Siswi Gendut Itu, Istriku

Siswi Gendut Itu, Istriku
T A M A T


__ADS_3

Malam telah tiba. Dona yang mengetahui kepulangan Hiro dari suara motornya di pelataran rumah, memutuskan untuk berpura pura terlelap di atas queen size bednya, padahal jam masih menunjukkan pukul sembilan malam.


Detik ke permenit, jantungnya kian berdebar menanti kehadiran Hiro yang sebenarnya pun, ia itu salah tingkah menghadapi Hiro, makanya ia lebih memilih untuk berpura pura tidur dulu.


Ceklek...


Pintu yang dibuka, tapi jantung Dona yang terasa jumpalitan di dalam sana.


Hiro yang melihat sang Empu kamar sudah nyenyak, bahunya jadi merosot. Ia kira, Dona akan menyambutnya dengan pertanyaan atau omelan khas Dona yang Hiro anggap adalah kepedulian Dona padanya, tapi ini... Dona cuek sekali yang artinya istri nya ini tidak peduli pada dirinya yang mau pulang atau kagak, bodo amat.


"Baju tidur dan handuk?" Hiro yang sudah di dalam kamar mandi, dibuat terkejut mendapati perlengkapan baju gantinya yang pasti disiapkan oleh Dona. Biasanya kan tidak demikian. Bibirnya seketika merekah, meralat segala pemikiran negatifnya barusan yang sempat meragukan kesempatan Dona yang diberikan padanya.


Cepat cepat Hiro membersihkan tubuhnya dari keringat dan debu jalanan. Ia yakin, Dona di balik selimut tadi pasti hanya berpura-pura tertidur.


"Sepertinya gue harus lebih agresif deh. Masa iya, Dona terus yang genit ke gue dari dulu dulu. Oke, untuk kali ini, gue yang akan lebih ganas." Hiro tersenyum nakal di depan kaca wastafel.


Sejurus mencium aroma tubuhnya yang sudah wangi nan segar.


Saat ia membuka pintu kamar mandi, sudut mata Hiro melihat Dona buru buru memejamkan mata.


Pura pura tidak tahu saja. Ia ingin menggoda Dona dengan cara membuka baju tidurnya di depan pembaringan Dona.


"Haiss... Ngapa harus nggak pakai baju sih?" batin Dona resah melihat separuh tubuh Hiro.


Tanpa membuka mata lebar lebar, ia sudah tahu Hiro kini berbaring di sebelah tubuhnya.


Alamaak... Bantal guling napa disingkirkan juga?


Hiro tersenyum dalam diamnya, telah merasakan punggung Dona tiba tiba kaku seperti papan, ketika tangan nakalnya ia lingkarkan memeluk istrinya ini tanpa jarak lagi.


Sebagai pengantar tidurnya, Hiro sengaja berbisik mesra di sisi telinga Dona, "Selamat malam, Sayang. Mimpi indah..." Cup...


Aaarggh... Dona menjerit tak kuasa dalam hati mendapat kecupan sayang di dahinya dari Hiro.


Tidak mau berlarut larut dalam hubungan aneh mereka, Dona memutuskan untuk membuka matanya. Sial, wajah Hiro sangat dekat dari wajahnya yang mungkin hanya berjarak satu jengkal. Dan posisi itu, membuat Dona gugup diiringi jantung berdebar heboh.

__ADS_1


Hiro tersenyum manis. "Hai..." katanya pelan.


"Gue masih sangat mencintai lo!" ungkap Dona to the point. Lalu cepat cepat menutup matanya kembali karena malu.


Hiro tercenung. Menyadarkan dirinya kalau ini bukan sekadar mimpi belaka dengan cara menggenggam tangan Dona yang kerasa hangat. Fixed... Ini bukan mimpi.


"Apa, Don? Coba ulangin yang tadi, gue budek tau," goda Hiro dengan cara meniup mata Dona pelan.


Dona terpaksa menekan kegugupannya. Bibirnya cemberut melihat senyum dan alis Hiro yang sengaja dinaik turunkan.


"Lo mah nggak asyik __hmpt..." Omelan Dona dibungakam oleh bibir Hiro.


Tubuh Dona kembali kaku seperti gedebok pisang. Hiro yang menyadari kebodohannya yang terkesan buru buru, segera menjauhkan kepalanya dan menekan kebahagiaannya di dalam sana.


"Maaf, gue terlalu senang," katanya jujur lalu tercengir kaku.


Seperkian menit, suasana kamar itu nampak hening. Dona salah tingkah saat Hiro kembali memeluknya.


"Apakah boleh?"


"Boleh apa tuh?" balik tanya Dona akan pertanyaan ambigu Hiro.


Dona yang tidak paham kode kode nakal seperti itu, meniru pergerakan Hiro sembari berkata tanpa beban, "Boleh!" ia kira, hanya sekedar permainan tangan biasa. Tapi saat Hiro bersorak, ia jadi kaget dan buru buru duduk.


"Lo mau apa pakai melorotin celana segala?" Wajah Dona memerah malu yang sengaja ia tundukkan.


