Skandal With Tetangga

Skandal With Tetangga
Bab 6


__ADS_3

Boy tidak habis pikir, bagaimana ia bisa menikah dengan gadis remaja labil seperti Emil. Sudah kurang pintar, ceroboh, cerewet dan yang paling aneh itu adalah cara bicaranya yang tidak pernah memakai saringan. Sangat persis seperti Ega, yang selalu bicara apa adanya tak peduli enak didengar yang terpenting ia sudah mengungkapkan semua yang ada dalam hati dan juga pikirannya. Dan kata- kata yang ia ucapkan selalu dikemas atas nama kejujuran, luar biasa.


"Eh Boy, ngelamun aja?" tanya Romi sahabatnya, sejak datang ke kampus Romi perhatikan jika Boy jarang bicara dan terus melamun.


"Aku gak ngelamun cuma lagi ada yang dipikirin aja," jawab Boy, ia masih belum mau menceritakan tentang pernikahan dadakannya semalam pada orang lain.


"Mikirin apa sih cerita dong?" ucap Romi pada Boy, kini mereka berdua tengah ada di kantin untuk makan siang. Dan keadaan di sana cukup ramai. Semakin membuat Boy tidak ingin menceritakan apapun pada sahabatnya ini. Karena takut ada orang lain yang mendengarnya. Bukannya Boy tidak mau mengakui Emil sebagai istri, akan tetapi Boy hanya tidak mau orang tahu bagaimana cara ia menikah dengan Emil. Karena itu akan membuat banyak praduga di luar sana. Dan nama Emil lah yang paling Boy jaga.


"Gak apa-apa, aku cuma capek aja mungkin. Soalnya tugas kuliah banyak banget, tahu sendiri kan," ucap Boy, karena kebetulan tugas kuliah memang sedang sangat banyak. Jadi Boy berharap jika Romi tidak banyak bertanya lagi padanya.


"Iya juga sih, aku aja pusing mikirinnya. Tapi ya udahlah dibawa santai aja, yang penting nanti kita bisa lulus Kuliah dengan nilai baik aja," Boy pun mengangguk karena sebenarnya ia ingin menyudahi obrolannya dengan Romi. Boy takut jika keceplosan bicara, dan membicarakan pernikahannya.


Boy pun kembali meminum , minuman teh yang dikemas dalam sebuah botol itu. Ia sengaja memesan minuman yang dingin karena ia sedang ingin mengistirahatkan otaknya yang terasa panas dan lelah dari semalam. Pernikahannya ini membuat pikiran Boy menjadi agak lelah.


Sangat berbeda dengan Emil, yang tampak tidak peduli dan sama sekali tidak terpengaruh dengan pernikahannya semalam. Ia terlihat biasa-biasa saja. Namun, sesekali ia tersenyum karena ia sudah menikah. Ia merasa agak aneh, karena bahkan sebelumnya ia tidak pernah pacaran, akan tetapi ia bisa langsung menikah tanpa pacaran.


"Eh Kakak ipar ngelamun aja," ucap Emil yang kini duduk dihadapannya dan membawa semangkuk baso yang sebentar lagi akan ia santap.


"Bukan lagi ngelamun, tapi lagi merancang sebuah kehidupan rumah tangga yang entah akan dibawa kemana," jawabnya sok puitis.


"Gila yah, baru kali ini ada orang kawin di grebek tapi happy banget!" Bintang sampai geleng-geleng kepala melihat sahabat yang kini sudah menjadi kakak iparnya ini.


"Lah emangnya harus gimana, orang suaminya juga ganteng, kece keren lagi," jawab Emil sambil meminum minuman milik Bintang.


"Ckk, kebiasaan deh si Emil, beli sana!"


"Eitts durhaka loh sama Kakak ipar begitu, gak boleh pelit harus berbagi," jawab Emil. Bintang hanya memutar bola mata malas mendengarnya. Sudah biasa baginya jika Emil seperti itu. Karena Bintang juga selalu begitu terhadap Emil.


"Terserah!"


"Ngomong-ngomong nanti pulang kita bareng yuk, siang ini suami aku bakal jemput," ucapan Emil membuat Bintang menjadi tersedak, ia batuk-batuk hingga hidung dan matanya memerah. Emil pun dengan cepat memberikan minuman pada Bintang, agar baso yang menyangkut di tenggorokannya cepat -cepat masuk ke dalam perutnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih? Makanya kalau makan itu berdoa dulu, jadi gini kan. Untung aja itu baso hanyut, kalau enggak gimana coba. Gak keren banget masuk rumah sakit gara-gara keselek baso.


"Aku keselek bukan karena gak berdoa, tapi karena denger omongan kamu. Yang bilang katanya mau dijemput suami,"


"Ya ampun, jadi kamu mau nikah juga. Sama A Emran aja, aku ridho ikhlas kamu jadi Kakak ipar aku," ucap Emil, mendengar itu sontak saja Bintang tertawa mendengarnya.


