
Manusia yang berperilaku buruk belum tentu di sebut orang jahat. Dan seseorang yang berbuat baik belum tentu di percaya banyak orang. Petra melirik Vernon karena pria itu selalu membawa nama istrinya ke dalam pembahasan masalah Figo.
Padahal, saat ini, yang harusnya diwaspadai adalah identitas mereka. Figo tidak akan tinggal diam. Dia akan mencari bantuan. Dan semua orang yang bisa membantu Figo pastilah berasal dari orang yang kuat dan memiliki kekuasaan.
Walaupun Petra tidak merasa terancam setidaknya dia harus waspada mengingat mantan temannya pernah menghianati Black Center.
"Beruntung sekali kau mempunyai istri yang cantik. Wanita itu pasti buta karena mau memaafkanmu." ejek Petra.
"Bilang saja kau iri. Mungkin efek sudah tua tapi belum menikah. Jadi aku maklumi perkataanmu barusan." Vernon terkekeh pelan tidak terpancing dengan perkataan Petra. Biasanya mereka akan debat masalah kecil. Tapi tampaknya Vernon lebih suka mengalah jika Petra membawa nama Kezia dalam perdebatan.
"Jangan lupa, kita seumuran. Lagi pula aku tidak iri dengan mu. Aku sudah menemukan wanita ku sendiri." kata Petra dengan cuek.
Vernon tersedak kopi buatan Bi Tini. Matanya melotot melihat Petra yang memasang wajah polos tanpa dosa. "Kau?"
"Kenapa? Apa sebegitu buruknya aku di mata mu, huh? Aku lebih tampan dari mu. Apalagi masalah bertarung. Cih, menembak musuh aja meleset. Bagaimana bisa menjaga anak orang?" Petra menyeringai melihat Vernon tidak menyetujui perkataannya.
Vernon hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak mungkin membuat Petra babak belur mengingat Kezia berada di atas tidur bersama anaknya. "Percaya diri sekali." ujar Vernon.
Saat Petra ingin membalas pujian Vernon, dia tidak bisa meneruskan karena ada seseorang yang mengawasi mereka. Vernon melihat Petra sedang mengamati seseorang di belakangnya dengan intens. Akhirnya, Vernon, sedikit membalikkan badan untuk melihat orang itu.
"Kezia?" gumam Vernon.
Sedangkan Kezia hanya mematung di tempat setelah ketahuan menguping pembicaraan mereka berdua. Lalu melangkah menuruni tangga dan mendekat untuk bergabung dengan Vernon dan Petra.
"Kenapa belum tidur?" tanya Vernon setelah Kezia duduk di sampingnya.
Kezia tidak menjawab dan melihat Petra dengan tajam. Ini pertama kalinya Kezia bertemu langsung dengan Ketua Black Center. Saat kejadian di rumahnya dulu, Petra sangat tertutup hampir tidak bisa dikenali.
Petra menaham tawa karena Vernon yang diabaikan oleh istrinya sendiri, "Petra Poliston." Petra mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Kezia.
__ADS_1
Belum sempat Kezia membalas uluran tangan Petra, Vernon menepis tangan Petra dengan cepat. "Tidak usah berkenalan dengannya. Dia bukan orang yang penting." ucap Vernon.
Kezia hanya tersenyum dan mengangkat bahunya.
"Kez, kenapa belum tidur?" tanya Vernon sekali lagi.
Kezia menatap suaminya, "Aku belum mau tidur. Aku ingin mendengar apa yang kalian bahas." jawab Kezia dengan santai. "Kenapa? Apa aku mengganggu kalian?"
Vernon melihat mata Kezia beberapa detik kemudian menghela napas pelan, "Tidak. Tapi lebih baik kau tidak mendengar pembahasan kami." Vernon kembali melihat Petra yang senang karena interaksi Kezia dengan Vernon.
