Skandal With Tetangga

Skandal With Tetangga
Bab 49


__ADS_3

Emran kini malah menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena dianggap membawa gagang sapu betulan, padahal yang ia bawa adalah gagang sapu premium yang bisa menebar benih bayi - bayi yang lucu.


"Simpen dulu gagang sapunya," ucap Bintang.


"Mau disimpen dimana Markonah, ini udah bawaan dari orok. Bedanya dulu imut-imut sekarang gagah," jawab Emran kesal, tidak mau terganggu oleh kepintaran Bintang yang di bawah rata-rata, Emran pun langsung mengungkung tubuh Bintang dan kemudian langsung menciumnya kembali. Tubuh Emran sudah dipenuhi oleh gair4h yang tak bisa ia tahan. Memangnya siapa yang bisa bertahan jika melihat wanita cantik dan seksi serta bersertifikat halal terpampang jelas di hadapannya. Tentu saja Emran pun tidak akan menyia-nyiakannya, dengan satu tarikan saja benda yang menempel di tubuh Bintang pun lepas begitu saja.


Dengan lincah tangan dan bibir Emran bermain di tempat kesukaannya, hingga Bintang membekap bibirnya karena takut mengeluarkan suara yang menurutnya memalukan. Padahal Emran sangat suka jika Bintang mengeluarkan suara seksinya.


Lama Emran bermain di sana, hingga tanpa sadar kini keduanya sudah tak menggunakan apapun dan sudah tak ada yang menjadi pembatas diantara mereka, bahkan sehelai benang pun tak menghalangi kebersamaan mereka. Hingga pada saatnya, Emran pun bersiap melakukan penyerangan yang sudah ia nanti-nantikan. Bintang mengerjapkan matanya, antara malu dan takut melihat sesuatu yang baru saja ia lihat sepanjang hidupnya.


"Emran, bisa kecilin dulu gak? Itu gak bakal muat," rengek Bintang.


"Kecilin gimana, ini ukurannya udah paten. Gak bisa di apa-apain lagi." ucapnya dan kemudian berusaha membuka pintu pabrik bayi dengan perlahan. Karena menurut yang Emran tahu, akan terasa sakit saat pertama kali seorang perempuan melakukan hal ini. Untuk itu ia sangat berhati-hati saat akan memasukan kuncinya.

__ADS_1


Merasakan sakit di bawah sana, Bintang pun mendorong tubuh kokoh Emran. Namun, Emran sama sekali tak bergeming ia terus berusaha menerobos masuk ke dalam sana.


"Emran udah, besok lagi aja. Susah masuknya aku malah sakit ini," rengek Bintang.


"Gak bisa! Pokoknya malam ini mesti tuntas," jawab Emran, mana mungkin torpedo yang sudah siap meluncur harus diberhentikan begitu saja. Kalau dia marah dan tidak berfungsi lagi bagaimana pikir Emran. Emran tidak mau itu terjadi. Tidak ingin membuat Bintang semakin kesakitan, akhirnya Emran pun memasukkannya dengan agak dipaksa karena sangat sulit memasukinya dengan perlahan.


"Aaaaarkhhhh ... Emran sakiiiittt ... udah dulu aku mau emmmmppttt," Emran langsung membungkam bibir Bintang yang hendak meracau. Apalagi barusan Bintang berteriak, sudah pasti Ega dan Erina mendengarnya. Itu karena kamar mereka belum di pasang alat kedap suara. Emran selalu malas untuk meminta orang memasangnya, dan kini ia menyesal karena pasti mereka ketahuan sedang mencetak bayi sekarang.


Bukan apa-apa, Emran hanya merasa malu saja jika kegiatan mereka diketahui oleh kedua orangtuanya. Apalagi Ega, pagi-pagi bakul nasi itu pasti akan menggodanya dengan kata-katanya yang setajam pada pisau daging itu. Aahh ... membayangkannya saja ia sudah malu duluan.


Setelah melakukan olah raga malam untuk yang pertama kalinya, kini Bintang tertidur dengan sangat pulas. Walaupun sebelumnya ia kesal pada Emran karena sudah membuat miliknya terasa sakit dan perih.


Akhirnya keduanya kini sudah menjadi suami istri yang sempurna, karena sudah bisa melakukan kegiatan mantap-mantap untuk memproses seorang bayi yang lucu.

__ADS_1


*


*


*


"Moy ... " panggil Ega.


"Kenapa?" tanya Erina yang baru saja hendak memejamkan matanya.


"Kayanya kita bakal punya cucu dua sekaligus," ucap Ega.


"Biarin aja biar rame ..."

__ADS_1


"Beuuhh ..."


__ADS_2