Stephanotis

Stephanotis
31 — Cafe Lwost (2)


__ADS_3

Kezia dan Leah membicarakan banyak hal. Hanya seputar masalah perempuan tidak lagi menyinggung masa lalu. Leah berusaha menahan diri untuk tidak memaki Vernon. Pria itu berhasil membuat sahabatnya kembali. Setelah insiden penembakan, Kezia kembali ke ibu kota tanpa memberitahu Leah. Tentu saja supaya Leah tidak mengawatirkan Kezia lagi.


Kezia harus membangun kepercayaan terhadap seseorang dengan susah payah. Bagaimanapun, kepercayaan itu seperti porselen, sekalinya pecah tidak bisa menjadi satu kembali. Meskipun berkali - kali mencoba untuk mengutuhkan porselen tersebut tetap saja meninggalkan bekas retakan yang kentara dan membekas.


Jika Kezia dan Leah membicarakan masalah perempuan. Vernon dan Rafael hanya sesekali mengobrol. Keduanya lebih banyak diam menyimak kedua istri mereka yang asyik membicarakan banyak hal.


"Wah...akhirnya kau kembali menjadi penyanyi. Banyak orang yang menunggumu kembali. Terutama aku, haha." Leah tertawa kecil, sekarang Kezia bisa bebas berkarier kembali. Kezia hiatus karena Vernon. Sebelum ini, pria itu tidak ingin Kezia terjun ke dunia entertaiment setelah menikah.


Alasannya hanya Kezia dan Vernon yang tahu. Vernon tidak ingin Kezia sering keluar rumah. Dia ingin menyimpan Kezia untuk dirinya sendiri. Dan bebas menyentuh Kezia yang sering membuatnya lepas kendali. Tapi sekarang Vernon kesulitan mendekati istrinya. Bisa dikatakan Kezia trauma dengan sentuhan yang Vernon berikan. Masa lalu mereka benar - benar buruk karena perlakuan Vernon terhadap Kezia.


"Ya. Ini semua karena dukungan banyak orang. Aku memutuskan untuk bernyanyi dan memulai kembali karierku." Kezia tersenyum kemudian meminum minuman yang ia pesan.


Leah mengangguk kecil, "Tentu, kau tidak boleh menyimpan suaramu untuk dirimu sendiri. Orang - orang terlanjur jatuh cinta dengan karyamu." Leah berkata jujur. Dulu waktu Kezia masih mengandung Excelo dan memutuskan untuk kabur. Wanita itu tidak pernah membahas masalah profesinya.


"Terima kasih. Kau yang terbaik, Le." Kezia memberikan senyum tulus. Kemudian melirik Vernon yang memasang muka datar. Vernon memperhatikan Kezia sejak tadi dan menguping pembicaraan diam - diam.


Rafael mengulum senyum. Dia tidak menyangka wanita sebaik Kezia mau memaafkan Vernon yang sudah menyakitinya berulang kali. Tidak masuk akal untuk orang yang memikirkan dirinya sendiri. Tapi untuk wanita seperti Kezia hal itu memang wajar mengingat sifatnya yang baik.


"Baiklah sudah cukup mengobrolnya. Leah, sebentar lagi Reon pulang. Kita harus menjemputnya setelah ini." kata Rafael.


"Kalian mau pulang?"


"Tidak juga. Kami mau mampir ke rumah ayahku sebelum pulang." jawab Rafael.


"Ya begitulah. Reon tidak akan tinggal diam sekalinya keluar dari kota." kata Leah.


Kezia terkekeh kecil, "Ya sudah kalau begitu. Sampaikan salam kami untuk keluarga." Kezia berdiri setelah Leah mengemasi barangnya dan berniat untuk keluar dari meja makan.


Vernon ikut bangkit melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya.

__ADS_1


"Oke. Jangan lupakan janjimu!" Leah menerima uluran tangan Rafael kemudian berpamitan untuk pulang.


Rafael memberikan senyum penuh makna ke arah Vernon. Sedangkan Vernon hanya mengangguk samar dan tersenyum tipis.


"Kami pergi dulu." kata Rafael.


"Tunggu. Kalau kalian butuh bantuan bisa hubungi aku atau Kezia." ujar Vernon menghentikan langkah suami istri di depannya.


Rafael menoleh, "Tentu, dude." Leah tersenyum mendengar tawaran dari Vernon. Sebelum pergi Leah bisa melihat perubahan Vernon meskipun hanya kecil.


Rafael dan Leah pergi meninggalkan Cafe Lwost. Sementara itu Kezia mendongak untuk menatap Vernon yang lebih tinggi darinya. "Terima kasih." kata Kezia.


