Stephanotis

Stephanotis
18 — Melancarkan Rencana & Penembakan


__ADS_3

Vernon menatap Petra dengan datar. Mereka berdua sedang berada di markas Petra sebelum pergi untuk menjemput Kezia. Seperti biasa, Petra memilih benda favorite nya untuk dia ajak berpetualang.


"Bagaimana menurut mu?" tanya Petra dan menunjukkan salah satu koleksi pistol nya pada Vernon.


"Kau gila? Jangan bawa Desert Eagle. Kau bisa membangunkan orang sekampung." komentar Vernon masih dengan wajah datar.


Petra mendengus keras, "Padahal salah satu anak kesayangan ku." gumam Petra dan kembali mencari pengganti benda favorite nya.


"Cih, menikah saja tidak pernah." ejek Vernon kemudian mengambil salah satu pistol milik Petra. Tanpa meminta perijinan dari Petra dan menyelipkan benda berbahaya itu di saku celana.


"Setidaknya, aku tidak pernah membuat kabur anak orang." sindir Petra karena tidak terima dengan perkataan Vernon yang seenak jidat.


Vernon mencebik kemudian berdecak, "Ck, kau lama. Cepat pilih atau aku akan melubangi kepala mu. Lagipula kau tidak memerlukan yang terbaik. Tergantung caramu menggunakan nya." kata Vernon menatap Petra tajam sembari bersedikap dada.


"Jangan meremehkan ku. Kemampuan mu tidak sebanding dengan ku, Ver." akhirnya Petra menjatuhkan pilihannya pada pistol yang pernah ia gunakan untuk melindungi gadis kecil. Pistol yang mengingatkan Petra pada orang yang selalu memenuhi pikirannya belakangan ini.


"Ya, terserah apa katamu." Vernon melirik Petra yang tampak fokus pada pistolnya. "Kau mau membawa yang itu?"


Petra tidak menjawab dan hanya menghela napas. Pria itu berusaha mengenyahkan pikirannya yang melayang kemana - mana.


Dengan segera Petra memasukkan pistol ke sarung dan menyelipkannya di kantong dalam jas.


"Kita pergi." Petra berjalan keluar mendahului Vernon. Sedangkan Vernon tampak berpikir sebentar lalu menggelengkan kepalanya dan mengikuti Petra dari belakang.


Mereka membawa benda kesayangan Petra untuk berjaga - jaga. Interowen bukan musuh yang gampang ditaklukan. Meski mereka mengandalkan data dan koneksi. Interowen juga mematikan bila meninggalkan jejak disuatu tempat.


Kini Vernon menjalankan mobil nya. Petra berada di samping Vernon dan memilih diam. Tatapan Petra tampak tajam seperti Vernon. Kedua pria itu berusaha mencari jalan keluar untuk masalah mereka masing - masing. Dan selalu berhubungan dengan dunia gelap yang berbahaya.


♥♥♥


Vernon mengikuti mobil ayahnya dari belakang. Dan dibelakang mobil Vernon ada dua mobil milik ViZ5 dan anak buah Petra. Mereka bagian pengawas kalau - kalau ada yang mencurigakan.


Perjalanan membutuhkan waktu tiga jam. Untuk menempuh kota W yang jauh dari ibu kota membutuhkan waktu dan tenaga ekstra.


Vernon turun di ikuti Petra. Vernon menggulung lengan kemejanya dan sedikit merapikan rambut. Petra hanya diam dan mengamati bangunan di sekelilingnya.


Perhatian Petra terputus ketika Mr. Clayton menyuruh dirinya dan Vernon untuk mendekat dan masuk ke rumah Kezia dengan hati - hati.


Ketika berada di gerbang rumah Kezia. Petra merasakan seseorang sedang mengawasinya. Dengan sikap waspada dia segera menaikkan masker hitamnya.


"Sepuluh meter dari kita. Arah jam tiga. Seseorang sedang memantau kita dan mengambil identitas kita." Petra berkata tajam dan didengar oleh orang disekelilingnya.

__ADS_1


"Aku dan Petra tetap disini untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Ayah mertua dan ayah bisa masuk. Setelah itu bantu Kezia mengemasi barang - barang nya." Vernon melanjutkan perkataan Petra dengan datar.


Walaupun jantungnya berdetak kencang karena tidak sabar bertemu dengan istrinya. Tetap saja Vernon tidak boleh gegabah. Dan berusaha untuk melindungi istri juga anaknya.


Setelah Mr. Clayton dan Mr. Riwijaya masuk ke rumah Kezia. Petra memandang Vernon dengan menyeringai geli.


"Apa!?" sentak Vernon.


"Cih." Petra melirik mata - mata mencurigakan yang berada jauh dari tempat mereka tanpa menolehkan kepalanya.


Petra menduga kalau mata - mata itu pasti anggota Interowen yang bodoh. Orang itu terlihat masih muda dan tidak cukup lihai untuk menjadi mata - mata.


"Dia tidak sendiri. Ada seseorang yang membawa senjata di belakangnya. Dua meter dari orang itu." Petra berkata dengan tenang dan mulai waspada.


Interowen sangat bar - bar dalam bertarung. Tak perduli menang atau kalah. Mati atau hidup. Mereka memiliki prinsip untuk melaksanakan tugas dari ketua tanpa memperdulikan nyawa mereka.


