Stephanotis

Stephanotis
22 — Kesempatan?


__ADS_3

Selama menjalani terapi, Vernon sering di ingatkan dengan perilaku buruknya di masa lalu. Mulai dari membuat seorang teman babak belur hingga memaksa Kezia untuk menuruti semua kemauan nya. Vernon selalu merasa gelisah ketika bayangan Kezia menghantui pikirannya.


Vernon ingat ketika ia merenggut paksa kesucian Kezia tanpa memikirkan perasaan wanita itu. Walaupun mereka suami istri, tidak seharusnya Vernon melakukan hal itu dengan paksa.


Vernon mengeryitkan dahi berkali - kali saat merasakan tangannya kaku setelah melihat lengan Kezia yang membiru karena Vernon sering mencengkram lengan mungil itu untuk ditarik paksa ke dalam kamar.


Namun perkataan seseorang membuatnya segera sadar dan membuka mata dengan napas terengah - engah. Vernon menoleh dan mendapati Petra juga Hendrik berada di dalam kamarnya.


"Sudah ku bilang jangan ganggu dia dulu. Dia masih butuh istirahat. Dasar, sialan." kata Hendrik kemudian memukul kepala Petra dengan dompet yang menjadi gantungan kunci mobil.


"Hei!" seru Petra hendak membalas Hendrik, kakaknya.


Vernon mengerang setelah berhasil bangun dan duduk bersandar di punggung kasur. Petra dan Hendrik mematung di tempat. Ini pertama kalinya mereka melihat Vernon tampak kacau dan lemah. Karena biasanya Vernon yang paling waras diantara kakak beradik itu.


Mata Vernon menatap Petra dan Hendrik dengan tatapan kosong. "Kenapa kalian kesini? Mau mengejek ku?" tanya Vernon dengan sinis.


Petra mendelik, ternyata Vernon sama saja walaupun dalam keadaan tidak sehat. "Lihat, dia saja bisa bicara seperti itu. Tandanya, kita tidak mengganggu tapi diusir walaupun memiliki niat baik." ungkap Petra.


Vernon memutar bola mata malas menanggapi perkataan Petra. Sedangkan Hendrik menahan tawa.


"Tenang...tenang...mungkin efek dari obat." kata Hendrik dengan santai dan menaruh buah - buahan di nakas Vernon.


Vernon melihat barang bawaan Hendrik. Seolah tahu dengan tatapan Vernon, Hendrik kembali berkata, "Buah ini tidak akan membunuhmu. Kami tidak menyuntikan obat terlarang. Tenang saja, brother." Hendrik melirik Petra yang semakin merutuki sifat Vernon yang menjengkelkan.


"Aku tidak pernah memikirkan hal itu. Dan, terima kasih." kata Vernon singkat.


Hendrik mengangguk. Dia memikirkan hal yang sama seperti Petra. Vernon tetap sama bagaimana pun keadaan nya. Sama - sama menjengkelkan dan berlebihan. Suka sekali menyinggung seseorang secara terbuka.


"Kau sudah baikan? Bagaimana kabar mu?" tanya Hendrik dan duduk di kursi sebelah ranjang Vernon.


"Baik. Tapi semua orang berlebihan. Tidak seharusnya aku berdiam diri di sini. Setidaknya, menjadikan Petra sasaran saat latihan menembak itu lebih baik." kata Vernon dengan bar - bar.


Petra melototkan matanya dan mencebik. B******n ini harus di beri pelajaran agar mulutnya tidak selalu pedas kalau berbicara.


"Kau saja yang bodoh. Cih, menghindar saja tidak bisa bagaimana mau melumpuhkan musuh." ejek Petra.


"Petra.." Hendrik memberi peringatan agar Petra tidak terpancing karena perkataan Vernon.


"Kau yang menyuruhku untuk fokus dengan satu musuh. Mana ku tahu kalau b******n terkutuk itu menyerangku."

__ADS_1


Petra tidak menanggapi perkataan Vernon atau perdebatan mereka tidak akan pernah berakhir. Petra dan Vernon memang selalu beradu argumen jika berada dalam satu ruangan. Mereka tidak pernah bisa akur. Dan hanya akur jika dihadapkan dengan musuh yang sama.


Tapi mereka selalu membantu satu sama lain. Karena mereka sama - sama kuat.


Kemudian mereka bertiga tampak membicarakan sesuatu. Vernon tampak menyeringai setelah mendengar hal yang dia nantikan sejak dulu. Petra juga senang ketika Hendrik menyeritakan kalau musuh mereka telah jatuh ditangan orang yang tepat.


Petra maupun Vernon tidak perlu mengotori tangan mereka untuk menangkap orang itu. Karena musuh mereka masuk kedalam jebakan dengan sendirinya.


♥♥♥


Kantor Clayton D-Company


Mr. Clayton melihat besan nya masuk bersama seorang wanita yang menggendong bayi. Mr. Riwijaya berada dikantor Mr. Clayton bersama Kezia dan Excelo.


Mr. Clayton bangkit dan menyambut mereka. Salah satu bodyguard keluar untuk membuatkan minuman dan membeli makanan ringan.


"Riwijaya..Kezia.." Mr. Clayton memberikan senyum hangat dan menerima uluran tangan Kezia untuk salim dengan mertuanya.


