
"Hiro, hey ... tungguin gue." Jam istirahat, Liana bergegas mengejar langkah Hiro yang ingin keluar dari kelas.
Hiro mendengarnya, tapi tetap melangkah panjang ke arah kantor para guru. Ingin menemui sang Papa untuk mengetahui perkembangan akan laporan Dona yang ingin bercerai.
"Hiro..." Liana berhasil memblokir langkah Hiro yang saat ini sudah berada di depan pria itu.
"Ada apa?" tanya Hiro datar.
"Yakin, mau bicara di sini?"
Hiro menaikkan alisnya. Ia curiga, Liana ini mau membahas tentang hubungan pribadinya dengan Dona. Terpaksa, Hiro mengubah langkahnya menuju rooftop karena tak ingin perbincangan mereka didengar oleh siswa lain yang berefek mengetahui stasusnya bersama Dona. "Ikut gue!"
Liana menyeringai sejenak lalu segera mengikuti Hiro.
Sampai di rooftop, tanpa basa basi Hiro segera meminta Liana mengatakan niatnya. "Gue nggak banyak waktu, ada apa?"
"Gue nggak mau putus dari lo, Hir. Meski lo jadi suami Dona, lo tetap jadi pacar gue kan?"
Hiro berdecak lidah sampai Liana pun mendengarnya. Inilah yang ia tak sukai pada sifat Liana yang pemaksaannya melewati Dona. Makanya, ia tak pernah bisa jatuh cinta pada wanita cantik di depannya. Alih alih kasihan, Hiro malah muak. Apalagi Liana kembali berkata dengan ancaman seperti lalu lalu, "Kalau lo bertingkah, gue akan undur diri dari band lo dan otomatis akan menarik lagu gue yang sudah didaftarkan Riko saat ini ke ibu Gea. Pilih saja!"
Liana yakin, Hiro pasti berhasil ia paksa sesuai keinginannya seperti lalu lalu.
"Sekarang, lakukan apapun yang ingin lo lakuin. Mau itu keluar dari band, silahkan! Mau narik lagu lo, juga silakan."
Otak Hiro yang lelah karena banyak pikiran, main pergi begitu saja. Lain halnya Liana yang terperangah mendengar pernyataan dingin nan cuek Hiro.
" Itu tandanya, ancaman gue nggak mempan lagi?" gumam Liana sampai tak percaya dengan pendengarannya sendiri. "Ya ampun..." Liana mencak mencak kesal beberapa kali. Ia tidak percaya kalau Hiro merelakan dirinya keluar begitu saja dari band.
Tidak bisa dibiarkan, Liana dengan cepat berlari mengejar langkah Hiro yang baru di anak tangga.
"Hiro..."
"Jangan ganggu gue!" serga Hiro.
"Gue akan nyebarin stasus lo dengan Dona kalau lo enggak nurut."
Heh... Berhenti juga pria tinggi ini di depannya. Malah segera berbalik cepat. Toh, Dona tidak mendengar ancamannya, jadi kartu ASnya yang dipegang Dona tidak akan disebar luaskan bukan. Ia kan cuma mengancam Hiro agar masih mau dibawa kendalinya, tidak serius.
"Ter-se-rah!"
Si anyiing, Hiro tidak takut. Justru menekan satu kata itu, lalu lanjut berjalan.
__ADS_1
Liana kesal tertahan dicuekin.
Masih tak mau menyerah, Liana terus mengekor. Tapi kali ini, terdengar seperti kucing manis yang minta dikasihani. "Maaf, Hiro. Gue nggak serius. Gue masih mau gabung dengan Fourged." katanya memelas.
Tak ada niat sedikit pun, Hiro menoleh. Pria itu benar-benar cuek bebek sampai pada akhirnya, langkahnya tepat berdiri di depan kantor para guru.
Kebetulan, Papanya di dalam ruangan sudah menyadari kehadirannya melalui dinding kaca.
Pak Fauzi meninggalkan posisinya, mengikis jarak ke arah Hiro.
"Hiro ingin bicara, Pa," kata Hiro pelan.
"Pribadi atau soal sekolah?" tanya sang Papa mode kapsek.
"Pribadi."
Papanya langsung memberi punggung sembari berkata, "Di rumah saja kalau begitu."
Hiro meringis mendengar penolakan mutlak Papanya. Mematung di tempat sembari merengek, "Papa..." yang tak direspon sama sekali oleh beliau.
***
"Kak Hiro pulaaang...!"
"Kak, main basket yuk. Biar seimbang," ajak Nara membuyarkan atensi Hiro.
"Nanti ya, Kakak ada perlu dulu sama kak Dona. Tolong panggilin, bisa?" bujuk Hiro dengan tatapan bergantian menatap si kembar Nara dan Nora.
"Nggak ah. Kak Dona lagi mode seram."
Hiro menaikkan satu alisnya sembari bertanya pada Nora yang berceloteh tadi. "Maksudnya? Seram bagaimana?"
