Stephanotis

Stephanotis
24 — Kita Pulang?


__ADS_3

Setelah kejadian dimana Kezia menampar Vernon untuk pertama kali. Vernon mengajak Kezia untuk bicara dan meluruskan masalah mereka. Hati Vernon sedikit lega karena Kezia tidak takut lagi akan kehadirannya. Kezia juga mulai terbiasa meski menjaga jarak dengan Vernon.


"Apa yang ingin kau bicarakan? Bukankah semuanya sudah selesai?" tanya Kezia dengan datar.


Vernon melirik istrinya, menatap Kezia dengan lekat, "Kau membenciku?" Vernon mengabaikan pertanyaan Kezia. Pria itu mengeluarkan sebuah pertanyaan yang selalu mengganggu pikiran dan hatinya.


Kezia memejamkan mata dan menolehkan pandangan untuk menghindari tatapan Vernon yang mampu membuat imannya goyah. "Kau sudah tahu jawabannya." kata Kezia.


Vernon menghela napas dengan berat. Inilah yang Vernon takutkan, Kezia bersikap dingin dan membenci Vernon. "Kau bisa melakukan apapun untuk membalas semua perbuatan ku. Tapi, jangan pergi tanpa kabar. Kau membuat kami khawatir." ungkap Vernon. Tangan pria itu berusaha menggapai tangan Kezia yang tidak jauh dari jangkauannya.


"Kami?" Kezia menaikkan satu alisnya setelah mendengar pernyataan Vernon.


Vernon mengangguk ringan, "Kau...kau membuat kami khawatir. Kau kabur dan kami berusaha untuk mencarimu. Dan penghianat itu diam - diam memutus semua koneksi untuk menyembunyikan keberadaanmu." Vernon mengurungkan niat untuk menyentuh Kezia. Wanita itu berubah galak dan selalu menghindari Vernon.


"Penghianat? Maksudmu Figo — Ah tidak — Rafael?" Kezia menghadap Vernon untuk memancing pria itu menjelaskan semuanya.


Vernon mengatupkan mulutnya rapat - rapat. Vernon sangat menikmati pemandangan di depannya. Istrinya tampak seksi saat marah. Vernon membenci dirinya karena baru menyadari hal ini.


Vernon berdeham ringan. "Kau tahu tentangnya?" tanya Vernon.


"Tentu saja. Rafael selalu membantuku dan Figo selalu melindungiku ketika aku kabur—maksudku—em.." Kezia berubah gelisah. Ia sudah berjanji untuk tidak menyinggung masa lalu. Hal itu bisa memancing emosi Vernon yang sedang menjalani terapi.


Tapi di luar dugaan, Vernon hanya diam menatap Kezia, perasaan bersalah mulai menggerogoti pikiran pria itu. Vernon ingin sekali meninju tembok disampingnya. Dan berteriak bahwa dirinya ingin menembak kepala Figo karena telah lancang mencuri kesempatan untuk berdekatan dengan istrinya.


"Kau terlihat dekat dengannya." ujar Vernon berusaha untuk bersikap santai.


"Dia membantuku."


"Ya, ini semua karena kesalahan ku."


"Vernon—"


"Seandainya aku cepat sadar karena melukai mu terlalu jauh. Waktu itu aku benar - benar kehilangan kendali karena kau selalu mengacaukan pikiranku."


"Hentikan. Kau sudah berusaha untuk berubah."


"Tidak merubah kenyataan yang pernah terjadi diantara kita. Kau, aku, dan anak kita. Kau kabur bersama nya karena aku—"


"VERNON!"


Kezia bangkit dan meneriaki Vernon karena pria itu selalu memotong bicaranya.


"Kez.."


Plak!

__ADS_1


"Untuk perbuatanmu."


Plak!


"Dan itu untuk mulut mu yang selalu menyelaku."


Kezia terlihat ngos - ngos an hendak keluar dari ruangan. Namun tiba - tiba lengannya ditarik Vernon dan membuat Kezia kehilangan keseimbangan. Akhirnya, Kezia menindih Vernon dan sama - sama berada di sofa.


Entah mengapa pikiran Kezia menjadi kosong dan mulai terhipnotis dengan mata tajam milik Vernon.


"Kau mau pergi lagi?" tanya Vernon dengan nada rendah melihat posisi Kezia yang terlalu dekat dengannya.


Kezia diam tidak menjawab.


"Jangan pergi. Beri aku kesempatan, aku akan menebus semua kesalahanku."


Kali ini Kezia luluh dan mendekatkan dirinya tanpa sadar. Ia tidak bisa berbohong mengenai suatu hal yang membuatnya merindukan Vernon. Pria itu sudah seperti magnet untuk Kezia.


Vernon menatap Kezia semakin tajam. Vernon selalu gagal fokus dan melihat bibir Kezia yang menggodanya sedari tadi.


"Mataku disini Vernon." kata Kezia dan mulai berani menyentuh wajah Vernon walaupun tangannya mulai bergetar.


"Kau tahu? Aku selalu menakutkan semua hal mengenai dirimu. Semua luka yang pernah aku terima selalu membekas dan sulit untuk dihilangkan. Aku tidak bisa memberimu kesempatan kedua. Kau memilih untuk bersama wanita lain. Sedangkan aku...aku menyerahkan semuanya untuk suami ku yang sama sekali tidak memperdulikan ku." Kezia menarik kembali tangannya. Air mata mulai jatuh dari pelupuk matanya.


