
Dua hari berlalu semenjak kejadian penembakan terjadi. Vernon sudah siuman. Sedangkan Mr. Clayton keluar untuk menelpon seseorang. Dokter mengatakan, setelah operasi pengangkatan peluru, Vernon masih membutuhkan waktu untuk pemulihan.
Ditemani Petra yang sedang duduk menyandarkan punggung di dinding, Vernon tampak melamun dan kaku.
Keadaan Vernon masih belum stabil. Dan Petra tak habis pikir kenapa Vernon sangat keras kepala dan kekanak - kanakan ketika sakit. Pria itu terus merengek dan mengancam supaya cepat keluar dari rumah sakit yang berada di perbatasan kota W.
Tapi Mr. Clayton menolak dengan tegas dan mengancam balik supaya Vernon berhenti merengek dan istirahat dengan cukup.
Petra tertawa geli mengingat Vernon tidak bisa membantah perintah Mr. Clayton.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Vernon memandang Petra dengan sinis.
Petra memutar bola matanya jengah, "Tentu saja kau. Siapa lagi?" jawab Petra dan berpura - pura memejamkan matanya. Berusaha menyamankan posisinya untuk tidur.
Vernon mendengus tidak terima. "Dasar sinting." kata Vernon pelan, kepalanya menoleh untuk melihat pemandangan luar dari jendela kaca.
"Aku bisa mendengarmu, dude." ujar Petra tidak sedikitpun terpancing memilih untuk istirahat sejenak.
Petra tidak sudi membujuk Vernon untuk istirahat. Lagipula pria itu sangat keras kepala dan tidak tahu diri. Sudah tahu tubuhnya lemah, tetap saja ngotot minta pulang.
"Apa peduliku."
Vernon tidak lagi bicara dan memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak siuman. Vernon tidak bisa berdiam diri di rumah sakit seperti anak kecil. Tapi dia tidak bisa keluar dari bangunan ini tanpa persetujuan ayahnya.
Mata pria itu menajam dan mulai tenggelam dalam pikirannya. Sedikit demi sedikit ingatan tentang masa lalu melintas di kepalanya. Vernon kembali dilanda rasa yang asing.
Rasa yang membuat dadanya semakin sulit untuk bernapas. Rasa yang berulang kali ia rasakan ketika mengingat betapa kejam dan bodohnya dia menghancurkan hidup seorang wanita yang selama ini memandang Vernon sebagai pria yang ia cintai.
Flashback on
Vernon melangkah dengan cepat menuruni tangga. Telinga Vernon mendengar teriakan Sarah dari dalam kamar, membuat Vernon segera turun untuk melihat apa yang terjadi dibawah.
Pria itu mendekati kekasihnya dan mengamati Sarah dengan seksama. "Apa yang terjadi?" tanya Vernon.
__ADS_1
"Dia — dia merusak kue buatanku! Padahal aku berusaha membuatkan kue ini untuk mu." Sarah menunjuk Kezia dan mulai menangis.
Sedangkan Kezia hanya mematung ditempat. Kezia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Sarah lah yang merusak kue buatan Kezia, karena wanita itu tidak ingin Kezia memberikan kue nya untuk Vernon.
Vernon beralih menatap Kezia dengan mata yang tajam. Rahangnya mengeras dan berjalan mendekati Kezia. Sedangkan Kezia tersentak dan mundur satu langkah dari tempatnya. Kezia jelas takut melihat perubahan sikap Vernon yang berubah menakutkan.
"A — Apa yang mau kau—"
Plak!
Vernon menampar Kezia dan membuat wanita itu memejamkan mata. Tangan kanan Kezia memegang pipi nya yang memanas karena tamparan Vernon.
Tapi pria didepan Kezia tidak perduli. Seolah dibutakan amarah, Vernon menarik tangan Kezia dengan kasar dan membawa Kezia ke kamar wanita itu.
Sebelumnya, Vernon menyuruh Sarah untuk pergi ke atas. Tapi Sarah tidak mau dan pergi dari rumah Vernon tak lupa mengambil tas nya yang ada di kursi ruang tamu.
Vernon semakin marah. Karena ulah Kezia, Sarah meninggalkan rumahnya. Vernon benar - benar diliputi emosi.
Kezia mulai menitikan air mata. Kaki nya mulai lemas dan menggigit bibirnya keras - keras. Kezia melihat Vernon seperti monster yang mengerikan. Vernon tidak pernah mau mendengar kebenaran dari mulutnya.
