Stephanotis

Stephanotis
33 — Pertemuan Di Black Center


__ADS_3

Setelah Vernon menghubungi Kezia kalau dirinya akan pulang larut malam. Vernon bergegas pergi ke markas Petra saat jam kerja telah usai. Vernon tidak sendirian, dia pergi bersama Theodore. Pria itu banyak diam di dalam perjalanan. Sedangkan Theodore tidak ingin ikut campur masalah pribadi bossnya.


Vernon bisa saja menyingkirkan Sarah dengan mudah. Tapi dia tidak boleh gegabah mengingat wanita itu akan berbuat nekat karena Vernon pernah menjadikan Sarah prioritas dan memanfaatkannya untuk melawan Mr. Clayton.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Vernon pada Theodore yang fokus mengemudi mobil.


Theodore menoleh sekilas, "Maksud Anda?"


"Bicaralah dengan santai. Kita sudah berada di luar kantor."


"Maaf, Sir."


Vernon menghela napas pelan, "Apa aku harus melenyapkan wanita itu?" tanya Vernon dengan santai.


Theodore menaikkan satu alisnya mendengar pertanyaan Vernon. "Maaf, Sir, sepertinya itu terlalu berlebihan." jawab Theodore dengan jujur. Ya walaupun itu tampak biasa untuk seorang mafia tapi terlalu berlebihan jika melibatkan orang di luar target.


"Tidak kalau kau menyangkutkan hal ini dengan ayahku. Dia bisa bertindak di luar target jika mendengar hal ini." Vernon benar bila Mr. Clayton mengetahui ancaman yang Sarah berikan bisa saja wanita itu di seret ke dalam 'ruang tahanan'.


Theodore menahan kekehan kemudian mengangguk setuju. Mr. Clayton memang orang yang memiliki kekuasaan hingga sebagian mafia di dunia gelap menghormatinya. Theodore tidak terkejut dengan sikap Vernon yang menimbang situasi ini dengan hati - hati. Di tambah istrinya baru saja kembali dan tidak tahu tentang hal yang berhubungan dengan kegiatan dunia gelap.


"Kita bisa memantaunya dari jauh. Kalau wanita itu melakukan hal yang mencurigakan Anda bisa membawanya kepada Mr. Clayton. Itu pendapat saya, Sir." jelas Theodore. Mobilnya memasuki garasi yang disediakan oleh markas Black Center. Kemudian mematikan mesin dan menoleh ke arah Vernon.


"Pendapatmu memang bagus. Aku akan memikirkannya." kata Vernon dengan datar lalu membuka pintu mobil dan turun dengan cepat. Vernon sedikit merapikan jasnya dan melemaskan otot leher yang menegang sejak tadi.


Theodore menggelengkan kepala dan tersenyum ringan. Bossnya sedikit aneh semenjak istrinya kembali ke ibu kota. Vernon yang biasanya irit bicara kini berubah dan sering meminta pendapat Theodore. Entah itu di saat jam kerja maupun di luar kantor.


"Ada yang Anda perlukan, Sir?" tanya Theodore.


"Tidak, kita ingin menemui kawan bukan musuh. Kau juga bagian dari mereka, tidak perlu mencemaskan hal yang tidak mungkin terjadi." Vernon menyeringai tipis kemudian berjalan memasuki wilayah Black Center yang tampak terang dari luar. Namun berbeda dengan bagian dalam, markas ini lebih redup dan banyak ruangan yang minim penerangan.

__ADS_1


Theodore mengikuti Vernon dari belakang dan memberi salam beberapa anggota Black Center yang menyambut kedatangan mereka. Markas sedikit ramai dengan beberapa orang yang berlalu lalang. Theodore sudah mendapatkan beberapa informasi tentang sebagian masalah yang terjadi akhir - akhir ini.


Vernon masuk ke sebuah tempat yang berisi anggota inti dari Black Center. Theodore menjaga di sayap - sayap ruangan bersama tangan kanan masing - masing orang penting yang berada diruangan ini.


"Apa aku terlambat?" tanya Vernon dengan wajah innocent. Pria itu duduk dengan santai di samping Petra yang sedang mematikan putung rokok.


"Kau bahkan tidak mengerti detikan jam saat datang ke sini." Sean menatap cuek ke arah Vernon. Pria tua itu tampak tenang dan sangat berkebalikan dengan saudaranya, Seth.


"Bisa kita mulai? Aku sangat bosan jika terus berada di sini." Liam, pria yang mengenakan kaos putih dan celana jeans abu - abu menegakkan tubuhnya. Memandang asbak Petra dengan bosan.


Hendrik tertawa ringan, "Dasar bebek sawah." ejek Hendrik. Liam pasti bosan karena waktunya sedikit terganggu. Waktu dalam tanda kutip yang biasa ia lakukan setelah mendapat banyak uang. Liam hanya mendengus mendengar sindiran Hendrik.