Vernon membalas tatapan istrinya dan menampilkan senyum mengeratkan lingkaran tangannya pada pinggang Kezia. "Seharusnya aku yang mengatakannya padamu. Terima kasih, sweetheart." kata Vernon.


Kezia tersenyum lebar dan mulai merona. Vernon berubah manis. Padahal sifatnya sangat kaku hampir membuat Kezia berpikiran kalau Vernon tidak bisa bersikap romantis. Tapi kenyataannya lelaki itu membuktikan kalau dirinya bisa bersikap romantis di dekat Kezia.


♥♥♥


"Excelo baik - baik saja?" tanya Vernon setelah keluar dari ruang kerjanya untuk menemui Kezia dan anaknya yang berada di kamar.


Kezia menatap Vernon dengan cemas, "Dia tidak mau berhenti menangis." Kezia mengelus punggung Excelo yang menangis keras dan bersikap memberontak.


"Kemarikan, aku ingin menggendong jagoanku." Vernon mendekat dan menggendong Excelo setelah Kezia memindahkan bayi itu di tangan Vernon.


"Istirahatlah, aku akan menyusul." Kezia mengangguk dan masuk ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas sebelum tidur. Cuci muka, gosok gigi, mencuci tangan juga kaki.


"Kenapa jagoan papa menangis? Ada yang mengganggumu, hm?" Vernon berusaha menenangkan Excelo. Mengajak Excelo untuk berbicara supaya bayi itu mengalihkan perhatian dan berhenti menangis.


Dan benar saja, Excelo berhenti menangis. Melihat ayahnya dengan penasaran. Tapi rasa kantuk membuat bayi itu tertidur di gendongan ayahnya.

__ADS_1


Kezia sedikit lama berada di kamar mandi kemudian keluar menggunakan piama satin. Ia memandang Vernon dengan takjub. Dengan cepat Kezia menyimpulkan, Excelo menangis karena merindukan gendongan ayahnya.


"Excelo sudah tidur?" Kezia melangkahkan kaki menuju meja rias. Mulai mengoleskan beberapa krim malam di wajahnya.


"Sudah." Vernon berjalan untuk menidurkan Excelo di kasur bayi dekat ranjang.


Setelah itu Vernon memutuskan untuk melepas kaca mata kerjanya dan melakukan hal sama seperti Kezia yaitu membersihkan diri sebelum tidur. Badannya sangat lelah karena mendekam diri di ruang kerja cukup lama.


Keluar dari kamar mandi, Vernon menggelengkan kepalanya dan tersenyum geli karena Kezia belum juga selesai dengan urusan wanita.


Pria itu segera naik ke ranjang dan merebahkan diri dengan nyaman. Punggungnya kembali rileks merasakan kelembutan kasur.


"Sampai kapan kau menggunakan cairan - cairan itu? Cepatlah tidur. Sudah larut, Kez." Vernon menyangga kepalanya dengan siku dan menghadap Kezia yang duduk membelakanginya.


"Sebentar, ini belum meresap."


Vernon menghela napas pelan, "Baiklah."


Vernon mengganti posisi tidur seperti semula. Kedua matanya memandang atap - atap rumah. Setiap malam dia selalu memikirkan masa depan yang harus dia kerjakan untuk membangun keluarga yang bahagia bersama Kezia.


Vernon mencintai istrinya dan anaknya. Kata maaf dan terima kasih tidak cukup untuk menebus kesalahannya. Dia harus bersyukur selalu karena semua kesempatan selalu datang untuk memperbaiki semuanya. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan langka seperti Vernon. Karena itu, Vernon, tidak bisa menyia-nyiakan hal ini.


Vernon merasakan ranjang bergerak karena Kezia bergabung untuk tidur disampingnya.


"Ada yang mengganggu pikiranmu?" Kezia mendekat untuk menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Vernon tanpa ada kain yang melekat di sana.


Vernon menggeleng kecil membawa tangannya untuk mengelus lembut rambut Kezia."Tidak ada. Tidurlah." Kezia menurut, mulai memejamkan mata dan merasa nyaman karena Vernon mendekapnya dengan hangat.


Keduanya tenggelam dalam pikiran masing - masing. Tidak ada lagi yang bisa mereka pikirkan selain masa depan. Saat ini yang terpenting hanyalah kebahagiaan. Bersama Excelo, mereka semakin yakin untuk saling memahami satu sama lain. Kunci dari kebahagiaan adalah kebersamaan bersama keluarga kecil dan menyelesaikan semua masalah dengan hati yang benar.

__ADS_1


♥♥♥


__ADS_2