"Gimana ceritanya nanti kalau aku nikah sama A Emran," ucap Bintang sambil tertawa, untung saja kali ini ia belum memasukan baso ke mulutnya. Jadi ia tidak tersedak seperti tadi.


"Kalau aku nikah sama A Emran, nanti yang jadi kakak iparnya siapa coba?" Bintang tertawa lagi.


"Iya juga ya ... Siapa yang jadi kakak iparnya nanti," Emil pun ikut tertawa membayangkan jika Bintang nanti menikah dengan Emran kakaknya, siapa diantara mereka yang akan menjadi kakak ipar. Dan yang jelas adalah silsilah keluarga mereka akan menjadi seperti benang kusut. Karena tidak tahu mana kakak mana adik. Ahhh, dasar memang mereka ini.


*


*


*


Karena tidak ingin iku pulang dengan Boy, Bintang pun memilih pulang sekolah dengan Rafa saja. Bintang beralasan tidak mau ikut pulang dengan pengantin baru. Karena nanti ia akan menjadi obat nyamuk di dalam mobil. Dimana ia akan menonton kemesraan kakak dan juga sahabatnya itu. Padahal jangankan bermesraan, untuk mengobrol saja Boy harus dipancing dulu oleh Emil. Boy adalah tipe pria yang jarang bicara, tapi sebenarnya dia sangat baik dan juga sangat menyayangi keluarganya.


Meskipun tidak ada jawaban dari Boy, Emil masih setia menunggu Boy disana. Hingga seseorang pun menghampirinya, seseorang yang yang sebenarnya sudah lama memberikan hatinya pada Emil. Namun, tidak pernah diberikan kesempatan oleh Emil.


Satria yang sedari pulang sekolah memperhatikan Emil yang masih duduk diam di bangku depan sekolah. Sejak pulang sekolah Satria terus memperhatikannya. Satria pikir jika Emil tengah menunggu kakaknya Emran yang sedang latihan basket. Tapi setelah Satria cek, ternyata tidak ada yang latihan. Hanya ada beberapa siswa yang ikut pelajaran tambahan saja. Satria juga memperhatikan sekelilingnya jika tidak ada motor Emran.


Akhirnya Satria pun mencoba untuk mendekati Emil, dan bertanya sedang apa ia disana.


"Emil," panggil Satria. Emil pun melihat ke arah Satria yang sedang tersenyum manis padanya.


"Kenapa?" tanya Emil agak malas.


"Kok kamu belum pulang? Lagi nunggu seseorang?" tanya Satria.

__ADS_1


"Iya, tapi orangnya gak dateng-dateng." jawab Emil yang terlihat sedih.


"Aku antar pulang, mau?" tawar Satria. Emil terlihat berpikir sejenak dan akhirnya ia pun menerima tawaran Satria. Karena percuma saja menunggu Boy yang tidak datang dari tadi, jangankan datang memberi kabar padanya saja tidak.


"Ya udah dehh, ayo!" Emil bersedia diantar oleh Satria, membuat ginjal Satria mendadak bersalto ria.


"Ayo," jawab Satria yang menetralkan degup jantung dan ginjalnya yang terasa sedang menari-nari di dalam sana.


*


*


*


Bintang yang baru selesai makan siang, melihat kakaknya yang baru keluar dari kamarnya dengan muka bantal. Melihat kakaknya yang seperti baru bangun tidur pun, Bintang bertanya pada Boy. Karena feeling-nya mengatakan jika ada yang tidak beres.


"Kak, dari tadi kakak tidur?" tanya Bintang, Boy yang hendak pergi menuangkan air kedalam gelas pun menghentikan gerakannya sejenak dan melihat ke arah Bintang.


"Iya, Dek. Kakak ngantuk banget semalam kurang tidur," jawab Boy pantas saja saat Bintang pulang mobil Boy sudah terparkir rapi di depan rumahnya.


"Terus Emil?" tanya Bintang khawatir. Boy yang baru saja memasukkan air minum ke mulutnya pun tak sempat ia telan, Boy menyemburkan air minumnya saking terkejut. Kenapa ia bisa lupa jika ia harus menjemput Emil.


"Ya ampun, kakak lupa!"


"Gimana sihh, baru sehari aja jadi suami Kakak udah lupa!" protes Bintang. Tanpa memedulikan ucapan adiknya Boy langsung berlari ke kamarnya dan hendak bersiap untuk menjemput istrinya.


" Awas loh nanti dimarahin sama Papa bakul nasi!" Teriak Bintang.


"Astaga Emil ... Mudah-mudahan aku gak jadi duda hari ini," gumam Boy.


*****

__ADS_1


Bonus visual Emily



__ADS_2