"Mau apalagi kalau bukan pacaran ala ala halal."


Gleekk...


Baru juga menelan ludah keringnya, Hiro sudah melorotin full celana nya.


"Lampu, mati!" Huh, untung penerang kamarnya itu mengunakan smartlamp yang akan mati nyala dengan perintah suaranya. Kalau tidak, burung Hiro yang hendak dilepas, terpampang nyata. Kan masih awam coeg.


"Don, nanti kalau salah masuk bagaimana? Cepat nyalakan lampunya," pinta Hiro sembari meraba-raba tangannya yang entah berakhir megang apanya Dona. Empuk dan enak diunyel unyel.

__ADS_1


"Don, ini apanya lo yang gue pegang? Kok enak dimaininnya," goda Hiro yang sudah sadar telah memegang salah satu aset berharga Dona. Baiklah, gelap pun jadi yang penting Dona seutuhnya menjadi miliknya.


Karena ulah nakal Hiro, Dona yang tadinya terkejut dan akan mengomel jadi ketagihan rasanya dimainin. Istimewa, tangan satu Hiro kini meraba sisi kupingnya di mana salah satu letak titik naps*nya sebagai wanita normal berada di sana.


Hiro menyeringai. Sepertinya Dona sudah ia buat kehilangan akal sehatnya. Buktinya Dona tanpa sadar, kini mendesah kecil. Malam ini biarkan Dona dibuat melayang di atas kasur terlebih dahulu baru nanti akan ia beri kejutan di Launge to the Sky.


"Hir... Uda, ah. Malu tau..." Dona tersadar saat Hiro ingin memasukkan tangannya ke sela bajunya.


Hiro yang sudah terbawa suasana, tidak bisa menghentikan gejolak asmara yang ingin meledak. Ia membungkam bibir Dona dengan amat sangat mesra.


Yes.. Dona ia buat terbuai lagi dan tidak bisa menolak segala sentuhan sentuhannya yang menyetrum hasrat tubuhnya,.


Dona mulai pasrah. Rasa malu nya terkalahkan oleh gejolak percumbuan yang baru ia rasakan. Toh sudah halal ini, makanya ia diam seribu bahasa saat Hiro berhasil meraba yang ada di bawa sana.


"Sa_salah, Hiro..." Suara Dona tidak jelas karena terbawa suasana.


Tapi, Hiro paham karena wajah mereka memang nyaris menempel di sela sela usaha Hiro mencari kandang burungnya di bawa sana.


"Makanya, nyalain lampu ya?" pinta Hiro dengan suara setengah medesa*.


"Nggak mau, gue malu," tolak Dona pelan. Ia belum biasa tubuhnya ditatap oleh siapa pun meski Hiro nyaris memiliki seutuhnya.


Lantas, di tengah tengah tangan nakalnya, Hiro hanya tersenyum paham yang tak dilihat oleh Dona. Tak mau gagal, Hiro terus memberi setrum cinta bagian atas Dona, hingga pada dasarnya burung di bawa sana masuk juga ke dalam kandang. Tidak ada yang namanya jeritan kesakitan, karena Hiro terus membungkam mesra bibir Dona meski sempat digigit oleh Dona sebagai pelampiasan nyeri di bawah sana.


Menit menit berikutnya, alam telah menyajarkan sepasang suami istri muda itu mengeksplorasi titik-titik ragawi surga mereka. Gejolak asmara kian melambung bak bola api yang ingin meledak. Hingga deru nafas mereka terengah engah saat mendapatkan indahnya surga dunia yang pertama.


"Terimakasih," ucap Hiro berakhir mengecup seantero wajah Dona yang berkeringat. Lalu menarik selimut untuk membalut tubuh mereka bersama. Dona tidak canggung lagi membalas pelukan Hiro.


"Enak ya, nanti setelah cepeknya hilang, kita coba lagi dengan banyak gaya ya." Hiro menggoda, berakhir perutnya yang kotak kotak seperti potongan tahu itu dicubit mesra oleh Dona.


Hiro hanya terkekeh lalu kian mengeratkan dekapannya. Dalam hatinya, ia berjanji untuk mencintai orang yang sangat mencintainya pula karena bagi ajaran yang ia peroleh dari Mamanya, 'rumah tangga akan bertahan jika kedua tokoh saling memperjuangkan, bukan hanya salah satu darinya. Ibaratkan sepasang kaki yang utuh, jika satunya tidak mampu diajak berjalan, maka sekuat apapun ia berusaha maka tetap jalannya akan pincang pincang.'


T A M A T


***

__ADS_1


Terimakasih readers tersayang yang sampai saat ini masih setia ngikutin karya sederhana Tata. Love you sekebon... 😍😍😘😘 Jangan lupa mampir ke karya baru ku "Hitman Brutal vs Agen Imut )" dan "Special Wife sang CEO" yang insyaallah akan mulai di up kembali di saat waktu luang.


Sampai jumpa di karya selanjutnya... Byee❤️❤️❤️


__ADS_2