Skandal With Tetangga

Skandal With Tetangga
Bab 34


__ADS_3

Saat malam hari saat semuanya sudah berkumpul, Ega sengaja mengumpulkan semua orang khususnya Boy dan Emil karena mereka berdua adalah tersangka utamanya. Ega ingin membahas tentang masalah Emran dan juga Bintang saat di sekolah.


Ega ingin bertanya sampai sejauh mana hubungan antara Emil dan juga Boy. Ega berharap jika yang mereka lakukan belum sampai tahap ehem-ehem.


Ega takut jika Emil akan hamil di usia belia bahkan di saat ia belum lulus sekolah. Bukan mereka tidak boleh melakukan hal itu, akan tetapi usia dan juga keadaan mereka kini belum bisa memungkinkan mereka melakukan hal itu. Mereka hanya harus menunggu sebentar lagi, setidaknya sampai Emil lulus sekolah saja, begitu pikir Ega.


"Jadi, selama ini kalian main-main di belakang kita? Begitu?" tanya Ega.


"Main apa Pah?" tanya Emil.


"Main ayam-ayaman sama titisan Marimar, bener-bener nakal yah kalian berdua! Kalau kamu sampai hamidun gimana Mil?" tanya Ega esmosi.


"Gak mungkin lah Pah Emil hamil, orang Emil sama Kak Boy cuma ciuman aja, iya kan Kak," ucap Emil pada Boy. Di saat seperti inilah mental Boy di uji, ia merasa malu akan tetapi ia juga harus bersikap menjadi pria sejati. Ia tidak boleh menjadi pria yang hanya mau mengecap rasanya saja. Tapi ia juga harus mengaku dan juga bertanggung jawab pada apa yang ia lakukan terhadap istrinya.


Ia tidak boleh takut pada Ega, bagaimana pun juga status Boy terhadap Emil sangatlah kuat. Karena Emil adalah istrinya, bahkan jika Boy mau Boy bisa mengajaknya ehem-ehem.


"Iya Pah, tapi kami gak ngelakuin hal yang lebih dari itu kok." jawab Boy jujur. Meskipun ia tidak jujur sepenuhnya, karena Boy pernah menyentuh balon helium milik Emil. Tapi Boy tidak mungkin mengatakannya pada Ega, itu adalah hal intern tidak boleh diumbar.

__ADS_1


"Ya ampun, kalian tahu gak kalau kalau virus mesum kalian itu menyebar?" tanya Ega.


"Nyebar gimana Pah, gatel maksudnya?" tanya Emil.


"Iya bikin emang bikin gatel, bikin gatel bibirnya Emran sama Bintang Kejora!" sewot Ega. Orang yang disebut namanya hanya mampu diam membisu, mereka malu lebih tepatnya hanya Emran yang merasa malu. Karena Bintang terlihat biasa-biasa saja.


Pandangan Boy dan Emil langsung mengarah pada Emran dan juga Bintang, "jangan bilang kalau A Emran sama Kejora..."


"Mereka tadi patuk-patukan di sekolah, sampe Papa sama Om Ben dipanggil ke sekolah. Gara-gara mereka berdua ketahuan main ayam-ayaman sama guru Bp!" ucap Ega dengan semangat dan menggebu-gebu, berharap mereka semua merasa menyesal dan merasa bersalah.


"Apa!" jawab Boy dan Emil serentak, mereka benar-benar terkejut karena makhluk yang sering kali adu mulut itu kini beradu bibir.


"Iya Kak," jawab Bintang.


"Amazing," ucap Emil


Bukan Emil namanya kalau ia merasa bersalah, ia justru merasa menjadi orang yang berjasa karena telah menginspirasi kakak dan juga sahabatnya itu.

__ADS_1


"Aku gak nyangka, kalau yang aku lakuin sama Kak Boy bakal menginspirasi kalian berdua. Kita jadi panutan, Kak." ucap Emil antusias.


"Astaghfirullah, Emil! Bukannya nyesel ini anak tapi malah bangga sama kelakuannya!"


"Bukan gitu Pah, Emil kaget aja," jawab Emil.


"Kalau kaget mah bukan gitu Markonah!"


Saat ceramah baru akan dimulai, mereka dikejutkan lagi oleh kedatangan titisan corong merah. Wajah paniknya seolah memperlihatkan jika ada hal tidak baik sedang berlangsung.


"Kenapa corong merah panik? Es batunya cair?" tanya Ega.


"Gaswat Om, video Emran sama Bintang yang lagi saling patuk viral di tok-tok!" ucap Rafa.


"Apa!!!"


***

__ADS_1


Beuuhhh gimana ini 😌😌😌


__ADS_2