
Ocean masuk ke penthousenya. Dia langsung menuju kamar untuk mencari Joy.
Ocean mencoba membuka pintu kamarnya tetapi Joy menguncinya dari dalam.
"Buka pintunya," Ocean mengetuk pintunya.
Tok tok tok...
Ocean mengetuk pintunya lagi.
"Joy ... Buka pintunya ... Kita harus selesaikan ini," kata Ocean dengan sedikit berteriak.
Joy duduk di ranjang dengan wajah menunduk. Dia tak mau membuka pintunya. Dia tak ingin melihat Ocean.
"JOYYY!!! Bisakah kau bersikap dewasa? Aku ingin kita bicarakan hal ini. Aku ingin tahu apa maumu," ucap Ocean lagi dan kali ini dia agak meninggikan suaranya.
Joy tetap tak menjawabnya dan hanya duduk diam di ranjang. Tiba tiba air matanya menetes. Joy tak suka dibentak. Bahkan Evelena tak pernah membentaknya selama ini.
Joy mengusap air matanya. Suara isak tangisnya mulai terdengar pelan. Joy merebahkan tubuhnya di ranjang dan menutup wajahnya dengan bantal agar tak mendengar suara Ocean lagi.
Ocean akhirnya berhenti memanggil Joy. Dia langsung menuju kamar sebelah dan membuka bajunya kemudian menuju kamar mandi.
"Shiiiiitttt!!!" umpatnya kesal.
Ocean memandangi wajahnya di cermin besar yang ada di wastafel kamar mandi.
__ADS_1
Ocean mencoba merenungi apa yang dilakukan oleh Joy dan dirinya. Dia merasa harus ada yang diperbaiki disini dan dia ingin Joy mau sharing untuk masalah ini, bukannya malah menghindar.
Setelah itu, Ocean langsung menuju ranjang dan merebahkan dirinya. Ocean tak bisa tidur karena kepikiran dengan masalah ini.
Ocean beranjak dari ranjangnya lagi dan menghampiri kamar Joy.
TOK TOK TOK...
"Baby, bukalah pintunya. Oke, aku minta maaf. Anggap saja aku yang bersalah. Kita bicarakan masalah ini sekarang. I love you, Honey. Maafkan aku jika aku membuatmu kesal," kata Ocean.
"Bisakah kau tidak egois? Kita akan menikah dan sikapmu seperti ini. Kau lari dari masalah.. Bukankah seharusnya kita menyelesaikannya?" kata Ocean.
Joy masih tak menjawab. Kekeras-kepalaannya kali ini benar-benar berada di level teratas.
Joy malas menjelaskan sesuatu yang sudah jelas-jelas kebenarannya tetapi Ocean justru menganggap hal ini hanya bualan semata.
Ocean akhirnya menyerah dan tak memanggil Joy lagi. Dia menuju kamarnya dan karena tak bisa tidur, Ocean membuka laptopnya untuk memeriksa pekerjaannya tadi siang.
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
Keesokan paginya, Joy bangun sangat pagi. Dia mengeluarkan kopernya dan sudah bersiap siap akan pergi.
Joy akan menggunakan kereta api untuk perjalanan pulangnya.
Joy lega tak melihat Ocean di sana dan segera menuju pintu. Tetapi tiba tiba kepalanya pusing dan Joy memegang lututnya untuk menunduk.
__ADS_1
Joy kemudian berdiri kembali dan memegang kepalanya. Lalu tiba tiba Ocean keluar dari kamar dan melihat Joy sudah berada di depan pintu dengan kopernya.
"Kau tidak akan pergi kemana mana, Honey," kata Ocean yang membuat Joy segera membuka pintunya.
Ocean berlari dan menarik tangan Joy.
"Tak ada yang harus dibicarakan," kata Joy berusaha melepas tangannya dari Ocean.
"Ada. Ada banyak yang harus kita bicarakan," jawab Ocean.
"Tapi aku tak mau membicarakannya," kata Joy kekeh.
"Baiklah, sekarang apa maumu?" tanya Ocean.
"Aku ingin pulang," jawab Joy singkat.
"Sudah kubilang, kau tetap akan pulang bersamaku nanti," ucap Ocean.
"Tapi aku ingin pulang sekarang," kata Joy dengan wajah dinginnya.
Baru kali ini Joy marah pada Ocean dan Ocean masih melihat kemarahan itu di wajah cantiknya.
Lalu Ocean menarik tangan Joy dan mendudukkannya di sofa.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORIT DAN HADIAH YAA❤❤❤
__ADS_1