Stephanotis

Stephanotis
4 — Teman


__ADS_3

Berita yang gempar di media membuat Kezia tak henti - hentinya merasakan takut dan kecemasan yang luar biasa. Wanita itu sudah menemui Leah lusa lalu. Sekarang ini Kezia sedang berada di rumah Leah dan membiarkan Excelo bermain dengan Reon.


"Kez...kamu gapapa kan? Kamu keliatan pucat, Kez." tanya Leah dengan hati - hati. Memberikan segelas air putih lalu duduk di samping Kezia.


"I'm OK." jawab Kezia yang sebisa mungkin menampilkan senyum untuk membuat Leah percaya.


Namun Leah tak semudah itu untuk dibohongi. Leah tahu benar sifat Kezia. Bagaimana wanita itu berbohong dari sorot matanya yang tampak sedih dan khawatir.


"Kamu ga cukup baik buat bohongin aku. Tenanglah, Kez. Rafael sudah menutup semua koneksi supaya jejakmu tidak bisa di lacak." kata Leah untuk meringankan beban kekhawatiran Kezia.


Namun Kezia tidak merasa baik sedikitpun. Hatinya tak berhenti berdegup kencang. Rasa ini, rasa yang pernah dia rasakan ketika Vernon marah dan merenggut semua yang ada pada Kezia. Waktu itu Kezia adalah gadis yang polos. Gadis naif dengan cintanya yang menutupi segala keburukan Vernon.


Kezia meremas kuat dress yang ia kenakan lalu menatap Leah dengan mata berkaca - kaca, "Cepat atau lambat dia pasti menemukanku, Le. Kau tahu, dia memiliki banyak koneksi bahkan dia bekerja sama dengan Black Center." kata Kezia dengan getir.


Black Center adalah kelompok mafia terbesar dan berbahaya. Pemimpinnya adalah penerus akhir klan Gio yang bernama Petra. Katanya, pria bernama Petra itu akan melakukan apa saja supaya tujuannya tercapai. Petra juga menjadi salah satu teman dekat Vernon. Jadi tak heran jika orang yang ingin menjatuhkan Vernon akan menghilang setelah rencana musuh digagalkan.


"Aku tahu, Kez. Tapi Rafael akan berusaha menghindari anak buah Vernon. Rafael juga pernah terjerumus ke dunia gelap. Sekarang pikirkan yang baik, pikirkan anakmu. Tidak usah memikirkan lelaki brengsek itu." Leah memegang erat ke dua pundak Kezia. Berusaha menenangkan Kezia.


Kezia menatap sahabat yang selama ini membantu dirinya dengan sendu. Mengingat betapa baiknya Leah dan Rafael telah membantu Kezia sejauh ini.

__ADS_1


"Terima kasih, Le, kau selalu membantuku. Aku tidak tahu lagi bagaimana hidupku tanpa bantuan darimu juga Rafael. Kalian sangat baik." ujar Kezia dengan tulus dan mulai terisak.


"Aku sangat menyayangimu. Kau ingat, Kez? Kau dulu yang membantuku ketika Rafael belum bebas dari dunia gelap. Jadi, aku juga berterima kasih padamu."


Kezia mengangguk dan memeluk Leah dengan erat. Berusaha menghentikan tangisannya yang mulai pecah. Kezia harus menenangkan pikiran juga hatinya. Dia tidak ingin berlama - lama berada dalam ketepurukan.


♥♥♥


Kezia pulang kembali ke rumah untuk menidurkan Excelo di kamar. Saat kembali ke ruang tamu, pintu rumahnya di ketuk beberapa kali.


"Ya sebentar."


"Hai." sapanya.


"Figo?" Kezia mempersilahkan pria itu masuk.


"Excelo tidur?"


"Iya."

__ADS_1


"Oh begitu. Padahal aku membawa mainan untuknya." Figo, teman Kezia atau lebih tepatnya tetangga Kezia dan Leah mengangkat kotak kado yang dia bawa.


Kezia menghela napas, "Kau baru memberi mainan untuk anakku kemarin. Lihat, kamarnya sudah seperti toko mainan." katanya dengan hembusan napas kesal.


Figo seperti ayah untuk Excelo. Pria itu sama saja seperti Leah yang selalu mendesak Kezia untuk menerima barang yang mereka belikan untuk Excelo. Kezia tak habis pikir bagaimana cara supaya mereka berdua berhenti memberikan banyak hal yang mungkin tidak bisa Kezia balas.


Figo tertawa kecil. Melihat raut wajah Kezia yang menggemaskan membuat beban pekerjaannya sedikit reda. "Apa tidak boleh? Excelo sudah ku anggap sebagai anakku sendiri." kata Figo.


Kali ini Kezia mencubit perut Figo dengan keras. "Cepat cari istri sana. Aku tidak ingin Excelo membuat orang salah paham dan mengira kalau kau ayahnya." kata Kezia dan menerima kado yang di bawa Figo.


"Tidak apa - apa. Aku juga akan menjadi suamimu setelah kau menceraikan laki-laki b******n itu." kata Figo dengan datar lalu duduk di salah satu sofa ruang tamu.


"Kau selalu bicara yang tidak masuk akal."


"Terserah."


Kezia melenggang pergi ke dapur untuk membuatkan Figo kopi. Pria itu sering mengunjungi Kezia untuk membantunya dalam mengurus rumah. Tak jarang Excelo sangat senang bila di gendong oleh pria itu.


Bahkan jika bayinya masih bangun dan mendengar suara Figo mungkin bocah itu akan berjalan tertatih - tatih dan meminta untuk di gendong Figo. Figo dan Excelo memang sangat dekat. Bahkan banyak orang mengira kalau Figo adalah ayah Excelo ketika mereka bertiga pergi ke suatu tempat seperti mall atau baby store.

__ADS_1


__ADS_2