
Pasal rumah tangga Dona dan Hiro akhirnya masuk juga ke kuping Pak Fauzi dan Tania atas laporan orang tua Dona yang pagi pagi ini telah bertamu.
"Astaga, jadi anak anak kita sedang tidak baik baik saja?" Pak Fauzi menyayangkan keputusan Dona yang minta bercerai katanya. "Bagaimana dengan Hiro? Apa dia setuju keinginan Dona?" tanyanya pada orang tua Dona karena mereka semua belum bertemu dengan Hiro. Dihubungi pun, Hiro tidak ada respon.
"Menurut kesimpulan ku dari cerita Dona semalam, Hiro sebenarnya tidak menginginkan pernikahan mereka dari awal katanya. Hanya Dona yang menginginkan selama ini atas nama cintanya ke anak Mas Fauzi. Jadi, kita tentu saja bisa menebak keputusan Hiro bukan? Pasti setuju!" tutur Hilda takzim. Ia sangat kasihan pada anaknya yang memiliki perasaan tak terbalas. Cinta bertepuk sebelah tangan itu pasti menyakitkan. Tapi soal hati nan cinta, ia pun tidak bisa menyalahkan Hiro seutuhnya.
Di sisi lainnya, Hilda juga bangga pada anaknya yang bisa mengambil keputusan demi ketenangan hatinya. Coba saja bayangkan, bagaimana hidup anaknya nanti jika seumur hidupnya hanya mencintai tanpa dicintai? Hilda yakin, anaknya bisa makan hati setiap hari.
"Jadi, kita harus bagaimana? Apakah kita harus mendukung perceraian ini?" Tania membuka suara yang sejak tadi mencermati. Dalam lubuk hatinya, ia tidak setuju kehilangan Dona sebagai menantunya. Meski fisik anak itu dibilang kurang sempurna karena gendut, tapi sifat ceria dan kesopanan Dona pada orang tua, sangat disukainya.
Hening sesaat. Empat kepala tersebut berpikir keras yang memang harus ditindaki dengan hati hati dan penuh kematangan karena bersifat pribadi kehidupan anak-anaknya.
"Mas Fauzi." Pak Amar bersuara untuk minta perhatian. "Dona dan Hiro tiga hari lagi akan memasuki ujian nasional bukan?"
"Eum, betul," jawab Pak Fauzi singkat.
Papa Dona kembali melanjutkan pendapatnya, "Biar tidak mengganggu hasil ujian sekolah mereka, bagaimana kalau kita tidak gembar gembor menekan mereka tentang perceraian terlebih dahulu. Kita tidak mau bukan, pikiran anak kita tertekan dibagi dua dan berujung berdampak buruk dengan hasil ujiannya?"
Usulan Pak Amar diangguk setujui oleh tiga orang-orang di depannya. Sebagai orang tua, mereka semua juga tentu harus memikirkan hal lain yang menyangkut masa depan juga.
" Kamu benar, Amar. Setelah mereka lulus, baru kita akan membicarakan ini lebih lanjut," kata Pak Fauzi setuju.
Sementara di sisi Dona, gadis itu memutuskan untuk bolos sekolah. Ia merasa lelah lahir batin. Menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan alat piano tua yang sudah lama tak digunakan kini berada di depan duduknya.
Di sebelah piano, ada Olla yang ikut bolos. Tadi, saat mengeluarkan motor dari gerbang, Olla tidak sengaja melihat keberadaan Dona di balkon. Olla yang kepo, tentu saja ngacir ke rumah Dona. Dan berujung tahu segala kejadian semalam dari cerita Dona.
"Lo harus melawan glossophobia lo, Don," gemas Olla memaksa tangan Dona agar mau menekan tuts tuts piano yang sangat ragu disentuh sang sahabatnya itu.
"Ih, La. Lepasin tangan lo. Lihat tuh, lo nyakar gue."
Dengan senyum garing, Olla memamerkan giginya, nampak bersalah karena tidak sengaja melukai sedikit kulit mulus Dona. "Maaf, kuku gue memang sengaja nggak dipotong. Biar enak nyakar Liana __ Ck, iya iya. Gue nggak akan hajar dia. Biasa aja mata lo, ampe mau loncat melototin gue!"
