
Akhir - akhir ini Kezia merasa ada yang aneh. Seperti ada seseorang yang selalu mengawasinya. Namun setiap kali Kezia mencari orang tersebut, jejak nya tidak pernah Kezia lihat. Sedikit ada rasa was - was. Kezia juga tidak memberitahukan hal ini pada Rafael maupun Figo. Kezia tidak akan merepotkan mereka lagi. Dia harus bisa mengatasi masalah nya sendiri mulai sekarang.
Setelah mencuci pakaian dan membersihkan rumah, Kezia memilih untuk istirahat sebentar. Melepas ikatan pada rambutnya dan memijat tangan nya sendiri. Kabur dari rumah Vernon membuat nya benar - benar menjadi ibu rumah tangga. Kezia bisa melakukan seperti yang pelayan rumahnya lakukan dulu. Membersihkan rumah, mencuci piring, memasak beragam makanan, dan pekerjaan rumah lainnya. Kezia jadi tahu betapa lelahnya pelayan rumah Kezia jika harus membersihkan rumah Mr. Riwijaya yang begitu luas. Tapi tetap saja, jumlah mereka lumayan banyak, tidak sebanding dengan Kezia yang satu orang.
Kezia tidak tahu seseorang telah mengawasinya dari kamera pengintai. Vernon dapat melihat istrinya begitu lelah dan menghela napas beberapa kali. Rasanya ingin sekali membawa Kezia sekarang juga supaya wanita itu tidak perlu menyusahkan diri sendiri. Vernon merasa bersalah, karena kesalahannya, Kezia harus hidup diluar tanggung jawab Vernon sebagai seorang suami.
"Shit." umpat Vernon ketika Kezia mulai tertidur di sofa setelah membersihkan rumah. Wanita itu pasti sangat kelelahan. Apalagi Vernon hanya bisa memantaunya dari jauh tanpa bisa menyentuh Kezia untuk meringankan sedikit beban yang ia tanggung.
♥♥♥
Setelah meeting dengan beberapa klien penting, Vernon pergi ke apartemen Petra. Langkah Vernon tidak bisa dibilang santai. Beberapa kali menimbulkan suara akibat gesekan sepatu dengan lantai apartemen.
Vernon menelpon Petra untuk membukakan pintu nya. Dan tak berapa lama kemudian pintu didepan Vernon terbuka. Menampilkan Petra yang sangat berantakan. Tapi Vernon tidak peduli ia langsung masuk dan membiarkan Petra mengomel tidak jelas didekat pintu.
"Datang tidak diundang, masuk tidak tahu malu. Kalau kau bukan teman ku—"
"Tidak usah dilanjutkan. Kau mengatakan hal yang sama seperti biasanya. Aku sudah hapal." potong Vernon dengan cepat dan mendengar dengusan kasar dari Petra.
"Ada apa kau kemari? Kau bisa menemui ku di markas." tanya Petra dan menuangkan air mineral untuk dia minum. Tidak mau repot - repot memberi tamu nya minuman.
__ADS_1
Vernon menatap sahabatnya sejenak lalu tertawa ringan karena Petra seperti mayat hidup. Rambutnya yang terbiasa rapi menjadi berantakan. Pakaian yang Petra kenakan juga tidak mencerminkan pria itu.
"Sepertinya aku datang diwaktu yang tidak tepat. Kau sedang ada masalah? Penampilanmu seperti orang gila yang baru keluar dari rumah sakit." ejek Vernon tidak memperdulikan tatapan sinis Petra.
"Pergi saja kau, b*******n." kata Petra dengan dingin. Memberikan tatapan maut pada Vernon yang tampak terhibur karena nya.
Vernon kembali bersikap serius melihat perubahan raut muka Petra. Ia tidak ingin menggoda pria itu lagi. "Aku ingin meminta kronologis Figo saat melakukan penyerangan terhadap Black Center." Vernon mengatakannya dengan santai. Berharap Petra tidak akan tersinggung.
"Apa yang kau inginkan?"
"Jawab saja."
Vernon menghela napas, "Ayah ku meminta penjelasan tentang jejak kejahatan Figo. Setidaknya akan menguatkan alasan ku menjauhkan penghianat itu dari Kezia." Vernon menyentuh pistol favorite Petra yang ada didekatnya.
Pria didepan Vernon hanya diam dan mempertimbangkan permintaan sahabatnya. "Kau bisa meminta Theodore untuk memberikan file nya. Aku menyimpan beberapa rekaman sebelum dia menyerang Black Center." Petra bangkit untuk meletakkan handphone nya di nakas.
Vernon mengangguk hendak pergi dari apartemen Petra. "Kalau kau mau kau bisa meminta bantuanku. Kau tampak menyedihkan seperti orang yang baru saja patah hati." Vernon tertawa kemudian memencet tombol dan pintu terbuka.
Vernon langsung pergi dari apartemen Petra dan merasa puas karena berhasil memancing amarah pria itu.
__ADS_1
"Dasar b******n k*****t sialan!!" umpat Petra saat Vernon berhasil keluar melalui pintu dan sedang menertawakan dirinya.
Petra harus menyegarkan otaknya dengan mandi air dingin. Jika tidak, ia akan menembaki siapa saja yang mengganggunya hari ini.
♥♥♥
Setelah menerima laporan dari bawahan Petra. Vernon segera menyerahkan beberapa file pada Mr. Clayton. Kali ini Vernon datang langsung ke rumah nya waktu kecil dulu. Yang tak lain adalah rumah Mr. Clayton.
Dia tidak peduli jika ibunya meneriaki Vernon atau melempari Vernon dengan koleksi majalah yang ada di meja.
Vernon memakirkan mobilnya dan segera turun. Pria itu menggunakan kaos dan celana santai. Beberapa pelayan berdatangan dan menyambut Vernon yang sudah lama tidak berkunjung semenjak tragedi berita yang membuat ibu Vernon marah besar.
Vernon masuk dan mendapati ibunya yang sedang berkacak pinggang. Mrs. Risa menatap tajam Vernon. Sedangkan yang ditatap bersiap untuk menerima amukan dari nyonya besar.
"VERNON! KELUAR!"
Teriakan Mrs. Risa terdengar hingga membuat beberapa orang dirumah kaget. Vernon menatap ngeri ibunya. Kemudian bernapas lega ketika melihat Mr. Clayton bersama tangan kanan nya.
Vernon harus segera menyerahkan file yang ia bawa. Dan membuat Mr. Clayton berubah pikiran. Sehingga memberi bantuan dengan cepat. Tidak mengulur waktu atau Figo akan melangkahinya terlebih dahulu untuk mengambil Kezia darinya.
__ADS_1
♥♥♥