
Mendapatkan kabar jika Ega dipanggil mendadak ke sekolah membuat jantungnya semakin berdetak tidak karuan. Pasalnya yang meneleponnya adalah guru Bp, dan semua orang tahu jika ada panggilan dari guru Bp bukanlah kabar baik yang didengar.
Saat itu, ia berpikir jika Emran terlibat perkelahian dengan teman sekolahnya. Mungkin rebutan pacar atau hal lainnya, dimana yang Ega tahu terkadang anaknya ini memang lah sok keren.
Namun, Ega terkejut karena saat sampai di sekolah ternyata ia melihat besannya yaitu es bon-bon. Ega pun berpikir kenapa makhluk yang memiliki banyak status dengannya itu kini berada di tempat yang sama dengannya.
"Bon, ngapain di sini?" tanya Ega, Beni yang baru keluar dari mobilnya pun melihat ke arah besannya.
"Eh ada besan juga, lagi apa holiday?" tanya Beni tergelak.
"Holiday apaan di sini, tadi ada panggilan darurat dari guru Bp minta aku datang sekarang juga. Jangan - jangan Emran bikin masalah lagi, takutnya dia berantem muku lin anak orang sampe penyok. Bingung ganti ruginya," ucap Ega.
"Lahh kok sama, aku juga dipanggil guru Bp katanya ada yang mau diomongin tentang Bintang," sambung Beni.
"Feeling mulai gak enak, ya udah ayo kita kesana," ajak Ega, Beni pun mengangguk ia jadi takut terjadi sesuatu pada putri kesayangannya itu.
Sedangkan Bintang dan Emran yang kini sedang berada di ruang Bp, mereka berdua sedang senam jantung. Tepatnya Emran yang sedang senam jantung dan paru-paru. Karena Bintang terlihat santai, ia yakin jika Papanya Beni tidak akan memarahinya. Karena memang Beni dan menyayangi anak gadisnya ini.
"Biasa aja mukanya, jangan pasang ekspresi kaya gitu. Kamu tuh udah mirip ayam yang mau dikawinin tahu gak?" ucap Bintang.
__ADS_1
"Mending diem deh, dengerin kamu ngomong kaya denger petasan gantung, bikin shock terus. Kasihan jantung aku, dari tadi dia terus geser pas liat kamu!" ucap Emran dengan sangat penuh penekanan.
"Masa sih?" jawabnya polos.
"Kalian berdua diem, jangan coba-coba cari masalah lagi. Jangan sampai saya panggil penghulu buat nikahin kalian," ucapnya. Mereka berdua pun langsung terdiam, takut jika nasib mereka seperti Emil dan Boy yang tiba-tiba dinikahkan. Jadi mereka berdua langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Takut-takut salah bicara maka mereka akan berakhir menjadi suami istri.
Baru saja guru Bp itu akan mengeluarkan ceramahnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Yang dimana suara ketukan pintu itu terdengar seperti suara degupan jantung Emran.
"Masuk," ucap guru Bp itu. Tak berselang lama munculah Ega dan juga Beni yang sedari tadi ditunggu-tunggu.
Mereka berdua terkejut saat melihat anak-anak mereka, sedang duduk di sana dengan wajah tertunduk. Namun, saat Bintang melihat Papanya datang dia langsung bahagia, berbeda dengan Emran yang terlihat serba salah saat melihat Papanya datang. Ia takut dibuat gulai oleh Papanya Ega.
"Ada apa ini ya Pak?" tanya Ega, ia pun mulai berdehem untuk menetralkan suaranya agar terdengar merdu saat mengutarakan apa maksud dari dipanggilnya mereka berdua.
"Begini Bapak-bapak, tadi saya memergoki anak-anak Bapak berdua ini sedang main patuk-patukan di belakang dekat ruangan uks. Untung saya kesana dan langsung memberhentikan kegiatan mereka yang ...."
"Tunggu dulu, maksudnya patuk-patukan apa Pak?" tanya Beni. Namun, saat guru itu mengatakan hal itu barusan. Ega langsung paham apa maksud dari guru Bp itu. Yaitu hal yang ia lakukan dengan Erina setiap hari.
"Maksudnya itu, mulut mereka patuk-patukan. Ayam-ayaman, gitu aja gak ngerti nih es Bon-bon." ucap Ega sambil melihat ke arah Emran dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Beneran itu A?" tanya Ega yang sebenarnya shock mendengar apa yang dilakukan oleh putranya. Emran pun mengangguk lesu dan merasa bersalah.
"Gayanya kaya upin-ipin berantem terus, lagunya di sekolah kamu ehem-ehem sama Bintang Kejora!" ucap Ega, yang tidak menyangka jika putranya akan membuat skandal di sekolah. Mudah-mudahan saja, skandal ini tidak berbuntut panjang bahkan sampai pelaminan. Jika itu sampai terjadi maka Ega pasti akan pingsan, karena kedua anaknya terlibat skandal dengan tetangganya.
"Gak gitu konsepnya, Pah."
"Gaya bener pake konsep," ejek Ega yang sebenarnya gemas pada putranya ini.
"Jadi saya ingin memberi tahukan pada Bapak- bapak, agar lebih bisa mengontrol mereka berdua. Karena katanya kalian bertetangga," ucapnya. Ega dan Beni pun mengangguk paham.
Seperti Ega, sebenarnya Beni juga terkejut mendengar anaknya sudah berani main ayam-ayaman dengan teman bermainnya. Beni memutuskan untuk memberikan nasihat pada anaknya jika nanti mereka sudah tiba di rumah. Agar jangan sampai mereka mengulanginya lagi, karena di usia mereka berdua sebenarnya hal ini sangat berbahaya.
Ega pun lebih memilih jika nanti ia akan memberikan nasihatnya saat mereka sudah di rumah saja. Karena ceramah Ega membutuhkan waktu yang cukup lama.
"Yang Papa aneh itu, kalian itu gak pacaran tiap hari berantem. Tapi kok bisa kalian gitu?" tanya Ega.
"Karena kita penasaran Om, penasaran liat Emil sama Kak Boy ciuman jadi kita pengen coba gimana rasanya," jujur Emil.
"Apa!" mereka semua terkejut mendengar fakta baru lagi terutama Ega.
__ADS_1
"Jadi akar masalah ini Dipsy sama Lala!" sentak Ega.