
Hari ini hari minggu, hingga orang-orang bisa sedikit bersantai dengan aktivitasnya. Hari ini juga bertepatan dengan kepindahan Emil ke rumah barunya. Emil pun sudah berkemas dari semalam, Erina mulai sibuk dengan rutinitas paginya. Yaitu menyiapkan sarapan dan dibantu oleh asistent rumah tangganya, hanya untuk memastikan jika makanan yang Erina siapkan layak untuk dimakan.
"Moy, kopi Aa mana?" tanya Ega yang duduk di ruang keluarga sambil menyalakan televisinya dan menonton berita pagi.
"Sebentar Aa sayang, kopinya sebentar lagi meluncur!" jawab Erina dari dapur, ia pun langsung membuat kopi untuk Ega tak lupa goreng pisang yang baru diangkat pun ia sajikan bersamaan dengan cemilan yang lainnya Erina siapkan.
"Pindahin Pah, nonton si botak!" ucap Emil tiba-tiba duduk disamping Ega.
"Diem jangan ganggu Papa," jawab Ega. Emil hanya mencebikkan bibirnya.
"Nanti kangen loh sama aku kalau aku pindah," ucap Emil sambil bergelayut manja pada Ega. Mendengar itu hati Ega jadi sedih, karena siang ini putri kesayangannya akan pindah bersama dengan suaminya.
"Kamu tega tinggalin Papa demi si Dipsy," ucap Ega.
"Dulu juga Papa bawa Mamah langsung pindah, gak kasian gitu sama Kakek dan Nenek?" Emil balik bertanya.
"Iya juga sih, punya anak perempuan gini resikonya ditinggal. Sedih Papa."
"Lebay ... pindahnya juga deket." jawab Erina.
"Sedih Aa, Moy!"
"Cuma beda blok aja juga!" jawab Erina sambil menyuapkan goreng pisang panasnya.
"Ngomong - ngomong si Upin kemana?" tanya Ega.
"Belum bangun kali," jawab Emil.
__ADS_1
"Dasar pemalas, pagi-pagi gini enaknya minum kopi ditemenin pisang goreng. Mantap pokoknya," ucap Ega. Ia tidak tahu saja jika anak laki-lakinya kini juga sedang sarapan minum susu langsung dari pabriknya. Hingga hampir saja gagang sapunya khilaf dan masuk ke dalam pabrik bayi milik Bintang.
"Bangunin Kakak kamu sana!" ucap Ega.
"Gak mau ahh, males ..." jawab Emil, Ega hanya berdecak sebal mendengarnya.
"Besan, anak aku yang cantik jelita nyangkut di sini gak?" tanya Beni, dengan wajah khawatir karena ia kehilangan anak perempuannya. Hampir saja pisang goreng yang Ega kunyah tertelan begitu saja. Untung ada air kopi yang menyelamatkannya jadi tidak sampai tersangkut di tenggorokan Ega.
"Wahhh, gak bener ini mah. Jangan - jangan lagi bubuk syantik sama Emran. Pantes aja itu anak belum bangun, lagi minum susu kayanya!" ucap Ega dengan sewot.
"Astaghfirullah, lagi cetak cucu!" ucap Beni terkejut.
"Iya, susul sana nanti keburu tekdung!"
"Udah gak usah, takutnya lagi nanggung kan gak enak." jawab Beni dan kemudian pulang lagi ke rumahnya tanpa menyusul anak perempuannya yang ia perkirakan sedang kikuk-kikuk dengan Emran.
*
*
*
"Udah dulu ahh, kamu hobi banget sihh!"
"Enak tahu!" jawab Emran.
"Kamu enak, aku sakit liat." ucap Bintang memperlihatkan bekas perbuatan Emran yang membuatnya agak lecet.
__ADS_1
"Maafin Aa Neng, Aa terlalu bersemangat." ucap Emran sambil mengecup bibir tipis Bintang.
"Udah yuk keluar kita sarapan," ajak Emran.
"Ada Papa Ega nanti,"
"Biarin, aku yang tanggung jawab." Mereka berdua pun kini pergi ke bawah untuk sarapan. Mereka tidak tahu saja jika Ega sedang menunggu kedatangan mereka berdua. Tadinya Ega ingin menggedor kamar anaknya, tapi ia kembali berpikir seperti yang diucapkan oleh Beni. Mungkin saja mereka sedang dalam posisi tanggung. Biar saja sampai selesai pikir Ega, lagi pula mereka berdua sudah sah jadi wajar saja jika mereka ingin ehem-ehem.
"Pagi Pah," ucap Emran saat melihat Ega yang sedang menonton, Ega pun melihat anak dan menantunya baru turun dari kamar dengan tatapan yang entahlah. Hanya bakul nasi yang tahu.
"Pagi anak ganteng, gimana lancar minum susunya?" ejek Ega.
"Kok Papa tahu, ngintip ya?" ucapan tak berakhlak itu meluncur begitu saja dari mulut centong nasi, hingga membuat bakul nasi kesal minta ampun.
"Eh Upin, siapa yang ngintip kamu ehem-ehem. Kaya gak ada kerjaan aja! Sembarangan nuduh orang, berani ya fitnah papa sendiri!!!"
"Siapa yang fitnah, aku cuman tanya kok Papa bisa tahu. Emang papa liat?"
"Gak usah liat juga Papa udah tahu!"
"Woooww amazing, gimana caranya Pah?" tanya Emran penasaran, apa Papanya ini memasang cctv di kamarnya atau punya kacamata tembus pandang hingga ia bisa tahu apa yang Emran lakukan di kamar dengan Bintang.
"Pengalaman!" jawab Ega.
"Buseeeet ...!"
***
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar positif dan juga like sebagai dukungan ya