
Figo berdiam diri di kamarnya. Mungkin saat ini Petra dan anggota Black Center yang lain sedang mencari batang hidung Figo. Tetapi tidak akan mudah untuk mengetahui keberadaannya. Karena Petra tidak pernah datang ke Max Nizone dan jarang bertemu Tn. Max karena mereka tidak terlalu dekat.
Petra juga tidak tahu kalau Figo dekat dengan Tn. Max sebelum ia di bawa ke Black Center oleh Seth. Kejadian itu sudah berlalu bahkan hampir terlupakan. Karena bagaimanapun juga Figo tidak bisa hidup bersama Black Center. Prinsipnya sangat bertentangan dengan Petra. Dan Figo yakin, Petra tidak akan mudah melupakan masa lalu seperti kerjadian dimana seorang wanita harus menjadi korban karena keegoisan Petra.
Karena hal tersebut juga berhubungan dengan kematian orang tua Figo. Petra dan yang lainnya tidak akan percaya jika Figo mengatakan yang sebenarnya. Maka dari itu Figo memilih untuk pergi dan membiarkan Petra menganggap dirinya sebagai musuh.
♥♥♥
"Apa ada peningkatan?" Tn. Max menatap lawan bicaranya dengan santai. Menyilangkan kaki dan menunggu jawaban dari Figo.
Figo tampak berpikir dan enggan menjawab, "Ya...sedikit." jawab Figo kemudian duduk di bangku dekat dengan meja Tn. Max.
"Baguslah. Anak itu memang sedikit keras kepala."
"Ck, sifatnya sudah mirip dengan pemberontak."
Tn. Max tertawa renyah mendengar pernyataan Figo. Ian memang belum bisa menerima Figo sebagai pembimbingnya. Bahkan sampai detik ini.
"Lalu, bagaimana dengan rencanamu? Aku menunggu kapan kau akan bertindak."
Figo melirik Tn. Max sejenak kemudian menatap lurus tembok di depannya, tersenyum miring dan mendengus pendek, "Sebentar lagi. Sepertinya dia tidak sabar untuk bertemu denganku."
Tn. Max menaikkan satu alisnya, "Aku tidak membahas mafia kecil itu."
"Lalu?"
"Gilbert."
Figo menegang di tempat. Tn. Max baru saja memancing emosi yang telah lama Figo tahan. Gilbert, pembunuh bayaran yang membantai keluarganya bahkan membuat putrinya sendiri terbunuh di tangan Petra.
"Dia akan menikmati hukumannya setelah semuanya beres. Pria tua itu tidak pernah menyerah untuk kabur dari semua orang."
Tn. Max memandang Figo penuh tanda tanya. Ada sesuatu yang belum ia ketahui. Mungkin karena hal pribadi tidak semuanya Figo ceritakan pada orang lain. Padahal Tn. Max sudah seperti ayah untuk Figo.
"Pembunuh bayaran sepertinya akan menjadi buronan kalau identitasnya sudah terbongkar." ungkap Tn. Max.
Figo mengangguk mengerti. Tidak hanya pembunuh bayaran. Penghianat juga menjadi buronan bahkan lebih mengerikan karena menghadapi temannya sendiri. Seperti yang dihadapi Figo saat ini.
"Pembuat masalah sepertinya pantas mati dengan perlahan. Aku tidak yakin dia akan mati sebelum aku membunuhnya." Figo menunduk mengambil ponselnya yang berdering.
Tn. Max hanya diam mengiyakan perkataan Figo. Lagi pula yang berhak membunuh Gilbert hanya Figo atau...Petra. Jadi yang bisa Tn. Max lakukan hanya membantu Figo dan memberinya dukungan setelah jebakan dan tuduhan Figo terima dari Gilbert dan kelompoknya sendiri.
Figo keluar dari ruangan Tn. Max. Tampak langit sudah berubah menjadi gelap dan bulan terlihat samar di atas sana.
"Kezia?" Figo mebelalakan matanya melihat nama yang tertera di layar handphonenya. Setelah Figo di bawa pergi oleh anak buah Seth dia tidak pernah menerima telepon dari wanita itu.
♥♥♥
Kezia POV
__ADS_1
Aku melihat Vernon yang masih setia memainkan laptop dan sesekali meminum kopi buatanku. Dengan perlahan aku pergi ke ruang tamu tanpa menimbulkan suara. Sebenarnya tidak ada hal jahat yang ingin aku lakukan. Tetapi aku hanya ingin menghubungi seseorang yang sudah lama tidak memberiku kabar. Leah dan Rafael juga enggan memberiku kabar tentangnya.
Aku membuka handphone dan segera menelepon Figo. Dia selalu menolongku saat aku masih berada di kota W. Dan sekarang aku tidak bisa kembali ke sana untuk sekadar berbincang atau menanyai kabarnya.
"Ha—lo?" Figo mengangkat telepon dariku sedikit lambat.
"Kezia?" Figo berkata seolah-olah dia tidak percaya kalau aku meneleponnya. Atau dia mengira orang lain yang menelponnya?
Aku mengedarkan pandanganku untuk memastikan Vernon tidak mengetahui apa yang aku lakukan. Walaupun kami sudah baikan, Vernon masih kesal karena aku menemui Surya. Dan sekarang Vernon tidak akan setuju kalau aku menelpon seorang teman kalau dia tidak mengenal orang tersebut.
"Hai, bagaimana kabarmu, Fik?" tanyaku dengan santai. Figo dan aku sudah seperti sahabat karib. Dia selalu mendukungku saat aku berada di masa yang sulit.
