
"Sofa atau meja?" tanya Vernon dengan terburu-buru setelah berhasil melepas pakaian Kezia.
Kezia menggeleng pelan mencoba menetralkan nafasnya. Berpikir tidak jernih dan membalas dengan cepat, "Meja."
Vernon menyeringai kemudian mengangkat Kezia dan menggendongnya. Vernon menunduk untuk membisikkan sesuatu. "Tidak mungkinkan kita melakukannya di sini?" akhirnya Vernon membawa Kezia naik ke atas dan masuk ke kamar.
Kezia menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya di pundak suaminya. Wajahnya benar-benar merah karena Vernon yang tidak berhenti memperlakukan dirinya dengan hati-hati.
"Vernon...Excelo?"
"Dia tidak akan bangun kalau kita melakukannya tanpa menimbulkan suara."
Kezia merasa gugup ketika Venron mulai menidurkannya di ranjang. Bahkan sampai saat ini Vernon masih memperlakukannya dengan hati-hati. Tetapi kalau melakukan itu tanpa menimbulkan suara, bagaimana hal itu bisa terjadi?
"Tunggu, kita bisa melakukannya di kamar tamu."
Vernon tampak berpikir lalu menggeleng, "Aku lebih suka kalau kita melakukannya di kamar ini." Vernon mulai membelai wajah Kezia dan menyingkirkan anak rambut yang berjatuhan di dahi istrinya. Kezia sangat cantik hingga Vernon tidak bisa mengontrol dirinya.
Vernon menunduk dan menyentuh Kezia dengan hati-hati. Lama kelamaan Vernon mulai mendesak hingga Kezia membuka pintu untuknya. Vernon semakin berani dan mulai mengobar abrik bibit manis Kezia. Kezia yang kewalahan mengimbangi permainan Vernon hanya membalas sesekali. Tangan Kezia mulai merambat naik meremas dan mengacak rambut suaminya.
Sedangkan tangan Vernon mulai turun menelusuri leher Kezia. Vernon menarik bibirnya ketika Kezia mulai kehabisan nafas. Mereka saling mengunci mata satu sama lain sebelum Vernon menunduk menuju leher Kezia dan mengecup setiap sisinya hingga menimbulkan tanda kemerahan.
Kezia menatap langit-langit mulai kehilangan akal. Tangannya setia meremas dan mengacak rambut suaminya sesuai perbuatan Vernon saat ini. Sengatan kecil mulai menjalar hingga Kezia menarik Vernon lebih dekat dan melengkungkan punggungnya karena perbutan Vernon.
Vernon melepas semua kain yang melekat pada istrinya. Dan kembali bermain dengan bagian tubuh Kezia yang menjadi favoritenya.
Vernon bekali-kali mengulum, mencium, dan menghisap kuat puncak dada Kezia. Tangan satunya bermain dengan yang lain. Dan Vernon melakukannya secara bergantian. Mengabaikan Kezia yang mulai tersiksa dan menahan desahan dengan sekuat tenaga. Ia tidak ingin membangunkan Excelo yang sudah tertidur.
"Vernon...please."
Vernon tersenyum penuh kemenangan. Kemudian mengangkat kepalanya melihat tubuh polos istrinya.
"Vernon.." Kezia merasakan wajahnya memanas karena Vernon menatapnya lama—tidak—pria itu menikmati setiap jengkal tubuhnya beberapa saat.
"Apa yang kau inginkan?"
__ADS_1
Kezia menatap Vernon dengan bingung, "Kau."
Vernon menunduk menyatukan dahinya dengan dahi Kezia. "Katakan sekali lagi." tanya Vernon dengan nada serak yang tajam.
"Kau. Aku ingin kau sekarang!" jawab Kezia dengan kesal.
Vernon menyeringai mendengar jawaban istrinya yang tidak sabaran. Salah siapa dulu selalu menolak sentuhan darinya. Sekarang mereka bisa merasakan kalau tubuh mereka sudah lama mendambakan satu sama lain.
Vernon turun melepas semua kain yang melekat pada tubuhnya. Hingga tubuhnya sama-sama polos seperti istrinya.
Kezia dapat melihat tubuh atletis suaminya. Dan tidak sengaja melihat 'senjata' Vernon yang sudah siap untuk bertempur. Kezia segera mengalihkan perhatian dan merasa panas mulai menjalar hingga ke belakang telinganya. Walaupun dia pernah merasakan milik Vernon tapi keadaan sekarang berbeda. Mereka benar-benar melakukannya sebagai suami istri yang sebenarnya.
