
Tadinya Emran dan Bintang berpikir jika mereka berdua akan terkena marah oleh Ega, akan tetapi ternyata Ega sama sekali tidak marah dan hanya menyindir mereka berdua saja. Dan hal itu tentu saja membuat Emran sangat bahagia, karena proses menuju ehem-ehem tidak akan lama lagi. Akan tetapi sebelum gagang sapu miliknya ia celupkan di tempat yang tepat, alangkah baiknya jika ia bertanya dulu pada Ega. Apa boleh adik kecilnya menjenguk pabrik bayi milik Bintang atau harus menahannya dulu, tapi untuk hal itu Emran tidak bisa berjanji jika ia bisa menjaga adik kecilnya untuk tidak berbuat nakal.
Saat Ega sedang mengecek pekerjaannya, Emran dengan sengaja mendekati Ega untuk meminta ijin apa boleh ia dan Bintang tinggal dalam satu rumah atau tidak.
"Pah," panggil Emran.
"Emmm ... " jawab Ega tanpa melihat ke arah Emran, Ega kini sedang mengecek pekerjaannya di laptop, meskipun hari libur Ega memang selalu mengecek pekerjaannya di rumah. Emran pun kemudian duduk tak jauh dari Ega tepatnya di hadapan Ega, dengan senyum - senyum menyebalkan ia mendekati Papanya.
"Bau-bau nya gak enak nihh," ucap Ega yang masih fokus pada pekerjaannya.
"Orang udah mandi kok," jawab Emran. Namun, bakul nasi itu malah mendelik ke arah anak tampannya.
"Maksudnya bukan itu Markonah, mau apa sihh. Udah jangan banyak basa-basi." ucap Ega langsung, karena ia tahu jika Emran sengaja mendekati dirinya karena memang sedang menginginkan sesuatu.
"Papa emang the best pokoknya, pengertian."
__ADS_1
"Wahh, perasaan makin gak enak nihh. Jangan-jangan mau ngomongin masalah si Jhoni lagi."
"Kereeennn pokoknya, aku belum ngomong aja Papa udah tahu." jawab Emran sambil terbahak.
"Gak anak gak emaknya, omes nya sama." gumam Ega.
"Jadi gimana Pah? Boleh gak, kasihan si Jhoni nanti lumutan kalau gak masuk sarang." rengek Emran pada Ega. Ingin sekali Ega mengunyah anak laki-lakinya ini. Minta nganu-nganu seperti meminta jajan saja.
"Boleh, tapi ada syaratnya." tegas Ega.
"Apa tuhh, asal jangan minta ngambil Bintang sama Bulan aja. Bingung nyimpennya dimana nanti."
"Jadi begini ya anak ganteng, masalah pernikahan itu bukan hanya tentang nganu-nganu dan juga mantap-mantap. Tapi pernikahan itu adalah masalah tanggung jawab, tanggung jawab sama istri kamu. Tentang kehidupannya dan juga semuanya, kewajiban menafkahi dan yang lainnya kamu mesti siap lahir batin buat istri kamu." ucap Ega, Emran pun mendengarkan ucapan papanya yang sedang dalam mode waras.
"Kalau kamu emang mau tinggal satu rumah sama Bintang, bahkan satu kamar satu selimut dan satu bantal. Oke ... Papa gak masalah,"
__ADS_1
"Yesss ..."
"Tapi ... dengerin dulu nih syaratnya. Semua yang berurusan sama Bintang jadi tanggung jawab kamu. Kamu tuh mesti kasih dia nafkah lahir batin. Dan untuk menafkahi Bintang secara lahir, kamu mesti kerja. Kamu sanggup?" tanya Ega.
"Sanggup, terus aku kerja dimana?" tanya Emran.
"Pulang kuliah, kamu ke kantor bantuin Papa. Nanti kamu Papa gaji buat nafkahin anaknya es bon-bon." ucap Ega.
"Oke, kalau cuman mesti kerja mah gak apa-apa. Aku siap aja, tapi uang jajan aman kan?"
"Wahhh nih anak, pengen di sunat lagi."
***
Maaf belum bisa up normal ya, aku nya masih belum fit 🤕, aku kasih bonus visual Emran sama Bintang ❤️❤️❤️.
__ADS_1