Vernon sedikit melebarkan kedua mata. Sedari tadi Kezia berusaha menghindari Vernon karena memikirkan hal itu?


"Dengarkan aku baik - baik, sweetheart. Sejak kau pergi...aku menyadari suatu hal. Aku hanya terobsesi dengan j****g yang membuat hubungan kita rusak. Kau, satu - satu nya orang yang bisa membuat ku gila dan meyakinkan ku untuk mau berubah menjadi orang yang lebih baik." Vernon mengatakan nya tanpa memberi jeda. Sejenak, Kezia dibuat terkejut karena Vernon mau repot - repot menjawab kegundahan hati Kezia.


"Aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa - apa. Aku sangat menyesal. Benar - benar menyesal mengingat wanita sialan itu selalu memancing ku untuk melukai mu."


Kezia mengerucutkan bibirnya dan menahan tangisan yang ingin turun.


"Apa kau puas? Ada yang masih mengganggumu?" tanya Vernon yang masih setia memainkan anak rambut Kezia yang terlihat menggemaskan.


Kezia menggeleng, menjauhkan tubuhnya dan ingin bangkit karena takut tubuhnya menjadi beban untuk Vernon. Tapi lagi - lagi Vernon menahan Kezia.


"Biarkan seperti ini. Aku masih ingin bersama mu."


"Vernon...ada yang nunggu kita diluar."


"Tidak usah khawatir. Mereka tidak akan masuk."


"Vernon!"


"Baiklah..baiklah..aku akan melepaskan mu tapi berjanjilah terlebih dahulu."

__ADS_1


Kezia mengerutkan dahinya, "Apa?"


"Pulang bersama ku."


"Tapi—"


"Kalau kau tidak mau aku tidak akan melepaskan mu. Aku juga tidak keberatan." Vernon tersenyum penuh makna. Vernon semakin berani walaupun mendapat tatapan maut dari Kezia.


"Baiklah!! Sekarang lepaskan tanganmu!!"


***


Vernon dan Kezia keluar dari ruangan dengan wajah berseri. Di tangan Kezia ada sebuah buket bunga ranunculus pemberian Vernon. Mereka berdua tidak sadar jika ada empat orang yang menatap mereka dengan heran.


Secepat inikah mereka bisa berdamai satu sama lain?


"Kalian — sudah bicara?" tanya Mrs. Risa dan ditanggapi Kezia dengan anggukan kecil. Kezia tampak salah tingkah karena Vernon selalu menatap nya.


"Kalian yakin?" tanya Mrs. Risa lagi.


"Ya mama. Apa ada yang salah?" Vernon menatap Mrs. Risa dengan penuh selidik.


Mrs. Risa menggeleng, "Tidak, hanya saja mama sedikit tidak percaya."


Vernon menutup mulutnya dan melihat ke arah Mr. Clayton. Ayahnya tampak tercengang ditempat. Baru saja Mr. Clayton khawatir akan tempramen Vernon, tapi ternyata anak itu tidak menunjukkan gejala yang berarti.


"Oke, sekarang kita pulang. Sudah tidak ada urusan lagi kan? Ini sudah malam, tidak baik untuk Excelo." kata Mrs. Lidya.


"Kezia pulang bersama ku."


"Apa!?" seru Mrs. Lidya yang dibuat terkejut karena perkataan Vernon.


"Mama..."


"Tidak, tidak bisa. Setidaknya biarkan Kezia istirahat sebentar." Mr. Riwijaya ikut menanggapi. Sedari tadi Mr. Riwijaya hanya diam mengamati perubahan sikap Kezia.


Vernon berubah muram dan melirik Kezia. Wanita itu hanya mengangkat bahunya dan memberi isyarat supaya Vernon mengalah.


"Baiklah. Tapi saya akan menjemput Kezia besok untuk pulang ke rumah saya." kata Vernon dengan tidak rela. Padahal, susah sekali meyakinkan Kezia untuk kembali ke rumahnya.


Mr. Riwijaya menimbang permintaan Vernon. Kemudian menyetujui nya. Mr. Riwijaya tidak ingin membuat hubungan anaknya dengan Vernon semakin rumit.


Setelah itu mereka pulang dengan beban masalah yang mulai pudar. Vernon sangat bahagia sampai tidak tahu cara mengungkapkan kebahagiaannya. Kezia, wanita yang selalu ia sia - sia kan mau kembali untuk memulai lembaran baru bersama Vernon. Wanita itu sangat baik dan memikirkan keadaan orang lain. Kezia juga berusaha menghilangkan masa lalu yang mengganggu pikirannya.


Vernon berhak mendapat kesempatan kedua. Segala keburukan itu timbul bukan karena keinginan Vernon. Setelah sadar dengan semua yang telah ia lakukan, Vernon mau merubah sikapnya supaya Kezia mau kembali untuk membantu Vernon keluar dari kegelapan.

__ADS_1


Pernikahan tidak melulu berbicara tentang kebahagiaan. Saling memaafkan dan mengakui kesalahan bisa membuat ikatan suci itu semakin kuat. Perubahan bisa menjadi pengalaman seseorang agar kesalahan di masa lalu tidak terulang di masa yang akan datang.


***


__ADS_2