Petra yang dari tadi diam mulai mempersiapkan diri untuk membicarakan hal yang baru - baru ini direncanakan oleh Black Center. Dan tentu saja Vernon akan terlibat mengingat pria itu sering membantu dan bekerja sama dengan Black Center.


"Kali ini aku mendapat beberapa bukti yang mencurigakan dari bawahan Interowen. Sepertinya Figo sengaja di jebak untuk membawa Black Center ke dalam jaring - jaring Interowen." Petra melipatkan dangan di depan dada.


"Maksudmu?" tanya Liam yang merasa perkataan Petra sangat sulit untuk dipahami.


Vernon melipat dahinya, hal ini semakin rumit karena Figo tidak ingin menyerahkan diri dan berdamai dengan sekutu.


"Mungkin." Petra mengedikkan bahunya, "Tapi masih belum bisa dipastikan kalau penyerangan itu hanya Figo yang terlibat."


"Kau yakin?" tanya Seth dengan nada rendah. Saudara Sean itu lebih sering diam karena menyimpulkan banyak hal.


Petra menghela napas berat. "Figo orang yang bersih tidak pernah meninggalkan jejak. Untuk pertama kali dia berhianat dan secara terang - terangan meninggalkan bekas yang membuatnya menjadi buronan." jelas Petra kemudian mengeluarkan sampel dan melemparnya di atas meja jati dengan atasan kaca tebal.


Sean melotot melihat benda yang Petra keluarkan, "Ini..." Sean tidak bisa melanjutkan perkataannya dan melihat sampel di atas meja dengan mata yang tajam.


"Dia menyerang Black Center bisa saja dengan tujuan yang belum bisa kita korek lebih jauh. Terakhir kali dia meninggalkan tempat ini dia menjatuhkan obat itu persis di tempat kejadian. Aku curiga dia bekerja sama dengan seseorang." Petra masih bersikap tenang. Tersenyum tipis karena kecerdikan mantan anggotanya.

__ADS_1


"Kalau itu benar sudah pasti dia menemui orang itu saat ini. Apalagi statusnya yang sudah terncam oleh dua kubu." pendapat Vernon setelah mencerna dengan baik penjelasan Petra.


"Benar. Sepertinya otakmu lebih sehat setelah mendapat tembakan."


"Jangan bahas itu, b******n." desis Vernon.


Petra tertawa kecil. "Yang menjadi pertanyaan sekarang, dia bekerja sama dengan orang yang positif atau orang yang negatif. Kalau dikatakan netral itu sangat bertentangan karena orang itu lebih memilih berkeja sama dengan penghianat." Petra menyimpan kembali sampel ke dalam jaket kulitnya.


Seth mengangguk kecil, "Pantas saja dia tampak berani saat menerima hukuman waktu itu. Bahkan tidak ada tanda - tanda pemberontakan." ungkap Seth.


"Figo lebih kuat dari yang kita kira. Tidak akan mudah menangkapnya." Hendrik mulai bersuara mengeluarkan pendapatnya.


"Tidak perlu." kata Petra yang membuat semua orang menatapnya tidak percaya. "Maksudku, kita tidak perlu menangkapnya. Ya, untuk saat ini."


"Apa maksudmu?" tanya Vernon dengan tidak suka dan tidak menyetujui perkataan Petra.


"Dia akan kembali tanpa menunggu ancaman dari kita. Dia dekat dengan istrimu bukan?"


Vernon mendelik tajam, "Jangan libatkan Kezia." sinis Vernon.


"Mau tidak mau dia harus terlibat. Dengan begitu kau akan aman dan Black Center akan kembali seperti semula."


"Apa rencanamu sebenarnya Petra?" Sean menatap penuh selidik ke arah ponakannya. Petra selalu bermain teka - teki dalam membahas hal ini.


"Rencanaku adalah...." Petra mulai membahas rencananya yang sudah tersusun rapi. Vernon berkali - kali menentang namun Petra berusaha meyakinkan sahabatnya. Hingga keputusan telah di ambil dan rapat selesai.


Mereka menyetujui rencana yang Petra buat meski ada sedikit perubahan. Setelah itu Vernon pamit duluan karena Kezia sendirian di rumah. Pria itu mengemudikan mobil Petra yang berada di garasi belakang. Sedangkan mobilnya ia tinggal di kantor untuk menghilangkan jejak yang mencurigakan.


♥♥♥

__ADS_1


maaf sebelumnya jika cerita ini tampak membosankan...karena aku berusaha menyusun kata baku dalam menulis cerita ini


dan cerita ini tidak hanya membahas satu hal, karena nanti ada kejutan sendiri untuk wanita ular 😂 aku baru fokusin ke figo dan wanita ular akan ditangani di beberapa bab selanjutnya. see u 💚


__ADS_2