
Bintang awalnya sempat protes saat Emil menyuruhnya memakai pakaian yang menurutnya lebih mirip saringan, dan Bintang juga merasa akan sangat aneh jika ia memakai pakaian seperti itu dihadapan Emran. Emran pasti akan menertawakannya jika itu sampai terjadi.
Namun, menurut Emil tidak ada jalan lain lagi untuknya. Supaya Emran bisa bersikap seperti biasa lagi padanya, sudahlah lebih baik memakai saringan dari pada didiamkan Emran pikirnya.
Setelah penuh pertimbangan akhirnya Bintang pun menuruti saran dari Emil, mudah-mudahan saja saran dari Emil ini meskipun aneh tapi bisa manjur menghilangkan kemarahan dari Emran. Meskipun sebenarnya Bintang pun masih belum paham kenapa Emran bisa semarah itu padanya.
Mendengar suara langkah kaki, Bintang yang sudah berganti kostum saringan langsung bersembunyi di kamar mandi. Ia nanti akan keluar jika Emran sudah benar - benar masuk kedalam kamar. Setelah itu, barulah Bintang akan mendekati Emran.
"Ya ampun kok aku jadi mirip artis Hollywood ya," ucap Bintang cekikikan. Kini ia menggunakan lingrie berwarna merah yang mengekspos tubuh putih mulus dan seksinya. Ia juga menggeraikan rambutnya, karena menurut Emil akan terlihat lebih seksi jika rambutnya ia gerai.
Terdengar pintu kamar dibuka dan kemudian tertutup kembali, ia juga mendengar suara langkah kaki di kamar yang sudah pasti itu adalah langkah kaki dari Emran. Setelah menunggu beberapa menit, Bintang pun mulai keluar dari kamar mandi ia pun mulai melangkahkan kakinya untuk naik ke atas ranjang. Di sana Bintang melihat Emran tengah memangku laptopnya dan entah apa yang Emran kerjakan, Bintang pun tak tahu. Masa bodoh dengan apa yang sedang dilakukan Emran, yang terpenting bagi Bintang saat ini adalah membujuk Emran agar ia tidak marah lagi.
"Ya ampun panas banget sih, kayaknya mau hujan." ucap Bintang kemudian ia pun naik ke atas ranjang dan berpose layaknya putri duyung dan mengarah ke arah Emran, hingga tubuh seksinya terekspos dihadapan Emran.
__ADS_1
Emran pun terkejut melihat penampilan Bintang yang luar biasa, luar biasa hot di mata Emran. Bahkan sumber nutrisinya terlihat sangat jelas dan melambai-lambai pada Emran. Seketika jiwa lelaki Emran terbangun begitu saja saat melihat pemandangan luar biasa indah di hadapannya kini.
"Aa ngerasa panas gak sih, aku mah kepanasan banget." ucap Bintang dengan sengaja menggoda Emran dan membuat bibirnya maju mundur cantik agar terlihat lebih menggoda. Bahkan buah mangga ranumnya terlihat sangat menggemaskan di mata Emran. Ingin sekali Emran meminum sumber nutrisinya itu saat ini, akan tetapi ia masih sangat enggan karena merasa malu pada Bintang. Karena tadi ia sudah mengacuhkannya.
"Kok Aa malah bengong sihh?" tanya Emil dengan nada menggoda. Hingga jantung Emran mendadak bergetar saat tangan Emil menepuk pundaknya perlahan.
"Emmm ... i - itu, aku gak bengong." jawab Emran memalingkan wajahnya. Sungguh imannya yang lemah itu kini sedang terguncang gara-gara kelakuan Bintang.
"Terus... kenapa dari tadi cuma diam aja?"
"Aihh... malah ngambek, bikin neng tambah gumush aja." Emran malah memalingkan wajahnya dan kemudian menyimpan laptopnya. Kini ia tidak bisa berkonsentrasi karena pemandangan dihadapannya sungguh membuat pikiran Emran kalut. Burung pelatuknya bahkan kini sudah mulai tidak mau diam dan memaksa ingin keluar dari sarangnya.
Kesal masih terus di diamkan padahal Bintang sudah bergaya seseksih mungkin bahkan ia bicara dengan mendayu-dayu, juga sampai menahan rasa malu karena harus memakai pakaian kurang bahan dihadapan Emran. Akhirnya kesabaran Bintang yang setipis tisu itu pun langsung hancur begitu saja. Dengan gerakan cepat Bintang langsung naik ke atas pangkuan Emran dan melingkarkan tangannya pada leher Emran.
__ADS_1
Mendapatkan serangan tidak terduga membuat jantung Emran semakin melompat - lompat tidak karuan. "Eh ... Bintang kamu mau apa?" tanya Emran.
"Aku udah gak tahan tahu!" ucap Bintang dan kemudian langsung membungkam bibir Emran dengan bibirnya. Emran pun tidak melakukan penolakan karena jujur saja ia juga sangat menginginkannya, hanya egonya yang besar membuatnya menahan segala keinginannya.
Lama mereka berciuman bahkan tangan Emran pun sudah mulai bermain di tempat kesukaannya, yang sedari tadi sangat menggoda. Namun, Bintang terganggu oleh sesuatu yang terasa keras di bawah sana. Bintang pun kemudian turun dari pangkuan Emran.
"Kenapa?" tanya Emran.
"Kamu bawa apa sih di bawah sana, nusuk-nusuk terus tahu!"
"Haahh ..."
***
__ADS_1
Lanjut nanti ya 😆 Mimin masih di jalan ini juga lagi berteduh soalnya hujan 🤠daripada jenuh Mimin sambil nulis 😅 batrenya juga habis 😌