
Dalam perjalanan tidak ada yang membuka pembicaraan di antara Vernon maupun Kezia. Vernon masih tidak percaya kalau Kezia berada di mobilnya. Dan Kezia diam saja karena memikirkan tentang masa depan, bagaimana mereka menjalani rumah tangga setelah semua ini.
Sampailah mereka dirumah Vernon. Kezia bergegas turun dari mobil setelah pintu mobil dibukakan oleh suaminya. Vernon begitu canggung dan tersenyum tipis melihat Excelo yang tertidur lelap.
"Pak Karsam, tolong bawakan koper istri saya ke kamar atas." perintah Vernon setelah satpam rumahnya datang.
Pak Karsam melakukan perintah Vernon setelah menyapa Kezia.
"Biar ku gendong," Vernon mengulurkan tangan kearah Kezia.
"Kau — Kau yakin?" tanya Kezia.
Vernon hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Pria itu menerima Excelo saat Kezia memindahkan bayi gembul itu ke tangannya. Vernon tampak senang dan mendekatkan Excelo ke wajahnya untuk melihat anaknya lebih dekat.
Kezia sedikit was - was dan maju selangkah mendekati Vernon, "Hati - hati."
Vernon melihat Kezia, tidak ada yang ia tutup - tutupi lagi. Dia sangat bahagia melihat dua manusia yang pernah hilang dalam hidupnya kembali. Tidak ada yang bisa membuatnya bahagia lebih dari hal ini.
"Terima kasih." ucap Vernon dengan tulus yang membuat Kezia mematung di tempat. Pria itu benar - benar berubah. Sampai Kezia tidak bisa berkomentar apa - apa.
***
Kezia menghampiri Bi Tini dan memeluk wanita tua itu layaknya seorang anak. Sedangkan Vernon membawa Excelo ke kamar untuk menidurkan bayinya.
"Ya ampun, Nyonya. Anda membuat saya khawatir." kata Bi Tini setelah Kezia mengendurkan pelukannya.
Kezia tersenyum tulus, "Bibi baik - baik aja? Bagaimana kabar keluarga di desa, Bi? Semua sehat kan?" tanya Kezia untuk mengalihkan perhatian. Kezia tidak ingin Bi Tini membahas tentang masa lalunya.
"Baik, Nyonya. Semua sehat karna kebaikan Gusti." jawab Bi Tini.
Kezia pun ikut senang dan mengucapkan syukur. Wanita itu bercengkrama dengan Bi Tini tentang banyak hal. Kemudian Bi Tini pamit untuk membersihkan halaman rumah dan mengunci gudang bawah tanah.
__ADS_1
Mau tidak mau Kezia naik ke atas menyusul Vernon. Dengan langkah pelan, wanita itu menaiki tangga. Dia mulai mengingat kenangan masa lalunya yang menyakitkan. Tentang perlakuan Vernon dan segala tuduhan wanita berbisa yang sudah pergi dari kehidupan rumah tangganya. Padahal, Kezia berusaha untuk melupakan bayang - bayang yang membekas secara permanen di otaknya.
***
Vernon bangkit dari kasur dan membalikkan badan ketika mendengar suara pintu kamar di buka. Matanya melihat Kezia yang masuk dengan raut wajah lesu.
"Baru datang?" tanya Vernon.
Kezia melirik Vernon sebentar kemudian menutup pintu dengan perlahan. "Ya. Maaf, aku berbincang banyak hal dengan, Bi Tini." Kezia menghadap kembali ke Vernon. Jantungnya berdegup kencang. Baru kali ini dia leluasa menginjakkan kaki di kamar Vernon.
Dulu saja selalu dilarang bahkan di usir waktu Kezia membuatkan kopi untuk Vernon. Tapi sekarang, pria itu malah memindahkan semua pakaian dan kebutuhan Kezia dikamar bernuansa putih abu - abu ini. Kezia tidak protes dan menerima saja. Toh mereka juga suami istri di tambah ingin membangun kembali rumah tangga yang hampir berakhir.
"Aku—"/"Apa kau—?"
"Bicaralah." Vernon kembali duduk di tepi ranjang dan mengamati Kezia yang berusaha melarikan diri dari tatapan mata Vernon.
"Aku...kenapa aku di sini? Bukankah kamar ku berada di bawah?" pertanyaan itu selalu memenuhi pikiran Kezia sejak Vernon menyuruh satpam membawa kopernya ke lantai atas.
Vernon menaikkan satu alisnya dan gemas sendiri melihat tingkah Kezia. Istrinya masih lugu dan manis seperti dulu, sebelum wanita itu memutuskan untuk kabur dari rumah Vernon.
Kezia mengedipkan mata berkali - kali, "Benarkah?" Vernon mengangguk mantap.
"Kau tidak bohong kan?" tanya Kezia sekali lagi.
"Tidak. Kenapa kau tidak percaya?" Vernon memiringkan kepalanya sedikit kemudian menyuruh Kezia untuk duduk di sampingnya.
"Terima kasih!" seru Kezia dengan bahagia walaupun tidak lama karena Vernon memberi kode kalau Excelo sedikit terganggu karena seruan Kezia.
