
Mendengar Emil sakit, Boy pun datang ke rumah Emil untuk menjenguknya setelah sebelumnya ia membawa sesuatu untuk Emil. Ia membawa beberapa makanan dan buah-buahan untuk istrinya itu. Sebelumnya ia juga mengajak Bella untuk menemaninya menjenguk Emil.
"Mamah Erin ..." Panggil Boy, Erina yang sedang membereskan sayuran di dapur pun sejenak menghentikan aktivitasnya dan menghampiri Bella dan juga Boy.
"Wahh ada apa nih, sampai bawa oleh-oleh?" tanya Erina.
"Katanya Emil sakit, jadi kita kesini buat jenguk Emil." Jawab Bella.
"Ohh, sampe ngerepotin segala kaya mau apel aja," seloroh Erina hingga membuat titisan Marimar tersipu malu.
"Gak ngerepotin kok, lupa ya kalau kita ini besan, dan Emil itu menantu aku," ucap Bella sambil tertawa, Erina pun ikut tertawa mendengarnya. Karena ia memang terkadang lupa jika putrinya itu sudah menikah dengan anak tetangganya.
Mereka pun kemudian naik ke atas untuk ke kamar Emil. Di sana, Boy melihat Emil yang terbaring lemas. Ia merasa kasihan dan juga tidak tega pada Emil.
"Emil sakit apa?" tanya Bella.
"Dia demam dari kemarin," jawab Erina. Mereka pun kemudian mengobrol, tapi tatapan Boy terus menuju ke arah Emil yang sedang tertidur. Karena ia habis meminum obat kata Erina.
Tapi karena ada panggilan dari Beni akhirnya Bella pulang duluan, dan Erina yang sedang membuat kue kesukaan Emil pun meninggalkan Boy di kamar Emil dan menitipkan Emil pada Boy sebentar, Erina tidak seperti Ega yang selalu curiga pada titisan Marimar, Dipsy. Menurut Erina wajar saja jika Emil dan Boy ingin menghabiskan waktu berdua karena mereka adalah pasangan suami istri yang sudah sah
"Boy, jaga Emil bentar ya. Tante mau liat kue dulu takut gosong," ucap Erina.Boy pun mengangguk.
Setelah Erina pergi, Boy menatap istrinya yang anehnya akhir- akhir ini selalu ia rindukan. Dan ia pun langsung mendekatinya dan duduk dipinggiran ranjang Emil serta membelai wajahnya.
Tak tahan dengan rasa rindu di hatinya, Boy pun kemudian mencium kembali bibir Emil yang terasa panas karena demam itu.
Merasa ada yang menyentuhnya, Emil pun membuka mata dan melihat ternyata Boy tengah mencicipi bibirnya lagi. Emil mendorong tubuh Boy perlahan.
"Kak Boy," panggilnya.
__ADS_1
"Aku kangen sama kamu," ucap Boy dan kemudian mencium lagi bibir Emil. Hingga keduanya terlarut dalam ciuman yang dalam seolah sedang mengeluarkan seluruh kerinduan.
Berharaplah tidak ada orang yang melihat mereka.
*
*
*
Emran yang baru pulang sekolah berniat ingin memberikan pesanan adiknya, kini malah melihat siaran langsung adik iparnya yang sedang bercumbu mesra dengan adik perempuannya.
Jika ditanya apakah Emran terkejut? Jawabannya adalah iya. Bukan hanya terkejut saja, bahkan saking terkejutnya Emran merasa jika ginjal dan jantungnya kini berpindah posisi.
Emran yang sedang terkejut melihat pemandangan didepannya pun, kini lebih dikejutkan lagi dengan suara langkah sepatu Ega. Emran tahu betul suara langkah sepatu Ega. Jika Ega melihat apa yang sedang dilakukan oleh Emil dan Boy. Mungkin Ega akan terkena serangan ginjal dadakan. Dan Emran tidak mau itu terjadi.
Emran berusaha untuk memahami perasaan Emil saat ini, jika ia hanya diam saja saat dicium oleh Boy. Itu berarti dia juga memang menginginkannya. Maka dari itu ini adalah saatnya ia akan menjadi kakak yang baik, dan melindungi sang adik. Mungkin setelah ini Emran akan meminta penjelasan pada Emil tentang kejadian adu mulut ini.
"Eh Papa udah pulang!" tanya Emran pada Ega yang baru saja sampai di tangga atas, sepertinya ia juga akan menemui Emil yang sedang sakit. Karena setahu Emran, Ega adalah seorang papa yang sangat menyayangi anaknya. Apalagi Emil adalah anak perempuannya, maka dari itu Ega selalu memberi perhatian lebih pada Emil.
Emran dengan sengaja bertanya pada Ega dengan nada suara yang agak dibuat kencang, agar adiknya dan calon adik ipar rasa kakak ipar itu melepaskan pagutan mereka.
