar meminimalisirkannya, Lo harus duduk bersandar ke balakang. Jangan lupa condongkan dada lo ke depan. Iya, begitu. Selanjutnya, lo lakukan teknik pernapasan pursed lip breating."


Dalam rasa bersalahnya, Dona segera memberi pertolongan pertama pada Hiro. Selama jadi murid Bang Iko di club muay thay, trainernya itu juga sempat memberinya edukasi tentang banyak hal. Katanya untuk jaga jaga nanti dalam keadaan tak terduga seperti contohnya kasus Hiro ini.


Dengan sangat patuh, Hiro mengikuti instruksi Dona. Perlahan tapi pasti, nafasnya mulai memasuki tahap normal, tapi rasa bagian perutnya masih sangat tidak bersahabat.


"Ayo kita ke Dokter__"


"Nggak, nanti juga sembuh kok."


Dona yang ditolak, matanya seketika mendelik membuat Hiro menciut. "Lo mau ya kalau asam lambung lo yang akut itu nambah parah. Terus, orang tua lo nyalain gue yang memang pemicu penyakit lo bisa kambuh. Dan ngapa pula lo bodoh jadi orang sih? uda tau pedas setengah mampus, lo main lanjut makan aja"


Dona keceplosan mengakui kesalahannya. Cepat cepat ia membekap mulutnya yang kadang kadang rem-nya itu blong.


"Gue tau dari awal kok, kalau makanan gue lo jahilin. Tapi, kalau itu yang membuat lo maafin gue dan ngeberi gue kesempatan jadi suami baik dan bertanggung jawab ke lo, maka gue relah terus menerus di beri rasa sakit."


Hidung Dona kembang kempis mendengar suara Hiro yang terdengar minta di kasihani.


"Deklarasi lo sangat alay gue dengar. Kalau lo sakit terus, istri manapun akan mendumel lama lama juga. Cepat berdiri, kita ke rumah sakit. No penolakan. Dan_ dan gue minta maaf soal aksi tak terpuji gue."


Hiro hanya mengangguk karena tiba tiba perut nya terasa ada sebuah pergerakan yang menonjok samar tapi nyeri.


Dan apa boleh buat, Hiro harus menurut di ajak ke rumah sakit, padahal ia sangat membenci aroma aroma obat yang tajam.


Meski rasa tidak nyaman yang ia rasakan di perutnya masih mendominasi, Hiro tetap berusaha mendapatkan perhatian Dona dengan cara merengek manja nan modus modus tampan. Kesempatan bagus tidak boleh di lewatkan bukan? Dona kan sangat nampak merasa bersalah, jadi mari memanfaatkan waktu berharga ini.


"Dona, lemas tau. Pegangin gue, kalau gue pingsan bagaimana?"


Sungguh, Dafa - adiknya itu kalah manjanya. Di depan pintu lift yang masih ditunggunya terbuka, Hiro menyandarkan kepalanya di sisi bahu Dona. Sang Empu bahu nampak pasrah dan menegang.


Dag dig dug.


Hiro juga sedikit samar mendengar debaran jantung Dona. Ada keberkahan juga ia sakit ulah Dona, kalau sang istri ini berujung jadi kucing manis.


Tingg...


"Pintunya uda kebuka, ayo masuk." Maksud Dona berkata demikian supaya Hiro menarik kepalanya dari bahunya itu. Tapi, pria tersebut masih stay nyaman bersandar sembari melangkah masuk ke lift.


Karena ada tiga pengguna lift lain di dalamnya, muka Dona jadi memerah malu akan kemanjaan Hiro. Lihatlah, dua wanita dan satu pria asing itu tersenyum senyum sendiri.


Hiro? Semenjak mengenal cinta, ia jadi menebalkan mukanya di depan umum. Dan baru kali ini Hiro memahami Dona yang dulu sering bermuka tebal menggodanya meski banyak orang lain pun di sekitar, karena ya ini ... cinta buta. Buta dalam artian tidak mengenal waktu, keadaan dan hal sebagainya.


"Pokoknya, kalau gue di suntik sama dokter, lo harus di sisi gue. Jangan ditinggal barang sesaat. Biasanya kalau ke dokter dulu, dada Mama jadi tempat gue bersembunyi."


Dada? Maksud Hiro, selebar wajah itu akan menempel tepat di dadanya tanpa jarak?


Astaga... Dona merinding membayangkan scene intim itu, dengan mata kini tertuju ke tubuh bagian depannya.

__ADS_1


"Dek, suaminya apa pacar?" goda salah satu wanita dewasa yang mendengar bisikan nakal Hiro.


"Istri gue, Kak." Hiro yang menjawab penuh bangga. Membuat wajah Dona di terpa angin hangat.


__ADS_2