Kezia duduk di samping Vernon, selalu memasang senyum manisnya. Wanita itu tidak sadar kalau sedari tadi Vernon selalu mengamatinya.
Vernon menggenggam tangan Kezia dengan lembut kemudian merapatkan diri untuk lebih dekat dengan istrinya. "Kez," Vernon memanggil Kezia supaya wanita itu menatap matanya.
__ADS_1
Tadinya Kezia hampir menolak sentuhan Vernon karena pikirannya tidak bisa tenang jika berada di rumah ini. Tapi suaminya menggenggam tangan Kezia seolah - olah Kezia akan pergi dari lagi dari rumah ini.
Kezia menatap Vernon dengan canggung, tatapan Vernon tidak setajam biasanya, ada pancaran penyesalan yang bisa Kezia lihat dari mata gelap milik Vernon.
"Kau takut padaku?" tanya Vernon.
Kezia hanya diam lalu menundukkan kepala, tak sanggup melihat kedua mata Vernon lebih lama lagi.
Vernon mengangkat telapak tangannya yang lain dan menyentuh pipi Kezia dengan hati - hati. Pria itu mendiamkannya sejenak lalu turun dan mengangkat dagu Kezia secara perlahan. Kezia kembali menatap Vernon.
"Maafkan aku, Kez. Aku tidak layak menjadi suami mu. Aku selalu membuat mu menanggung semua beban sendirian." ungkap Vernon. Ia benar - benar merasa buruk di mata Kezia.
Setelah kembali, Kezia sering diingatkan semua hal yang pernah Vernon lakukan padanya. Hal itu sering membuat Kezia berpikiran untuk menjauh dan menghindar sementara waktu. Tapi Kezia sadar, jika terus menghindar maka semuanya tidak akan pernah selesai. Maka dari itu dia memilih untuk kembali tinggal bersama Vernon, suaminya. Dan melupakan masa lalu yang buruk.
Kezia menggigit bibirnya memilih untuk menutup mulut. Kalau ditanya bagaimana perasaan Kezia saat ini, Kezia akan menjawab takut. Ia takut kalau Vernon melukainya lagi. Bahkan jika terapi membuat pria itu sembuh akan lebih baik jika Kezia membuktikannya secara langsung.
"Aku tidak tahu perbuatanku bisa di maafkan atau tidak. Tapi aku selalu berusaha untuk menjadi diri ku sendiri dan menghilangkan semua keburukan dalam diriku." Vernon menarik tangannya dan menggenggam erat telapak tangan Kezia dengan kedua tangannya
"Kau, hanya kau yang bisa membantuku keluar dari kebencianku di masa lalu, Kez. Aku selalu berharap suatu saat nanti kau mau memaafkan ku sepenuhnya. Aku — entahlah — baru kali ini aku benar - benar kacau karena seseorang yang hampir pergi dari hidupku."
Vernon menunjukkan senyum yang tulus dengan berbagai macam perasaan bercampur menjadi satu. Segala keburukan, kebencian, penyesalan, dan masa depan menjadi satu membentuk hidup seseorang menjadi lebih baik. Seperti Vernon yang baru saja kehilangan berlian berharga dan berhasil menemukannya meski tidak membutuhkan terlalu banyak pengorbanan.
Vernon sungguh beruntung bisa memiliki istri sebaik Kezia. Wanita yang tangguh dengan kemurnian hatinya. Tak pernah sekalipun Vernon pikirkan, bagaimana bisa Tuhan memberikan Kezia untuk dirinya. Seorang pria yang selalu dilingkupi amarah dan kegelapan.
Tapi memang benar, Tuhan itu pengasih dan penyayang. Tidak pernah sekalipun meninggalkan umat-Nya sendirian. Cobaan yang selama ini datang tidak akan pernah melampaui batas kemampuan.
"Aku akan membantu mu. Kita akan berjuang bersama." kata Kezia dan membalas genggaman Vernon. Kezia juga ingin menjadi istri yang baik untuk suaminya. Masa lalu biarlah menghilang dengan sendirinya. Semakin dia terbiasa untuk belajar dengan hari ini, maka hari esok dia akan tahu cara menghadapi masalah yang semakin berat.
Vernon menjadi pria paling bahagia sekarang ini. Dengan spontan, Vernon menarik Kezia ke dalam pelukannya. Dia mendekap Kezia dengan erat dan menyalurkan perasaannya pada Kezia. Vernon mulai belajar mencintai istrinya. Tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk hari depan yang penuh harapan.
"Terima kasih, Kez. Terima kasih."
__ADS_1
Kezia mengangguk di dalam pelukan Vernon. Sejenak ia melupakan segala beban pikiran dan merasakan momen ini bersama dengan Vernon. Untuk rumah tangganya yang akan dimulai kembali dari awal, Kezia harus berjalan berdua bersama Vernon. Kezia tidak akan berada di depan ataupun di belakang. Dia harus setia berada di samping Vernon, melengkapi segala kekurangan yang ada di antara mereka berdua. Dan menjalani kehidupan bahagia bersama keluarga kecilnya.
***