"Kau benar - benar menantangku hah!?" seru Vernon. Vernon melepas dasinya dan melemparnya sembarang tempat.
"Tidak, Vernon, kau salah paham. Aku tidak merusak kue. Sarah — dia — argh." Kezia merintih ketika Vernon menggenggam tangannya dengan kencang. Menimbulkan rasa sakit di pergelangan tangannya.
Kezia memohon untuk dilepaskan tapi pria itu hanya memandang Kezia dengan tajam. Aura dingin terpancar jelas. Kezia tidak bisa terlepas dari genggaman Vernon yang menyakiti dirinya.
"Aku tidak menyuruhmu bicara. Seharusnya kau tahu diri posisimu di rumah ini." Vernon menekan setiap katanya.
Kezia tidak lagi berontak dan hanya menangis. Entah sudah berapa kali dia menghabiskan air mata karena pria yang berstatus sebagai suami nya.
Vernon melepaskan genggaman tangan nya dengan kasar. Karena tempramen nya yang sangat labil Vernon tidak bisa merasakan apapun ketika melihat air mata Kezia.
Pria itu segera mendorong Kezia ke ranjang. Kemudian menindih Kezia dan menatap Kezia dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Setelahnya Vernon tidak berhenti menyiksa Kezia dan membuat wanita itu menangis semalaman. Banyak bekas kebiru - biruan di sekitar leher dan punggung Kezia.
Wanita itu hanya pasrah dan berharap suatu saat Vernon berhenti memberi siksaan yang menyakitkan. Vernon benar - benar tidak punya perasaan. Berkali - kali membuat Kezia meringkuk ditempat tidur karena ketakutan. Dan meninggalkan wanita itu setelah selesai memberi pelajaran pada Kezia.
Kezia merendam tangisan nya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Pakaiannya sudah rusak karena ulah Vernon. Kezia tidak tahu dia bisa keluar kamar besok atau tetap dikamar ini karena lebam ditubuhnya.
Flashback off
Vernon memegang dadanya yang mulai sesak. Ia tidak bisa mencegah setetes air mata yang jatuh dari matanya. Untung saja Petra tidak menyadari keadaan nya saat ini. Vernon tidak tahu harus bersikap bagaimana bila semua orang tahu kelakuan nya yang tidak bermoral terhadap Kezia.
Vernon memejamkan mata untuk menetralkan semua perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.
Tidak ada yang bisa Vernon harapkan ketika menemui Kezia nanti. Wanita itu pasti sangat membenci Vernon. Kezia pasti tidak memaafkan perilaku Vernon yang selalu melukai hati dan fisiknya.
Kezia pasti meminta untuk bercerai dengan Vernon. Hal yang dulu Vernon inginkan sebelum merasakan perasaan menyedihkan seperti saat ini.
Entah mengapa memikirkan Kezia yang menyodorkan surat perceraian padanya membuat tempramen Vernon bangkit. Vernon meremas kuat selimut yang menutupi setengah tubuhnya.
Ketika tidak tahan dengan asumsinya sendiri, Vernon membanting gelas yang berisi air ke dinding.
Petra yang hampir masuk ke alam mimpi langsung terlonjak kaget. Suara pecahan kaca membuat Petra membuka mata.
"Apa yang kau—?" pertanyaan Petra terputus ketika melihat Vernon yang tampak mengerikan. Dia tidak tahu harus bagaimana. Baru kali ini dia melihat Vernon dengan penampilan yang kacau dan wajahnya memerah.
Mr. Clayton membuka pintu dengan segera. Lalu memandang Vernon dan Petra secara bergantian. Pria paruh baya yang menjadi ayah kandung Vernon tampak gelisah melihat perubahan sikap anaknya.
Mr. Clayton tahu betul apa yang Vernon rasakan saat ini. Anaknya pasti sangat tertekan dan berusaha melawan tempramen nya yang ekstrim.
Dengan pelan Mr. Clayton membimbing Vernon untuk meredakan amarahnya. Membuat Vernon sedikit tenang dan akhirnya tertidur.
Petra hanya diam ditempat tak mengerti apa yang sedang terjadi. Petra tidak mau ikut campur dan memilih memanggil dokter dan tugas kebersihan untuk membersihkan pecahan gelas karena ulah Vernon.
♥♥♥
__ADS_1