Petra pasti berpikir kalau Vernon termasuk kumpulan suami - suami takut istri. Salah siapa dulu pernah menyia-nyiakan istrinya sendiri. Pfft...
"Kalau begitu lanjutkan saja."
Vernon memberi kode ke Petra untuk mengakhiri pembicaraan hari ini. Karena memahami situasi, Petra mengangguk samar dan berdiri dari tempatnya.
Vernon terlihat lega saat Petra keluar dari rumahnya. Mulut licin pria itu bisa saja membeberkan semuanya pada istrinya.
"Ayo kita naik." Vernon memegang tangan Kezia namun di tolak oleh istrinya. "Kez..ini sudah malam."
Kezia memasang muka cemberut dan kesal karena Vernon melarang dirinya untuk memgetahui masalah pria itu. Dan parahnya, Ketua Black Center sampai datang ke rumah untuk berbicara dengan Vernon. Walaupun itu tampak biasa, tapi bagi Kezia itu tidak biasa.
Petra adalah pemilik Black Center sekaligus pemimpinnya. Maka dari itu, Petra pasti orang yang berbahaya dan sering membunuh orang.
"Ceritakan dulu apa yang kalian bahas? Apa ini ada hubungannya dengan penembakan itu?"
"Tidak. Tidak ada."
"Lalu apa?"
__ADS_1
"Aku akan memberitahumu besok. Sekarang kita tidur. Ini sudah malam, kau bisa sakit. Di luar sangat dingin."
"Kalau kau berbohong aku akan memukulmu."
"Kau ingin memukulku sekarang?Aku tidak keberatan." Vernon tersenyum kecil melihat Kezia semakin lucu karena menahan kesal.
Kezia berdecak, kemudian memukul dada Vernon berkali - kali tanpa aba - aba. Vernon hanya diam menikmati pukulan Kezia. Vernon merasa senang karena Kezia tidak takut ketika bersentuhan dengan dirinya.
Kezia menghentikan tangannya dan menjatuhkan kepalanya di dada bidang Vernon yang tertutup kaos polos berwarna hijau army. Tubuh Vernon sangat keras, bukannya menyakiti Vernon, Kezia malah menyakiti dirinya sendiri.
"Sudah?" Kezia mengangguk pelan dan membiarkan Vernon mengelus rambutnya. Kezia yang tadinya belum mau tidur jadi mengantuk karena Vernon.
"Aku mengantuk."
Vernon terkekeh pelan kemudian menaruh dagunya di puncak kepala Kezia. Terus menggerakan tangannya untuk mengelus rambut Kezia. Wanita dalam dekapan Vernon menyamankan posisinya dan mulai terlelap.
Vernon menatap ke arah kamar Kezia yang berada tepat di depannya. Bayang - bayang tentang perlakuannya dulu membuat Vernon sesak. Apalagi istrinya sekarang berada dalam pelukannya. Entah mengapa ada sesuatu yang pernah hilang kini kembali. Kepala Vernon terasa pening. Tapi dengan cepat ia mengendalikan hal itu.
"Kezia?" Kezia tidak menanggapi Vernon. Wanita itu sudah masuk dalam dunia mimpi.
Vernon menggendong Kezia dengan hati - hati. Dan membawanya untuk tidur di kamar. Waktu berlalu begitu cepat. Wanitanya telah kembali. Membuka jalan untuk membenahi perilaku Vernon akibat tempramennya yang buruk.
Bi Tini yang baru datang untuk membersihkan dapur. Matanya melihat Vernon naik tangga dan menggendong Kezia. Senyuman terbit mengingat dua orang didepan Bi Tini tampak akur dan Vernon tidak lagi berbuat jahat pada Kezia.
Semoga mereka selalu menjaga ikatan satu dengan yang lain. Biarlah masa lalu memudar dan membangun kembali kepercayaan. Sampai mereka memenuhi janji sehidup semati yang pernah terucap dalam batin masing - masing.
"Ya semoga."
♥♥♥
__ADS_1