Mr. Clayton mengelus lembut rambut Excelo yang diam di gendongan Kezia.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Mr. Riwijaya setelah mereka duduk di sofa.


"Aku baik. Seperti yang kau lihat."


Mr. Clayton mengangguk untuk menanggapi. Selama beberapa menit mereka hanya diam. Bodyguard masuk dan membawakan minuman juga makanan ringan.


"Apa yang ingin papa sama papa mertua bicarakan? Apa Kezia ada hubungannya dengan masalah perusahaan?" tanya Kezia. Wanita itu menyamankan posisi Excelo dalam pangkuan nya.


Mr. Riwijaya mengulum senyum melihat kepolosan Kezia. Mr. Clayton menggeleng pelan memberi senyuman.


"Tidak. Tidak ada hubungannya dengan perusahaan." jelas Mr. Clayton.


Kezia menyipitkan matanya. "Lalu?"


"Kami ingin membicarakan hubungan mu dengan Vernon." Mr. Riwijaya membawa cangkir teh untuk meminumnya sedikit. Meredakan kering pada tenggorokan nya.


Kezia terdiam dan memilih untuk mengalihkan perhatian. Dia mengambil biskuit kecil dengan tekstur lembut dan memberikan pada Excelo.


Mr. Clayton menghela napas sebelum berkata - kata. "Vernon mendesak ku untuk membawa mu pulang. Dia menyesali perbuatannya. Amanda, dokter yang menangani masalah psikis Vernon menyuruh nya untuk bertemu dengan mu." penjelasan Mr. Clayton membuat Kezia tertegun.

__ADS_1


Wanita itu melihat Mr. Clayton dengan sedikit tidak percaya. Kezia menutup mulutnya rapat - rapat. Tidak ingin menanggapi masalah Vernon ataupun keinginan pria itu. Entahlah, Kezia masih belum bisa untuk menemui Vernon. Dia belum sanggup menerima semua kenyataan yang ada didepan nya.


"Kezia belum bisa." kata Kezia dengan lirih.


Mr. Riwijaya memberi kode Mr. Clayton. Pria paruh baya itu memang menentang pada awalnya. Tapi setelah memikirkan semua dengan matang. Mr. Riwijaya menyerahkan segala keputusan ditangan Kezia.


Mr. Clayton tidak bisa memaksa untuk membawa Kezia kembali. Menantunya tidak akan mudah untuk melupakan semua perbuatan Vernon.


"Baiklah, papa tidak memaksa." Mr. Clayton memaksakan senyum agar Kezia tidak tersinggung dengan permintaan yang baru saja dirinya katakan.


Kezia merasa sedikit bersalah dan menunda untuk mengatakan sesuatu ketika Excelo merengek meminta Mr. Clayton menggendong nya.


Seketika suasana sedikit mencair karena bayi Kezia yang sangat menggemaskan. Kezia menyerahkan Excelo untuk di gendong sang kakek. Bayi itu tampak senang dan mengeluarkan celotehan tanpa henti.


"Grand Pa.. Pa.. Grand.. Pa Pa.."


"Grand Pa disini sayang." Mr. Clayton menyium pipi gembul Excelo dengan gemas. "Pintar sekali cucu ku. Siapa yang mengajari mu?"


Excelo tertawa dan menyentuh kumis Mr. Clayton karena penasaran.


"Excelo sering memanggil ku ketika meminta sesuatu. Mungkin itu juga berlaku untuk mu." kata Mr. Riwijaya.


"Tentu saja. Jangan lupa, aku juga kakeknya." Mr. Clayton menggendong Excelo sedikit susah karena tubuhnya yang semakin menua.


Kezia pun tersenyum melihat interaksi yang terjadi diantara papa mertua nya dan Excelo. Hatinya menghangat. Lalu timbul pemikiran yang dari tadi menghantui otaknya. Sebelum Kezia mengawatirkan sesuatu dia segera mengungkapkan nya. Walaupun ada keraguan namun tetap Kezia lakukan.


"Vernon bisa menemui ku setelah aku melakukan konser. Jika dia mau." ungkap Kezia tiba - tiba.


Mr. Clayton membeku ditempat dan membalikkan badan melihat menantunya dengan tatapan tidak yakin. Sedang Mr. Riwijaya tersedak teh nya yang mulai dingin.


Jika bukan karena usia, mungkin Mr. Clayton berpikir kalau telinganya salah dengar. Namun Kezia meyakinkan keputusan yang ia buat.


"Dia mau! Dia pasti mau! Kalau tidak aku akan menendang nya ke kutub utara!" seru Mr. Clayton dengan bahagia.


Excelo ikut tertawa melihat ekspresi kakek nya yang lucu. Sedang Mr. Riwijaya terbatuk dan berusaha menghabiskan teh untuk meredakan batuk.


Kezia hanya terkekeh kecil dan menetapkan keputusan yang ia buat. Dia harus yakin. Kalau Tuhan saja selalu memaafkan umat - Nya, kenapa dia tidak bisa? Kezia memberikan kesempatan untuk Vernon berubah. Setelah menerima semua penjelasan Mr. Clayton tentang semua yang Vernon alami semenjak tragedi penyerangan anggota Interowen. Kezia harus melihat sisi positif yang dia dengar.


♥♥♥

__ADS_1


__ADS_2