Skandal With Tetangga

Skandal With Tetangga
Bab 46


__ADS_3

Sejak hari itu Bastian selalu rajin mengirimi Bintang coklat dan juga hadiah lainnya. Tapi Bintang sama sekali tidak pernah berpikir jika ada udang di balik gorengan. Pemikiran Bintang yang selalu santai membuat langit biru hamparan Bintang Kejora alias Emran menjadi kesal dan kebakaran jenglot, tidak maksudnya kebakaran jenggot. (Memangnya Emran punya jenggot 🤔).


Seperti hari ini dengan entengnya Bintang malah menawari coklat pemberian dari Bastian pada Emran. Hingga penawaran Bintang padanya membuat ia mendadak haus dan ingin minum sumber nutrisinya. Sayangnya kini mereka sedang berada di kantin kampus, tidak mungkin Emran membuka pabrik susu murni di sana. Bisa-bisa pororo juga ikutan minta minum susu. Oh tidak... Membayangkannya saja sudah membuat titisan bakul nasi ingin memotong gagang sapu lokal milik Bastian itu.


"Kamu kenapa sihh, liatin aku terus makan coklat. Kalau mau bilang aja," ucap Bintang.


"Mau buang maksudnya?" ketus Emran.


"Enak aja main buang-buang, berani kamu buang cokelat aku. Aku tutup pabrik susu seminggu, biar kamu lemes sekalian!"


"Kalau pabrik di tutup tinggal buka paksa aja, biar ada tantangan!" balas Emran tidak mau kalah. Namun, Bintang hanya berdecak sebal melihat ke arah Emran. Ia tidak mengerti kenapa suaminya ini harus marah pada orang yang bersedekah padanya. Bintang tidak menyadari jika Bastian bukan hanya sedekah coklat dan juga hadiah. Tapi dia juga sedekah cinta padanya. Dasar Bintang Kejora tidak peka memang.


"Kalau kamu suka coklat, aku beliin sama pohonnya sekalian biar kalau kamu mau tinggal petik aja. Gak usah makam coklat dari pororo, gatel tahu gak liatnya!"


"Sewot banget sihh, cuma coklat aja!"


"Awas nanti kalau di rumah, keekkkk ..." ancam Emran tapi Bintang sama sekali tidak peduli, pada kekesalan suaminya ini. Ia malah menanggapinya dengan sangat santai.


*

__ADS_1


*


*


Sejak Emil selalu digempur oleh Boy, perempuan cantik ini selalu terlihat lemas dan tidak bersemangat. Ia terlihat lemas dan juga lesu, juga tidak bersemangat. Entah kenapa suaminya itu tidak pernah lelah menyentuhnya, padahal Emil sudah lemas dan tidak bisa mengimbangi keinginan Boy.


Sachi yang melihat Bintang hanya diam saja dan tidak mau melakukan apa-apa pun penasaran, kenapa sahabatnya yang biasa cerewet akhir-akhir ini menjadi pendiam. Apa tinggal satu rumah dengan kakaknya membuat Emil menjadi tertekan atau bagaimana.


"Mil ... aku perhatiin akhir-akhir ini kamu lemes terus. Kamu gak betah tinggal sama Kak Boy?" tanya Sachi penasaran. Emil pun melihat ke arah Sachi dengan mata pandanya.


"Siapa bilang gak betah, justru aku seneng banget tinggal sama suami aku,"


"Seneng tapi mukanya jelek gitu, kaya berlawanan sama yang kamu omongin," Sachi mencebikkan bibirnya melihat ke arah Emil.


"Bintang aja wajahnya normal gak kaya kamu, kaya panda abis begadang?"


"Berarti dia belum pengalaman," ucap Emil sambil terbahak.


"Pengalaman apa?" tiba-tiba Bintang sudah berada di belakang mereka berdua. Emil dan Sachi pun langsung melihat ke arah Bintang yang tengah bingung.

__ADS_1


"Eh ada iparku sayang, adik ipar atau kakak ipar ya kita?" tanya Emil sambil tertawa.


"Dua-duanya Oneng, status kita itu paling lengkap. Oke banget kan?"


"Kece banget malah," sambung Sachi. Mereka bertiga pun tertawa.


"Oh ya tadi ngomongin pengalaman apa?"


"Pengalaman punya suami," jawab Emil.


"Ohh ... emang kenapa kalau punya suami?" tanya Bintang.


"Gak kenapa-kenapa, cuman aneh aja sejak Emil pindah rumah sama Kakak mukanya mirip panda guling. Pasti gara-gara Kakak ini mah,"


"Pasti lah, emang karena siapa lagi?"


"Emang A Emran enggak?" tanya Emil.


"Enggak kita mah masih tahap belajar sama pemanasan aja,"

__ADS_1


"Aihhh ..."


"Jomblo tutup telinga dan jangan berkhayal," ucap Emil pada Sachi.


__ADS_2