Skandal With Tetangga

Skandal With Tetangga
Bab 57


__ADS_3

Di kampus Bas kini selalu saja mengejar Sachi, karena menurutnya hanya Sachi lah yang pantas menggantikan Bintang dalam posisi hati dan pikirannya. Menyebalkan memang, akan tetapi sangat susah bicara dengan orang yang patah hati. Karena akan masuk telinga kanan diam sebentar dan kemudian keluar dari telinga kiri, begitulah kira-kira. Dan sikap Bastian ini sudah mengusik ketenangan si corong merah. Ia tidak suka jika sahabatnya di dekati oleh makhluk jadi-jadian seperti Bastian. Ia tidak rela gadis yang selama beberapa tahun terakhir ini selalu bersamanya, tiba - tiba didekati oleh makhluk dari dunia kahyangan seperti Bastian.


Seperti hari ini ia selalu membawakan Sachi cokelat, karena ia tahu jika Sachi sangat suka dengan coklat. Sepertinya ia lupa jika mendekati Sachi maka ia akan berhadapan dengan corong merah. " Sachi, ini aku bawain coklat buat kamu," ucap Bastian sambil memberikan satu kotak coklat berbentuk hati pada Sachi. Tak lupa ekspresi malu - malu kambing ia tebarkan. Berharap Sachi terpesona padanya.


"Maaf ya Bas, aku gak bisa terima coklat dari kamu. Karena aku udah ..."


"Hei Baskom! Simpan lagi aja coklatnya, Sachiko gak butuh coklat merk Baskom. Dia sukanya merk coklat merk ...


"Corong merah," jawab Sachi sambil tertawa.


"Sachiko,"


"Iya ... iya, maaf ya Bas, aku udah punya coklat dari Rafa. Jadi aku gak bisa makan coklat dari kamu,"

__ADS_1


"Lho kenapa?"


"Karena dia gak boleh makan coklat dari kamu. Racun cintanya bahaya!


"Bilang aja iri, takut banget Sachi berpaling sama aku," ejek Bastian, Rafa kesal mendengarnya. Meskipun memang benar jika ia iri dan tidak suka jika Sachi dekat pria selain dia. Jika Rafa memikirkan kalau itu adalah cinta, Rafa masih Ragu. Tapi jika Sachi didekati oleh pria lain apalagi Bastian hatinya merasa kesal dan tidak terima.


"Siapa yang iri sama Baskom,"


"Corong merah iri ya sama Baskom, takut kalah saing kan?"


"Gak usah makasih, amit-amit." ucap Bastian dan kemudian pergi meninggalkan Rafa dengan kesalnya.


Hari ini Emran tidak ke kampus dan langsung ke kantor karena ada pekerjaan yang harus ia kerjakan, tapi sebelum bekerja Emran pun dipanggil oleh Ega ke ruangannya. Emran ditawari rumah dekat dengan rumah Emil dan Boy oleh Ega, mendengar tawaran itu ia mau dan sangat setuju karena dengan begitu ia akan mempunyai rumah sendiri. Seperti yang ia inginkan selama ini. Mempunyai rumah sendiri bersama dengan Bintang anak tetangganya, tidak maksudnya adalah istrinya.

__ADS_1


"Kapan aku bisa pindah ke sana?" tanya Emran tidak sabar.


"Terserah, kalau itu burung Pipit udah gak tahan pengen berkicau malam ini juga boleh. Tapi tidurnya pake koran, ngampar aja!" jawab Ega.


"Beuuhh, tega bener." Emran mencebikkan bibirnya kesal pada papa bakul nasi.


"Abisnya ... itu rumah dibeli juga belum anak ganteng, udah main mau pindah aja!"


"Kirain udah dibeli,"


"Baru nawarin dong - dong, makanya itu kupingnya pasang. Manfaatin biar gak makruh kupingnya. Jangan kaya gantungan kunci aja, cuma hiasan!" pembicaraan ayah dan anak itu malah terlihat bukan seperti sedang berdiskusi tentang masa depan. Malah lebih terlihat seperti upin dan Ipin yang sedang adu mulut.


"Kurang jelas penjelasannya paduka,"

__ADS_1


"Dasar asem...!"


__ADS_2