Skandal With Tetangga

Skandal With Tetangga
Bab 36


__ADS_3

Kabar video itu sudah semakin menyebar dan kini sudah sampai ke pihak sekolah, dan tentu saja Ega dan Beni kini sedang di sidang lagi di sekolah. Mereka berdua tampak pasrah dengan keadaan yang ada. Jika memang pada akhirnya anaknya akan menikah lagi, maka Ega sudah sudah siap menjadi mertua lagi. Asalkan jangan dulu menjadi kakek, Ega belum siap. Dimana anak-anaknya saja belum ada yang matang. Bagaimana nantinya jika mereka punya bayi, hancurlah sudah begitu pikirnya.


"Jadi begini Bapak Ega dan Bapak Beni, video anak-anak sudah banyak tersebar. Dan sudah banyak yang tahu juga tentang masalah ini. Kalau boleh jujur saya sebagai kepala sekolah merasa malu, atas perbuatan dari Bintang dan juga Emran. Sekolah kami menjadi terkenal gara-gara kecerobohan mereka berdua." ucap kepala sekolah sambil geleng-geleng kepala.


"Saya mengerti Pak, dan saya juga minta maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan anak saya," ucap Ega penuh penyesalan. Sedangkan Beni, ia bahkan tidak mampu berkata-kata. Ia hanya diam dan jadi penyimak saja. Ia sendiri merasa bingung apa yang harus ia lakukan.


"Masalahnya, mereka kini sudah ada di semester akhir. Kami masih memikirkan nasib mereka Pak. Sebenarnya kami ingin sekali mengeluarkan mereka berdua, akan tetapi kami juga tidak mau menghancurkan masa depan mereka." ucapan kepala sekolah itu benar - benar menyentil jantung Ega. Dikeluarkan katanya, bahkan seumur hidup ia baru mendengar kata-kata itu di sekolah.


"Jadi ... apa yang harus kami lakukan Pak?" tanya Ega.


"Demi kebaikan kita semua, sebaiknya mereka berdua dinikahkan saja. Agar bisa meredam kabar ini, setidaknya jika semua orang tahu mereka pasangan suami istri. Mereka tidak akan terlalu menggunjing dan hal yang mereka lakukan itu sama sekali bukan masalah, jika mereka adalah pasangan halal. Bukankah begitu?"


Astaga, runtuh sudah semuanya. Seperti dugaannya jika Emran dan Bintang memang harus dinikahkan. Akan tetapi, mendengar langsung semua ucapan ini tetap saja membuat Ega shock.


"Pernikahan mereka tidak harus meriah Pak, yang penting sah dan selamat. Maaf Pak Ega dan Pak Beni, jika jalan ini yang harus saya ambil. Karena sudah tidak ada jalan lain lagi," ucapnya. Ega dan Beni pun hanya menganggukan kepalanya saja, mereka berdua merasa bingung karena sejatinya anak merekalah yang bersalah. Jadi mereka berdua tidak punya alasan apapun untuk membela diri.


*


*


*


"Sah...!!!" terdengar riuh ucapan orang-orang saat Emran mengucapkan ijab kabul dan meminang Bintang. Seluruh siswa sekolah menyaksikan pernikahan mereka yang di gelar di aula sekolah. Itu sebagai bukti jika mereka benar - benar dinikahkan, dan kini mereka berdua sudah menjadi pasangan halal.


Emran pun mengulurkan tangannya agar dicium oleh Bintang, tap Bintang malah mencebikkan bibirnya. "Biasa aja kali, gak usah terlalu serius," ucap Bintang.


"Cepetan sungkem sama suami! Mimpi apa sih, bisa nikah sama Bintang Kejora." ucap Emran

__ADS_1


"Yang pasti mah mimpinya indah, dapat istri yang cantik kaya aku," jawab Bintang. Emran berdecak sebal mendengarnya.


"Dilihat dari sedotan aja masih cantik anak bebek kali," ejek Emran.


"Ckk ... udah deh upin-ipin jangan cari masalah terus. Pusing tahu gak!" kesal Ega. Akhirnya pasangan suami istri baru itu pun langsung terdiam. Mereka berdua merasa bersalah melihat kedua orangtuanya bersedih karena pernikahan ini.