Dona ini memang melerainya ikut campur. Padahal, jab Olla itu gatal sudah ingin menyentuh kulit Liana secara brutal. Kata Dona tadi sih, biar ia tidak terkena masalah besar karena memukul orang bisa kena pidana.
"Buruan deh lo mainin pianonya! Gue uda nggak sabar juga melihat Hiro menyesal karena nggak percaya pada lo yang malah percaya sama pencuri! Lagian, gue heran deh. Kok bisa Liana nyuri lagu lo sih?"
Dona memutar mata malas mendengar ocehan Olla. "La, lo kan tau persis. Melawan demam panggung itu nggak semudah melepas kentut. Di sini..." Dona menekan dadanya. "Perasaan gelisah dan cemas berlebih akan muncul jika gue tampil. Insecure, gugup, ketakutan melanda saat itu juga. Dan masalah Liana, gue juga nggak tau kapan dia berhasil nyuri lagu itu." Dona menghela nafas berat. Dagu ia topang dengan bibir cemberut galau.
__ADS_1
"Lupakan dulu nama cewek lampir itu. Namanya pencuri pasti nggak akan berkah. Tentang glossophobia lo dulu ya harus lo hilangkan dengan cara..." Olla terjeda karena berpikir keras. Dona dengan sabar menunggu ide Olla yang pasti konyol ujung ujungnya. "Eumm... misalnya lo tutup mata saat lo tampil," ide Olla merasa cemerlang.
"Tutup mata? Lo pikir tangan gue punya mata? Gimana caranya coba gue main piano nanti?" Dona geleng geleng mendengar ide konyol sang sahabat.
Olla cengengesan bodoh sembari garuk kepala yang tak gatal. Ia kembali berpikir keras, mencari ide lainnya. "Gimana kalau lo berusaha mensugesti diri lo sendiri, kalau orang orang yang berada di depan panggung saat lo tampil adalah benda mati semua. Mau lo anggap orang orang itu patung kek, kursi rusak kek, atau bahkan eek ayam pun, terserah kenyamanan lo aja deh." Kali ini, ide Olla yang terakhir, sudah mentok. Kalau Dona masih tidak bisa melawan glossophobia nya, maka serah dah.
"Benda mati?" Dona bergumam sembari berpikir keras. Ide Olla kali ini sedikit masuk akal menurutnya. "Gue coba usaha ya, La. Anggap lah, di sini lo dan ada beberapa orang menyaksikan skill gue. Dan ah, gue akan ngebayangin lo sebagai eek ayam."
"Asem..." Olla membatin dikatain kotoran. Tapi, demi menghibur Dona yang sedang galau berat, tak apalah. Dihaluin jadi ulat pun tidak apa, yang penting Dona bahagia saja.
Sejurus, dentuman piano mengalun indah di telinga Olla akan permainan Dona yang skillnya ini memang tidak banyak orang yang mengetahuinya. Meski gestur Dona terlihat kaku dan tak nyaman, tapi irama instrumennya sangat enak masuk ke dalam pendengaran Olla.
Sesekali Dona melirik catatan not irama yang terjepit di atas board tersedia di depan mata.
Sejenak, Dona memejamkan mata demi bisa mensugesti otaknya, jika di depannya itu bukan hanya Olla seorang, melainkan ribuan penonton yang memberinya tepuk tangan meriah alih alih sorakan bullyan yang pernah ia dapatkan karena penampilannya saat itu buruk sekali.
Jujur, sindrom glossophobia hadir mendominasi, tapi tangannya yang sudah terlanjur bermain di tuts, melawan kegugupannya.
"Don, nyanyi, Don!" pinta Olla yang malah membuyarkan konsentrasi Dona yang sedang melawan glossophobianya. "Yaakk... Kok nada nya malah ancur?" Olla mengeluh tak tahu diri.
Wajah Olla nampak asem, "Bisa nggak sih, eek ayamnya jangan pandang lekat lekat wajah gue. Gue ngerasa bau jadinya. Lo coba lagi deh, kali ini sambil nyanyi!" seru Olla sangat cerewet bak coach yang tidak boleh dibantah anak didiknya.
"Siap, coach! Gue coba ya."
****
Di sekolah. Jam pelajaran sedang berlangsung, Hiro yang banyak pikiran, saat ini tidak berkonsentrasi menyerap penjelasan guru di depan sana. Dengan pandangan kosong, matanya tersebut hanya tertuju ke bangku Dona yang tidak ada penghuninya.
