
Hari ini Bintang dan Emran pindah ke rumah yang sudah Ega beli untuk putranya itu, tepatnya rumah yang dibeli berada di samping rumah Emil dan berhadapan dengan rumah Shella. Tadinya Bintang tidak ingin rumah yang berhadapan dengan neng jelangkung gatal. Berhubung jelangkung gatal adalah ulat yang suka mengganggu kakaknya, jadi Bintang pun mengurungkan niatnya untuk pindah. Yang terpenting baginya adalah Shella tidak mengganggu Emran, sungguh adik durjana rupanya Bintang ini wkwkwk. Akan tetapi sebagai adik ia akan siap membantu kakak iparnya untuk membasmi neng jelangkung yang gatal-gatal minta digaruk.
"Aa Emran, bantuin Neng angkat kursi dong?" ucap Bintang dengan mendayu-dayu membuat orang di sekelilingnya merasa mual saja.
"Loh, ngapain kursi diangkat - angkat? Berat Neng, mending Aa angkat kamu ke kamar terus kita main deh!" jawab Emran sambil tergelak. Ega yang berada di sana ingin sekali menyumpal mulut anak dan menantunya dengan kursi yang sedang mereka pegang. Bisa-bisanya mereka berkata seperti itu dihadapannya. Sepertinya bakul nasi ini lupa, jika saat ia dan Erina awal menikah mereka selalu mengatakan hal yang tidak-tidak. Hingga orang-orang di sekelilingnya selalu tutup telinga sambil mengusap dada. Emran dan Bintang adalah cerminan dirinya dan juga Erina, sayangnya pria yang masih sangat tampan di usianya ini tidak menyadari bagaimana bobroknya mereka saat muda dulu.
"Wahai anak dan menantuku, yang otaknya kurang satu mili. Kalau bicara mulutnya dijaga ya, Papa gumush dengernya. Berasa pengen ngulek terus di cocol pake cabe giling," ucap Ega gemas. Namun, bukannya tersinggung dengan ucapan Ega Emran dan Bintang malah tertawa.
"Gimana caranya cocol sambel pake cabe giling Pah, awur-awur dong nanti!" jawab Emran sambil tertawa, bukan Ega namanya kalau tidak bisa menjawab ucapan dari Emran putranya yang paling tampan itu.
"Kata siapa gak bisa cocol sambel pake cabe giling, cabe gilingnya kan di satuin sama gagang sapu punya kamu. Jadi gampang cocol-cocolnya. Jadi gimana anak ganteng, sampe sini paham!" ucap bakul nasi itu.
__ADS_1
"Oke Papa ganteng, anak ganteng paham!" jawab Emran, ia jadi ngeri sendiri membayangkan gagang sapunya yang berharga dicampur cabe giling oleh Ega.
"Ini kasurnya mau di angkat kemana?" tanya Erina yang sibuk dengan barang - barang yang baru datang.
"Bawa aja ke kolam renang Moy, kayanya di sana masih kosong," jawab Ega santai. Namun, Erina yang tidak mengerti dengan ucapan Ega langsung mendekati Ega dan duduk disampingnya.
"Sayang, kamu salah makan?" tanya Erina dan kemudian menghampiri suaminya yang duduk manis di sofa yang baru saja di tata.
"Tapi bukan minum susu tetangga kan?" pertanyaan yang sungguh tak berakhlak Erina lontarkan pada sang suami, yang kesabarannya setipis kertas tisu. Ega sampai geleng-geleng kepala mendengar ucapan istri tercinta.
"Astaghfirullah Moy, tega bener kamu fitnah Aa minum susu tetangga! Emangnya kamu lupa siapa tetangga kita?" bakul nasi esmosi dengan pertanyaan sang Erina terlihat berpikir sejenak kemudian ia menjawab pertanyaan Ega dengan santai.
__ADS_1
"Tetangga kita Bu Susi yang janda itu kan, yang pabrik susunya segede galon," jawab Erina.
"Nah itu tahu, bisa kamu bayangin kalau Aa minum susu dari pabrik yang segede galon itu. Bisa-bisa Aa keracunan Moy," kesal Ega.
"Kok bisa?"
"Orang susunya aja udah kadaluarsa, expired nya aja lima puluh tahun yang lalu," jawab Ega geleng-geleng kepala, membayangkan Bu Susi seorang janda yang berusia setengah abad yang tinggal di samping rumahnya. Astaga, istrinya ini memang tidak pernah pintar dari dulu, untung saja Ega sangat mencintainya. Jadi kurang pintarnya Erina termaafkan begitu saja.
****
Like .... like... like 😘😘😘
__ADS_1