Vernon merangkak naik mengurung Kezia dalam kungkungannya. Tangan Vernon membelai pipi Kezia dan menangkupnya untuk melihat ke arahnya. Vernon tersenyum melihat Kezia yang malu-malu kucing.
"Kau sangat cantik." puji Vernon dan menambah gugup istrinya. Dengan perlahan Vernon membungkam Kezia dan mulai memenuhi wanita itu hingga desahan mereka tertahan pada ******.
Vernon diam membiarkan Kezia terbiasa dengan miliknya. Wanita itu butuh waktu setelah lama tidak merasakan kehangatan miliknya.
Hingga Vernon mulai bergerak pelan. Mereka berdua sama-sama merasakan kehangatan dan kenikmatan setiap kali Vernon menggerakkan miliknya. Vernon melepaskan pagutannya dan melihat istrinya yang berusaha menahan suara.
Ketika pelepasan pertama, Kezia menyerukan nama Vernon. Tak sampai di situ, Vernon tidak membiarkan Kezia istirahat dan semakin menghujam Kezia dengan cepat. Gerungan tertahan terdengar ketika Vernon mengalami pelepasan. Mereka berdua saling memburu udara. Kezia dapat merasakan kehangatan di dalam dirinya.
Ketika merasa hal ini sudah selesai, Kezia merasa terkejut karena Vernon mulai bergerak lagi.
"Vernon.."
"Tidak, aku belum selesai."
Vernon bernar-benar melakukannya sampai beberapa ronde dan membuat Kezia hampir tertidur. Sampai di ronde terakhir Vernon selesai dan menjatuhkan tubuhnya di samping Kezia. Menarik selimut menutupi tubuh mereka. Mendekatkan diri dan memeluk Kezia dengan erat.
"Aku mencintaimu."
Kezia merasa dirinya sangat lelah. Tetapi masih bisa mendengar kata-kata yang membuatnya tersadar sebentar. Matanya melihat Vernon hingga kegelapan menariknya ke dalam mimpi.
♥♥♥
__ADS_1
Ketika matahari mulai menyingsing dari ufuk timur. Kezia membuka matanya merasakan kecupan di sekitar bahunya yang tebuka. Kezia mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya untuk sadar sepenuhnya. Wanita itu membalikkan tubuh melihat Vernon yang sangat dekat dengan dirinya.
"Selamat pagi." ujar Vernon dengan senyuman yang dapat Kezia lihat dengan nyata.
"Kau benar-benar kejam."
"Maaf, aku sudah menahannya sangat lama." kata Vernon dengan jujur kemudian mendekatkan tubuh Kezia pada tubuhnya. "Aku ingin tidur lagi."
Kezia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 06.25 AM. Matanya langsung terbuka dan menahan dada Vernon. "Bangunlah, kau harus bekerja."
Vernon tetap memejamkan mata malah semakin rapat tanpa memperdulikan seruan protes yang Kezia keluarkan.
"Excelo? Vernon lepaskan! Excelo pasti sudah bangun."
"Aku sudah menyuruh Bi Tini untuk mengurus anak kita."
"Sejak kapan?"
"Baru saja."
"Baru saja?"
"Kenapa?" Vernon membuka mata dengan enggan kemudian mendengus geli, "Tenang saja aku yang membawanya turun."
Kezia mengerucutkan bibirnya, "Bangun! Aku ingin turun."
"Kez, ayolah. Kau pasti lelah."
Kezia nekat bangun meski rasa pegal mulai menyerang tubuhnya. Dengan perlahan dia masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri. Membiarkan selimut membungkus tubuhnya. Lagi pula Vernon sudah berpakaian lengkap mungkin karena mengantar Excelo ke Bi Tini.
"Kenapa dia keras kepala sekali." Vernon duduk menyadarkan punggungnya pada kepala ranjang. Melihat Kezia yang sudah masuk ke dalam kamar mandi dengan tubuh terbungkus selimut tebal seperti kepompong.
Kemarin malam dia benar-benar merasa puas dan bersyukur karena Kezia sudah mau menerimanya sepenuhnya. Sekarang yang perlu Vernon lakukan adalah menyingkirkan orang-orang yang ingin menghancurkan hubungan rumah tangganya dengan Kezia. Ya, secepatnya.
♥♥♥
__ADS_1