*


*


*


Hari-hari mereka jalani seperti biasa, mereka belum diijinkan tinggal satu rumah mengingat mereka berdua masih sekolah, dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik mereka tidak tinggal satu rumah.


Begitu juga dengan Emil dan Boy, mereka juga tidak tinggal satu rumah. Mengingat hubungan mereka yang mulai ada kemajuan, yaitu mulai suka sentuh-sentuhan. Ega takut jika keduanya kebablasan dan akhirnya mencetak cucu untuk Ega.


*


*


*


Semua anak-anak trio BBC kini sudah menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di kota itu. Sedangkan Boy, kini ia sudah menjadi seorang CEO di perusahaan milik kakeknya. Dia menjadi seorang pria yang sangat tampan, hingga banyak gadis yang memujanya.


Seperti Shella sejak dua tahun terakhir ini, ia tak pernah berhenti mengejar Boy dan berharap menjadi kekasih halalnya. Meskipun Boy sudah beberapa kali menolaknya, dan juga memperlihatkan ketidaksukaannya itu tidak membuat Shella menyerah. Justru kini ia malah bekerja di perusahaan Boy, dan membuat Boy mulai jengah dengan keberadaan Shella.


Emil pun semakin tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, begitu juga dengan Bintang. Tak ketinggalan Emran dan juga Rafa pun menjelma menjadi pria yang tampan. Dan juga Sachi, putri dari Mentari pagi itu semakin bersinar dan membuat titisan corong merah menjadi semakin terpesona padanya.

__ADS_1


Malam ini ada yang ingin Boy bicarakan kepada Ega dan juga Papanya, Beni. Ia sengaja mengajak mereka semua makan malam bersama karena ada hal penting yang akan Boy sampaikan saat ini juga. Hal yang selama ini ia pendam dan juga inginkan. Dulu ia memang belum berani mengutarakannya, akan tetapi sekarang ia merasa jika ia sudah mampu dan juga sudah sangat pantas melakukannya.


"Mah ... Pah, Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kalian semua," ucap Boy.


"Hal apa Boy?" tanya Beni. Terlihat Boy mulai mengatur napasnya, ia sempat terlihat ragu. Akan tetapi ia mencoba untuk mengutarakannya kembali. Masalah ini tidak akan pernah ada solusinya jika Boy hanya diam saja


"Jadi gini, aku mau ajak Emil tinggal serumah sama aku. Kebetulan aku juga udah beli rumah. Aku pengen kalau aku sekarang bisa menjalani rumah tangga dengan Emil, aku pengen kalau aku sama Emil tinggal serumah dan ngejalanin rumah tangga kaya orang - orang pada umumnya." ucap Boy dengan mantap.


Semua orang terkejut mendengarnya, termasuk Emil. Ia tidak pernah tahu jika Boy sudah membeli sebuah rumah untuknya. Dan rencana ini sungguh kejutan untuk Emily.


Ega terlihat gusar mendengar anak perempuannya akan dibawa oleh suaminya. Bagaimana pun juga, Boy lebih berhak dari pada Ega. Karena Boy kini sudah menjadi suami dari putrinya.


"Aku harap kalian gak marah sama aku," ucap Boy.


"Papa gak marah Boy, cuma papa sedih aja anak papa mau dibawa sama suaminya." jawab Ega.


"Kok mendadak sih Boy?" tanya Erina yang kini juga sedih harus berpisah dengan putrinya.


"Sebenarnya rencana ini udah lama, cuman aku baru bisa ngomongnya sekarang," jawab Boy.


"Gimana Emil, kamu mau pindah rumah sama Boy?" tanya Ega, berharap putrinya ini menolak ajakan suaminya.


"Mau lah, aku mau banget tinggal serumah sama Kak Boy suamiku sayang..." ucap Emil sambil mengangkat alisnya dan memandang Boy penuh damba. Bagaimana tidak, suaminya ini sangat tampan. Ia saja bahkan merasa jatuh cinta setiap hari pada suaminya.


"Dasar omes sama kaya emaknya!" ucap Ega.


"Kok jadi bawa - bawa aku?"

__ADS_1


"Iyalah masa mau bawa tetangga!" sewot Ega.



__ADS_2