Skandal With Tetangga

Skandal With Tetangga
Bab 33


__ADS_3

Mengetahui semua masalah ini berasal dari Boy dan Emil, Ega merasa kesal pasalnya ia sudah kecolongan. Ia tidak tahu jika selama ini ternyata mereka berdua sudah main ayam-ayaman di belakangnya. Astaga, bahkan Ega sudah shock duluan karena takut mereka sudah sampai tahap kuda-kudaan.


"Ini gak bisa dibiarin, bisa bahaya ini." ucap Ega.


"Nah itu yang saya takutkan Pak, ini gak bisa begitu saja karena bisa bahaya untuk anak-anak." jawab guru Bp itu, padahal yang Ega maksud adalah tentang Emil dan juga Boy. Tapi mendengar ucapan guru itu, Ega pun langsung tersadar karena masalah ini ternyata menyangkut kedua anaknya. Astaga, semakin dibuat pusing saja Ega. Masalah satu belum beres, dan kini malah masalah baru muncul.


"Bintang, kamu jangan nakal sayang. Kok kamu mau dicium sama Emran?" tanya Ben.


"Dia yang narik duluan Om, aku bahkan belum siap " ralat Emran.


"Astaghfirullah, bener itu Bintang?" tanya Beni yang merasa terkejut dengan sikap putrinya.


"Iya," jawabnya polos.


"Ya ampun Bintang, kok kamu agresif sih? Mamah kamu aja pendiam sama pemalu tahu gak, kamu mirip siapa sih?" tanya Beni sambil geleng-geleng kepala.


"Mirip sama es bon-bon lah, emangnya mirip siapa lagi. Geser nih otak bapaknya Kejora!" kesal Ega. Dan akhirnya guru Bp pun memberikan bimbingan dan juga nasihat untuk mereka semua. Agar hal seperti ini tidak terjadi lagi di lingkungan sekolah maupun di rumah, mengingat kedua murid yang melakukan hal yang tidak boleh itu adalah tetangga. Jadi guru BP pun memberikan peringatan agar Ega dan juga Beni, selaku orang tua dari Bintang dan dan juga Emran bisa lebih menjaga anak-anaknya. Supaya lebih bisa menjaga sikap dan tidak melakukan hal yang Di luar batas.


Ega ga dan Beni pun hanya bisa menganggukkan kepalanya, karena mereka pun tidak bisa berkata apa-apa. Anak - anak merekalah yang telah bersalah, dan sudah sepantasnya jika guru itu memberikan teguran dan juga nasihat kepada mereka. Karena jujur saja, Ega dan Beni pun tidak menyangka jika anak-anak mereka akan melakukan hal itu, mengingat mereka selalu saja bertengkar dan jarang sekali akur.

__ADS_1


Setelah itu Emran dan juga Bintang pun dipersilahkan kembali untuk mengikuti pelajaran, begitu pun dengan Ega dan juga Beni yang dipersilakan untuk pulang. Tadinya Ega akan kembali lagi ke kantornya, akan tetapi pikirannya menjadi tidak tenang gara-gara kejadian barusan. Dan akhirnya ia pun memutuskan untuk pulang saja dan menceritakan semua masalah ini kepada Erina. Begitu pun dengan Beni, ia juga masih shock karena putrinya itu ternyata sangat agresif sama seperti dirinya.


Saat di dalam kelas, Bintang ditanya oleh Emil dan juga Sachi kenapa ya bisa terlambat masuk ke kelas dan digiring oleh guru BP. Namun, Bintang tidak mau menceritakan hal itu dulu kepada teman-temannya, apalagi kini ia sedang berada di dalam kelas ia takut ada yang mendengar tentang apa yang ia lakukan tadi. Bintang berpikir akan menyimpan masalah itu sendiri. Mungkin nanti Jika ia sudah siap maka ia akan menceritakan semua yang ia lakukan tadi terhadap Emran. Meskipun sepertinya, saat di rumah Emil pasti akan tahu apa yang telah ia lakukan dengan Emran. Karena pasti Ega akan memberitahukan hal itu jika Emil sudah sampai di rumah.


****


"Apa! Yang bener A? Emran sama Bintang ciuman di sekolah? Ya ampun, aku gak nyangka loh mereka bisa gitu." ucap Erina sambil duduk dan memegang dadanya. Ega pun menarik napasnya perlahan, ia pun sebenarnya masih terkejut dengan apa yang terjadi dengan anak-anaknya.


"Aa juga gak nyangka, Moy. Aa pikir tuh upin-ipin gak bakal main ayamnya tok Dalang." jawab Ega.


"Terus gimana?" tanya Erina.


"Dan yang lebih parah, mereka berdua itu terinspirasi katanya. Nyebelin banget kan tuh bocah - bocah-bocah!" ucap Ega sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Erina. Erina pun langsung membelai lembut rambut Ega.


"Terinspirasi dari mana? jangan-jangan mereka suka nonton kikuk-kikuk lagi, nanti cek hp sama laptopnya!" ucap Erina mulai takut mendengar kata terinspirasi , jangan sampai mereka melihat hal yang tidak-tidak. Ternyata rasa khawatir itu lebih besar saat anak-anak beranjak dewasa.


"Terinspirasi dari Dipsy sama Lala, dasar tuh titisan Marimar. Main sosor aja. Emil juga, mau aja dicium sama suaminya,"


"Udah halal ini gak apa-apa,"

__ADS_1


"Kalau sampe hamidun gimana, gemooooyyy!!!"


"Gak mungkin ciuman bisa bikin hamidun," jawab Erina.


"Wahhh, ni Neng Omes udah pengalaman bertahun-tahun masih aja belum ngerti kalau laki-laki itu gampang banget bangun gagang sapunya!"


"Oh iya ya...".


"Iya, kaya Aa sekarang udah marah-marah jadi haus kan!"


"Terus?" tanya Erina yang belum konek dengan keinginan sang suami.


"Terus Aa mau minum susu dong sayang, ahhh masih gak ngerti juga!"


"Ohhh itu, ya udah ayo mumpung anak-anak belum pulang."


"Ayo Aa juga mau isi tenaga dulu biar nanti pidatonya lancar," jawab Ega dan mulai bangun dan menggendong Erina dan membawanya ke kamar.


****

__ADS_1


Kasih dukungan dong, biar semangat up nya 😌😌😌


__ADS_2