"Ini beneran kamu, Kez?" Figo masih saja tidak percaya kalau meneleponnya. Mungkin karena kami sudah lama tidak bertemu? Ya, mungkin saja.
"Kamu kira siapa sih, Fik? Hantu? Alien?" aku tertawa kecil kemudian menunggu Figo yang diam saja di seberang sana.
"Tidak. Aku masih belum percaya. Gimana kabarmu? Excelo baik-baik aja?"
"Ya, kami baik-baik aja." jawabku, "Kau sudah tahu kan kalau aku pulang ke ibu kota? Maaf aku tidak memberitahumu waktu itu. Aku benar-benar harus pulang saat itu."
Ya mau bagaimana lagi? Ayah dan papa mertua menjemputku dan mendesakku untuk pulang karena katanya di sana sangat bahaya. Dan kejadian penembakan waktu itu membuatku percaya sampai saat ini aku masih berada di ibu kota dan hampir melupakan kejadian itu.
"Ya, aku tahu. Jadi sekarang kau tinggal lagi bersama suamimu?" Figo menanyakan hal sama seperti yang Leah tanyakan saat aku memilih untuk tinggal di rumah Vernon. Aku tidak mungkin kabur lagi setelah Vernon mau berubah demi aku. Hubungan kami juga semakin hari semakin baik.
"Uhm...kau tahu? Dia sudah berubah, Fik. Jadi aku memberinya kesempatan. Semua orang juga mendukungku. Aku tidak bisa bercerai dengannya karena aku tidak menginginkan hal itu." jawabku dengan jujur. Perceraian memang pernah aku pikirkan saat Vernon masih kasar dan memperlakukanku dengan tidak layak. Tapi setelah semuanya, dia bisa menahan diri dan tidak memaksaku untuk menuruti semua perintahnya.
"Baguslah. Semoga kalian tidak mengalami hal buruk lagi." Figo berkata dengan pelan hampir saja aku tidak bisa mendengarnya.
Sepertinya Figo mendengarku tapi enggan untuk menjawab, aku jadi tidak enak karenanya, "Aku tidak akan kembali lagi ke rumahku. Ada suatu hal yang tidak bisa aku bicarakan denganmu."
"Baiklah."
"Apa...Vernon masih berbuat jahat padamu?"
"Tidak, aku sudah bilang kalau dia berubah."
"Oke."
"Sepertinya kau tidak percaya."
"Bukan begitu. Sudahlah, begini saja, kalau kau butuh bantuanku segera telepon aku. Sebenarnya aku tidak tinggal jauh dengan ibu kota."
"Begitu? Aku kira kau pergi ke luar negeri."
Figo tertawa mendengar perkataanku, "Tidak. Aku hanya ingin beristirahat sebentar. Aku juga tidak tertarik untuk tinggal di luar negeri."
"Haha...oke, kalau begitu aku tutup dulu ya. Aku akan mengabarimu lain kali."
"Oke, jaga dirimu baik-baik, Kez. Ingat kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku."
__ADS_1
"Uhm...bye."
"Bye."
Aku mematikan sambungan telepon dan mendongakkan kepala. Sedikit terkejut ketika melihat Vernon yang berdiri dan memandangku dengan matanya yang tajam. Apa dia berada di sana sejak tadi? Oh astaga, aku tidak menyadari kehadirannya.
♥♥♥
Author POV
Vernon merenggangkan kedua otot lengannya kemudian melepas kaca mata kerja yang bertengger di hidungnya. Pekerjaannya baru saja selesai dan sebagian ia kerjakan saat berada di kantor. Karena merasa bosan, Vernon pergi keluar untuk mengembalikan gelas di dapur.
Saat Vernon berada di ruang tamu ia melihat istrinya menelepon seseorang malam-malam begini. Dan sepertinya Kezia belum menyadari keberadaan Vernon. Vernon mengembalikan gelas lalu kembali lagi ke ruang tamu menunggu Kezia sampai wanita itu selesai menelepon seseorang.
Vernon penasaran dengan orang yang Kezia telepon. Jarak membuatnya tidak bisa mendengar apa yang Kezia katakan. Yang jelas Kezia terlihat senang dan sesekali tertawa.
Kezia mematikan telepon dan mendongakkan kepala melihat Vernon dengan terkejut. Sedangkan Vernon hanya memandang Kezia dengan datar dan penuh tanda tanya.
Vernon mendekati istrinya, "Siapa yang menelepon?" tanya Vernon.
"Teman." jawab Kezia.
"Oh. Apa yang kau bicarakan?"
"Tidak ada, kami hanya bertukar kabar. Itu saja."
Vernon memandang Kezia dengan lekat. Walaupun dia penasaran, Vernon tidak bisa bertanya lebih lagi dan memberi Kezia privasi.
"Yasudah. Tidak ada lagi yang ingin kau lakukan?" Kezia menggeleng pelan.
"Kita pergi ke atas sekarang." ajak Vernon dan mengelus pelan puncak rambut Kezia.
Kezia mengangguk kemudian bangkit. Dia meminta Vernon untuk menunggunya dan mencuci gelas dengan cepat. Kemudian mereka segera pergi ke kamar menyusul Excelo yang sudah terlelap sejak tadi.
♥♥♥
spin off Petra bertebaran di cerita ini, padahal masih lama nulis kisah Petra 😆
gatau juga mau dilanjutin apa ngga 😂
Figo
Ian
Cain
__ADS_1