Dan benar saja, Emil dan Boy langsung melepaskan pagutan mereka dan membenarkan posisi masing-masing. Apalagi tadi tangan Boy, hendak berbuat nakal pada balon helium milik Emil. Untung saja suara Emran menghentikan semuanya. Jadi acara berkunjung ke pabrik susu pun diurungkan sejenak.
"Kamu kenapa ngomong kenceng banget, A?" tanya Ega.
"Emang kenceng, ya?" tanya Emran, padahal menurutnya tadi ia hanya menaikan satu oktaf nada suaranya. Tapi menurut Ega suaranya Emran terdengar kencang, sepertinya Emran lupa jika suaranya itu mirip dengan petasan banting. Dan jika Emran menaikan suaranya satu oktaf, sudah pasti suaranya akan terdengar seperti suara petasan gantung . Dan jika dinaikan satu oktaf lagi, maka suaranya akan terdengar seperti bom racikan. Seperti itulah kira-kira suara dari titisan bakul nasi.
Pake nanya lagi, emang kuping kamu udah gangguan? Nanya orang jarak semeter aja udah kaya nanya orang jarak satu kilo!" sewot Ega.
__ADS_1
"Mungkin karena aku terlalu bahagia liat Papa pulang, apalagi pulangnya bawa oleh-oleh," jawab Emran bersikap seperti biasanya, agar Papanya ini tidak menaruh curiga.
"Ini buat Emil, bukan buat kamu." jawab Ega, meskipun sebenarnya Emran tahu jika yang dibawa oleh Ega adalah untuk Emil, tapi ia berpura-pura saja menanyakan itu pada Ega.
"Serasa jadi anak tiri deh, Papa cuma ingatnya sama Emil aja emang nggak ingat gitu sama aku. Aku anak papa yang paling ganteng loh, masa papa lupa," ucap Emran dengan nada yang di dramatisir seolah dia sedang sakit hati oleh sikap Papanya, padahal nyatanya dia merasa biasa-biasa saja.
"Oh iya Papa lupa, ya udah nanti minta aja sama Emil jadi kalian makan berdua. Lagian orang sakit makannya dikit, sisanya buat kamu yang banyak," jawab Ega.
"Ya udah, ini aku juga bawa es buah pesanan Emil. Katanya dia mau yang seger - seger." ucap Emran. Tanpa Emran sadari, sebenarnya jawaban Emran membuat pikiran bakul nasi menjadi kemana-mana. Kenapa anak perempuannya yang sakit ini menginginkan makanan yang segar-segar. Apa jangan-jangan ini adalah hilal Ega akan mendapatkan cucu.
Oh tidak, Ega tidak bisa terima jika itu terjadi. Ega akan pastikan jika benar ada burung pelatuk yang pernah bersarang di pabrik bayi milik anaknya. Maka siap-siap saja, jika burung pelatuk itu akan kehilangan kepalanya untuk yang kedua kalinya.
"Emil!" panggil Ega dengan kencang dan kemudian masuk kedalam kamarnya, dan ternyata masih Boy di sana. Semakin cemas saja perasaan bakul nasi saat ini.
"Lagi ngapain Dipsy disini?" tanya Ega dengan tatapan menyelidik. Namun, Boy tetap berusaha tenang dan tidak ingin memperlihatkan ketakutannya kepada Ega. Walaupun sebenarnya kini jantungnya tengah berdebar dengan sangat kencang, karena takut jika Papa dari gadis yang sangat ia cintai ini mengetahui apa yang telah dilakukannya tadi bersama dengan Emil.
"Aku lagi jenguk Emil, Pah." jawab Boy, dengan tenang. Bagaimanapun juga sebagai laki-laki, Boy harus bersikap dengan jantan. Ia tidak boleh takut ataupun gentar menghadapi sang mertua, bahkan dengan orang seperti Ega sekalipun.
"Kok cuma berdua?" tanya Ega curiga.
"Tadi Boy sama Bella kesini, tapi Bella udah pulang karena ada panggilan darurat dari es Bon-bon. Terus aku juga Sama Boy dari tadi berdua jaga Emil. Kita ngobrol bareng-bareng, tapi karena aku ingat kalau aku lagi manggang kue, makanya aku sebentar ke bawah dan ngambil kue takut gosong. Emang kenapa sih sewot banget?" tanya Erina yang baru sampai di kamar Emil.
"Duhh gemoy, pakai nanya kenapa? Ini itu anak bujang anak kamu tuh anak perawan. Jangan dibiarin mereka berdua," ucap Ega
"Emang kenapa, lagian mereka suami istri," jawab Erina santai.
"Emang kamu udah siap jadi nenek?"
"Haaahhh..."
__ADS_1