Skandal With Tetangga

Skandal With Tetangga
Bab 37


__ADS_3

Awalnya Ega merasa keberatan jika Emil dibawa pergi oleh Boy, akan tetapi Ega sadar jika saat ini Boy lah yang berhak atas kehidupan Emil. Apalagi Boy sudah mampu secara finansial, dan juga Emil pun sudah dewasa jadi sudah sepantasnya jika Boy dan Emil pun tinggal bersama.


"Ya udah, kalian boleh tinggal bareng. Tapi kamu mesti jagain Emil dengan baik. Jadilah suami yang bertanggung jawab dan juga sayang sama istri. Kalau kamu sampe ketahuan nyakitin Emil, awas aja kamu siap-siap aja tuh gagang sapu tinggal sepotong!" ucap Ega.


"Iya Pah," jawab Boy sambil tersenyum meskipun dalam hatinya ia merasa takut jika sampai gagang sapunya hilang sebelah, bagaimana caranya ia nanti akan bercocok tanam dengan Emil.


"Kalau bisa hamilnya ditunda dulu aja, Emil kan lagi kuliah," ucap Erina. Semua orang kini melihat ke arah Erina, yang ditatap pun jadi bingung kenapa mereka semua menatapnya pikir Erina.


"Kenapa kalian ngeliatin aku kaya gitu?" tanya Erina.


"Kalau Emil gak boleh hamil, itu artinya mereka berdua gak boleh kikuk-kikuk dong?" tanya Beni si mantan yang kini jadi besan.


"Yang ngelarang mereka kikuk-kikuk siapa? Aku cuman bilang jangan dulu hamil soalnya masih kuliah, jangan bilang gak tahu caranya!" ketus Erina.


"Wiihh galak bener!" ucap Beni.


"Iya Mah, Boy ngerti kok." jawab Boy kalem seperti biasa, karena memang Boy lah yang selalu bersikap kalem di sana setelah Bella.


Boy sebenarnya sudah menahan gemas saat melihat Emil, sudah malu-malu kambing padanya sejak tadi. Sikapnya yang pecicilan selalu membuat Boy gemas dan ingin segera ehem-ehem dengannya. Hanya saja selama ini ia selalu berusaha menahannya hingga waktunya tepat, dan akhirnya kini berkat kesabarannya mereka berdua bisa tinggal satu rumah, satu kamar bahkan satu selimut. Bayangan yang tidak-tidak pun sudah berseliweran dalam benaknya Boy.


"Terus nasib kita gimana?" tanya Emran. Ega langsung mendelik ke arah putranya itu.

__ADS_1


"Nasib apanya? Nasib kamu apa gagang sapu kamu?" tanya Ega.


"Dua-duanya lah Pah," jawab Emran sambil tergelak. Ega langsung geleng-geleng kepala melihat ke arah Emran.


"Heran ma nih anak, gak ada malu-malunya bahas gagang sapu!"


"Pengen nyoba juga Pah," rengeknya.


"Kuliah yang bener, kerja dulu baru mikir manjat gunung!" sewotnya.


"Kelamaan, keburu karatan nanti." gumam Emran.


"Caranya?" tanya Bintang polos, mendengar pertanyaan Bintang, yang lain hanya mampu diam saja dan tak ada yang berani menjawab. Mereka tidak mungkin mendeskripsikan bagaimana cara mengasah gagang sapu.


*


*


*


Malam ini Emil pun akhirnya bersiap-siap dan membereskan barang-barangnya yang akan ia bawa. Tak banyak yang dibawa oleh Emil karena Boy sudah menyiapkan semuanya di rumah baru mereka. Dan sengaja barang-barang yang ada di kamarnya pun tak dibawa oleh Emil karena ia pasti akan pulang kesana dan sekali-sekali ia juga pasti akan menginap di sana.

__ADS_1


Di kamarnya Emran sedang mengerjakan tugas kampusnya, tapi ia dikejutkan oleh kedatangan istrinya Bintang. Emran yang melihat kedatangan istrinya hanya berdecak sebal. Bukan apa-apa, istrinya yang selalu dipanggil Bintang Kejora itu memang selalu mengganggunya. Hingga akhirnya Emran tidak bisa berkonsentrasi saat mengerjakan tugas.


"Mau apa sih?" tanya Emran ketus.


"Mau cium kamu," jawab Bintang santai. Mendengar kata cium otak mesumnya Emran langsung memberi sinyal hijau padanya.


"Mau cium?" tanya Emran dengan mata berbinar.


"Iya, boleh gak?" tanya Bintang.


"Boleh banget dong," jawab Emran dan menarik Bintang ke atas kasur dan dengan cepat mengungkungnya.


"Sekalian sama minum susu boleh gak?" tanya Emran.


"Haahh..."


****


Duh centong nasi maunya macem-macem aja 😑😑


__ADS_1


__ADS_2