Skandal With Tetangga

Skandal With Tetangga
Bab 13


__ADS_3

"Udah kamu jangan macem-macem, masuk sana!" titah Boy yang kini perasaannya menjadi campur aduk gara-gara Emil.


"Padahal aku cuma minta cium aja, tapi Kakak gak mau," Emil mengerucutkan bibirnya.


"Emil, jangan dulu macem-macem ya. Mendingan kamu sekolah dulu yang bener, ngerjain PR aja kamu masih minta contek dan sekarang kamu malah minta cium," jawab Boy sambil geleng-geleng kepala.


"Ya udah kalau gak mau, aku minta ajarin Satria aja," ucap Emil.


"Apa! Kamu jangan macem-macem ya, Kakak ini suami kamu kenapa kamu malah mau minta ajarin cium sama Satria!" sentak Boy panik karena istrinya ingin diajari ciuman oleh orang lain. Padahal Emil hanya bercanda saja, dia sama sekali tidak serius. Karena tidak mungkin ia meminta ciuman pada


pria lain, dimana ia masih sangat sadar dan apa statusnya saat ini.


"Abisnya minta sama suami sendiri gak mau, Neng ini juga butuh nafkah batin Aa," ucap Emil dramatis meniru gaya Erina bicara jika sedang merajuk pada Ega. Boy terlihat menghela napas kasar, kenapa permintaan istrinya ini aneh sekali untuk Boy. Sebenarnya tidak aneh dan tidak masalah jika seorang istri menginginkan dicium oleh suaminya. Akan tetapi pernikahan mereka itu bukanlah pernikahan biasa. Boy tidak ingin melakukan kontak fisik dulu dengan Emil. Bukannya Boy tidak normal, tapi ia hanya ingin menjaga istrinya yang masih berstatus siswi SMU ini.


"Ya udah sini, cuma sekali aja ya," ucap Boy pada Emil. Emil pun dengan senang hati langsung mengangguk senang. Dimana ia akan merasakan apa yang namanya berciuman. Boy pun mulai mendekatkan wajahnya pada Emil, ia masih terlihat ragu. Akan tetapi, sebagai laki-laki normal tentu Boy sangat ingin menyentuh bibir berwarna merah Cherry itu. Sepertinya akan terasa sangat manis jika dikecap.


Boy pun langsung menarik tengkuk Emil perlahan dan ia mulai menyatukan bibir mereka, awalnya hanya menempel akan tetapi Boy mulai penasaran dan mulai menyesapnya dengan lembut. Ternyata bibir yang ia rasai itu sangat manis, hingga Boy ingin menyelaminya lebih dalam lagi.


Begitu pun dengan Emil yang menyambut hangat sapuan lembut dari bibir suaminya. Ada gelenyar aneh yang mereka berdua rasakan. Mendadak semuanya terasa panas dan ada rasa ingin melakukan lebih dari itu. Namun akal sehat mereka masih bisa berjalan dengan baik hingga keduanya mencoba untuk melepaskan pagutannya.


Boy memundurkan kepalanya, akan tetapi tatapannya masih pada bibir yang baru saja ia rasai dan setelah itu ia memandang wajah Emil. Boy mengusap bibir Emil yang terlihat basah karenanya barusan.


"Udah ya, jangan penasaran lagi. Dan jangan coba-coba minta diajarin sama si Dipsy itu. Aku gak mau bibir istri aku terkontaminasi sama dia, nanti bibir kamu ada bakterinya." ucap Boy sambil mencubit pipi Emil yang membuatnya sangat gemas bahkan ingin menggigitnya.


"Iyalah, aku juga gak mau dicium sama dia. Mendingan minta cium sama suami aku yang ganteng. Ya udah aku masuk dulu ya," Emil pun menyodorkan tangannya, untuk mencium tangan sang suami sekaligus salam tempel seperti biasanya. Karena Boy sama sekali tidak keberatan untuk memberikan uang jajan pada Emil. Ega pun tahu itu, tapi bukan berarti ia juga melupakan putrinya begitu saja. Tetap saja ia memberikan apapun yang Emil mau, hingga terkadang Emran pun berdecak sebal melihatnya.


"Pah, Emil enak ya dapat uang jajan dobel dari Papa sama Kak Boy," ucap Emran yang masih betah sarapan dan lebih suka berangkat siang dan lima menit menuju bel masuk ia baru sampai di sekolah.