Sebelumnya, kehadiran Dona itu sangat menyebalkan, tapi entah kenapa, saat Dona tidak ada seperti ini malah kepikiran oleh nya. Ada sebenarnya? Apa iya, hatinya itu sebenarnya ada perasaan cinta pada Dona? Ah, Hiro yang memang belum pernah merasakan jatuh cinta itu, jadi bingung sendiri. Pada Liana? Sebenarnya dari awal karena terpaksa, bukan cinta.
"Hiro...!" panggil sang guru.
Sang Empu nama, gelagapan. Ternyata guru perempuan kini berada di sebelah mejanya.
"I-iya, Bu," gagap Hiro menyahut.
"Ibu tanya, apakah band kamu siap mewakili kompetisi pentas seni yang diadakan besok?Banyak sekolah lain yang ikut serta, bagaimana?"
__ADS_1
Hiro tidak langsung menyahut, lebih dahulu melirik Riko yang ada di sampingnya.
"Setujulah, Bu." Liana yang menyahut seenak cangkemnya di bangku depan sana. Padahal, Hiro merasa malas ngapa - ngapain untuk saat ini.
"Oke, semoga kalian menang. Jam istirahat, perwakilan kalian Ibu tunggu di ruangan guru. Kita bicarakan lebih detail di sana."
Melihat ibu guru seni ini nampak antusias, Hiro pun tidak bisa menolak.
"Ko, lo aja yang nemuin ibu Gea, ya. Gue nggak enak badan," bisik Hiro setelah guru yang bernama Ibu Gea itu menuju ke arah kursi guru.
"Dona kenapa nggak masuk, Hir?" Riko malah mempertanyakan hal lain.
Hiro yang tidak tau pun hanya bisa geleng kepala.
"Maaf nih, bukannya gue mau ikut campur urusan pribadi kalian. Tapi lidah gue gatal ingin ngeberi lo nasehat. Kalau gue jadi lo, cinta besar nan tulus Dona nggak akan gue sia siain. Dari kita kelas sepuluh, Dona itu sudah suka sama lo, pantang menyerah ngejar lo. Fine, gue juga tau lo banyak ditaksir sama penggemar lo seperti Liana, tapi Dona... Apa lo nggak pernah pikir, dia nggak pernah pantang menyerah loh. Kalau cewek cewek lain sih, pada mundur saat tahu lo dan Liana ada hubungan. Dona, nggak kan? Masa iya, lo nggak tersentuh hatinya? "
Hiro gamang. Bergeming seperti patung dengan perasaan kacau yang kian menyelimuti hatinya.
"Ko, coba beri tau gue. Rasa cinta itu seperti apa? Apakah rasanya menyebalkan saat orang itu ada? Dan saat tidak ada, apakah rasanya hampa?"
Sudut bibir Riko terangkat ejek, ternyata sahabatnya ini bodo tentang perasaan cinta. Pelajaran mah dibabat, tapi soal hati, nilainya bulat telor.
" Seperti itulah kira kira, dan ah, satu lagi. Cinta itu juga akan marah tanpa sebab, jika cinta kita didekatin dengan cowok lain. Gue mau nanya serius nih, jika gue dekatin Dona, lo sewot nggak?"
Jujur nggak ya? Hiro membatin. Tapi tak sadar, kepalanya itu memberi respon anggukan membuat Riko terkekeh.
" Lo itu cinta, bego!" Kali ini, suara Riko tidak terkontrol. Sehingga mata ibu guru yang sedang menyampaikan materi dan siswa lainnya, tertuju semua pada Riko.
Hiro? Ia menampilkan wajah polosnya, seakan-akan Riko sendiri yang membuat gaduh.
"Hehehe, maaf, Bu Gea. Saya boleh izin ke toilet," kata Riko. Risih mendapat tatapan semua orang. Dalam hatinya, ia mengomeli Hiro yang lempar batu sembunyi tangan.
"Silakan!" setuju Ibu itu "Kamu kalau masih mau membuat gaduh, masuk kelasnya setelah ibu selesai."
Asem... Di usir ini namanya. Riko berdiri sembari mendumel, sengaja menginjak kaki Hiro.
"Aww..." desis Hiro kesakitan. Riko menyeringai puas.
__ADS_1