"Kak Dona mogok makan dan berujung uring uringan karena lapar mungkin! Terus, kita berisik sedikit, langsung diomelin. Makanya kami main di halaman aja daripada barbel papa yang dipinjam Kak Dona melayang ke kepala kita. Bisa benjol nanti, iya kan Nara?"
"Ho'oh..." sahut Nara membenarkan cerita Nora.
"Oh, gitu ya. Kalau Mama dan Papa ada nggak di rumah?" tanya Hiro menanyakan mertuanya.
Nara dan Nora kompak menjawab, "Lagi pergi ke undangan di RT sebelah."
Setelahnya, tiga anak itu lanjut bermain basket dengan dua lawan satu.
__ADS_1
Hiro yang ingin berbicara empat mata dengan Dona, merasa ada kesempatan karena mertuanya tidak ada di rumah. Dengan langkah panjang, ia menghampiri teras. Membuka pintu rumah Dona yang memang tidak di kunci.
Dona yang masih di ruang tamu dengan hape beroperasi di tangannya, jadi terkesiap akan kedatangan Hiro.
Namun, rasa terkejutnya itu ia tekan dengan cara memancarkan wajah datarnya. Dona segera berdiri dari sofa sembari menarik tasnya yang berisi baju ganti sehabis olahraga.
"Gue mau bicara, Don," tutur Hiro menahan pergelangan tangan Dona saat ingin melewati posisinya.
Dona menatap sejenak genggaman itu. Lalu menariknya sebagai penolakan mutlak darinya. "Maaf, gue lagi buru buru!"
"Mau kemana?"
Bukannya menjawab pertanyaan menuntut Hiro, Dona malah melangkah cuek ke pintu utama.
Hiro mengekor karena mendengar suara mesin motor berikut klakson tak sabaran di luar sana. Dona dijemput siapa? Ah, ternyata Olla dengan Dona kini sudah naik ke boncengan.
"Hir..." panggil Olla. Sejurus, jari tengahnya terangkat mengejeknya. Sialan si tomboy.
"Buruan, La. Ihh..." Dona menepuk pundak Olla agar cepat melajukan motornya. Matanya sangat enggan menatap Hiro yang katanya mau berbicara. Sebenarnya, Dona pun penasaran, apa yang ingin disampaikan Hiro, tapi perasaannya yang sudah kecewa berat itu menjadikan dirinya tega menampilkan sikap cuek, dingin dan datar ke Hiro. Intinya, Dona ingin mengembalikan harga dirinya yang dulunya sering ia rendahkan sendiri di depan Hiro.
"Bleeekk..." Sembari melajukan motor, Olla yang geram pada Hiro, main melet sesuka lidahnya.
Hiro hanya berdecak kesal pada sikap menyebalkan Olla.
"Kak Donaaaa, mau kemanaaaa...?" teriak Nora baru mengetahui sang Kakak yang dititipkan oleh Papa Mamanya itu akan pergi.
Di luar pagar, Dona yang ingin menyahut ke adiknya, diserepet oleh Olla lebih dahulu, "KAK DONA MAU NYARI COWOK YANG BAIK HATI DAN LEBIH BERTANGGUNGJAWAB, BYEEE DUA N..."
Mata Dona membelalak. Karangan Olla ini sekata kata aja. Lihatlah Hiro, bukannya masuk ke rumahnya sendiri bertemu Tania, malah naik cepat ke mogenya.
"Mau apa dia, La?" tanya Dona di boncengan.
"Mana gue teheee..." Olla tersenyum misterius dengan mata melirik ke spion. Hiro ngejar rupanya. Sejurus, tangan lihai itu memberi tekanan gas membuat lajunya menggila. Dona yang tidak tahu sebelumnya, hampir saja terjatuh. Untungnya ia refleks memeluk erat Olla.
"OLLAAAA... JANTUNG GUE MAU COPOT!" pekik Dona sewot.
"NANTI GUE GANTI JANTUNG PISANG DEH... PEGANGAN AJA..." balas Olla asal asalan. Perhatiannya itu lebih konsen ke depan, dengan lajunya yang ugal ugalan agar Hiro kehilangan jejak. Meski laju motor Hiro yang moge itu kencang, tapi matic yang sudah dimodifikasi keren pakai banget nya, tidak bisa dianggap sepele juga.
Dengan lincah, kelihaian Olla berkendara kini membelah jalanan dengan mobil dan motor ia salip lincah.
"Shiit... Pakai lampu merah segala!" Hiro mengumpat sebal. Olla kini sudah lolos di depan sana, sementara dirinya harus menunggu lampu rambu lalu lintas itu berganti warna hijau.
__ADS_1
Apa katanya, Dona mau nyari cowok yang bertanggung jawab? Sialan si Olla, ngajak Dona pergi ke tempat yang pasti tidak tidak.