Pintar dalam mencuri data dan memutus koneksi menjadi kelebihan unggul anggota mafia Interowen. Mereka memilih untuk mematikan musuh secara diam - diam dan perlahan. Tanpa menimbulkan jejak yang bisa membongkar identitas mereka.


Petra sangat hapal akan hal itu. Sudah berkali - kali dia melumpuhkan anggota Interowen karena berusaha menemukan kelemahan Petra sebagai ketua Black Center. Salah satu musuh berbahaya bagi Interowen.


Tak berapa lama Mr. Riwijaya dan Mr. Clayton keluar bersama Kezia yang sedang menggendong bayi. Salah satu bodyguard membawa dua koper dibelakang mereka.


Saat tatapan wanita itu tak sengaja bertabrakan dengan Vernon. Kezia tampak sedikit bergetar dan mengeratkan gendongannya pada Excelo. Kezia juga tidak berani melihat ke arah Vernon lagi.


Disitulah Vernon merasakan hatinya tercubit. Sekarang ia merasakan bagaimana ditolak oleh orang - orang yang berada disekitarnya.


"Istrimu boleh juga." bisik Petra yang sebenarnya ingin membuat Vernon kembali ke dunia nyata. Pria itu tampak kecewa karena istrinya tidak mau berada didekatnya.


Vernon hanya tersenyum tipis kemudian menyikut perut Petra. Vernon tidak bisa lepas dari Kezia. Matanya terus menatap wanita itu sampai Kezia masuk ke dalam mobil bersama Mr. Riwijaya dan Mr. Clayton.


"Kita harus membereskan mereka dulu baru pergi dari sini." bisik Petra merendahkan suaranya.


"Maksudmu?" Vernon menaikkan salah satu alisnya.


Petra diam beberapa detik lalu menolehkan kepalanya ditempat anggota Interowen bersembunyi. "Merunduk!" seru Petra dengan keras.


Dor!


Satu tembakan meleset. Vernon sedikit terkejut dan segera mengeluarkan pistol dari kantong celana. Begitu juga dengan Petra. Pria itu sudah tidak bisa santai. Petra mengeluarkan dua pistol sekaligus.


"Shit. Kau membawa anak kesayanganmu, heh?"

__ADS_1


Petra berdecak, "Kenapa? Kau belum punya kan."


Vernon tampak terkekeh. Bisa - bisanya mereka bercanda di tengah situasi yang menegangkan.


Didalam mobil Mr. Clayton mengeluarkan pistol yang ada di dashboard. Kezia menatap keadaan Vernon dari jendela mobil. Kezia tidak bisa berpura - pura dan mulai khawatir.


Mr. Riwijaya juga menelpon ViZ5 untuk waspada 5. Yang berarti benar - benar bersiap untuk menyerang jika musuh menyerang ke arah mereka.


"Aku bagian yang belakang kau lumpuhkan yang depan. Jangan sampai mati. Kita bisa mengintrogasi yang depan." kata Vernon kemudian menyiapkan pistolnya yang paling mematikan.


"Ya. Tapi jangan gunakan anak kesayanganmu. Kezia melihat kita aku tidak ingin—"


"Double shit, you're son of *****!" umpat Petra kemudian menembak lengan anggota Interowen yang belakang.


Vernon mulai menembakan peluru dan berhasil mengenai kaki mata - mata yang ingin kabur.


Tapi sebelum Petra menembak lagi. Anggota Interowen berbalik dan menyerang Vernon.


Dor!


Vernon yang memfokuskan pandangan nya pada mata - mata tak bisa mengelak tembakan peluru dari anggota Interowen. Vernon berdesis dan berusaha tetap sadar.


"MATI KAU!" Petra menembakan dua peluru sekaligus dan berhasil melumpuhkan anggota Interowen juga mata - mata bodoh yang tidak bisa kabur kemana - mana.


Vernon memegang dadanya dan terbatuk. Kemudian mulai kehilangan kesadaran dan tergeletak disamping Petra.


Kezia tampak histeris dari dalam mobil. Mr. Riwijaya mematung ditempat. Sedangkan Mr. Clayton langsung turun dan membawa Vernon untuk ke rumah sakit terdekat.


Petra merasa bersalah dan ikut bersama Mr. Clayton. Sebelumnya dia menyuruh beberapa anak buahnya untuk membawa dua orang suruhan Interowen ke markas Black Center.


Sedangkan Mr. Riwijaya membawa Kezia ke ibu kota. Tidak memperdulikan Kezia yang menangis histeris untuk bertemu dengan Vernon.


Mr. Riwijaya berusaha untuk menenangkan anaknya terlebih dahulu. Dia tidak ingin Kezia terlibat dalam masalah serius karena posisinya yang sedang membawa bayi dalam gendongan wanita itu.


Banyak tetangga yang mulai keluar karena penasaran. Leah dan Rafael tidak bisa berkata - kata. Wanita disamping Rafael pingsan akibat kerjadian yang baru saja terjadi.


Tetangga mengira tadinya hanya latihan yang ada di lapangan seperti kebanyakan pria lakukan sebelum berburu dihutan.


Ternyata kejadian itu berada di tengah kampung. Dan membuat beberapa orang mulai penasaran juga takut. Tapi tak berapa lama mereka kembali ke rumah masing - masing setelah badan keamanan datang untuk menyelidiki tempat kejadian.


♥♥♥

__ADS_1


__ADS_2