"Orang dia punya suami, ya wajar kalau dia dikasih uang sama suaminya." jawab Ega yang masih santai dan melihat laptopnya sambil sarapan.


"Aku juga mau, Pah. Tambahin ya," pinta Emran.

__ADS_1


"Emang kamu udah punya pacar?" tanya Ega.


"Enggak,"


"Memang apa hubungannya uang jajan naik sama pacar?" tanya Emran.


"Kirain, mau kasih jajan pacar kamu," jawab Ega masih betah dengan laptopnya.


"Emang mesti dikasih jajan ya?" tanya Emran. Ega yang sedang fokus pun mendadak melihat anak tampannya yang menyebalkan itu.


"Ya iya lah! Sebagai laki-laki kamu harus bertanggung jawab, masa kamu punya pacar gak mau kasih jajan?" Papa bakul nasi sewot gara-gara anaknya.


"Kan aku nya juga belum punya pacar, Pah. Jadi gak usah dulu kasih jajan lah." jawaban Emran sungguh ingin membuat bakul nasi ingin mengunyah putranya itu.


"Terserah kamu A, pusing Papa. Cari dulu pacar sana baru minta uang jajan!" jawab Ega.


"Dimana aku cari pacarnya?" tanya Emran.


Emran malah menyuapkan rotinya sekaligus saat mendengar Papanya menyuruhnya mencari pacar di terminal, bukannya mendapat pacar mungkin ia malah berkenalan dengan kuli angkut barang.


"Padahal tadi gak usah nanya," gumam Emran.


Setelah selesai sarapan, Emran pun bersiap untuk berangkat ke sekolah. Dan saat hendak mengeluarkan motornya ia melihat seorang gadis cantik yang baru keluar dari rumah yang ada disamping rumah Rafa.


"Wahhh, tumben ada perempuan cantik," ucap Emran, tapi ucapannya terdengar oleh Bintang yang juga baru keluar rumahnya.


"Emang selama ini kemana aja, nihh ada perempuan cantik jelita yang tinggal disamping rumah kamu dari kamu masih kecebong juga," ucap Bintang, Emran pun langsung melihat ke arah Bintang dan berdecak sebal.


"Siapa yang bilang kamu cantik, jenoooong. Fitnah itu," ucap Emran.


"Ya terus kamu bilang cantik sama siapa? Di komplek ini kan cuma aku sama Emily yang cantik, " ucap Bintang dengan percaya dirinya.

__ADS_1


"Heran banget sama titisan es bon-bon, suka banget fitnah diri sendiri," Bintang pun berdecak sebal mendengar ucapan Emran yang memang tidak pernah ada manis-manisnya itu.


"Terus apa bedanya sama titisan bakul nasi, yang omongannya udah kaya petasan banting. Pantesan masih jomblo!"


"Emangnya Neng Jenong, udah punya pacar?" tanya Emran tergelak.


"Belum lah, belum ada yang cocok," jawab Bintang.


"Bilang aja gak ada yang mau!"


"Enak aja!"


"Eh siapa tuh, yang ada di samping rumahnya titisan corong merah?" tanya Emran.


"Dia adiknya Kak Boy," jawab Bintang, tapi bukannya percaya dengan ucapan Bintang. Emran malah menoyor kepala Bintang.


"Emran! Apaan sih!"


"Kalau ngomong yang bener, adiknya Kak Boy kan kamu Bintang di langit yang biru," ucap Emran kesal.


"Eh petasan banting! Dia itu juga adiknya Kak Boy dari Papanya tahu, main toyor aja!" Bintang pun langsung membalas menoyor kepala Emran. Dan mereka berdua pun ribut di depan rumah, hingga mengundang kedatangan papa bakul nasi yang merasa terganggu.


"Hei....Hei astaghfirullah, ini upin-ipin ngapain berantem! Mau dibilangin sama Kak Rose!!!" teriakan Ega, langsung membuat Emran dan Bintang terdiam.


"Astaghfirullah, Om Ega kok mirip tok dalang kalau marah," bisik Bintang, hingga Emran yang tidak terima pun langsung menoyor lagi kepala Bintang hingga terjungkal.


"Emran!!!"


****


Dukung novel ini dengan kasih like dan komentar, karena komentar kalian bikin aku semangat up meskipun cuman bilang Next atau lanjut 😌😚😚

__ADS_1


__ADS_2