Stephanotis

Stephanotis
1 — Langkah Awal


__ADS_3

Kezia telah berhasil kabur dari rumahnya yang baru yaitu rumah Vernon. Lelaki tampan yang memiliki sifat b******n. Kezia tak tahu lagi bagaimana kehidupan wanita itu ke depan bila tetap bersama Vernon.


Dua tahun berlalu dan Kezia hidup dengan baik. Walaupun tanpa pendamping dan keluarga. Kezia yakin keluarganya sedang mencari Kezia dimanapun wanita itu berada. Tapi tidak dengan Vernon. Lelaki itu pasti sangat senang mengetahui dirinya kabur.


Tak ada lagi penghalang bagi Vernon untuk berbuat maksiat bersama Sarah, kekasihnya.


Kezia sedang duduk di depan rumah dan menggendong bayi kecil dalam dekapan hangat. Nama bayi laki-laki yang menjadi kekuatan hidup Kezia adalah Excelo. Tampan dan wajahnya sangat mirip dengan ayah bayi itu.


"Maafkan bunda, karena bunda kamu hidup tanpa seorang ayah. Bunda janji akan melindungimu dari orang jahat yang selama ini tak menginginkanmu, Nak." Kezia berkata lirih dan mengelus lembut rambut halus Excelo.


Umur bayi dalam dekapan Kezia sudah menginjak satu tahun lebih beberapa bulan. Untung saja ketika hamil Excelo tidak begitu menyusahkan Kezia. Meski beberapa kali ngidam, Kezia masih bisa mengatasinya.


Tabungan Kezia masih banyak untuk kebutuhan satu tahun ke depan. Tapi Kezia tidak yakin bagaimana setelahnya. Kezia harus mencari pekerjaan setelah itu.


"Kezia." sapa seorang wanita tepat di depan gerbang rumah Kezia yang kecil.


Wanita itu bernama Leah. Sahabat sekaligus orang yang membantu Kezia melarikan diri dari siksaan Vernon.


"Hai." balas Kezia lalu bangkit dari posisinya. Kezia masih menimang - nimang pelan Excelo supaya tidak terbangun.


"Little boy masih tidur ya?" tanya Leah dengan senyum lalu mendekat ke arah sahabatnya. Melihat kedamaian di wajah bayi kecil yang kini tertidur dalam dekapan ibunya.


"Manis sekali."

__ADS_1


Kezia mengangguk kecil.


"Oh ya, Leah...bagaimana dengan Reon? Anakmu sudah sembuh?" tanya Kezia lalu menengadah untuk melihat Leah.


"Sudah. Kemarin aku sama Rafael membawanya untuk periksa. Sekarang sudah membaik." jawab Leah.


"Syukurlah."


"Ehm....Kezia. Bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka masih melacak keberadaanmu? Kau masih mengawatirkan sesuatu?"


Kezia hanya menunduk mendengar pertanyaan Leah. Menggeleng pelan lalu tersenyum pahit. "Aku tidak tahu. Aku berharap mereka tidak menemukanku. Aku tidak ingin kembali. Kau tahu bagaimana Vernon — "


"Sudah - sudah jangan dilanjutkan. Yang terpenting kau dan Excelo baik - baik saja. Aku hanya ingin bilang padamu jika ada kesulitan kau bisa meminta bantuan padaku atau Rafael." Leah mengelus pelan pundak Kezia lalu tersenyum hangat.


Vernon banyak melarang Kezia dalam bertindak. Lelaki itu tak ingin orang lain mengetahui perbuatan bejat yang dia lakukan pada Kezia.


Leah sangat terkejut saat Kezia menelpon dirinya. Saat datang Kezia sangat hancur dan berderai air mata. Tubuhnya penuh lebam dan punggungnya membiru. Badannya pun semakin kurus. Kezia juga sangat pendiam.


Hingga Leah dan Rafael membawa Kezia ke rumah sakit tanpa menghubungi keluarga ataupun orang terdekat Kezia.


"Aku banyak merepotkanmu Leah. Maafkan aku karena hal itu. Dan terima kasih banyak sudah mau membantuku." kata Kezia dengan tulus. Mata Kezia menatap Leah dengan lembut. Kezia beruntung mempunyai sahabat seperti Leah.


"Jangan berkata seperti itu. Kau sahabatku begitupun sebaliknya. Seandainya kau tidak segera mengatakan yang sebenarnya mungkin aku dan Rafael akan melaporkan suamimu ke polisi." Leah pun tersenyum kecil.

__ADS_1


"Terima kasih." hanya kata terima kasih yang bisa Kezia katakan. Selebihnya Kezia berharap biar Tuhan yang membalas perbuatan baik Leah padanya.


"Ngomong - ngomong aku ingin mengajakmu untuk berbelanja besok. Kalau kau mau kau bisa menitipkan Excelo ke Bi Miah." kata Leah.


Bi Miah adalah pembantu dirumah Leah. Meski sudah dianggap seperti keluarga sendiri.


"Tentu. Aku akan ikut."


"Oke!! Rafael memberi uang belanja yang lebih. Aku akan mentraktirmu besok!"


"Tapi Leah sebaiknya kau tabung saja tidak perlu memikirkanku." Kezia berkata dengan pelan supaya Leah mengerti perkataannya.


Namun Leah tetap bersikukuh pada pendiriannya.


"Tidak.. Tidak... Rafael masih punya uang yang banyak. Seharusnya kau yang tidak usah memikirkanku. Kita pikirkan saja tentang kebahagiaanmu." Leah pun tertawa pelan.


Kezia yang melihatnya ikut tersenyum lebar. Mengeratkan pelukannya pada Excelo yang tertidur dengan pulas.


"Terima kasih, Leah. Terima kasih banyak."


Akhirnya Leah memberikan bingkisan yang sedari tadi ia bawa. Berisi perlengkapan bayi yang katanya dari teman - teman Rafael. Dan ada baju bekas Reon ketika masih bayi yang masih baik. Dan beberapa juga masih baru.


Kezia selalu bersyukur dan tak henti - hentinya berterima kasih. Wanita itu membawa kedalam bingkisan dan menidurkan anaknya di kasur. Setelah itu mandi dan menyiapkan makan untuk dirinya.

__ADS_1


♥♥♥


__ADS_2